
Luna POV 🌙
Hai, perkenalkan. Aku adalah Luna. Nama lengkap aku adalah Luna Anggie. Aku anak Ayah Firman yang tinggal di rumah kontrakan di jalan Pahlawan.
Aku baru pindahan.
Sebelumnya aku sempat tanya ke Ayah, kenapa Luna harus pindah ke rumah kontrakan itu? Ayah bilang kalau Bos Ayah yang menyuruhnya. Katanya biar ayah dekat dengan kantor tempat ayah bekerja.
Aku yang sebelumnya bersekolah di SMP Negeri 1 Depok sekarang harus pindah sekolah di Jakarta.
"Apa Ayah, aku akan pindah sekolah di pesantren...?"
"Tidak Ayah, aku tidak mau. Aku mau sekolah di sekolah yang biasa saja!"
"Baiklah Ayah setuju, yang penting kamu sekolah."
"Iya Ayah, aku mau sekolah di sekolah Negeri seperti biasa. Biar ceritanya sama. Meski tidak sama.Â
Dengar kabar aku akan pindah sekolah di sekolah Negeri jauh di kota. Aku lalu memindahkan buku-buku yang ada di dalam kardus untuk aku letakkan di lemari tempat aku belajar nanti.
Di luar aku mendengar deru sepeda motor yang sedang mengerang. Aku tidak tau itu siapa. Besok aku akan persiapan untuk mendaftar di sekolah Negeri seperti biasa.
"Masih beres - beres..?" kata Ayah padaku. Aku sudah lama tidak punya Ibu. Ayahku bercerai dengan Ibu beberapa tahun yang lalu. Aku tinggal bersama Ayah.
Tiba-tiba Ayah pergi dari kamarku. Aku sudah selesai merapikan buku-buku yang akan aku baca. Buku cerita. Aku masih ingin mendengarkan lagu di kamar.
Aku masih galau di rumah, aku tidak tau harus ngapain. Aku tidak punya teman bermain. Aku lalu keluar sambil melihat pemandangan di luar.
Aku melihat seorang laki-laki yang sedang duduk sambil melihat layar hp nya. Dia duduk di depan rumah dia.
Aku lalu memberanikan diri untuk menyapa dia.
"Hai..! Boleh aku menyapa kamu pagi ini..?"
Laki-laki itu melihat aku saat aku berdiri di rumah itu dan menyapa dia. Laki-laki muda berusia tujuh belas tahun itu masih saja bermain hp sambil duduk di kursi depan rumahnya.
"Hai..!!" Aku menyapa dia sambil melambaikan tanganku.
Karena dia tetap diam saja aku langsung pergi ke depan rumahnya. Aku ingin dia menjawab sapaan aku. Karena aku tidak suka pada orang yang tidak merespon aku sama sekali.
Laki-laki itu lalu pergi dan ke dalam rumah dan aku kehilangan dia. Ayahku memanggil aku.
"Luna..!" katanya. Aku menoleh dan melihat Ayah. Dia berdiri di depan rumah sambil melihat ke arah aku.
"Sebentar Ayah, aku masih di sini!" kataku menjawab.
"Nakal kamu! Tidak tau malu ya masuk ke rumah orang sembarangan?"
"Maaf Ayah. Aku harus bertemu dengan laki-laki yang di dalam itu. Aku ingin berteman dengan dia!" jelas ku ke Ayah.
Aku masih kesal ke anak sebelah rumah itu. "Kamu tunggu di rumah, Ayah mau beli makan dulu di luar."
"Iya Ayah." ucapku ke Ayah.
Aku harus menunggu Ayah waktu beberapa menit di rumah. Tapi sebelum Ayah datang aku ingin menulis cerita dulu. Biar tidak kesepian.
Tak berapa lama Ayah datang. Dia membawa dua bungkus nasi yang dia beli dari luar. Nasi pecel kesukaan aku.
"Ayah beli di di pasar ya?" tanyaku ke Ayah.
"Iya." Ayah lanjut makan. "Makan nasi pecelnya!" lanjut Ayah padaku.
Aku memakan nasi pecel itu sambil mencoba untuk menelan nasi itu baik-baik. Nafsu makan aku tidak seenak sebelumnya tidak tau kenapa.
