Pertaruhan Cinta

Pertaruhan Cinta
Chapter 13 : Di rumah Pak Doni


__ADS_3

Maya POV 🌙


Aku masuk ke dalam rumah Pak Doni setelah aku bertemu Kinan. Meski sedikit kesal aku harus menerima.


Hari masih pagi, aku sendirian rumah besar itu. Polisi seperti biasa datang ke rumah untuk memberikan lembar laporan padaku kalau aku masih jadi tahanan rumah atas kecelakaan kemarin.


Mobil polisi terparkir di depan rumah Pak Doni seperti biasa. Aku menulis laporan itu setelah empat hari berlalu di rumah Pak Doni, meski tidak betah aku terima saja.


Isi laporan itu seperti ini :


No : 034/Laporan / Kec/ Isi


Hal : 1


Perihal : Laporan / Absen


Kpd : Maya Sabara (Napi tahanan rumah.)


Surat Laporan.


Menyatakan bahwa saya sampai saat ini masih di tahan di rumah sdr : Doni di daerah : Bekasi (Jakarta). Surat laporan ini berlaku selama saya menjalani hukuman atas peristiwa kecelakaan yang menimpa : saya dan Almh. Berta.


Saya di kenai hukuman penjara selama : 3 bulan sebagai tahanan rumah.


Saya bersedia mengisi laporan ini setiap hari dan mau membayar uang ganti rugi sebesar Rp.200.000.000,-


Pasal - pasal yang membolehkan atau yang tidak berkenan akan di bicarakan dan akan di kenakan sanksi nantinya.


TTD.


Maya Sabara


***


Meski dalam hati aku mengeluh tapi aku tetap semangat untuk hidup dan tinggal di rumah Pak Doni. Dia polisi yang tiap hari ke rumah adalah Pak Rudi dan Pak Slamet.


"Terima kasih Pak telah datang hari ini." ucapku ke Pak Rudi.


"Iya, sama-sama." jawab Pak Rudi.


Pak Slamet diam saja sambil menunggu Pak Rudi. Aku melihat mereka pergi dari rumah Pak Doni setelah minum teh yang aku buat tadi.


Aku menghabiskan napas lesu dan sempat melihat ke arah pintu pagar utama di mana aku tidak boleh keluar dari situ. Atau aku harus melihat Kinan yang datang atau mobil Aldi yang datang dari bekerja di kantor Aliyas.


Aku masuk ke dalam dan berniat untuk duduk sambil istirahat sebentar. Pagi itu aku masih sempat menanak nasi untuk Pak Doni dan Aldi nanti setelah mereka datang dari bekerja.


Aldi yang datang pukul dua sore dan Pak Doni yang datang pukul empat sore. Aku masih ingat pesan Kinan kemarin sore, kalau dia butuh kerjaan katanya. Aku akan usulkan ke Pak Doni, siapa tau Kinan punya rejeki.


Pukul 02.005 Aldi pulang dengan pakai sepeda motor Beat. Itu adalah sepeda motor milik kantor setau aku. Aku jadi penasaran kenapa Aldi tidak naik mobil saja. Mungkin mobil itu akan di pakai oleh Pak Doni nanti.


Aku pergi ke belakang sambil niat menemui Aldi. Aldi masih di atas sepeda motor dan membuka helmnya. Dia tersenyum padaku.


"Sudah pulang Al..?"


"Iya." jawab Aldi singkat.


Aldi memakai jaket merah, kemeja dalaman putih dah celana hitam. Dia melewati aku tanpa berkata apa-apa.


"Aldi, apakah baju kamu harus aku cuci..?"


Aku mengikuti Aldi dari belakang. Biasanya dia buka pakainya dan memberikannya padaku untuk di cuci. Tapi tidak untuk hari ini.


"Tidak, nanti saja. Aku butuh istirahat." kata Aldi sambil masuk ke dalam kamarnya. Kamarnya itu lalu di tutupnya rapat.


Aku mendengar suara musik dari luar. Aku kembali duduk di ruang tamu sambil mendengarkan musik sayup-sayup dari arah kamar Aldi.


Anak itu suka musik melow seperti lagunya Agnes Monica, Lyodra, Keisha Levronika dan yang lain. Lagunya cukup bagus dan sedikit aku kenal. Karena aku juga suka mendengarkan lagu itu. Ada pula lagu Band Ungu,Peterpan atau lagi kangen yang lawas dan edisi lama.


