
Maya POV 🌙
Aku ada di dalam mobil duduk bersama Aldi yang siap menyetir mobil untuk pergi ke pesta Ulang tahun Tara. Anak Pak Yanto di kelab Arista.
Aku turun dari mobil dan tiba di kelab itu. Aku menunggu Aldi turun dari mobil. Mobil Avanza itu Aldi parkir sejajar dengan mobil yang lain yang terparkir ke situ.
Aku mesin berdiri menunggu Aldi turun dari mobil Avanza. Aldi langsung masuk ke dalam tanpa melihat aku. Tuhan, kejam banget ini orang. Aku di anggap nya apa saat ini?
Aku berjalan sendiri masuk ke dalam kelab tanpa tau apa yang akan terjadi. Di pintu depan sudah ada Kinan. "Maya, kamu datang juga..?"
"Iya, maaf Kinan aku di ajak sama Pak Doni. Tapi Pak Doni tidak bisa datang."
"Masuklah. Kamu tidak bawa kado buat anak Pak Doni..?"
"Tidak."
"Ya sudah, masuk saja."
Aku masuk dengan perasaan malu ke Kinan. Aku jelas-jelas tidak bawa apa-apa untuk Tara. Saat bertemu aku cuma bisa bersalaman dengan dia.
Tar tidak memperhatikan aku. Di sebelahnya sudah ada Aldi yang berdiri sambil melihat aku. "Maaf Tara, temanku ini tidak punya kado buat kamu."
"Tidak apa, kamu bisa bantu pelayan nanti mengantar air, maaf aku bercanda. Hai, kenalkan namaku Tara. Aku dan Aldi sudah berteman cukup lama. Kamu betul temannya Aldi..?"
"Bukan, aku pembantu Aldi di rumah."
"Pembantu? Benarkah Aldi?"
"Hm,Iya pembantu tapi bukan pembantu beneran. Dia karyawan Ayah di kantor. Sebentar ya!"
Aldi membawa aku ke suatu tempat yang sepi. Dia bilang padaku jangan sampai Tara tau kalau aku tinggal serumah dengan dia.
"Kamu bisa kan?"
"Iya bisa."
"Kamu bilang ke Tara kalau kamu tinggal di kontrakan ok!"
"Iya."
"Bagus. Tara tidak boleh tau rahasia ini. Aku kecewa kamu ikut. Tapi sudahlah, kamu jangan dekat-dekat Tara dulu. Biar aku saja bersama dia."
Aldi lalu pergi meninggalkan aku. Aku baru tau kalau Aldi merahasiakan pertemanannya dengan Tara. Aldi tidak pernah bilang ke aku kalau dia berteman dengan Tara sebelumnya.
Tuhan, ada apa lagi ini..? Aku lalu di senggol oleh seseorang dari belakang, siapa lagi kalau bukan Kinan.
"Kinan, kamu!?" aku kaget melihat Kinan yang pas datang padaku.
"Sendirian..?" ucapnya padaku sambil bawa nampan.
"Iya. Makasih ya."
"Untuk apa..?"
"Untuk pekerjaan ini."
"Iya. Semangat kerjanya." ucapku ke Kinan.
"Iya." jawab Kinan.
"Kamu mau aku bawakan minuman..?"
"Tidak perlu. Kamu di sini saja."
Aku ingin melihat Kinan dengan pakaian putih hitamnya di depan aku.
"Aku tidak bisa lama di sini. Aku harus bekerja melayani tamu." lanjutnya.
"Iya. Semangat!" ucapku memberinya semangat. Belum selesai melepas rindu Kinan harus pergi meninggalkan aku. Itu resiko yang ada padaku.
Aku sendirian sekarang. Aku melihat ke arah sekitar semuanya bertemu dan bicara. Aku lalu di kejutkan dengan penampilan Tara yang naik ke atas panggung.
"Para hadirin, terima kasih sudah datang ke acara ini. Aku ucapkan selamat datang. Jangan lupa untuk memakan makanan yang ada di sini dan minum sepuasnya."
Aku mendengar kan pidato Tara dengan baik. Kinan lalu datang menghampiri aku dan mengajak aku makan.
"Maya, makan yuk! Di sana sudah ada makanan untuk para tamu. Yuk aku temani makan." Kinan mengajak aku. Aku setuju dan ikut ke meja makan.
"Wah, masakannya bermacam-macam." Kinan langsung mengambil makanan yang dia suka. Aku juga. Aku makan bareng Kinan sambil mengobrol.
"Bagaimana perasaan kamu setelah bekerja di sini, betah?"
"Lumayan. Aku masih baru di sini tidak begitu tau."
