Pertaruhan Cinta

Pertaruhan Cinta
Chapter 8 : Duduk di kursi belakang


__ADS_3

Maya POV 🌙


Aku duduk di kursi belakang. Kursi tempat duduk dengan cat putih yang terbuat dari besi. Aku duduk dengan perasaan lelah.


Tiba - tiba Aldi datang. Di berdiri di samping aku sambil melihat aku. Aku melihat Aldi balik.


"Iya Al, ada apa? Maaf aku capai. Aku harus duduk di sini." ucapku ke Aldi.


"Piringnya aku taruh di meja. Kamu bersihkan dulu. Cuci piringnya sampai bersih habis itu kamu boleh istirahat."


"Iya bentar lagi aku ke situ." jawabku dengan nada memelas.


"Sekarang! Aku tidak mau menunggu lama. Kalau tidak, aku bisa berbuat sesuai untuk kamu!"


"Terserah kamu."


Tiba - tiba Aldi menyeret aku dan membawa aku ke kamar mandi. "Ayo ikut aku! Seenaknya saja kamu di sini! Tidak mau kerja juga!"


"Aldi lepaskan aku!"


Aku berteriak sebisanya. Aku tidak mau di siksa. Aldi mengunci pintu kamar mandi dari luar.


"Aldi buka pintunya!"


Aku mengendor pintu kamar mandi itu sebisanya dan sekuat tangan aku. Aku tidak bisa berbuat apa - apa selain berteriak dan minta tolong.


Berkali - kali aku berteriak tapi Aldi tidak datang juga. Dia membiarkan aku terkunci di dalam kamar mandi. Aku tidak bisa keluar.


Aku menangis dan sedih sekali. Aldi jahat padaku. Aku akan ingat perbuatannya itu.


"Kinan! Tolong aku! Pak Doni tolong aku!"


Hik hik. Aku menangis sedih. Sampai kapan aku di tahan di kamar mandi ini?


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka lebar. Aku lihat Aldi berdiri di luar.


"Sekarang kamu keluar! Ayo keluar!"


Aku bergegas untuk keluar dan cepat-cepat pergi untuk mencuci piring dan sendok sisa makan Aldi tadi. Tapi piring - piring itu sudah tidak ada lagi.


Aku bingung mencari piring - piring itu. Ke mana hilangnya piring dan baskom tadi?


"Piringnya sudah aku cuci bersih. Kamu tinggal memakainya kalau perlu. Aku juga mencuci baskom dan semua peralatannya tadi. Makanya, kalau jadi orang tanggung jawab sedikit kenapa?


"Jadi orang itu jangan seenaknya! Kerja yang rajin dan disiplin! Jangan suka malas!"


"Kerjaan selanjutnya kamu setrika baju aku!"


"Apa?"


"Ayo cepat lakukan sebelum aku berubah pikiran!"


Tuhan!


Aku bergegas pergi ke belakang ke arah mesin cuci. Aku ambil baju dan celana Aldi yang kering dan aku langsung setrika baju itu di tempat setrika.


Aldi datang dengan beberapa baju - bajunya yang bagus, jas dan celana miliknya. Ya ampun! berapa jam aku harus menghabiskan kerjaan aku ini?


"Aldi, banyak sekali! Sampai kapan selesainya?"


"Terserah kamu. Aku akan menunggu pakaian ini sampai nanti malam. Jadi, nanti malam pakaian ini harus selesai di setrika, aku tidak mau tau!"


Aldi memaksa aku untuk menyetrika semua pakaiannya. Aku akan coba melakukannya selama aku bisa.


Meski terasa capai dan kesal aku lakukan pekerjaan itu dengan senang hati. Bentar lagi waktu ashar aku akan solat nanti pukul lima. Aku akan selesaikan setrikaan ini dulu!


Tak berapa lama adzan ashar terdengar. Aku masih menyetrika baju-baju Aldi. Di ruang tengah aku dengar Aldi sedang menonton televisi sendirian. Dia tertawa sendiri di depan televisi.


Aku dengar Aldi sedang melihat film kartun. Hebat benar anak itu! Aku di suruh nya bekerja, sedang dia enak - enak sendiri di rumahnya.