Aku tidak begitu suka. Kadang aku mendengar musik India sesekali seperti lagu Mohabbatein.


Aku harus duduk sendiri selama beberapa menit di ruang tamu. Aku ingat Ibu Sulastri yang pernah datang ke rumah ini. Ingin sekali aku pergi ke kamar Rudi untuk sekedar mengobrol karena aku merasa kesepian.


Aku lalu mengambil handphone dan mencoba untuk menelepon Kinan.


Telp.


Maya : Halo Kinan?


Kinan: Iya, apa kabar Maya? Tumben kamu telepon aku jam segini?


Maya : Aku kesepian Kinan. Bisakah kamu ke sini sebentar?


Kinan : Bisa, tapi kamu harus kasih aku uang Maya. Aku tidak punya uang lagi. Uang yang kemarin sudah aku habiskan.

__ADS_1


Maya : Kamu datang besok-besok saja,aku tidak punya uang simpanan lagi.


Klik. Telepon aku tutup dan aku merasakan sedikit perasaan sedih dan galau tapi tak seberapa.


Aku melihat Aldi keluar dengan tubuh setengah telanjang dengan handuk yang di lilit di bagian perut hingga lutut. Aldi seperti ingin mandi dan pergi ke kamar mandi.


Aku hanya bisa melihatnya saja dan tidak bisa apa-apa. Andai Aldi mengajak aku untuk ikut mandi bersama dia mungkin ceritanya berbeda lagi.


Akal bulus itu datang secara tiba-tiba. Aku ingin menggangu Aldi yang sedang mandi. Seperti biasa Also akan menyalakan air kran untuk mandi di shower. Aku sengaja mematikan listrik biar Aldi memanggil aku untuk menyalakan listrik itu atau Aldi bisa berjalan keluar sebentar untuk menyalakan listrik itu sendiri di belakang.


Listrik sudah aku matikan. Aldi langsung berteriak dari arah kamar mandi.


"Maya..Maya..Maya!!" Aldi memanggil namaku selama tiga kali. Aku langsung sembunyi dari balik kursi sofa rumah tamu. Aku mengintip Aldi dari kursi itu. Aldi lalu keluar dengan keadaan telanjang bulat dengan tubuh dia yang penuh dengan bisa sabun.


Aldi berjalan ke belakang untuk menyalakan listrik. Aku tidak melihat Aldi balik ke kamar mandi cukup lama. Ke mana dia?


Aku penasaran dan melangkah ke belakang. Aku dengar ******* yang keluar dari mulut Aldi. Aldi sedang oral di belakang.


Tuhan, apa aku tidak salah lihat? Aku langsung lari ke kamar dan tidak mau Aldi melihat aku mendengarkan desahannya itu.


Ingin sekali aku menyalakan listrik segera tapi aku tidak bisa. Aku takut Aldi berbuat macam-macam padaku. Aku lalu mendengar suara Aldi yang memanggil - manggil namaku.


"Maya..Maya..!!" dua kali Aldi memanggil namaku. Dengan pura-pura tidak tau aku pergi ke arah Aldi meski aku sedikit malu melihat Aldi yang telanjang itu.


Aku pergi ke arah Aldi yang sedang Oral di belakang. Setelah sampai, Aldi sudah mengenakan handuk putih. Dia melihat aku marah.


"Maya, siapa yang mematikan listrik tadi..?"


"Tidak tau Al, mungkin listriknya mati sendiri!" ucapku setengah gugup.


"Jangan bohong padaku. Listriknya masih normal. Tidak mungkin listrik itu mati dengan sendirinya!" Aldi geram padaku.


"Sekarang mengaku saja kalau kamu yang mematikan listrik itu tadi!"


Aku meringkuk takut sebelum aku mengaku di depan Aldi. "Iya, aku yang mematikan listrik nya tadi. Tapi aku cuma bercanda."


"Becanda kata kamu? Lihat aku!"


Aku melihat Aldi yang tubuhnya masih penuh dengan sabun. "Kamu suka melihat aku seperti ini?"


Aldi berkacak pinggang di depan aku. Aku masih ketakutan. Tiba - tiba handuk yang Aldi kenakan jatuh ke bawah. Aku berteriak sambil menutup kedua tanganku.