"Cari tau, kamu pasti senang." Aku selalu menyemangati Kinan untuk bisa beradaptasi di kelab itu.
"Aldi ikut ya?"
"Iya."
"Aku lihat dia bicara bersama Tara tadi di sana." Kinan menunjuk suatu tempat.
"Iya, aku tau. Dia sudah mengusir aku tadi. Aku sempat sedih."Â
"Biasalah, orang kaya memang seperti itu." lanjut Kinan padaku. Sebenarnya Kinan dan Aldi itu sama saja. Tidak ada yang bisa mengerti aku.
"Selama kamu di rumah Aldi kamu betah kan?"
"Iya. Kenapa?"
"Aku juga punya mimpi untuk tinggal di sana. Siapa tau Pak Doni butuh pelayan."
"Buat apa pelayan? Sudah ada aku di rumah."
"Jadi kita sama dong."
"Iya. Sama-sama pelayan."
Tiba-tiba Aldi datang ke arahku. "Maaf menggangu. Maya, kita pulang sekarang."
"Kok cepat sekali..?"
__ADS_1
"Ayah menyuruh aku untuk pulang. Dia tidak mau aku kemalaman."
"Baiklah." ucapku setuju.
Aku pamitan ke Kinan dan pergi bersama Aldi. Saat berjalan aku tanya ke Aldi. "Kamu sudah pamit ke Tara..?"
"Tidak, Tara tidak akan mengijinkan aku." lanjut Aldi sambil jalan. Aku dan Aldi menuju ke mobil, Kinan lalu menghampiri aku dari dalam.
"Maya!" Kinan memanggil aku sambil berlari menuju aku.
"Ini kue buat tamu undangan. Kamu bawa."
"Terima kasih. Kamu baik sekali."
"Terima kasih." Aldi menyusul.
Kinan memberikan aku dua kotak kue. Aku dan Aldi langsung masuk ke dalam mobil meninggal kan Kinan yang masih menunggu aku jalan.
Kasihan sekali Kinan harus bekerja pada malam hari hingga pagi. "Aldi kamu tidak merasa kalau kita satu mobil..?"
"Iya, aku tau. Tapi aku tidak mau macam-macam. Kamu bukan tipe aku."
"Bagus. Lalu, kenapa kamu mencium aku kemarin..?"
"Sudahlah, lupakan saja. Itu hanya nafsu sesaat." kata Aldi padaku. Bagus, aku tidak punya kesempatan lagi untuk bercinta sekarang.
Aku lalu pencet tombol hp dan menyalakan apk. Aldi membiarkan aku bermain dengan layar hp kesayangan aku itu. Dia fokus menyetir dan berhenti mengisi solar.
Aku menunggu di dalam saat Aldi keluar. Aku lalu menemukan hp Aldi tergeletak di jok tengah. Aku lihat beberapa pesan masuk dengan nama Tara. Perempuan itu pasti sedang mencari Aldi.
Tak berapa lama Aldi masuk dan mulai menyetir mobil. Beruntung lah aku malam itu ada di samping Aldi. Meski Aldi tidak begitu suka.
"Aldi, sepertinya ada pesan masuk."
"Nanti saja, aku masih menyetir." katanya. Aku biarkan saja. Aldi tidak bisa di ganggu. Aku fokus melihat jalanan. Mobil terus berjalan dan aku tetap diam tanpa bicara.
Aldi terus menyetir sampai rumah. Mobil naik ke garasi dan aku pun turun sambil membawa kotak kecil itu. Aku menaruh kotak kecil itu si meja tengah.
"Aldi jangan lupa kuenya." aku memberitahu Aldi. Laki-laki itu langsung masuk ke kamar.
Aku beristirahat sambil rebahan. Aku merasa kesepian dan mendengar Aldi sedang memutar musik di kamarnya.
Aku lalu mengambilkan kue itu yang ada di meja dan mengetok pintu kamar Aldi.
"Permisi..!"
Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Aku mengetok pintu itu sekali lagi, lalu pintu itu terbuka. Ada Aldi di situ tanpa mengenakan baju.
"Apa..?"
"Kamu lupa sama kue ini."
"Makan saja." katanya padaku.
"Kamu tidak mau makan kue ini, kue ini enak loh!" kataku ke Aldi. Sudah biasa mungkin kalau laki-laki seperti Aldi tidak suka kue undangan.
Aldi orang kaya yang bisa beli apa saja yang dia suka. "Kalau begitu biar kue ini aku taruh di kulkas." ucapku lanjut ke Aldi.
Aldi lalu menutup pintu tanpa bilang apa-apa. Aku melihat pintu kamar Pak Doni terbuka. Aku melihat laki-laki itu sedang istirahat.