Aku akan adukan perbuatannya itu ke Pak Doni. Biar dia tidak seenaknya sendiri di rumah ini.


satu baju selesai aku setrika. Aku bernapas lega. Masih ada empat belas baju lagi plus baju dan celana dan jas yang tadi aku cuci. Jumlahnya ada tujuh belas. Satu baju selesai di setrika jadi jumlah semuanya delapan belas.


Aldi benar-benar telah menyiksa aku dengan kelakuannya itu.


Aku lalu pergi ke Aldi tanpa tau setrikaan itu akan selesai kapan.


"Aldi, aku tidak bisa setrika baju-baju kamu sekarang. Aku hanya bisa setrika baju kamu satu. Aku capai Aldi! Kalau kamu tidak mau, aku akan lapor ke Pak Doni kalau aku kecapaian karena bekerja seharian.

__ADS_1


"Aku akan bilang juga ke Pak Doni kalau kamu telah mengunci aku di kamar mandi tadi!"


"Tunggu! Tunggu Maya! Maya tunggu!" Aldi mengejar aku. Dia lalu mencium aku di bibir.


"Itu hadiah buat kamu sekaligus permintaan maaf aku. Sekarang kita impas!"


Plak! Aku menampar pipi Aldi.


"Beraninya kamu cium aku!" aku berlari ke kamar dan menangis kesal. Aldi jahat, dia telah berani mencium bibir aku yang tidak pernah ada seorang pun yang mau menciumnya sebelumnya.


Aldi laki-laki terlalu berani. Aku tidak suka! Aku akan laporkan perbuatannya nanti ke Pak Doni.


Sekarang adalah waktunya aku untuk balik ke tempat setrikaan baju. Aku lihat Aldi tengah menyetrika bajunya. Aku jadi iba padanya.


"Biar aku saja yang setrika. Kamu diam saja. Nanti kamu boleh bantu aku kalau aku sudah capai. Kamu boleh menemani aku di sini tapi tidak boleh macam-macam!" kataku ke Aldi.


"Baiklah, akan aku temani kamu tapi waktunya tidak lama. Aku harus bermain bola voli bersama teman aku di lapangan kota. Jadi maaf."


Aku masih mencerna kalimat demi kalimat yang Aldi ucapkan barusan. Aku baru tau kalau Aldi suka bermain bola Voli di luar. Kebiasaannya itu baru aku tau hari ini.


"Jadi kamu suka main bola voli di luar? Terus, aku harus sendirian lagi di rumah? Oke! Tidak masalah! Tapi jangan harap kamu makan seenaknya di sini.


"Kamu harus goreng telur sendiri, ambil makan sendiri dan cuci piring sendiri! Aku tidak mau melayani kamu lagi untuk makan malam nanti!"


"Terserah kamu! Aku bisa ambil sendiri dan masak sendiri sesuka hati aku! Yang penting aku bebas berbuat sesuai hatiku kapan saja! Dah..!"


Ya Tuhan! Aldi benar-benar tega meninggalkan aku di rumah sendiri. Aku menghembuskan napas lesu. Bentar lagi Pak Aldi akan datang dari kantor.


Aku dengar deru mobil Aldi yang keluar dari garasi. Laki-laki telah benar-benar keluar dari rumahnya. Tinggallah aku sendirian di rumah besar itu.


Aku masih berdiam diri untuk menenangkan diriku. Aku ingin mendinginkan amarahku yang aku miliki dah aku pakai ke Aldi tadi.


Tidak seharusnya aku berlaku kasar ke Aldi. Aku harus sopan ke dia selalu anak dari Bos aku.


Pak Doni datang saat Aldi keluar pakai mobil Avanza nya. Aku harus segera menyelesaikan setrikaan Aldi sebelum Pak Doni menyuruh aku buat air minum atau menyediakan makanan.


Kau belum beli ikan atau goreng telur. Pak Aldi membuka pintu depan rumah dengan mudah karena dia pegang kunci serep.


"Maya, kamu di mana..?"


Pak Aldi memanggil aku yang masih menunggu dia datang. Aku tinggalkan setrikaan Aldi dan tidak lupa mematikan kabel setrikaan.


Kau melangkah menuju Kak Doni di ruang tengah, ruang tamu.


"Kamu baik - baik saja Maya? Kamu betah di sini rupanya." ucap Pak Doni padaku sambil pegang kresek hitam.


"Iya Pak Doni. Aku betah di sini."


