Pertaruhan Cinta

Pertaruhan Cinta
Chapter 23


__ADS_3

...SEJAUH APA PUN KITA ADA DI DUNIA INI HATI KITA TETAPLAH ADA UNTUK BISA MENGINGAT APA SEBENARNYA YANG TERJADI DI DIRI KITA. ...


...AKU DAN KAMU TERPISAH SEJENAK. ...


...💔💔💔...


Aku terpaksa ikut Mas Septa. Aku naik motor bersama Mas Septa yang sebelumnya tidak pernah aku pikirkan kalau - kalau akan jalan bareng bersama dia. Septa Agatha Mirza. Saudara laki-laki Nara Naura Angelina yang baik hati tapi punya misterius. Buktinya aku sampai lupa siapa aku sebenarnya di depan Mas Septa. "Maaf Mas Septa, boleh tanya?"


Aku memberanikan diri untuk bertanya ke Mas Septa soalnya dari tadi diam terus, ingin mencairkan suasana. "Tanya apa, bukan tadi sudah banyak tanya?"


"Tanya lagi..?"


"Soal apa?"


"Soal pacar."


"Maaf privasi."


Aku langsung diam saja ketika mas Septa bilang privasi seperti itu. Aku mengerti Mas Septa bilang apa. Kalau udah yang namanya Privasi, itu sudah tidak bisa di ganggu gugat. Aku terus saja melihat Mas Septa menyetir di belakang aku. Seketika Mas Septa diam dan buat aku tersadar.


"Berhenti?"


"Iya, ada yang roboh sepertinya."


Ada kayu roboh di depan, aku jadi berpikir bagaimana nanti kalau aku sudah sampai di rumah Nara. Apa aku akan dekat lagi dengan Mas Septa atau aku malah akan jauh dari dia. Yang jelas, aku bukan siapa-siapa nya Mas Septa. Tapi, kenapa aku harus cenderung ke Mas Septa yang sebelumnya aku berpikir ke arah Yasa..!? Oh Tuhan, setan apa yang ada di dalam diri aku? Aku harus mencoba melupakan nama Mas Septa.


"Maaf, adik siapa namanya, aku lupa!" Oh Tuhan, Mas Septa sampai lupa namaku. Emang udah berapa daftar cewek yang ada di list nya dia?


"Aku Luna Alya, mas Septa. Luna Alya. Sudah ingat kan..?" itu jawaban aku buat Septa. Dan itu cukup buat aku kaget dan tersenyum. Oh Tuhan. Tolong aku.


"Iya, Luna, aku mah berhenti sebentar mau beli rokok." katanya padaku. "Oke mas." begitu jawabku. Aku setuju saja karena perjalanan itu cukup menyenangkan. Senang berarti ada sesuatu yang aku rasakan di situ. Yang pasti aku masih senang sebelum semuanya berakhir menyedihkan.


Mas Septa berhenti di pinggir jalan dan aku turun dari motor. Aku menghembuskan napas lesu. Melihat kendaraan yang hilir mudik di jalan buat aku lupa sejenak tentang Mas Septa.


Oh Tuhan, Mas Septa lagi, emang apa sih bagusnya nih orang. Padahal suatu saat aku akan menyesal pada tingkah aku yang seperti ini. Menyukai orang yang salah. Telah menyukai orang yang sama sekali tidak mengharapkan aku ada dalam hidupnya. Mengharapkan laki-laki ganteng, manis dan sopan tapi tidak punya simpanan hati untuk aku.


Mungkin kali ini aku haru sadar,  sadar kalau Mas Septa bukanlah untuk aku. Dia sudah beli rokok dah akan kembali menyetir. Aku sempat berkata, "Enak ya rokok?"


"Urusan laki-laki." ucapnya singkat. Oh tuhan. Mas Septa naik ke motor dulu lalu aku naik setelahnya. Jujur aku malu sih boncengan bareng Mas Septa satu motor. Seakan - akan aku ini adalah pacarnya atau calon istrinya. Bagaimana kalau Kak Ayu sampai tau kalau Mas Septa satu motor dengan aku? Bisa kacau nanti.


Perjalanan tinggal sedikit lagi, aku harus bersabar akan hal ini. Dan setelah itu, semuanya akan hilang. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya aku sampai juga di rumah Nara Naura teman aku. Rumah Kak Septa juga. Tapi, aku lihat ada motor yang sempat aku kenal di parkiran, tidak tau siapa pemiliknya.


"Aku tinggal dulu ya.."


"Iya Mas."


Mas Septa pamit, dan aku masih ragu untuk masuk ke dalam rumah Nara Naura. Akhirnya teman aku itu pun keluar.


