
Pernikahan Yang Tak Diharapkan
Wendy yang tengah berjalan pelan disebuah kota kecil, yang mungkin populasi kota ini tak sebanyak populasi dikota besar. Banyak sekali warga yang ramah disini, ia membungkuk dan tersenyum terhadap warga tersebut.
Beberapa bulan lalu ia memutuskan untuk hidup menyendiri disini. Broome. Tempat tinggal Glen waktu dulu bersama neneknya. Tak disangka juga jika kota ini adalah tempat kelahirannya. Bagaimana Wendy bisa tau?
Jadi, waktu ia pertama kali kesini dan berjalan-jalan pagi sekedar menghirup udara segar. Seorang pria tua tiba-tiba mendekatinya, pria tersebut menelisik dirinya dari atas sampai bahwa dan bahkan ia menutup mulutnya kala melihat wajah Wendy. Wendy yang dilihat seperti itu sangat kebingungan dan mengernyitkan keningnya.
Pada akhirnya pria tua itu yang Wendy tak tau namanya membeberkan sebuah fakta yang membuat Wendy terkejut saking kagetnya. Sebab, fakta tersebut berhubungan dengannya dan dengan masa lalunya. Pria tersebut bilang wajahnya sangat mirip dengan mendiang Jovanka wanita cantik yang menjadi primadona kota ini.
Kemudian pria tua itu cerita...Jovanka menikah dengan Johnny—seorang cucu dari saudagar kaya raya dikota ini. Memiliki sebuah perusahaan ekspor-impor yang sangat terkenal. Mereka menikah karena sebuah perjodohan, dan merupakan pasangan paling romantis dikota ini. Banyak sekali pasangan-pasangan iri kepada mereka berdua.
Namun, pada waktu itu kebahagiaan mereka harus diuji. Harusnya mereka bahagia akan memiliki keturunan, tapi itu malah kebalikannya. Dokter mengatakan jika kehamilan Jovanka akan berdampak bagi kesehatannya. Bisa dibilang jika Jovanka belum siap untuk mengandung, jika dipaksakan maka itu akan berakibat pada nyawanya. Dokter menyarankan untuk mengugurkan kandungannya, tetapi Jovanka bersikeras untuk tetap mempertahankan Wendy.
__ADS_1
Dan apa yang dokter katakan benar Jovanka meninggal beberapa menit setelah berhasil membawa Wendy ke dunia.
“Hey, Wendy kamu sedang apa??” Terlalu sibuk melamun, Wendy tak sadar jika daritadi ada seseorang yang memperhatikannya.
“Alex—sejak kapan disini?”
•
•
•
Terlalu banyak terluka yang sudah ditorehkan Adnan terhadapnya, banyak sekali kesakitan yang harus ia terima kini seolah Tuhan tak mengizinkannya untuk melupakan semua perbuatan mantan suaminya itu. Ia bahkan diberikan titipan duplikat Adnan Pratama Muda.
Mungkin Tuhan memberikan ini agar ia selalu mengingat jika ia pernah memiliki kenangan bersama mantan suaminya yang pernah ia cintai setulus hatinya; walau menyakitkan baginya.
__ADS_1
Dan sekarang ia ingin bangkit dari segala keterpurukan; tak ada Adnan hanya ada dirinya dan sang calon buah hati. Iyah hanya mereka berdua; sudah cukup.
•
•
“Wendy...kamu yakin tidak mau memberitahu mantan suamimu tentang anak dalam kandunganmu? Mungkin saja ia akan berubah fikiran atau jangan-jangan tanpa Sepengetahuanku ia sedang mencari mh seperti orang gila??” Kala itu Alex mencoba meyakinkan Wendy tetapi ini seperti sebuah pancingan apakah pendirian Wendy akan goyah atau tidak.
Wendy terkekeh sinis; namun kedua bola matanya memancarkan luka yang coba ia pendam.
“Untuk apa—semuanya percuma. Ia bahkan tak pernah peduli padaku-jadi kenapa aku harus repot memberitahu dia tentang kehamilanku. Karna sekarang bayi ini milikku, hanya milikku bahkan mungkin sekarang ia sudah bahagia dan menikahi wanita pilihannya.” Balasnya sangat dingin. Alex hanya terdiam dan menatapnya iba. Pasalnya ia baru melihat sisi baru dari Wendy.
Ia berbeda dari Wendy beberapa bulan lalu saat dikenalkan oleh Glen
Alex merasa ia seakan asing pada sosok Wendy kali ini.
__ADS_1
“Tapi Wen, walau bagaimanapun ia masih memiliki hak untuk tau jika anaknya dalam beberapa bulan lagi akan lahir ke dunia. Apa kamu tidak merasa bersalah dan kasihan jika setelah besar nanti, anakmu akan bertanya dimana ayahnya—walau bagaimanapun seorang anak ia masih harus memiliki seorang figur ayah” ujar Alex mencoba mematahkan segala persepsi Wendy. Maksud Alex disini bukan membela Adnan—namun Alex merasa kasihan pada nasib anak mereka setelah besar nanti.
“Aku tinggal mengatakan jika ayahnya sudah lama meninggal— lagipula anakku tak membutuhkan Adnan, kami sama sekali tak membutuhkannya. Aku masih bisa menjadi sosok ibu sekaligus ayah untuknya. Tak perlu ada Adnan dalam hidup kami—aku sendiri yang akan menjamin kebahagiaan anakku ini” tegas Wendy sedikit menghela nafasnya.