"Aldi mana? Dia di kamarnya?"


"Tidak, Aldi tadi keluar dengan mobilnya. Dia bilang mau main bola Voli di luar bareng temannya."


"Biasa anak itu! Kau sudah melarang dia untuk bermain Voli. Karena kemarin dia sempat cidera dan lukanya cukup parah.


"Ini ambil. Ini foto goreng buat kamu. Kamu makan dan habiskan. Kalau kamu tidak suka, kamu taruh di kulkas."


"Kau suka Pak Doni terima kasih. Apa Pak Doni mau aku siapkan makanan..?"


"Iya boleh. Aku akan makan nanti setelah Doni datang."


"Baik Pak Doni. Tapi aku belum belanja ke supermarket untuk beli ikan."


"Aku akan telepon Doni bentar lagi. Biar dia yang belanja ke luar."


"Baik Pak."


Aku pikir Pak Doni akan menyuruh aku untuk belanja keluar. Aku lupa, kalau aku masih tahanan di sini. Aku rindu sekali sama Berta. Sudah lama aku tidak bicara padanya.


Harapan satu - satunya aku adalah Kinan. Semoga aku bisa mengundang Kinan untuk melihat aku di sini, di rumah Pak Doni.


Aku ingin bertemu dengan Kinan dan cerita banyak. Kinan harus tau kalau di rumah ini ada Aldi yang suka berteman dengan aku.


Aku masih harus menyelesaikan setrikaan sampai selesai. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menyetrika baju milik Aldi ini. Sambil berharap nanti Aldi akan kasih hadiah ciuman lagi untuk yang ke dua kalinya.


Aku dengar Aldi datang dengan mobilnya di garasi samping rumah Pak Doni. Aku kaget dah senang bukan main. Laki-laki yang aku harapkan datang juga.


Aku melihat ke depan dan benar. Aldi sedang bicara sama Pak Doni di depan rumah. Aldi lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Aku segera berlari ke meja setrika.


Aku pura-pura melanjutkan setrikaan aku dan menunggu Aldi datang. Tapi, rupanya laki-laki itu tidak mau datang menemui aku.

__ADS_1


Aku lihat Aldi masih di kamarnya. Mungkin dia tidak jadi belanja. Aku masih balik ke meja setrika dan melihat Aldi memakai bawahan handuk menuju kamar mandi.


Pak Doni datang padaku. "Ke mana Aldi?"


"Dia sedang mandi di kamar mandi Pak!"


"Aku sudah bilang ke dia untuk pergi belanja. Tapi dia tidak mau, katanya capai."


"Aku akan menyuruh Aldi lagi setelah dia mandi. Aku akan bicara ke dia setelah dia selesai mandi."


Pak Doni berbicara sambil berdiri di depan aku. Tubuhnya sudah tidak begitu sehat lagi. Aldi harus menjaga kesehatan Pak Doni. Aku juga. Kasihan dia.


Ibu Sulastri juga tidak begitu perhatian pada Pak Doni. Lalu siapa yang akan merawat Pak Doni nantinya kalau sewaktu - waktu dia sakit?


Aku melanjutkan dialog aku bersama Pak Doni.


"Maafkan Aldi Pak. Dia biasa begitu. Aku juga minta maaf karena tidak bisa keluar rumah."


"Tidak apa. Itu hak kamu. Kamu masih jadi tahanan sekarang. Meski aku cemas takut kamu sedih di sini."


"Tenang saja Pak, Aldi cukup menghibur aku. Dia anaknya suka bercanda."


"Tapi bercandanya jangan keterlaluan ya!"


"Iya Pak!"


Aku berkata seadanya ke Pak Doni. Tapi aku lupa untuk bilang ke Pak Doni kalau tadi Ibu Sulastri datang ke rumah ini.


Aku meninggalkan setrikaan sebentar dan meletakkan setrikaan dengan benar. Aku tidak mau pakaian Aldi gosong.


Aku mengejar langkah Pak Doni dari belakang.


"Pak Doni, maaf. Aku mau bilang, tadi Ibu Sulastri ke sini."


"Sulastri, mau apa dia? Aku sudah lama tidak berhubungan dengan dia lagi. Dia bilang apa ke kamu?"


"Ibu bilang hal yang sama seperti Bapak."


"Bilang apa?"