"Eh Luna, ke sini, masuk ke dalam!" Nara memanggil aku dan menyuruh aku masuk ke dalam. Aku masuk saja tanpa tau apa yang akan terjadi. Setelah aku melangkah ke dalam rumah Nara Naura, kaki aku sampai di rumah tamu dan apa yang aku lihat? Laki-laki itu duduk sampai ngerokok di atas kursi sofa sambil pegang Ponsel di tangan.


"Aldo, kamu undang Aldo juga ke sini?"


"Tidak, Aldo yang datang sendiri ke sini. Aku tidak menyuruh dia untuk datang kok. Sudah, duduk dulu. Semuanya akan baik-baik saja. Percaya sama aku!" Nara memperingatkan aku seakan-akan tidak akan terjadi apa-apa.


Aku duduk saja di kursi sofa tidak jauh dari Aldo. Aku mencoba untuk melihat sekitar, ada beberapa Ibu-ibu yang jalan keluar mengambil sesuatu. Ini adalah pernikahan milik Mas Septa. Aku perhatikan si Aldo diam saja tidak menyapa aku.


"Sombong banget sampai tidak mau menyapa aku. Padahal kenal." kataku ke Aldo. Tangannya terus saja pegang hp. "Maaf, lagi sibuk. Oh iya, kamu cewek yang di sekolah kan?"


"Iya." jawabku berlaga songong. "Kamu kenapa ada di sini? Numpang nginep?"


Aldo diam saja, orangnya agak dingin beda sama Mas Septa. "Permisi..!" suara itu mencairkan suasana hati aku. Mas Septa datang dengan segelas minuman. Oh tuhan, dia baik sekali.


"Makasih Mas. Minumannya dingin ya."


"Iya, dingin. Aku baru saja ambil di kulkas." ucap Mas Septa lanjut.


"Alhamdulilah." jawabku tanpa malu. Mungkin di pikiran Aldo aku ini sedikit caper atau cari perhatian orang. Alias suka dekati orang yang baru di kenal. Alias S.K.S.D yang artinya Sok Kenal Sok Dekat. Itu adalah cerita film dulu yang aku sempat baca di majalah aneka.


Aku duduk saja sambil liat Aldi yang sedang main hp. Anaknya cakep juga. Tapi aku tidak ngomong sama dia.


"Luna, maaf ya menunggu lama. airnya tidak di minum..?"


"Oh iya, tadi ini aku di kasih sama Mas Septa, senang sekali rasanya." ucapku ke Nara.

__ADS_1


"Oh itu, aku yang nyuruh dia tadi takutnya kamu haus atau gimana. Oh iya, Aldo kamu udah kan pinjam bukunya?"


"Hah, jadi Aldo ke mari cuma untuk keperluan pinjam buku?" Aku membatin sebentar. Aku pikir Aldo mau ketemu sama Nara sebagai mantan pacarnya dia.


"Aldo langsung pergi tanpa minum air itu dulu. Dia pamit ke Nara yang di ikuti sampai ke belakang. Aku masih duduk cukup lama untuk bisa melihat Nara balik ke kursi sofa ruang tamu.


Aku meliat kelebat Mas Septa yang tengah mengecek ponselnya. Ingin sekali aku di temani oleh dia.


"Sendiri..?" tiba-tiba Mas Septa datang menemui aku. Aku seakan ingin menangis karena tak satu pun orang yang sanggup menemani aku waktu itu. Aku tau kalau Nara masih ada perlu sama Aldo di luar rumah dia.


"Iya, Nara keluar bareng Aldo tadi sampai sekarang nggak balik."


"Oh." Mas Septa lalu datang menemani aku sambil pencet ponselnya. Aku mencoba untuk bertanya. "Mas Septa lagi apa?"


"Lagi chat, kamu?"


"Aku lagi liatin Mas Septa."


"Oh, kamu suka liatin aku..?"


Bukannya suka lagi kak, tapi kesemsem lebih dari itu. Aku sangat ingin jadi pacar Mas Septa dan dekat Ama Kak Septa semau apa pun Mas Septa padaku. Itu yang ada di diri aku sekarang. Ingin memiliki Kak Septa seutuhnya.


"Kamu udah makan?"


"Belum Mas."


"Oh ya udah, aku panggilkan bibi dulu."


"Bibi..!" Pembantu itu datang.


Mas Septa panggil pembantu. Bibi itu datang menghadap. Mas Septa langsung kasih tau untuk menyiapkan masakan di belakang. Aku jadi tidak enak.


"Bentar lagi kamu makan bareng Nara."


"Kak Septa tidak ikut makan..?" Aku sedikit kecewa sama Mas Septa yang tidak ikutan makan. Dia malah mengeluarkan sebatang rokok dari dalam saku celananya.


"Tidak, aku rokok saja. Kamu makan bareng Nara di belakang. Bibi masih menyiapkan."


"Iya kak. Terus, Kak Septa makannya kapan..?"


