
Pernikahan Yang Tak Diharapkan
Kedua kelopak mata yang indah perlahan mengerjap untuk membuka matanya malas, melirik jam yang berada diatas meja menunjukkan pukul setengah enam pagi. Dengan hati-hati membawa tubuhnya yang duduk diatas ranjang, terdengar desisan sakit akibat bagian bawahnya yang sedikit sakit dan lecet. Menatap miris pada tubuh telanjangnya yang berbalutkan selimut terdapat beberapa ruam dan juga lebam. Melirik ke samping melihat Adnan yang masih terlelap tidur dengan kondisi yang tak berbeda.
Memandang lama wajah tampan milik suaminya sebelum memutuskan untuk beranjak ke kamar mandi dengan tertatih-tatih kesakitan.
“Semakin hari semakin banyak saja, apa takdir hidupku akan terus seperti ini” ia menatap tubuhnya lewat kaca didalam kamar mandi dengan pandangan yang sedih dan miris. Berkali-kali berniat kabur namun teringat kembali semua jasa keluarga Pratama membuat niatnya itu diurungkan.
“Apakah salah jika aku berharap suatu saat nanti kau akan mencintaiku? Dengan tulus dan memperlakukanku dengan lembut?” Wendy menggelengkan kepalanya merutuki kebodohannya dengan menghayal terlalu tinggi
Wendy memutuskan untuk menyelesaikan acara mandinya kemudian menyiapkan sarapan untuk Adnan yang mungkin masih tertidur lelap. Kembali meringis kala ia membersihkan bagian bawah tubuhnya. Malah air mata menetes begitu saja, menangis dalam diam kala teringat apa yang telah diperlakukan oleh suaminya. Ia seperti wanita pemuas saja bagi suaminya sendiri.
•
__ADS_1
•
•
Wendy yang tengah menyiapkan sarapan sontak mendongak dan menemukan Adnan keluar dari kamar. Menenteng jas dengan dasi masih tergantung begitu saja yang belum terpasang. Sontak Wendy menyimpan sejenak piring berisikan roti untuk menghampiri Adnan.
Tanpa suara mulai memasangkan dasi sang suami. Sementara Wendy melakukan pekerjaannya, sementara Adnan sibuk dengan ponselnya.
Setelah selesai dengan tugasnya. Ia menyodorkan piring berisi roti di tengah meja makan. Meletakkan piring kecil dihadapan pemuda itu kemudian dengan secangkir kopi.
Mereka memulai sarapan dalam keheningan, setiap pagi juga seperti ini. Jangan harap ada perbincangan romantis layaknya pasangan suami istri yang sedang dimabuk asmara. Mereka jelas tak melakukan itu semua. Ingat bahkan pernikahan mereka dilandasi dengan keterpaksaan. Jelas takkan ada cinta melainkan perasaan benci dalam hati Adnan. Wendy jelas disini harus sabar menghadapi Adnan.
Di tengah kesunyian mereka bel apartemen tiba-tiba berbunyi. Dengan cepat Wendy bangkit dari duduknya.
“Biar aku saja yang buka, lanjutkan saja sarapanmu..” Adnan hanya acuh tanpa membalas apapun
__ADS_1
“Mama datang” sontak Wendy tersenyum lebar kala menemukan sosok Bela berdiri didepak pintu. Kemudian, mereka saling berpelukan cukup erat guna menyalurkan rindu mereka
“Loh Adnan belum berangkat....masih sarapan” tanya Bela kepada anaknya Adnan
Adnan nampak tak peduli dan memilih menyelesaikan sarapanyan
“Aku selesai” dengan sedikit kurang ajar bahkan pergi begitu saja tanpa pamit kepada sang istri maupun ibunya yang berada disana. Bela jelas sangat kesal akan sikap anaknya itu namun melirik Wendy ia semakin merasa iba pada wanita manis ini
“Wendy sayang...jawab pertanyaan Mama dengan jujur yah..apa setiap pagi atau setiap hari ia selalu memperlakukanmu seperti itu?” Bela menatap sang menantu sendu. Wendy yang mendapat pertanyaan tak terduga jelas tersenyum tipis
“Mungkin Adnan masih membutuhkan waktu untuk membiasakan semua ini Mama. Tak apa aku baik-baik saja kok karena Adnan tak pernah sampai main tangan padaku. Jadi aku tidak apa-apa Mama” sambil menggeleng pelan.
Mendengar jawaban Wendy, Bela semakin melayangkan tatapan yang sangat Iba pada sang menantu.
“Wendy berjanji lah satu hal pada Mama. Apapun yang terjadi, jika Adnan sudah kelewatan padamu datanglah pada Mama. Pulanglah ke rumah ya...Mama akan menjagamu sayang.”
__ADS_1