"Katanya, Ibu Sulastri sudah lama tidak bicara sama Bapak."


"Biarkan saja dia. Sulastri orangnya memang nakal, suka main sama laki-laki tidak karuan. Kalau kamu bertemu dia lagi, telepon aku. Aku ingin bicara ke dia sebentar saja.


"Ada suatu hal yang ingin aku bicarakan sama Sulastri." lanjut Pak Doni padaku.


Aku masih diam sambil menunduk, mencoba untuk mengerti dan menenangkan diri. Aku dengar suara mesin air kran di kamar mandi menyala. Aldi pasti sedang mandi.


Di sadari atau tidak, aku telah masuk perangkap di rumah ini. Secara tidak langsung, aku telah merasa nyaman dan aman di rumah ini. Ada Aldi yang buat aku betah berlama-lama di sini.


Ada Pak Doni juga yang sangat sayang dan menghormati aku. Kalau tidak ada Pak Doni, mungkin hidup aku tidak akan sebaik ini. Baik atau tidaknya aku di rumah ini, tergantung aku sendiri. Baik apa tidak bersikap ke yang punya rumah?


Aku harus melayani Pak Doni dan Aldi sebaik mungkin. Aku tidak mau bersikap kurang sopan lagi sama Meraka. Mereka adalah orang yang paling aku sayangi di keluarga ini. Di rumah megah milik Pak Doni.


Aku melanjutkan setrikaan aku yang belum selesai. Lama sekali selesainya. Aku Atris menyetrika dan tidak melihat Aldi keluar dari kamar mandi. Aku suka ketika melihat Aldi pakai bawahan handuk.


Aku mendengar Aldi tengah mendengar kan musik dari arah kamarnya. Tiba-tiba musik mati. Aku lihat Pak Doni masuk ke kamar Aldi.


Mungkin Pak Doni menyuruh Aldi untuk belanja ke Supermarket untuk beli ikan ayam atau keperluan lainnya.


Benar saja. Tiba-tiba aku melihat Aldi keluar dengan mobil hitamnya. Mobil Avanza hitam yang biasa di bawanya keluar.


Aldi terlihat tampan sekali dengan kaos hitamnya yang dia kenakan. Perempuan yang melihat dia pasti suka. Apalagi bau parfumnya yang sedikit tercium dari atau belakang.


Aku masih merasa resah sampai saat ini. Aku adalah perempuan yang tak punya laki-laki atau suami. Karena aku sama sekali tidak punya niat ke arah itu yaitu pernikahan.


Kadang sewaktu-waktu aku ingin bisa punya laki-laki yang perhatian padaku. Kadang aku merindukan Kinan untuk jadi teman aku. Atau Aldi yang kelak akan jadi teman aku.


Tapi, apa iya Aldi akan mau jadi pendamping aku? Padahal aku dan dia jauh berbeda. Aku orang miskin dan Aldi orang kaya raya.


Aku bukanlah perempuan cantik, seperti incaran Aldi. Aku hanyalah perempuan biasa yang tak kenal lelah untuk bekerja. Tak ada satu orang pun yang mau melihat aku bersedih kecuali Pak Doni.


Dan aku tidak mungkin untuk menjadikan Pak Doni sebagai calon pendamping aku nantinya. Karena perbedaan umur yang jauh lebih tua Pak Doni. Meski aku berbohong ke Berta kemarin.


Aku bilang ke Berta kalau aku suka Pak Doni, tapi itu aku bohong. Waktu itu aku tidak bisa mengambil keputusan. Siapa yang akan menjadi pendamping aku kelak karena aku masih ingin sendiri waktu itu.


Entah kenapa hati aku kali ini memilih Aldi untuk aku jadikan teman di rumah ini. Selain Kinan yang mau menemani aku mengobrol.


Aku ingin Aldi cepat pulang dan mau menang aku di rumah ini. Paling tidak aku tau kalau dia ada di rumah ini. Paling tidak aku merindukan Ibu Sulastri, perempuan yang telah melahirkan anak sebaik Aldi.

__ADS_1


Maafkan Aku Aldi, aku telah lupa kalau aku telah belajar untuk menyukai kamu sekarang. Dan Maaf, kalau kamu tidak menyukai aku dengan sikap aku atau muka aku yang pas-pasan.


To Be Continue.


__ADS_2