"Kamu berpikir apa?" pertanyaan itu buat aku kaget saja. Jujur Mas Septa dikit banyak telah kasih aku perhatian yang lebih.


"Halo, akur banget ya?" kata Nara yang tiba-tiba saja datang padaku. Aku tidak tau kapan aku bisa jujur ke Nara kalau aku suka sama Mas Septa.


"Nara, aku ke belakang dulu. Kamu makan dulu sama siapa namanya..?"


"Luna Kak?" Oh tuhan, Mas Septa lupa lagi siapa nama aku.


"Iya, kamu makan bareng Luna, aku ke kamar dulu mau santai karena bentar lagi mau ada pengajian." jelas Kak Septa padaku. Apa, pengajian, Oh Tuhan, acara ini benar-benar surprise buat aku, semacam kejutan yang tak pernah aku gambarkan sebelumnya.


"Nara, sebenarnya ada apa sih di sini?" aku bertanya girang. Ada apa ya sebenarnya. Kenapa aku begitu bahagia malam ini?


"Kamu tenang saja, kamu ikut makan bareng aku setelah ini. Dan jangan lupa, kamu nanti tidurnya di kamar aku coz aku harus bantuin buat kue di belakang."


"Aku juga mau bantuin kamu untuk buat kue di belakang."


"Tidak perlu, kamu di kamar aku saja. Jangan ke mana-mana. Nanti Mas Septa bisa marah sama aku?"


"Marah, kenapa bisa marah? Emang Mas Septa orangnya Posesif atau bagaimana..?"


"Tidak sih, tidak begitu. Mas Septa cuka pesan ke aku untuk tidak mengajak kamu untuk ikut buat kue."


"Alasannya..?"


"Kamu tanya sendiri ke orangnya. Bentar aku mau ke belakang dulu, takutnya Bibi lupa ambil piring." Nara pergi ke belakang.


Oh Tuhan, ada apa ini sebenarnya. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang telah terjadi di rumah ini. Aku merasa ada yang mengekang aku dan itu adalah Mas Septa. Aku jadi tidak leluasa di sini. Hanya karena hal sepele saja yang menurut aku jadi masalah besar buat aku sendiri.


"Mas Septa, aku harus ngomong ke dia!" aku kesal banget ke Mas Septa karena aku di buat begini. Tidak boleh bantu - bantu di belakang. Padahal niat aku kan menginap sambil bantu buat kue.


"Luna, ayo ke belakang. Habis ini kamu ke kamar aku buat melipat kertas kado ya! Sedikit sih, tidak banyak!" kata Nara ke aku. Kalimat pernyataan itu telah buat aku berubah pikiran. Yang asalnya aku kesal sudah tidak lagi.


"Yuk makan!" Nara mengajak aku untuk makan di belakang. Di situ sudah tersedia makanan yang bermacam-macam. Ada nasi putih, telor goreng dadar, telur rebus, ikan ayam semur, Sate, tempe goreng, ikan sapi rendang dan banyak lagi yang lain.

__ADS_1


"Kenapa ibu kamu sebanyak ini masak makanan semacam ikan-ikan yang bermacam-macam di meja? Ada acara apa..?"


"Bukan acara apa Luna. Ini adalah untuk persiapan acara makan bersama nanti untuk para Kiai dan para undangan atau tamu kehormatan lainnya. Jadi, sisanya yang kita makan ini akan di kasih ke orang dapur untuk di makan."


"Oh, jadi selain makanan ini masih ada makanan yang lain untuk para Kiai dan taku undangan itu?"


"Yap!" ucap Nara singkat.


"Banyak sekali ya, makanannya. Aku tidak pernah bermimpi untuk bertemu makanan sebanyak ini."


"Luna, ini acara besar. Ini pernikahan Kakak aku Kak Septa. Dia bekerja keras sebelum dia menggelar acara ini. Separuh uang untuk acara ini adalah uang tabungan Kak Septa. Jadi kamu tidak usah kuatir." jelas Nara ke aku.


"Iya. Aku telah berhutang Budi pada Mas Septa. Kenapa tidak kamu ajak makan saja Mas Septa bareng kita..?"


"Tidak, Kak Septa makan bareng Kak Ayu nanti habis solat Maghrib. Kak Ayu mau datang ke mari bersama kedua orang tuanya untuk acara seserahan."


Oh Tuhan! Jadi Kak Septa sudah resmi jadi calon suaminya Kak Ayu Andira? Tidak, itu tidak mungkin! Orang yang aku sayangi dan aku impikan telah resmi di ambil orang. Dan itu tidak mungkin buat aku untuk berharap bisa bertemu dengan Mas Septa lagi.


"Luna, kamu kenapa? Ada sesuatu yang terjadi..?"


