
Pernikahan Yang Tak Diharapkan
Chapter 14
Suara derap kaki yang begitu menggema dalam ruangan sepi seperti orang yang sedang terburu-buru.
“ADNAN PRATAMA...DIMANA KAU!!” Bela teriak murka. Menatap seluruh sudut mension yang besar itu. Wajahnya nampak sangat memerah marah seperti akan ada monster yang keluar didalam dirinya. Ia sangat murka terhadap putera tunggalnya itu.
Di belakangnya nampak ada Adam Pratama yang sedang menenangkan isterinya itu (tipe-tipe suami takut istri yah). Walaupun sebenarnya dia pun sangat murka terhadap tingkah laku anak satu-satunya itu, sungguh sampai kapanpun ia tak akan pernah memaafkan perlakuan Adnan kali ini.
“ADNAN PRATAMA!!!”ucap Bela dengan lantang. Kemudian, terdengar suara derap langkah seseorang menuruni tangga. Bela menatap sosok tampan itu dengan tatapan yang tajam serta marah.
“Loh mama, sudah pulang ada apa? Kenapa tiba-tiba mama sangat marah seperti ini?” Tanyanya dengan bingung. Tak sadar jika pertanyaannya itu membuat sang mama dan ayahnya makin murka.
“Haah! Kamu masih bisa bertanya santai seperti itu, kamu sama sekali tak tau kesalahanmu Adnan Pratama” Bela menggeram rendah sengaja menekannya diakhir kalimat. Adnan semakin bingung tak mengerti mencoba bertanya kepada sang ayah tetapi Adam malah memandangnya sangat dingin dengan tatapan yang tajam.
Akhirnya Adnan pun bisa menyimpulkan sesuatu.
__ADS_1
Ia telah melakukan kesalahan besar walaupun ia tak tahu apa kesalahannya.
Melihat Puteranya yang terus berdiam, Bela hanya bisa memejamkan matanya kemudian melemparkan salah satu kertas undangan yang ia genggam daritadi.
“Jelaskan pada kami mengapa ada kartu undangan pernikahan atas namamu dengan Leta Leteshia, kau tau mama dan ayah sangat kebingungan ketika beberapa kolega bisnis menanyakan hal ini. Katakan kepada kami kalau ini hanya kesalahpahaman saja” ucap Bela dengan sedikit bergetar. Ia tak ingin perasaan negatif yang daritadi menghantuinya ternyata benar.
Seketika bayangan Wendy pun muncul di enaknya dengan senyuman yang manis dan hangat. Itu membuat ia merasa sangat bersalah, meremat kartu undangan itu yang berada digenggamnya.
Raut wajah Adnan terlihat biasa saja, ia seolah dirinya tidak merasa bersalah sama sekali.
“Tidak, semua ini benar. Aku dan kekasihku akan menikah sesuai tanggal yang tertera diundangkan itu aku tidak peduli jika mama dan ayah akan menentang pernikahan ini. Karena, ini adalah pilihanku sendiri” ucap Adnan enteng.
Plakk
“Anak gak tau diri” Adnan kaget terperangah ketika Adam sang ayah berkata seperti itu untuk pertama kalinya. Bahkan tatapannya matanya kini begitu sangat murka, berbeda dengan sang mama yang kini terduduk lemas dilantai memandang kearah depan dengan tatapan yang begitu kosong.
“Adnan kenapa kamu melakukan ini hah! Batalkan semua acara pernikahanmu, cari Wendy sampai ketemu dan bawa dia kehadapanku. Aku tak akan merestui pernikahanmu dengan Leta sedikitpun. Aku benar-benar menyesal jika pada akhirnya seperti ini aku tak akan memberikan permata berhargaku kepada putera yang tak tau diri sepertimu” Bela menggeram marah dari nadanya saja ia sudah sangat emosi.
Baru saja Adnan akan mengucapkan sesuatu,tetapi tiba-tiba seseorang mengintrupsinya dari belakang.
__ADS_1
“Sayang ada apa?” Bela menoleh cepat dan mendapati seorang wanita sedang menuruni tangga. Bela pun terkekeh hambar. Tiba-tiba ia merasa berada diposisi Wendy saat ini.
Pasti ini sangat menyakitkan, tapi mengapa Wendy tidak pernah berbicara apapun tentang ini. Mengapa ia harus menutupinya seorang diri. Ia pasti menderita dengan semua perbuatan suaminya ini
Wendy yang Malang:(
Ia sangat menyesal andai saja waktu bisa berputar kembali, mungkin Wendy tak akan ia nikahkan denga Puteranya ini. Tapi, jika nasi telah menjadi bubur harus bagaimana.
“Apa-apaan ini, kamu membawa wanita itu kesini? Jangan bilang jika kalian sudah tidur bersama, hahahah aku sama sekali tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya Wendy. Seketika aku malu memiliki anak sepertimu” penuh dengan penekanan, Adnan terkejut dengan perkataan sang mama. Tapi, bukan hanya Adnan sang ayah pun terkejut dengan ucapan isterinya itu. Seketika ada satu pertanyaan yang timbul dibenak Adnan
Apa spesialnya Wendy sih sampai ia disayangi oleh kedua orangtuanya seperti ini?
“Mama jangan berpikiran buruk seperti itu dulu, Leta disini hanya menginap semalam sebab kita sibuk mengurusi acara pernikahan kita nanti” Adnan mencoba menjelaskan kepada orangtuanya berbeda dengan Leta yang ketakutan.
“Mama tidak mau tau, sekarang juga kamu cari dan temukan Wendy. Kemudian, kembali kepadanya mama akan maafkan kamu dan melupakan semua ini” perintah Bela amat mutlak
“Hmm..aku minta maaf tetapi pernikahanku dengan Adnan tidak bisa dibatalkan. Karena aku sedang mengandung anaknya”
Semua orang terkejut dengan perkataan Leta. Bela sudah meraung keras dengan memaki dan mencaci Puteranya itu. Kalimat terakhir yang dilontarkan Leta membuat Bela kembali murka dan menampar Puteranya itu dengan keras. Sementara Adnan hanya bis mematung untuk mencerna semuanya.
__ADS_1
“ANAK BR*NG**K ADNAN, KAMU MENINGGALKAN ISTERIMU YANG TENGAH MENGGANDUNG ANAKMU DEMI WANITA ULAR INI. Astaga..menantuku Wendy yang Malang bagaimana ia membesarkan cucuku seorang diri.”