Aku lalu meletakkan bungkus nasi itu dan pergi ke luar. Aku tidak melihat anak itu lagi. Aku ingin berkenalan dengan dia.
"Luna, apa yang kamu lihat?" ayah menyapaku dari belakang.
"Aku tidak melihat siapa-siapa Ayah!" aku berbohong ke Ayah. Aku lalu balik ke kamar untuk santai.
Aku lalu pergi menemui Ayah di kamarnya.
"Ayah!" Ayah kaget saat aku datang ke kamarnya. Dia rebahan sambil rokoan.
"Luna, kok ke sini, ada apa? Tidak biasanya kamu ke Ayah? Ada apa sayang..?"
"Ayah, aku mau tanya ke Ayah!"
"Bilang apa sayang? Kamu kangen Ibu? Biar Ayah antar nanti kalau kamu memang kangen ke Ibu."
"Bukan itu Ayah. Aku tidak mau pergi ke rumah Ibu Minggu ini. Aku mau di rumah dulu. Biar Ayah bilang ke Ibu nanti di telepon."
"Iya, Ayah akan telepon Ibu kamu nanti. Semoga dia tidak kecewa." kata Ayahku menjawab.
__ADS_1
"Kamu mau tanya apa ke Ayah?" Ayah lanjut bertanya padaku.
"Ayah kenal sama anak muda sebelah?"
"Tidak. Ayah kan baru di sini. Lagian kamu tidak perlu ke rumah sebelah. Malu. Kamu kan cewek!"
"Ayah, cewek atau cowok itu sama saja! Aku butuh teman Ayah! Luna butuh teman bermain!" kataku ke Ayah.
"Tapi kamu tidak harus bermain sama anak itu. Ayah takut anak itu tidak baik buat kamu. Mending kamu baca buku di kamar menambah ilmu." kata Ayah lanjut padaku.
Aku masih diam memahami kalimat Ayah barusan. Aku lalu ijin pamit ke Ayah pergi ke kamar.
Deru sepeda motor itu terdengar dari kamar depan yang aku tempati sekarang. Aku lihat sebentar, itu adalah anak muda tadi yang sempat aku temui di rumahnya. Tapi aku tidak tau siapa namanya.
Tapi, aneh. Dia tidak mau kenal padaku. Mungkin dia tidak suka berkenalan dengan aku atau dia tidak biasa bermain dengan cewek seperti aku.
Aku tinggal di rumah itu sampai larut malam. Aku menghabiskan waktu di rumah itu sambil membaca buku dan mengarang cerita di aplikasi.
Tidak ada harapan untuk bertemu dengan anak muda yang tinggal di rumah sebelah. Aku harus belajar, makan, tidur bermain di apk atau media sosial di ponsel aku.
Ayah membelikan hp buat aku setahun yang lalu.
Aku tidur pada malam hari di tempat tidur. Aku akan menghilang untuk sesaat setelah itu aku akan bangun tepat pada saat subuh.
...***...
Aku bangun di saat subuh. Ayahku membangun kan aku untuk solat subuh. Ayah solat dulu lalu aku menyusul untuk solat.
Ayah bilang padaku, kalau dia akan berangkat kerja ke kantor Pak Aliyas. Kantor milik Pak Doni. Dia juga bilang ke Pak Doni kalau di hari Rabu nanti dia mau ijin tidak masuk dengan alasan akan mendaftarkan aku ke sekolah Negeri 1 di kota. Tepatnya di Jakarta.
Senang atau tidak senang, aku merasa sedih karena harus beradaptasi dengan sekelompok orang yang tidak aku kenal. Kalau boleh pilih, aku lebih suka bertemu dengan anak rumah sebelah yang cakep itu. Yang sampai sekarang aku belum kenal dia.
Ayah berangkat pagi itu dengan sepeda motornya tepat pukul tujuh lewat. Ayah tidak sarapan dulu tidak biasa. Aku juga.
Seperti biasa, aku akan mencari uang di dompet untuk beli cemilan nanti untuk makan.
Aku lalu beranjak dari tempat duduk aku di ruang tamu untuk untuk melihat pemuda di rumah sebelah. Dia tidak muncul pagi itu. Mungkin dia masih di dalam.
Aku lalu berkeliling di sekitar rumah. Aku tidak menemukan apa-apa di situ. Cuma satu sandal jepit yang sempat tertinggal kemarin. Dan aku tidak tau pemilik sandal itu siapa.
