
Author POV
"Ayah, bolehkah aku punya sepeda motor baru?" Kinan bertanya ke Bapaknya yang sedang duduk di kursi ruang tamu.
"Tidak perlu. Kamu cukup sepeda motor itu saja. Tidak perlu ganti yang baru." kata Pak Brata Bapaknya Kinan.
Kamu tau, apa yang di lakukan oleh Bapaknya Kinan? Tiap hari dia mengangkut kayu di hutan, bekerja ke Pak Rendra si tukang Kayu. Harapan Bapaknya Kinan ke anaknya Kinan adalah semoga di bisa kuliah suatu saat nanti meski tiap hari uang Pak Brata, tidak cukup untuk belanja buat makan sehari.
Kinan anak yang suka keluar dengan minta uang bensin ke Bapaknya. Kadang Kinan harus ikut mengamen bersama teman-temannya di luar. Kinan anak pemalas, kadang dia pergi ke rumah Maya untuk minta uang.
Hari ini adalah hari baru buat Maya, karena dia sekarang pindah rumah ke kontrakan yang lama. Kontrakan di sebelah rumah Kinan.
"Di sebelah sini Pak!" kata Maya menyuruh sopir untuk membantu memindahkan beberapa peralatan rumahnya yang kosong. Pak Firman dan Luna sudah balik ke Jakarta. Perempuan itu telah lulus bersekolah SMA. Pak Firman ijin permisi ke Pak Doni ingin pindah kerja katanya.
Di dalam perjalanan pulang ke Jakarta, Luna bersama Bapaknya Firman. Luna bertanya pada Firman.
"Yah, rumah kontrakan itu di tempati siapa sekarang?" tanya Luna ke Bapaknya Firman.
"Kalau tidak salah, rumah itu akan di tempati oleh pemilik rumah yang pertama, yaitu Maya."
"Maya?" Luna bertanya ke Pak Firman. Luna masih ingat saat dia meliat satu foto Maya yang terlihat di dinding rumah kontrakannya itu beberapa waktu yang lalu. Foto itu lalu di ganti oleh Maya karena menurut Luna, Luna lah yang pantas ada di pigura foto itu. Foto itu Luna ganti dengan Foto Luna.
Dan saat ini, Luna ingin sekali bisa bertemu dengan Maya, tapi bagaimana caranya? Mungkin lain waktu saja Luna bertemu dengan Maya nanti kalau ada uang untuk pergi ke Surabaya.
"Iya, di sebelah situ Pak!" kata Maya ke Pak sopir. Luna masih mengemasi barang-barang itu dengan di susul oleh Aldi yang baru datang naik mobil Avanza hitamnya.
"Aldi? Kamu datang?" ucap Maya ke Aldi yang baru datang. Laki-laki itu tersenyum melihat Maya menyapa dia sore itu. Dalam hati Aldi sebenarnya kecewa karena Maya telah Sudi meninggalkan rumah lamanya itu. Yaitu Rumah Pak Doni yang telah dia tinggalkan sekarang.
"Aldi, maafkan aku. Aku telah berbuat salah padamu. Aku telah mengecewakan kamu, telah pergi dari rumah kamu secara tiba-tiba. Aku tidak bisa berkata apa-apa selain minta maaf ke kamu.
"Maafkan aku Aldi. Maafkan aku. Aku telah bersalah padamu. Kamu boleh main ke sini kok kalau kamu mau." Maya mencoba membuat Aldi senang dengan keadaan Maya yang seperti itu. Meski sebenarnya dalam hati Aldi sempat bersedih dan menangis. Dalam pikiran Aldi, laki-laki itu tidak akan pujya teman perempuan lagi di rumah.
"Tidak apa-apa Maya, aku akan main ke rumah ini kalau aku sedang bosan di rumah atau sedang merasa sendiri. Aku tidak mungkin tinggal di rumah itu terus-menerus. Aku akan merasa kesepian tanpa ada kamu di rumah. Sungguh Maya, aku akan merasa kesepian." ucap Aldi ke Maya.
Laki-laki itu merasa hancur dan sangat kehilangan saat Maya pindah ke rumah kontrakan yang baru itu. Perempuan itu cuma bisa tersenyum tanpa tau hati Aldi yang sebenarnya.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini Maya?"
"Aku akan mandi dulu Aldi. Aku gerah dan keringetan. Kamu mau tunggu aku di sini atau mau langsung pulang?" ucap Maya ke Aldi.