Setelah aku buka Aldi sudah memakai handuk itu lagi.


"Cepat!"


Aku berjalan santai ke arah tombol listrik di belakang. Aku tidak mau bercanda lagi sama Aldi. Buat anak itu kecewa nantinya.


Listrik sudah menyala kembali. Sekembalinya aku ke ruang dapur, aku tidak melihat Aldi lagi berdiri di belakang pintu dapur. Dia sudah masuk ke kamar mandi dan aku mendengar suara mesin air terdengar menderu.


Aldi pasti sedang mandi di dalam. Aku sedikit merasa gerah dan juga ingin mandi tapi, aku tidak pengen mandi saat Aldi sedang ada di kamar mandi. Aku takut dia mengintip aku dari balik dinding yang bersebelahan dengan kamar mandi yang biasa aku pakai.


Aku lihat Aldi keluar dengan handuk putih yang dia lilitkan di perutnya hingga ke bawah lutut. Aku lihat rambutnya masih basah dan terlihat ganteng.


Aldi masuk ke kamar, aku menyiapkan makan di dapur. Aku takut Aldi jadi lapar dan ingin makan. Aku tidak tau kenapa aku harus ada di rumah ini. Kesal sekali harus di penjara di dalam rumah terus tanpa boleh keluar.


Ingin sekali aku bilang ke Aldi kalau aku butuh teman dan butuh keluar rumah. Atau di kasih waktu untuk jalan-jalan sebentar bersama Aldi.


Saat aku duduk di dapur sambil kesal sendiri, aku lihat Aldi sedang menonton televisi sendiri di ruang tengah. Di ruangan itu ada kursi ruang tamu yang biasa di buat tempat menonton televisi.


Aku berjalan ke arah Aldi yang sedang menonton televisi sekarang.


"Permisi." Aldi melihat aku yang baru datang dari arah dapur.


"Nasi sudah siap di dapur, aku masak mie buat kamu. Aku juga mengambil telur sisa kemarin." kataku ke Aldi. Dia mengangguk padaku sambil terus menonton televisi.


Aku lalu berbalik ke belakang menuju kamar aku. Aldi tidak memanggil aku untuk ikut menonton televisi bersama dia. Aldi tetap saja suka menonton televisi sendirian.


Mungkin Aldi tidak senang berteman dengan aku atau dia lebih suka menonton televisi sendirian sambil tertawa sediri. Aldi suka melihat FTV di Chanel televisi swasta.


Aku tau, Aldi pasti suka artis perempuan yang ada di situ. Aku lalu memilih untuk duduk diam di dalam kamar sambil menghembuskan napas lesu.


Aku serasa ingin pulang ke rumah tempat asalku. Aku ingin bertemu Bapak. Aku tidak betah tinggal di sini lama-lama. Aku lebih suka tinggal di rumah kontrakan seperti kemarin.


Aku bisa bertemu Kinan yang sedikit perhatian padaku, tidak seperti Aldi yang acuh padaku. Aldi seperti laki-laki angkuh di depan aku.


Aku lalu mendengar suara sepeda motor dari kejauhan. Aku mendengar klakson yang berbunyi. Itu pasti Kinan. Aku lalu berlari melangkah ke luar, dan yang aku lihat bukan Kinan tetapi Pak pos yang datang ingin memberikan surat padaku.


Aku menerima surat itu, dan surat itu tertuju ke Aldi. Aku langsung melangkah ke dala rumah dan segera bertemu Aldi.


Aldi sudah tidak menonton televisi lagi di ruang tengah. Aku lalu mengetok pintu kamarnya dan segera memanggil Aldi.


"Aldi, bisa tolong buka pintunya!"

__ADS_1


"Iya, ada apa?" Aldi masih di dalam kamarnya sambil menjawab panggilan aku.


Aku melihat Aldi membuka pintu kamarnya. Aku mencium bau parfum dari tubuh Aldi. Aldi telat memakai parfum. Harusnya saat dia sudah memakai parfum setalah mandi tadi.


"Ada apa?" ucapnya padaku sambil pegang gagang pintu kamarnya.


"Ini ada surat dari Pak Pos. Di sini tertera nama kamu."


