
Pernikahan Yang Tak Diharapkan
Mendengar perkataan mertuanya, Wendy hanya mampu mengulas senyuman tipis. Entah mungkin jika suatu saat nanti, tak menutup kemungkinan Wendy akan berlari ke pelukan Bela.
Jika seandainya saja Adnan tak bisa merubah sifatnya menjadi lebih baik lagi terhadap ia. Mungkin ada waktunya wanita manis ini sudah tak sanggup dan lelah menghadapi semuanya lagi. Memilih untuk mundur secara perlahan dari kehidupan Adnan.
“Wendy sayang, kau baik-baik saja? Ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan...ceritakan saja pada Mama tak apa. Tak perlu takut pada Adnan, Mama tentu akan membantumu sayang” Bela mendekatkan dirinya ke Wendy dan menggenggam tangan Wendy erat.
Wendy sedikit terkejut akan sikap Bela yang tiba-tiba. Hatinya menghangat mendapatkan perhatian besar begini, sejak kecil Wendy tak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Ia jelas tak tau bagaimana rasanya dipeluk hangat oleh seorang ibu atau bahkan usakan lembut dari ayah.
Ia mendapatkan semuanya dari Bela jelas ia merasa bahagia luar biasa. Ingin sekali meluapkan semua perasaannya yang selama ini ia pendam sendirian namun Wendy memilih mengurungkan niatnya.
“Tak ada Mama..aku sama sekali tak ada masalah apapun. Aku hanya sedang berfikir kebaikan apa yang aku lakukan dimasa lalu sehingga mendapat balasan membahagiakan seperti ini? Aku hanya masih tak menyangka jika akan mendapat keluarga baru yang amat Menyayangimu seperti ini. Terima kasih Mama, aku menyayangi kalian” ucap Wendy memandang Bela lembut. Nyonya Bela jelas terenyuh akan penuturan sang menantu manisnya.
Lalu, menarik Wendy kedalam dekapannya.
“Jangan berbicara seperti itu, kau membuatku sedih. Seharusnya...Mama yang berterima kasih padamu, karena kehadiranmu memberi warna pada keluarga Pratama. Kau tau sendiri jika Adnan tuh dingin dan cuek padahal dulu ia tak seperti itu. Ada sesuatu yang membuatnya berubah drastis menjadi seperti ini. Itu membuat Mama sangat kesepian. Tetapi karena ada kamu Mama sangat bersyukur. Kasih sayang Mama dan Ayah padamu sama besarnya seperti kami menyayangi Adnan karena kini kamu bagian dari kelurga Pratama Wendy” balas Bela lembut sambil menahan isak tangis. Sementara Wendy sudah terisak dalam dekapan sang mertua.
Wendy jelas bersyukur atas apa yang sekarang ia dapatkan. Selalu berharap pada Tuhan jika semua kebahagiaan barunya takkan terenggut kembali darinya. Walau jelas roda kehidupan tetap berputar, tak selamanya sesuatu yang kau genggam akan bisa kau pertahankan.
•
•
__ADS_1
•
•
Adnan tengah berkutat dengan beberapa dokumen perusahaan. Mengusap wajahnya bahkan sudah beberapa kali ia lakukan. Sungguh. Terkadang Adnan akan merasa jenuh dengan kehidupan yang monotonnya ini.
(Kurang bersyukur nih dasar Bambang)
“Sial, kenapa banyak seperti ini kapan habisnya?” Kembali mengeluh begitu saja. Baru saja akan memeriksa beberapa dokumen ponsel yang tergeletak diatas mejanya bergetar menandakan ada panggilan masuk.
Melihat sejenak untuk kemudian senyuman mengembang apiknya kala membaca sederet nama si pemanggil, dengan buru-buru mengangkat panggilan tersebut.
“Ada apa Leta?” Sapanya manis. Terdengar rengekan manja di sebrang sana membuat Adnan terkekeh gemas
“Astaga kekasihku sedang merindukan pangeranmu ini ya? Ayo bertemu sebentar diluar kebetulan sudah jam makan siang. Aku juga sangat Merindukanmu. Sampai jumpa nanti Leta Sayang”
•
•
“Wendy...yakin mau diturunkan disini, tak mau Mama temani saja membeli apa yang kau butuhkan?” Bela menatap pada Wendy kala mobil yang mereka tumpangi terparkir di depan mall yang besar. Wendy menyunggingkan senyum simpul
“Tak apa Mama, aku bisa sendiri. Lagipula bukannya Mama ada janji makan siang bersama Ayah? Aku baik-baik saja jadi Mama tak usah khawatirkan apapun” balas Wendy lembut
“Mama merasakan firasat yang tak enak padamu, lagipula Mama bisa membatalkan janji dengan Ayah. Ayahmu pasti mengerti” keukeuh Bela namun dibalas gelengan kepala oleh Wendy
__ADS_1
“Jangan Mama, jika dibatalkan Ayah akan kecewa. Jadi pergilah Mama, aku bisa sendiri. Nanti akan ku hubungi jika aku sudah selesai, aku mencintaimu Mama. Sampai Jumpa” sambil melambaikan tangannya dan masuk kedalam mall tersebut
Bela hanya bisa menatap punggung Wendy yang menjauh dengan sendu. Firasatnya benar-benar tak enak seperti akan ada sesuatu besar yang akan terjadi pada Wendy.
•
•
•
Wendy melangkahkan kakinya dan masuk kedalam mall, ia kadang menoleh kesana kemari untuk mencari barang yang ia inginkan. Tepat saat ia menemukannya tak sengaja Wendy menabrak punggung seseorang
“Aduh...maafkan aku—-Adnan?” Wendy terperanjat kaget kala bertemu dengan suaminya sendiri. Begitupun Adnan yang tak kalah terkejut namun ia kembali seperti biasa
“Adnan. Kenapa disini?” Wendy bertanya penasaran. Namun belum sempat Adnan menjawab,seseorang wanita berjalan ke arah mereka dengan santai menggandeng tangan suaminya
“Adnan liat aku sudah menemukan barangnya...bagaimana lucu kan?” Tanyanya sambil memamerkan sebuah sepatu pada Adnan.
Adnan meladeninya dengan amat baik, bahkan senyuman manis pun ia berikan terhadap wanita itu
Keduanya melupakan sesosok Wendy yang berdiri diam ditempat itu;
Note:
Maaf guys aku ganti nama judulnya yah heheh
__ADS_1