Aku mendengar suara deru motor itu dari luar. Aku cepat-cepat berlari ke arah jendela untuk melihat siapa yang naik motor itu. Dan ternyata dugaan aku benar. Pemuda itu.
Aku melihat ke arah rumahnya. Aku melihat ada Bapak dengan wajah sangar dan rambut gondrong. Aku tidak tau siapa namanya. Dia pasti Ayah pemuda itu.
Aku berjalan keluar rumah sambil menutup pintu rumah. Aku berjalan ke arah rumah Bapak rambut gondrong itu sambil berucap permisi.
"Permisi Pak..! Boleh aku ke rumah Bapak..?"
"Maaf, Kinan tidak ada di rumah. Kamu boleh balik nanti." ucapnya padaku.
"Kinan?" Oh anak itu namanya Kinan. Oke, sekarang aku akan pergi karena kelihatannya bapak itu tidak mau berteman dengan aku.
Aku lalu balik ke rumah sambil baca buku. Aku mendengar suara deru motor itu tak berapa lama. Aku diam saja. Aku sudah itu, itu pasti suara deru motor Kinan.
Kinan, nama yang bagus. Aku terus membaca buku cerita milik Asri Aci yang aku beli beberapa waktu yang lalu. Tiba-tiba aku di kagetkan oleh suara ketokan pintu kaca yang datangnya dari arah depan.
Aku kaget dan langsung melangkah menghampiri pintu kaca itu. Aku melihat ada laki-laki yang tengah berdiri di situ. Sepertinya Kinan yang datang. Setelah aku buka ternyata benar. Orang itu adalah Kinan.
Ini adalah pertemuan kedua aku bareng Kinan.
"Iya ada apa..?" aku pura-pura tidak tau dan tidak kenal dia.
"Kamu tadi mencari aku ya? Aku di suruh Ayah untuk menemui kamu di sini. Tapi kalau bisa jangan lama soalnya aku ada kerjaan di rumah."
"Kamu masuk dulu." ucapku ke Kinan.
"Tidak, aku di luar saja." ucap Kinan padaku.
Aku lalu memilih untuk keluar sambil bertemu Kinan. Aku memilih untuk duduk di pagar tembok rumah yang bisa di buat untuk tempat duduk.
"Duduklah. Tidak usah berdiri." lanjut ku.
"Maaf, aku tidak bisa lama." lanjut Kinan.
"Kalau memang di rasa tidak penting mending aku pulang saja. Aku tidak suka lama-lama di rumah orang. Apalagi orang itu tidak aku kenal." kata Kinan padaku.
"Kalau begitu kita kenalan saja!" kataku berucap.
"Apa itu perlu?"
Pertanyaan Kinan cukup membuat aku bingung. Dia selalu saja punya alasan untuk menjauh dari aku. Dia seperti enggan padaku.
"Terserah kamu sih. Aku tidak memaksa." lanjut aku ke Kinan.
__ADS_1
"Ya sudah, kenalkan namaku Kinan Prasetya. Maukah kamu berteman denganku..?"
Aku langsung beranjak berdiri dan langsung meraih tangan Kinan.
"Iya aku mau. Perkenalkan namaku Luna Anggie. Maukah kamu berteman denganku..?"
"Iya aku mau." Kinan menjawab sambil melepas tangannya. Tangan Kinan terasa lembut di tanganku.
"Aku pergi dulu ya. Panas di sini!" katanya pamit pergi.
"Kamu bisa masuk kalau kamu mau! Di dalam dingin kok."
Aku mengajak Kinan untuk masuk ke dalam.
"Tidak terima kasih."
Kinan menolak ajakan aku. Kinan lalu pergi dari rumahku. Meski aku sedikit kecewa tapi tak mengapa. Aku lanjut pergi ke dalam rumah balik ke kamar lagi.
Aku menutup pintu depan yang sebelumnya sempat aku buka dan sempat di ketok oleh Kinan.
Aku diam di dalam kamar sambil kembali menulis cerita. Aku lupa tadi tidak minta nomor hp Kinan. Tapi, apakah itu perlu?
Waktuku di rumah masih banyak. Aku malas untuk menyapu atau bersih-bersih rumah. Biasanya Ayah yang menyapu lantai saat dia pulang dari kerja nanti sore.
