Pertaruhan Cinta

Pertaruhan Cinta
Chapter 24


__ADS_3

Luna POV


Aku masih memakan makanan yang ada di atas piring bersama Nara Naura teman aku. Kamu tau kan Nara Naura itu siapa. Dia adalah anak pengusaha Kaya Raya yang Ayahnya punya beberapa hotel di Jakarta.


Betapa senang berada di rumah Nara Naura yang orang tuanya Kaya Raya seperti itu. Anaknya Mas Septa bekerja sebagai manajer di hotel itu. Dia sudah punya Kafe di jalan Menteng. Sekarang malah mau menikah sama perempuan bernama Ayu Andira.


"Luna, kamu udahan makannya..?" Nara bertanya padaku. Nara adalah teman aku yang baik dan perhatian.


"Sudah. Aku sudah kenyang." ucapku sedikit takut. Aku merasa tidak enak berada di rumah Nara Naura malam itu saat magrib.


"Piringnya taruh saja di situ, nanti buat bibi yang ambil." jelas Nara padaku.


"Aku ijin solat dulu sebentar."


"Iya, silakan. Kamar mandinya di belakang. Atau di kamar aku juga ada kalau kamu mau."


"Iya, makasih. Aku ijin ke kamar mandi dulu bentar ya!"


"Kamu tidak sekalian mandi saja Luna!" Aku berhenti melangkah dan diam.


"Iya, aku akan mandi." jawabku gelagapan. Awalnya aku tidak niat mandi karena aku malas. Tapi Nara sudah menyuruh aku untuk mandi. Ya sudah aku mandi saja.


Usai mandi, aku langsung duduk di atas tempat tidur Nara. Senang banget bisa liat meja dan cermin make - up milik Nara yang bagus yang aku saja tidak punya meja seperti itu. Ruangan masih sepi, aku berencana untuk minta bedak, hand body, atau parfum milik Nara. Tapi aku tidak berani. Aku  lalu siap-siap untuk ganti baju.


Setelah ganti baju aku langsung keluar dari kamar itu mencari Nara. Nara sedang berada di luar bertemu seseorang, dia adalah Aldo. Aku melihat sebentar. Sepertinya pembicaraan penting.


Aku sayup-sayup mendengar suara Mas Septa yang sedang keluar dari kamar dan suara sound sistem itu menyadarkan aku dan membuat suasana cair.


"Iya, Iya. Tenang saja, semuanya pasti aman." kata Mas Septa di ponselnya.


Aku melihat Mas Septa menutup gagang ponselnya. Aku sembunyi di belakang pintu kamar.


"Nara.. Nara kamu di mana..?" Mas Septa mencari Nara, adiknya. Mungkin sedang perlu.


"Iya kak!" Nara menyahut.


"Luna ke mana, katanya mau menginap..?"


"Luna sedang ada di kamar, Kakak ada perlu sama Luna..?"


"Tidak, cuma ada sesuatu yang penting sedikit."


"Bentar aku panggilkan." Nara pergi mencari aku ke dalam kamar. Dia menemukan aku sedang pura-pura duduk sendiri.


"Luna!" Nara memanggil aku. Aku menoleh ke arah dia.


"Iya, ada apa Nara..!? Ada yang bisa saya bantu..?"


"Kamu jangan pergi ke mana-mana ya! Kamu di cari sama Kak Septa tuh di ruang tengah. Aku masih mau bersama Aldo dulu di luar. Dia ada masalah katanya. Kamu temui Kak Septa dulu!" Nara menyuruh aku untuk bertemu Kak Septa.


Oh Tuhan, kenapa harus sekarang. Aku masih ingin sendiri tapi Kak Septa sudah kadung ingin bertemu sama aku. Aku melangkah menuju Kak Septa yang sedang ada di ruang tengah. Dia sedang menghitung beberapa souvernir yang ada di atas meja.


"Iya, ada apa Kak..?" aku bertanya ke Mas Septa sambil berdiri.


"Oh ke sini. Aku mau ngomong sama kamu!"


"Iya, ada apa Kak..?" aku masih tidak tau apa yang sebenarnya Mas Septa inginkan.


"Calon Istri aku mau kenalan sama kamu. Aku akan hubungi dia sekarang. Bentar ya!" Mas Septa lalu menghubungi seseorang yang aku pikir itu adalah Kak Ayu.


"Ini kamu pegang. Ini Ayu calon istri aku!" jelas sekali aku mendengar identitas itu, di mana Mas Septa bangga sekali kasih tau aku akan calon istrinya itu, padahal aku tidak begitu suka ada perempuan lain yang ada di hidup Mas Septa.


"Iya halo!" aku menerima telepon itu dengan perasaan sedikit kesal. Kesal banget.


"Halo, ini Luna?"


"Iya Kak."


"Luna, tolong kamu jauh - jauh dari Septa ya. Aku mohon. Kamu jangan dekati Septa. Aku mohon. Dan tolong kamu jangan bilang ke Septa soal ini. Aku tidak mau ada orang lain yang merebut Septa dari aku.


"Bentar lagi aku mau ke situ. Kamu bersikap biasa saja. Kalau misal Septa mau mendekati kamu, tolong kamu jauh - jauh dari dia. Aku tidak mau keluarga aku tau hubungan kamu sama Septa, oke!"


"Iya kak. Tapi aku sama Mas Septa.." Klik. Ponsel itu di tutup oleh Kak Ayu. Sejak itu aku tau kalau Kak Ayu secara tidak langsung telah berusaha untuk menjauhkan aku dari Mas Septa. Lagian, ngapain juga Mas Septa cerita ke Kak Ayu yang posesif itu.


"Udah bicaranya..?" Mas Septa bertanya padaku laiknya tak ada perasaan apa apa. Apa iya, Mas Septa punya perasaan ke aku sejauh ini?


"Udah Kak. Makasih." aku langsung pergi dari Mas Septa dengan sedikit menitikkan air mata. Tak berapa mobil itu datang. Mobil yang di tumpangi oleh keluarga Kak Ayu Calon Istri Mas Septa.


Aku perhatikan Mas Septa langsung pergi ke dalam kamar untuk bersiap-siap menemui tamu. Entah itu dengan mandi atau cuci muka. Aku sedikit tersenyum. Aku lalu berdoa pada Tuhan Yang Maha Esa.


Tuhan, kalau Mas Septa memang orang yang terbaik untuk aku, tolong dekat kan dan baik kan hubungan aku dengan dia. Tapi, kalau Kak Ayu yang minta, mungkin aku harus usaha untuk jauh dari Mas Septa.


"Nara, Septa! Tamunya sudah datang, cepat keluar kalian!" suara Ibu Arini orang tua Nara datang memanggil. Orang tua Kak Ayu turun, Kak Ayu menyusul untuk turun dari mobil. Mobil Avanza hitam yang masih baru. Mas Septa datang menyusul. Aku tidak tau kalau Nara sudah siap-siap dari tadi. Nara sudah ganti baju rupanya. Aku lihat Nara membawa kotak kue ke belakang. Kau melihat dari arah kamar.


Nara lalu melangkah ke kamar. "Loh Luna, kok masih ada di sini? Cepat keluar, bantuin bawa barang-barang!" kata Nara memerintah.


"Iya." aku gelagapan. Aku tidak siap untuk menerima tamu semacam itu, apalagi ada Kak Ayu yang tau aku bagaimana.


Aku mengambil kotak kue yang jatuh dari tangan Kak Ayu sendiri. Rupanya malam ini adalah malam pertarungan aku sama Kak Ayu.


"Kamu Luna kan..?" tanya Kak Ayu tiba-tiba.


"Iya Kak." jawabku datar sambil aku bawa tersenyum biar kelihatan manis. Meski sebenarnya aku sudah ikhlas untuk menyerahkan sepenuhnya Kak Septa ke Kak Ayu.


"Ini ada amplop buat kamu. Kamu ambil ya. Ini sebagai rasa terima kasih aku ke kamu, kamu mau kan terima ini..?"


Kak Ayu memberikan sebuah amplop buat aku tapi aku tidak mungkin bisa menerima itu.


"Maaf Kak, aku tidak bisa terima itu. Aku ikhlas kok kak." aku ambil barang itu lalu meletakkannya ke dalam. Aku merasa telah di lecehkan.

__ADS_1


Serius. Tapi tak mengapa. Mungkin Kak Ayu ingin berterima kasih dengan itu padaku. Aku memilih untuk tinggal di dalam kamar ketimbang menemui mereka. Nara menyuruh aku untuk ikut berkumpul. Acara pengajian pun di mulai, semuanya berkumpul sambil mengaji dan mendengarkan ceramah dari ulama terdekat. Usai acara semuanya makan makanan yang ada di piring yang sudah di isi nasi dan ikan tadi, kuahnya rawon.


Tapi, perasaan aku masih merasa tidak enak pas ketika ada Kak Ayu yang datang. Aku memutuskan untuk memilih pulang saja ke rumah ketimbang aku merasa sakit terus seperti itu. Aku ijin ke Nara untuk bisa pulang.


"Nara, aku ijin pulang. Maafkan aku, aku tidak bisa lama di sini."


"Kenapa?" Nara masih tidak mengerti kenapa aku memutuskan hal itu. Hanya Kak Ayu yang mengerti kenapa aku begitu.


"Luna, kamu menginap saja di sini. Tamu-tamu itu akan pulang setelah ini. Aku akan menemani kamu setelah tamu-tamu itu pulang, oke!"


"Ya udah, aku tidak jadi pulang. Aku duduk di belakang saja."


"Terserah kamu lah. Yang penting kamu tidak pulang dulu. Aku akan menemui kamu nanti seusai tamu-tamu itu pulang. Aku mau menemui Kak Ayu dulu. Besok dia mau jadi pengantin."


"Oke."


"Kamu boleh ke taman belakang sekarang." Nara menyuruh aku ke taman belakang yang buat aku lega.


Aku berjalan sambil menatap kosong. Ada apa sebenarnya dengan aku yang seperti ini. Hatiku merasa sedikit sakit karena suatu hal yang buat aku kesal karena telah mengenal seseorang, yaitu Mas Septa. Nama itu telah membuang aku sakit dan luka.


"Luna!" Nara datang memanggil aku. Dia menghampiri aku. "Iya, kenapa?"


"Kamu di panggil Kak Ayu. Dia mau mengobrol sama kamu sebentar."


"Oke." aku menjawab ringan sambil melihat ke arah Nara. Entah mau ada apa lagi ini sampai-sampai Kak Nara mau bertemu dengan aku.


"Kak Ayu, ini orangnya." aku melihat Kak Ayu dan Mas Septa duduk berdua. Mereka senang melihat aku datang.


"Duduk." kak Ayu menyuruh aku untuk duduk di kursi. Mas Septa diam saja. "Aku kenal dia kemarin saat aku mengantar dia dari sekolah. Dia anaknya pemalu Ayu!" ujar Mas Septa padaku.


"Oh begitu. Ke sini duduk saja bergabunglah bersama aku dan AA." katanya Kak Ayu. Dia panggil Mas Septa dengan panggilan AA. Aku duduk sambil malu.


"Kamu cerita ke aku bagaimana kamu mengenal AA Septa." Kak Ayu menyuruh aku menceritakannya. Aku masih bingung bagaimana aku bisa mendeskripsikan itu ke Kak Ayu. Aku lihat Nara duduk di kursi belakang aku.


Aku menceritakannya sedikit ke Kak Ayu di depan Mas Septa dan Nara. sedikit banyak Nara dan Mas Septa tertawa tapi Kak Ayu tidak. Dia lalu meminta maaf padaku. "Maafkan aku Ya Adik Luna. Maafkan Kakak kalau Kakak punya salah."


"Sama-sama Kak." ucapku.


"Mana kue buat Luna..?" Kak Ayu tanya ke Mas Septa.


"Oh ini." Mas Septa memberikan sekotak kue buat aku. "Ini kotak kue buat kamu, di makan ya! Ini kue buatan Ayu asli. Enak rasanya." jelas Mas Septa padaku.


"Beneran enak?" Kak Ayu bertanya ke Mas Septa.


"Bener, enak!" Mas Septa menjawab ulang dengan mimik wajah meyakinkan. Aku lanjut bicara,


"Terima kasih Kak Ayu, Mas Septa juga." ucapku ke Mas Septa dengan sedikit menyimpan perasaan aku.


"Apa lagi AA..?" Kak Ayu bertanya ke Mas Septa. "Ehm, tidak tau, kayaknya sudah semuanya."


"Katanya mau minta No Wa-nya Luna..?"


Aku berikan nomor Wa aku ke Kak Ayu, dengan berpikir Omelan apa lagi yang akan aku dapatkan nanti dari Kak Ayu kalau dia tau aku dekat sama Mas Septa. Yang jelas aku harus tau diri dan jaga jarak sama tunangan Kak Ayu itu.


Kak Ayu mencatat no Wa aku. Aku melihat Nara yang masih duduk tenang saja. Ibu Nara lalu datang untuk memberitahu, "Kalian sudah makan..?" katanya.


"Sudah Tante tadi." Kak Ayu jawab. Dia lanjut bertanya ke Mas Septa,


"AA tidak mau makan lagi?"


"Sudah kenyang." kata Mas Septa ke Kak Ayu. Jujur aku merasa tidak enak berada di antara mereka. Kak Ayu dan Mas Septa terlihat kompak. Sekarang aku tau kalau Mas Septa tulus mencintai Kak Ayu, begitu pula Kak Ayu. Aku lalu pamit ke mereka.


"Kak Ayu, boleh aku pamit..?"


"Mau ke mana? Kakak masih ingin bertemu kamu Luna. Kamu di sini dulu." kata Kak Ayu padaku.


"Ayu, kamu sebentar lagi kan udah harus pulang. Biar Septa yang antar kamu." Bu Reni kasih tau ke Kak Ayu. Bu Reni adalah Ibu temanku Nara.


"Septa hati-hati nanti di jalan. Jangan lupa bawa helm." kata Bu Reni ke Mas Septa.


"Iya Ma." jawab Mas Septa ke Bu Reni.


Aku diam dan mencari Nara. Aku ingat kalau aku belum tanya soal kedatangan Aldo tadi.


"Luna, kamu malam ini menginap di sini ya, tidur bareng Adik Nara..?" Kak Luna mengajukan pertanyaan padaku.


"Iya Kak. Aku menginap di sini. Mungkin nanti tidurnya sekamar bareng Nara."


"Ya iyalah, masak mau sekamar sama AA...!? Iya kan AA..!?" Kak Ayu bercanda di depan semua yang ada di situ, buat aku tersenyum.


"Iya." jawab Mas Septa. Dia melihat aku cukup dalam. Aku takut Nara tau tentang hal itu.


"Yang, Kue yang tadi Mana..?" pertanyaan Mas Septa telah menyadarkan aku yang sebelumnya sempat tegang.


"Kamu mau kue yang tadi..?" tanya Kak Ayu lanjut.


"Iya. Mana..?"


"Bentar, aku ambilkan." Kak Ayu pergi ke kamar dan mengambil sekotak kue buat Mas Septa. Dan sekolah lagi buat Nara.


"Ini buat Nara." Kak Ayu memberikan kue itu ke Nara. Dan balik lagi duduk bareng Mas Septa.


"Kak, boleh ijin ke belakang..?"


"Mau ke mana Luna, di sini masih ada aku, AA, Nara. