
Maya POV
Aku akan meneruskan cerita di mana aku lagi bangun tidur sekarang. Belum mandi juga. Aku lalu mencoba untuk menelepon Kinan karena sudah lama tidak bertemu.
Maya
"Halo Kinan,"
Kinan
"Maaf, ini Maya ya?"
Maya
"Ya ini aku Maya. Kamu apa kabar?"
Kinan
"Kabar aku baik-baik saja kok. Tapi aku sudah lama libur kerja."
Maya
"Kenapa, ada masalah?"
Kinan
Tidak, bentar ya aku tutup dulu."
Telepon itu di tutup dan aku chat Kinan untuk bertemu dia di suatu tempat.
Chat
Maya : Kinan, aku ingin bertemu kamu di kafe di kota namanya (Kedai kopi) kamu mau kan?
Kinan : Ya nanti aku kasih tau kalau aku ada waktu.
Maya : Ya.
Sebenarnya aku kecewa ke Kinan, kenapa dia tidak langsung setuju saja kalau begitu. Aku ingin bertemu Kinan secepatnya tapi Kinan malah tidak mau.
Aku terpaksa meneruskan aktivitas aku untuk mandi di kamar mandi dan solat. Setelah itu aku langsung duduk di sofa tempat aku biasa duduk.
Aku lalu keluar rumah sambil berjalan menuju ke teman. Tidak jauh di kontrakan aku ada taman yang cukup luas.
Aku lalu melihat Kinan yang sedang berkelebat lewat di depan mata aku. Tapi aku tidak bisa menjangkau dia. Aku lalu mengalihkan keinginan aku untuk duduk sebentar lalu aku cari buku untuk aku baca. Aku ingin baca buku sebentar atau membelinya kalau uang aku cukup.
Aku masuk ke toko buku dan aku membelinya setelah selesai aku balik ke taman sambil melihat-lihat keadaan sebentar.
Aku melihat beberapa orang yang ada di situ. Aku lalu menghampiri satu orang yang sedang duduk di atas batako taman.
"Hai..!" aku menyapa perempuan itu. Dia melihat aku dengan kedua matanya. Dia memakai hijab abu-abu.
"Ya, ada apa?"
"Maaf, kalau aku ganggu ketenangan kamu. Aku boleh duduk di sini?"
__ADS_1
"Silahkan." katanya senyap.
Aku juga memilih tempat duduk yang nyaman di sebelah dia. Aku tidak begitu melihat dia.
"Maaf, aku cuma ingin mengobrol dan berkenalan dengan kamu."
"Ya tidak masalah."
"Kamu siapa?"
"Aku Belinda. Rumah aku jauh dari sini."
"Kenapa bisa sampai di sini?"
"Aku sengaja datang ke sini karena ingin merasakan tempat ini. Ingin tau suasananya." jelas Belinda padaku.
Aku masih melihat sekitar. Pemandangan yang cukup tenang dengan beberapa pengunjung yang ada.
"Itu apa, buku?" tanya Belinda padaku.
"Ya, ini buku novel. Tadi aku beli di toko buku." kataku menjawab.
"Buku ini menurut aku bagus padahal aku masih belum membacanya." kataku ke Belinda.
Belinda cuma bisa tersenyum di depan aku. Mungkin dia suka buku itu atau bagaimana.
"Kamu suka baca buku ya?"
"Ya kadang - kadang kalau lagi kesepian aku suka baca buku, kadang jalan-jalan seperti sekarang." jelas aku ke Belinda.
"Buku ini mau aku baca nanti setelah mengobrol sama kamu."
Belinda tersenyum padaku.
"Kira-kira tema apa yang layak untuk di bicarakan?"
"Aku tidak tau tapi aku ingin bahas judul buku itu."
"Judul buku ini?"
Aku kaget dan langsung membalikkan buku novel baru itu yang berjudul jatuh cinta diam-diam. Tulisan ini adalah karya terbaik yang aku tau.
"Baiklah, kita bahas saja sambil melewati waktu." — "Apa sebelumnya kamu pernah jatuh cinta pada seseorang...?" tanyaku lanjut ke Belinda.
"Pernah, malah aku sampai menikah dengan orang itu."
"Lalu sekarang bagaimana? Apakah dia masih ada di dalam hidup kamu dan masih menyayangi kamu?"
Belinda tersenyum lagi padaku.
"Tidak, dia sudah tidak ada lagi di dalam hidup aku. Kamu bercerai beberapa bulan yang lalu."
"Oh, kenapa bisa begitu?"
"Ceritanya panjang. Nanti aku cerita ke kamu bagaimana cerita yang sebenarnya. Untuk kali ini aku akan ceritakan ke kamu bagaimana aku bisa mengenal dia dan jatuh cinta ke dia secara diam - diam." kata Belinda padaku.
__ADS_1
Aku sedih terusik dan merasa tidak nyaman sendiri. Aku berpikir kenapa aku bisa merasakan hal itu di depan Belinda. Kenapa aku bisa merasakan kesedihan yang mungkin di alami oleh Belinda sekarang.
"Belinda, apakah kamu merasa sedih?"
"Sedikit. Dulu awal-awal aku pisah dengan dia aku merasakan hal itu tapi sekarang sedikit demi sedikit perasaan itu kian hilang."
"Siapa nama laki-laki itu? Kamu ada fotonya?"
"Aku tidak bisa menyebutkan namanya atau kasih tau kamu fotonya. Aku akan membuat nama buatan ke dia. Sebut saja dia Adam."
"Adam..? Seperti nama Nabi saja." kataku ke Belinda.
"Kamu kenal Adam di mana?"
"Aku kenal Adam di suatu tempat, tepatnya di rumah saudara aku. Waktu itu kebetulan sedang ada acara."
"Terus..?"
"Terus, aku melihat dia saat itu sedang masuk ke halaman rumah aku dan aku langsung suka dan ingin berkenalan dengan dia."
"Apakah keinginan kamu itu tercapai..?"
"Tidak, butuh waktu lama untuk bisa tau alamat dia. Aku tidak begitu berusaha untuk mendapatkan dia. Aku cuma bisa berdoa dan berdoa saja. Sampai di suatu ketika, Tuhan mempertemukan aku lagi dengan dia di toko swalayan. Kebetulan waktu itu aku sedang ingin beli sabun."
"Ya Tuhan, itu waktu menunggunya butuh berapa lama? Satu bulan kah atau dua bulan atau mungkin sampai tiga bulan..?"
"Kurang lebih tiga bulan aku berdoa untuk dia."
"Terus ceritanya bagaimana?"
"Aku melihat dia masuk ke toko itu bersama satu orang perempuan yang buat aku kecewa awalnya. Aku masih berpikir bagaimana caranya untuk bisa berkenalan dengan dia. Padahal aku seorang perempuan pemalu."
"Terus..?"
"Aku langsung saja melabrak dia dengan beberapa pertanyaan di toko itu tanpa rasa malu."
"Apa yang kamu tanya ke dia? Soal apa?"
"Aku tidak perlu panjang lebar tentang pertanyaan itu. Intinya aku kasih tau ke dia kalau aku adalah saudara Pak Haji Hasil."
"Apakah dia mengerti?"
"Ya, dia mengerti tapi setelah itu dia pulang dan berpindah ke luar bersama perempuan itu. Doa yang pertama kali mengajak Adam untuk keluar."
"Ya," aku menjawab.
Aku berpikir lama untuk bisa melanjutkan apa pembahasan yang harus aku bahas tentang Adam dan Belinda. Hubungan perkenalan yang cukup rumit menurut aku.
"Baiklah Belinda, mungkin sampai di doni dulu mengontrolnya. Aku akan minta nomor HP kamu agar aku bisa menghubungi kamu kalau aku sedang ingin mendengar cerita itu lagi."
"Aku sangat kecewa sebenarnya tapi tak mengapa. Aku akan lanjutkan cerita itu nanti kalau kamu sudah ingin mendengarkannya. Dan sebentar, aku akan cek nomor hp aku dulu."
Belinda memeriksa HP nya dan memberikan nomor hp nya itu padaku. Aku mulai mencatatnya dan menyimpannya di dalam kontak.
TBC.
__ADS_1