Ya, beginilah nasib aku kalau aku tidak masuk sekolah. Aku harus berlama-lama di rumah dan baca buku atau buat cerita panjang.
Aku mencoba untuk melihat video yang ada di you tube. Cukup mengasyikkan. Selebihnya aku ingin bertemu Kinan lagi.
Aku lalu mencoba untuk live di Bigo untuk menghabiskan waktu seharian.
Aku tidak punya sepeda untuk berjalan keluar. Oh Iya, aku lupa. Aku bisa jalan kaki ke luar sambil melihat pemandangan di luar.
Meski aku harus jalan sendirian aku tidak takut. Aku bisa minta tolong ke orang di sekitar kalau di tengah jalan ada yang ingin membahayakan aku.
Aku lalu melangkah pergi ke luar rumah sambil menutup pintu depan. Aku melihat Kinan sedang duduk di depan rumah sambil bermain hp.
Kinan melihat aku keluar rumah lalu menyapa aku sebentar.
"Mau ke mana..?"
"Aku mau pergi ke luar. Aku ingin jalan-jalan. Di rumah sepi tak ada teman."
"Iya." jawab Kinan singkat.
Kinan tidak mengerti kalau aku butuh teman saat itu. Kinan tidak mengajak aku untuk bermain ke rumah dia. Padahal aku sedang butuh teman.
Aku menepis rasa kecewa aku ke Kinan. Aku pamit pergi ke Kinan.
"Aku pergi dulu ya!" ucapku ke Kinan.
Aku meninggalkan pemuda itu untuk sesaat. Sebenarnya aku tidak tau akan mengarah ke mana langkah aku ini.
Aku masih melewati halaman yang kering dengan tangan yang panas karena sinar matahari. Aku melewati pohon yang tinggi yang letaknya di belakang rumah tetangga.
Aku melihat jalan sebentar yang memanjang. Jalan itu mengarah ke arah kanan dan kiri. Aku melihat sepeda motor yang lewat dengan pengendara motor yang berhelm.
Tidak ada orang yang aku kenal di situ. Aku melihat ke belakang dan balik ke rumah. Aku melangkah ke rumah dengan langkah lambat.
Aku merasa sedih karena harus kesepian lagi dan butuh teman untuk bicara. Aku lalu mencari apk di hp.
Aku temukan nama Apk 'Walla'. Aku klik dan aku unduh. Siapa tau aku bisa punya teman di situ. Kadang teman itu bisa menghibur kita saat kita merasa kesepian.
Aku mencoba untuk mendaftar tapi syaratnya aku harus punya email dulu. Sama seperti di Bigo. Aku lalu mendaftar dengan email yang aku punya. Di terima ternyata. Tapi aku tidak bisa langsung live di situ karena aku tidak tau caranya.
Aku klik beberapa kotak yang ada dengan gambar atau foto satu orang di setiap kotaknya. Kotak itu banyak sekali. Dengan foto seorang laki-laki yang berbeda-beda.
Ternyata aplikasi ini adalah tempat para pemuda yang suka dengan aplikasi ini. Aku mencoba melihat satu persatu pemuda yang ada di situ.
Keren! Penyiarnya cakep banget dan masih muda. Aku akan coba untuk berteman dengan dia. Namanya adalah Nuel. Tapi aku tidak banyak meluangkan waktu di room nya dia.
Aku lalu berpindah ke room yang lain, dan aku menemukan nama penyiar dengan nama Rik. Dia mengajak peserta untuk ikut live privatnya dia.
Tuhan!
Aku lalu pindah lagi ke penyiar yang lain yang ada di kotak itu. Aku melihat satu orang live dengan nama Tara. Dia Live dengan TV di sebelahnya. Dia menyetel TV itu dengan pesanan dari followers atau pengikutnya.
Aku lihat Tara adalah laki-laki muda yang masih terlihat tampan dengan tertawaan yang khas.
Berbeda yang orang yang satu lagi dengan nama Faisal. Dia sudah terlhat sangat tua dan dekil. Aku tidak suka melihat dia di apk. Aku lebih suka melihat penyiar yang fresh dengan muka bersih dan cerah.
To Be Continue.
[Maaf kalau ada Typo]
__ADS_1