Nara menyadarkan tangisan serta rintihan hati aku kali itu. Wajah Mas Septa sudah kadung aku rekam di sini, di dalam benak aku.


Bagaimana tidak, kalau sejak kali pertama aku bertemu Kak Septa aku langsung di bikin mabuk dan jatuh hati oleh dia. Dan itu adalah kesempatan aku untuk bersama dia untuk kali itu saja. Selebihnya Mas Septa tidak pernah tau bagaimana perasaan aku ke dia saat ini. Tapi, semuanya mungkin tidak akan pernah berarti bagi Mas Septa kalau pas Mbak Ayu datang ke rumah ini untuk bertemu dengan dia. Calon suami kesayangannya.


"Luna, yuk makan!" Nara mengajak aku untuk makan dan duduk di meja makan itu sebelum adzan magrib datang mengisi pendengaran aku.


Nara mengambil nasi sayang dia letakkan di piring putih berukuran sedang. Aku mengambil piring itu dengan sedikit takut karena tidak biasa berada di rumah mewah seperti rumah Nara. Baru kali ini aku tau rumah Nara yang besar, di bagian dalam. Sebelumnya aku pernah ke sini tapi tidak masuk ke dalam.


Waktu itu kebetulan aku sedang di ajak Nara untuk ikut mengambil buku yang ketinggalan di rumahnya.


Aku lanjut makan dengan mengambil ikan satu persatu. Oh tuhan, ikannya banyak banget. Mas Septa pasti masih ada di dalam kamarnya. Tuhan, tolong jangan buat aku ingat Mas Septa lagi.


"Nara, ada teman kamu di belakang." Mas Septa datang mengingatkan aku.


"Siapa Kak..?"


"Sepertinya laki-laki yang tadi datang ke sini." jelas Mas Septa lanjut. Itu pasti Aldo. Apa iya, Nara mengundang Aldo untuk acara pengajian.


"Bentar Ya Kak. Suruh dia tunggu aku, aku masih makan."


"Kebiasaan kamu nyuruh - nyuruh orang yang lebih tua!"


"Kak Septa, plis bantuin aku! Aku masih makan nih!" Nara sedikit comel dan manja. Aku jadi tidak enak seperti anak - anak saja.


"Oke." Mas Septa langsung pergi ke luar meninggalkan aku dan Nara di meja makan.


"Kenapa kamu liatin Kak Septa terus, suka ya kamu sama dia..?"


Aku langsung keselek makan mendengar pertanyaan itu. Aku langsung mangap - mangap di depan Nara Naura.


"Kamu keselek ya, ya Tuhan! Ini minum!" Nara langsung mengambil kan aku air minum karena kebanyakan makanan yang masuk dalam perut aku secara langsung dan singkat.


Aku meminum minuman itu dengan cepat dan semua isi makanan dalam perut langsung tertelan dan masuk ke dalam lambung. Sakit barusan rasanya saat aku minum di perut.


"Maaf ya, aku tidak tau kalau kamu sedang enak makan." Nara meminta maaf padaku. Tuhan, maafkan aku.


"Maaf ya, atas pertanyaan aku tadi. Soalnya, tadi saat aku liat, kamu liatin Kak Septa terus! Jadi, aku pas curiga sama kamu." lanjut Nara padaku.


Aku jadi repot mau ngomong apa ke Nara Naura. "Eh, sebenarnya tadi aku aku biasa saja ngeliat Mas Septa, soalnya orang cakep dan perhatian. Iya kan..?"


"Masa sih? Kamu ngerasa gitu..?"


"Iya." Aku langsung jawab saja Iya. Masak sih Nara tidak merasa kalau Mas Septa itu adalah laki-laki baik yang sangat perhatian sama perempuan khususnya aku dan Nara.


Apa selama ini Nara menganggap hal itu adalah hal biasa saja? Bukan kah sebelum Nara Naura lahir, Mas Septa lahir lebih dulu? Bukankah Mas Septa adalah seorang Kakak yang selalu ada buat dia di rumah?


Apakah Nara tidak merasa kalau Mas Septa adalah laki-laki yang bisa di panggil saat orang itu sedang butuh keberadaan dia? Apakah Nara tidak merasa kalau Septa adalah laki-laki tampan yang selalu hilir mudik di depan dia tiap hari?


"Luna, kamu mikir apaan sih? Ngelamun aja! Makan tuh makanan kamu,jangan di sisain! entar di makan kucing!" Nara selalu seperti itu di depan aku. Dia memang perempuan atau teman aku yang suka kasih aku nasehat atau peringatan. Karena aku yang biasa melamun atau berpikir aneh.


***


Udah dulu ya! Jangan lupa vote atau komen di bawah! 🥺

__ADS_1


Cast : Luna Alya, Nara Naura, Septa Agatha, Ayu Andira.


__ADS_2