"Aku mau tinggal di sini dulu sebentar sambil melihat - lihat isi rumah." jawab Aldi.
"Boleh, baiklah kalau begitu. Aku permisi ke kamar mandi dulu, tapi sebelumnya aku akan buatkan minum buat kamu duku ya Al."
"Tidak perlu repot Maya. Aku bisa beli minum di luar kalau perlu."
"Tidak Aldi, kamu tamu aku. Tamu kehormatan. Kamu anaknya Bos aku Pak Doni. Kamu mengerti bukan?"
"Maya. Sudahlah jangan banyak cerita, aku bosan mendengar cerita kamu itu."
"Ini bukan cerita Aldi, ini jujur dari dalam hati aku!" kata Maya ke Aldi senang. Perempuan itu senang sekali bisa pindah ke rumah itu dan bisa bersama Aldi atau perempuan itu harus bertemu dengan laki-laki ganteng dan muda bernama Kinan.
Maya POV
Aku pergi ke kamar mandi untuk persiapan mandi dengan cepat-cepat, aku tidak mau terlalu lama di kamar mandi karena di rumah ada Aldi. Dia sedang duduk di kamar tengah rumah kontrakan yang aku rindukan itu. Selesai mandi aku langsung ganti baju dan aku cek Aldi di kamar tengah, ternyata dia tidak ada. Aku merapikan baju handuk putih aku dan balik ke kamar untuk berdandan. Mungkin Aldi sudah pulang duluan saat aku mandi.
Tuhan, tolong aku, aku tidak punya harapan lagi sekarang. Aku sedih sekali, kenapa WiFi harus tidak ada. Ada tertawaan di luar buat aku kesal. Terima kasih Tuhan, aku masih bisa bernapas.
Aku melihat Aldi ada di depan rumah aku sedang bicara dengan sosok pak Brata Bapaknya Kinan. Hatiku jadi miris, kenapa yang keluar dari rumah itu bukan Kinan tapi malah Pak Brata. Tuhan, kenapa aku harus merasa seperti ini. Aku masih merasa sedih karena ada yang tidak suka dengan aku di situ.
WiFi bukalah.
__ADS_1
Aku pergi menemui Aldi dan Pak Brata yang sedang bicara berdua. Pak Brata langsung melihat ke arah aku yang baru datang.
"Nah, ini Maya. Dari tadi kami berdua sedang membicarakan kamu. Dia laki-laki baik sekali, beruntung kamu bisa kenal dengan laki-laki ini." ujar Pak Brata padaku. Dia bicara cukup menyenangkan di depan aku.
Aku mencoba untuk bersalaman dengan Pak Brata yang sudah lama tidak aku temui, lama sekali sekitar dua setengah tahun atau 30 bulan lamanya. Tuhan, kuatkan aku di sini, jangan buat aku bersedih karena hal sepele itu. Aku bisa mengaji dan melakukan kegiatan apa pun yang aku bisa selain yang itu.
Semoga WiFi ini cepat terbuka.
"Bagaimana kabar Pak Brata sekarang, sehat?"
"Sehat Maya, tapi kemarin aku sempat sakit dan sempat menginap di rumah sakit."
"Begitu kah, maaf aku tidak tau."
"Ya jelas kami tidak tau, kamu kan tidak tinggal di sini?"
"Iya, mungkin nanti aku akan ke rumah Pak Brata untuk menjenguk Pak Brata."
"Ngapain juga di jenguk, aku sudah sembuh kok. Aku tidak berharap kamu datang ke rumah aku untuk menjenguk aku, yang masih aku pertanyakan kenapa kamu balik ke sini lagi, ada apa Maya?"
"Pak Brata tidak suka dengan kedatangan aku?"
"Kalau boleh aku jujur, iya, aku tidak suka dengan kedatangan kamu ke sini. Bukan aku tidak suka dari aku sendiri bukan, tapi, aku takut Kinan. Dia akan mendekat pada kamu lagi dan akan suka jalan keluar seperti kemarin. Mencari kebahagiaan di luar dengan berekspektasi seakan-akan dia punya pacar di luar, padahal sebenarnya dia suka pada perempuan seperti kamu yang sama sekali tidak aku restu."
Tuhan, Pak Brata bicara blak-blakan di depan aku, aku jadi ciut dan kecil hati, sangat kecil hati, perasaan malu di depan Pak Brata dan Aldi buat aku tidak nyaman. Secara tidak langsung Pak Brata telah buat aku malu di depan Aldi dan di depan dia sendiri.