Aku lalu pindah ke kamar tidur dan lanjut tidur sampai pagi. Pagi seperti biasa aku bangun solat subuh setelah mendengar adzan subuh.
Aku masih merasa sedih karena aku harus kerja dan berangkat ke kantor. Kantor Aliyas. Aku tidak melihat Pak Doni keluar dari kamar tidur.
"Aldi, Pak Doni..?"
"Bentar aku liat dulu di kamar." Aku menunggu Aldi yang sudah siap duluan. Aku belum siap-siap ganti baju dan masih belum mandi.
"Maya, aku duluan ke kantor. Kamu naik ojek saja ya?"
"Aku tidak punya uang buat bayar ojek. Tunggu aku sampai selesai mandi ya!"
"Ya sudah, aku tunggu di sini." Aldi terpaksa menunggu aku di ruang tengah. Aku melihat Pak Doni masih di dapur belum siap untuk berangkat ke kantor.
Aneh, pak Doni perhatikan tidak seperti biasanya. Saat keluar dari kamar mandi aku tidak melihat Pak Doni lagi di dapur. Mungkin lagi di kamarnya.
Aku melewati kamar Pak Doni yang sedikit terbuka. Aku lihat Pak Doni duduk sambil menonton TV.
Aku masuk ke kamar lalu ganti baju. Aku tidak tau apa yang terjadi di ruang tengah. Aldi dan aku sudah siapa berangkat ke kantor tanpa Pak Doni.
'Yuk!" Aldi mengajak aku berangkat.
"Pak Doni..?"
"Ayah ijin sakit."
"Sakit...?" aku langsung buruan ke kamar Pak Doni dan melihat dia sedang istirahat. Tuhan. Aku balik menemui Aldi yang sudah menghilang di ruang tengah. Aldi sudah siap di dalam mobil.
Beruntungnya aku bisa semobil dengan Aldi sekarang. Aku jadi ingat Ibu Sulastri yang nasibnya tidak sama dengan aku.
"Kita mampir ke butik dulu. Kamu mau kan..?"
"Butik apa..?"
"Ya Butik baju lah. Butik Ibu."
"Ibu Sulastri..?"
"Iya, Ibu mana lagi..? Emang aku punya dua Ibu apa..?"
"Ngapain ke situ..?"
"Pamitan."
"Owh, anak baik."
"Ya iyalah, kamu kan gak punya Ibu." kata Aldi padaku.
"Kata siapa aku gak punya Ibu? Aku punya Ibu di rumah!"
"Rumah yang mana? Kamu tinggalnya di rumah aku! Kamu sama gembel itu masih lebih bagus gembel. Tidak numpang di rumah orang!" kata Aldi padaku.
__ADS_1
Aku langsung memukul tubuhnya kesal. "Apaan sih! Rusak tau setrikaannya! Mana aku juga yang setrika baju!"
"Iya, nanti aku bantu setrika! Repot amat!"
Aldi tersenyum melihat aku. Aku melihat pemandangan luar yang pertama kali aku lihat setelah dua bulan aku tidak melihatnya.
Aku sempat ingat sama Berta, tapi aku tepis. Aku akan bilang ke Aldi kalau sudah jam pulang nanti.
Sampailah aku di kantor. Beberapa karyawan melihat aku dan Aldi masuk kantor. Ada yang menyapa, "selamat pagi Pak Aldi, Bu Aldi..?"
Aku tersenyum sambil terus jalan. Sumpah aku jadi geli. Ada beberapa yang terkejut meliat aku masuk kantor. Khususnya karyawan baru yang sama sekali tidak kenal sama aku. Tuhan.
Aku pisah sama Aldi setelah Aldi masuk ke ruangan Pak Doni. Aku berhenti melangkah setelah melihat kursi kerjaku di tempati karyawan baru. Aku pergi bertemu Aldi.
"Al, siapa yang duduk di kursi kerjaku?"
"Siapa..?" Aldi juga tidak kenal siapa. Aldi lalu pergi ke karyawan itu lalu dia pindah ke kursi kosong yang ada di belakang.
Aku bersyukur dalam hati. "Sudah Aman." lanjut Aldi padaku.
Aku langsung pergi balik ke kursi kerjaku. Aku bernapas lega. Meski aku tidak tau apa yang akan aku lakukan.
Tiba-tiba ada Ibu Sulastri yang masuk ke ruangan Aldi dengan berjalan melewati aku. Aku melihat Ibu Sulastri tengah berdiri menghadap Aldi. Aldi lalu keluar bersama Ibu Sulastri.