Aku memberikan surat itu ke Aldi langsung.


"Terima kasih." ucapnya lanjut. Setelah itu Aldi balik masuk ke dalam kamarnya.


Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, sayup-sayup aku mendengar suara adzan dari arah masjid. Aku ingin rebahan dulu sebelum solat. Itu sudah biasa aku lakukan di kamar.


Aku tidak langsung solat karena malas. Aku lalu mendengar deru suara sepeda motor dari arah belakang. Itu pasti Aldi sedang keluar bersama sepeda motor Beatnya. Aku melihat Aldi keluar halaman rumah Padang rumput. Aku tidak tau Aldi mau ke mana.


Tiba-tiba aku mendengar suara ponsel aku berdering. Di situ tertera nama Pak Doni.


Telp.


Maya : Iya, ada apa Pak?


P.Doni : Aldi ada di rumah May?


Maya : Tidak Pak, Aldi baru saja keluar naik motornya. Ada apa Pak?


P.Doni : Tidak ada Maya. Bapak tutup dulu telepon nya.


Maya : Iya Pak.


Klik. Ponsel aku tutup.


Ngapain juga Pak Doni telepon aku, dia kan bisa langsung telepon Aldi langsung di ponselnya?


Sudah, aku jadi semangat untuk solat dulu sebelum Aldo datang. Aku tidak mau buang-buang waktu yang tidak penting buat aku.


Aku cepat-cepat ambil handuk sambil niat mandi. Aku pergi ke kamar mandi dan melepas semua pakaian aku. Aku mandi dengan air dingin membasahi tubuhku. Aku berpikir, sampai kapan aku akan bernasib seperti ini?


Aku butuh seorang laki-laki untuk jadi pendamping aku. Bukan Aldi yang suka menghilang dan meninggalkan aku di rumahnya sendiri.


Aldi seperti tidak punya perasaan padaku sama sekali. Beda sama Kinan yang seperti berharap perhatian aku. Kadang Kinan sms iseng padaku. seperti bertanya apa kabar, sudah makan atau belum, dan lain sebagainya.


Kadang aku di kirimi stiker animasi kadang juga video tik tok. Kinan cukup membuat aku terhibur meski sedikit menjengkelkan.


Sepuluh menit sudah cukup untuk aku mandi. Aku tidak mau lama-lama di kamar mandi. Takutnya Aldi sampai datang dan menegur aku kerena kelamaan di kamar mandi.


Saat aku keluar dari kamar mandi, aku mendengar deru motor Aldi dari arah garasi samping rumah. Aku melangkah pelan sebelum aku mulai solat.


Aku memakai mukena dan siap untuk solat. Aku mendengar suara Aldi memanggil namaku.


"Maya.. kamu di mana..?"


Aku membatalkan solatku. Aku tidak mau Aldi kecewa padaku.


"Iya, ada apa Aldi..?" aku menghadap Aldi dengan masih pakai mukena.


Aku melihat Aldi menenteng kresek di tangan kanannya. Kresek hitam.


"Maaf kalau aku menggangu, ini ada makanan buat kamu." Aldi memberikan kresek itu padaku. Aku lihat di dalamnya ada sekotak ayam goreng Crispy.


"Dari mana kamu dapatkan ini?"


"Aku beli tadi di luar. Itu buat kamu." lanjut Aldi padaku.


Aku masih ragu, dalam rangka apa Rudi membelikan aku satu kotak ayam goreng buat aku?


"Aldi, ini untuk apa? Ini untuk makan siang nanti ya?"


Aldi berbalik ke arahku yang sebenarnya melangkah menuju ke arah kamar.


"Tidak Maya, itu khusus buat kamu. Di makan saja." katanya sambil berbalik pergi menuju kamar.


"Terima kasih Al."


"Iya, sama-sama." suara Aldi sudah terdengar dari arah kamar tidurnya. Aku lalu meletakkan kresek itu di meja dapur, meja makan tempat Aldi biasa makan.


Aku tidak akan makan ikan ayam itu kalau Aldo tidak ikut makan. Aldi harus makan Ikan ayam Crispy itu bersamaku di meja makan nanti.


Aku lalu siap-siap solat dzuhur dan balik ke kamar.


To Be Continue.


[Maaf Kalau ada Typo.]

__ADS_1


__ADS_2