Aku perlu bicara ke Pak Brata. "Maaf Pak Brata, urusan Kinan, itu bukan termasuk urusan aku. Kinan adalah anak Pak Brata, dia juga teman aku dulu tapi, kenapa aku yang harus di salahkan? Bukankah yang berbuat ulah anak Pak Brata sendiri, bukan aku?,
"Jujur aku kecewa sama Pak Brata. Aku pikir Pak Brata senang ada aku di sini, bisa bertemu lagi dengan Kinan dan kembali bersama seperti semula."
Pak Brata tersenyum sinis, dia melihat ke arah Aldi dan melihat ke arah lain. Aku melihat itu dengan kedua mata aku. Aku masih ingin tau bagaimana sikap Pak Brata padaku.
Pak Brata pergi dari hadapan aku dan Aldi. Aku masih berpikir kenapa Pak Brata bicara seperti itu di depan aku, yang buat aku kecewa, padahal sebelumnya aku senang sekali dan ingin bersalaman ke Pak Brata dan bilang ke dia, kalau aku datang lagi dan ingin buat Pak Brata bahagia dan senang. Tapi nyatanya tidak. Pak Brata bukan seperti dulu lagi, dia lain padaku sekarang.
Sepertinya, aku tidak bisa dekat-dekat lagi dengan laki-laki itu yang tidak berharap kehadiran aku di sini, di rumah kontrakan ini. Aku kecewa sekali ke Pak Brata siang itu.
"Luna?"
"Iya?"
Aldi memanggil aku dan menyadarkan aku, aku jadi tersadar dan melihat ke arah sekitar. Aku masih hapal tempat ini. Ada pohon-pohon tinggi, ranting belukar yang memanjang, kandang kambing kosong yang sedikit kotor, dan semilir angin yang aku rasakan saat ini. Ini adalah suasana perumahan yang cukup sepi dan sunyi tanpa ada orang lain yang lewat.
Lingkungan perumahan itu tidak banyak perubahan selama aku tidak tinggal di situ. Dua setengah tahun adalah waktu yang cukup lama aku meninggalkan lingkungan rumah kontrakan ini. Tapi, mungkin suatu saat nanti aku akan pulang ke kampung aku sendiri di pulau Madura. Tepatnya di Pamekasan. Bersama Ibu sambil menemani Ibu menjual Tape.
"Luna, aku pamit pulang dulu, mungkin nanti kalau aku kosong, aku akan ke sini lagi."
Aku mengusap kedua pipi aku yang tidak menangis, cuma ingin menyegarkan kedua pipi saja.
"Iya, boleh. Terima kasih Aldi, sudah mau datang ke mari. Jangan lupa nanti kalau kamu ada waktu, datang lagi ke sini."
"Oke, aku balik dulu ya!"
"Iya Aldi, jangan lupa titip salam ke Pak Doni."
"Iya, akan aku sampaikan."
"Oke."
Aldi pergi dengan sepeda motornya meninggalkan aku dan rumah kontrakan itu. Aku jadi kepikiran sama laki-laki itu. Dia baik sekali sampai mengantarkan aku dan menemani aku di rumah kontrakan lama yang terasa baru ini buat aku.
Aku masih belum persiapan untuk membayar langsung uang rumah kontrakan ini ke agensi kantor Aliyas milik Pak Doni. Aku masih ingin tenang dulu dan ingin bernapas lega. Betapa aku ingin menghayati hidup aku yang sedang sebatang kara ini. Aku butuh hiburan dan ingin menonton televisi sebentar. Tapi aku ingat sesuatu, kalau aku masih belum menulis di buku harian aku.
__ADS_1
Aku ingin menulisnya sebentar, tapi mungkin aku butuh istirahat dulu sebelum melakukan aktivitas yang ada seperti menyapu rumah, mengepel, mencuci baju, dan lain sebagainya. Aku masih ingin beristirahat dulu di kamar.
Aku melangkah pelan di tangga rumah kontrakan itu sambil berkata,
"Rumah Kontrakan, aku datang lagi ke sini, aku datang lagi dengan cerita lama dan cerita baru aku yang cukup menarik dan cukup buat aku penasaran. Sambut aku yang tidak bisa apa-apa ini, sambut aku perempuan yang tidak berdaya dengan sedikit kesedihan ini di hati. Di mana aku butuh seorang teman dan seorang kawan untuk bisa menemani aku di rumah ini, entah sekarang, nanti, atau besok.