Aku jadi bingung sebentar. Sebenarnya ada apa? Kenapa Aldi keluar bersama Ibu Sulastri?
Aku mulai membuka lemari yang sudah lama tidak aku buka. Tapi berkas-berkas yang ada di dalam lemari itu sudah tidak sama lagi seperti yang lalu. Aku melihat laptop milik Pak Doni juga hilang.
Aku masih menunggu Aldi datang. Tiba-tiba seorang perempuan datang bertanya Aldi. Aku langsung memberitahu dia kalau Aldi sedang keluar. Dia berterima kasih padaku.
Aku masih menunggu Aldi datang. Tak berapa lama Aldi datang dan masuk ke ruang Pak Doni. Aku pergi menemui Aldi.
"Permisi..!"
"Iya, ada yang perlu saya bantu?"
"Aldi."
"Bapak. Bapak Aldi. Tolong kamu yang sopan di sini. Aku atasan kamu sekarang."
"Iya, maaf Pak Aldi. Aku mau tanya, apa yang mesti aku lakukan di sini..?"
"Maya, apa kamu lupa tugas kamu di sini sebagai apa..?"
"Tugas aku di sini sebagai sekretaris. Tapi, aku tidak punya file atau laptop?
"Lalu..?"
"Apa ada yang lain yang harus aku kerjakan..?"
Aldi tersenyum sinis padaku. "Maya, kantor ini tidak butuh kamu sepertinya."
"Maksud kamu?"
"Sebentar aku telepon Ayah dulu." Aldi ijin padaku untuk menelpon Pak Doni. Dia bilang Ya, Ya Ayah. Lalu menutup ponselnya.
"Ayah bilang kamu masuk di bagian koperasi. Di situ sedang butuh karyawan. Kamu masuk saja."
"Di sebelah mana..?"
"Biar aku antar kamu, ikut aku." Aldi mengantar aku ke ruang Koperasi. Di situ aku lihat tiga orang laki-laki yang tidak aku kenal. Aldi lalu menghadap orang itu dan bicara langsung.
Aku menunggu Aldi selesai bicara.
"Kalau begitu kalian keluar dulu, aku mau bicara sama karyawan baru ini." ucap Laki-laki itu ke dua laki-laki yang ada di depannya. Dua laki-laki itu keluar dari ruang koperasi.
Aldi pamit padaku dan keluar dari ruangan itu juga. Tinggal aku sekarang sama Bapak ini.
"Silahkan duduk." bapak itu menyuruh aku duduk. Dia bicara sambil tersenyum padaku.
Aku mengambil tempat duduk di depan meja kerjanya. "Bisa anda beri tau nama Anda?"
"Maaf, kalau boleh aku kasih tau, aku adalah karyawan lama di sini. Aku baru kenal Anda sekarang. Sebelumnya yang duduk di kursi Anda kalau tidak salah Pak Dedi." jelas-ku ke orang itu.
Dia lalu menjawab, "Oh, Pak Dedi sekarang pindah ke bagian manajemen Administrasi. Anda bisa cek kalau perlu."
"Tidak, terima kasih."
"Namaku Jauhari. Panggil saja Joe. Aku karyawan baru di sini yang di percaya oleh Pak Doni." jelasnya padaku.
Aku sedikit kesal ke dia tapi mau apa lagi. Aku lanjut bertanya, "Apa anda sudah menikah..?"
"Sudah, aku sudah punya anak satu. Anda..?"
"Aku masih singgel. Aku belum menikah." aku malu sekali mengatakannya ke Joe.
"Tidak masalah, itu bisa di atur. Selamat datang di kantor koperasi ini dan selamat bergabung." Joe cukup ramah, aku suka itu.
Joe lalu memberi aku satu materi yang aku kurang paham. Aku mencium bau harum dari tubuhnya. Dan buat aku tidak fokus mendengarkan dia bicara di depan aku.
"Apa ada soal..?"
"Tidak ada." aku langsung menjawab tanpa bicara lagi ke Joe.
"Apa anda yakin..?"
"Iya, aku yakin." jawabku mantap.
"Oke, kalau begitu selamat bekerja. Aku tinggal kamu sebentar." Joe langsung keluar meninggalkan aku di kantor itu.
Aku melihat karyawan yang masih bekerja. Aku jadi ingat Berta. Aku lalu fokus pada pekerjaan aku. Aku harus mengkalkulasi pengeluaran di koperasi Aliyas.
Cukup banyak dan cukup rumit. Karena aku harus pakai rumus.
Rumus : X x Y
        ______
         100
*
__ADS_1
To Be Continue.
[Maaf ada Typo.]