"Rumah kontrakan, kamu dengar kalimat aku kan? Kamu dengar keluh kesah aku di sini kan? Kamu tau kalau aku sedang bersedih di sini, tapi aku tetap tenang dengan keadaan aku yang tidak bisa berlindung pada siapa lagi kalau bukan kepada Tuhan yang menciptakan aku. Aku yakin aku bisa kuat tapi tanpa kamu di sini, aku tidak bisa apa-apa. Karena dari sinilah aku memulai kehidupan aku, dari sini jugalah aku memulai kisah hidup aku bersama Kinan, Pak Brata dan Pak Sopir yang telah pergi meninggalkan aku sejak tadi."
Tiba-tiba ada suara dari belakang,
"Maya..!" aku langsung langsung berbalik ke belakang, dan aku lihat telah berdiri seorang Kinan, laki-laki tampan dan ganteng, berkulit putih di depan aku dengan kaos kuning kunyit atau oranye, dan celana putih tiga perempat. Dia datang padaku dengan langkah pelan.
Tuhan, apakah dia benar Kinan?
"Kinan, apakah itu kamu?"
"Iya Maya, ini aku. Ayah telah bilang padaku kalau kamu kembali lagi ke sini, ke rumah kontrakan ini. Aku tidak percaya Maya, sungguh!"
Aku tersenyum bahagia. "Syukurlah, aku senang ada kamu di sini. Apakah selama ini kamu merindukan aku Kinan?"
"Ya Maya, aku merindukan kamu, tapi waktu aku tidak banyak buat kamu, aku kan masih harus bekerja di kedai kopi itu."
"Kedai kopi milik Pak Herman, teman Pak Doni itu?"
"Iya. Aku masih tetap bekerja di sana. Terima kasih telah membantu aku. Itu semua karena kamu, karena bantuan kamu." ucap Kinan padaku. Aku juga sadar kalau itu datangnya dari Tuhan, dari usaha aku, usaha Pak Doni juga yang minta bantuan ke Pak Herman temannya untuk bisa menerima Kinan untuk bekerja di kedai kopi plus diskotik itu.
"Syukurlah kalau begitu, aku senang melihat kamu masih sehat."
"Aku baik-baik saja Maya, aku masih sehat seperti yang kamu lihat sekarang." lanjut Kinan padaku.
Aku masih menahan emosi aku yang ingin memeluk Kinan dan menghilangkan semua kesedihan aku ke dia, tapi keinginan itu aku tahan. Aku tidak bisa memeluk Kinan, sementara dia tidak siap menerima pelukan aku.
"Ya sudah, kalau begitu kamu boleh masuk ke dalam kalau perlu."
"Maaf Maya, aku harus berangkat bekerja, aku tidak bisa menemani kamu dulu, mungkin nanti setelah aku pulang dari kedai."
"Iya. Terserah kamu saja."
Kinan langsung pergi ke arah aku dan melangkah ke sepeda motornya, menyalakan sepeda motornya dan pergi meninggalkan aku di rumah kontrakan itu, sendiri. Aku merasakan kehampaan seketika saat Kinan pergi dari arah aku.
Aku lalu berniat masuk ke rumah Kontrakan itu dan ingin merasakan kenyamanan rumah itu. Aku masuk ke dalam dan melihat dinding-dinding rumah yang masih bercat putih. Dinding rumah yang dulu aku suka, dan sekafanh sudah bisa aku nikmati sendiri. Aku sentuh dinding rumah itu, dan aku rasakan sentuhannya. Sedih sekali mengingat betapa aku begitu merindukan rumah kontrakan ini.
Tapi, apakah aku salah dengan bersikap seperti itu, sikap yang begitu mendalam ke rumah ini? Sudahlah, aku tidak mau bermimpi, atau berangan-angan jauh. Aku ingin menikmati kesendirian aku. Bersama diri aku sendiri.
***
pesan : dalam hati aku nyesek sepertinya kalau WiFi tak ada. Tapi tak mengapa aku bisa baca buku cerita atau buat cerita di sini.
Buat teman-teman jangan lupa baca terus cerita aku, share vote dan komennya di sini.
Ask :
1.Ceritanya bagus tidak?
2.Apa alasannya?
3.Karakter siapa yang kamu suka? Kinan, Maya, Aldi, Pak Doni? Pak Brata, Luna, Pak Firman..?
...
slm.
__ADS_1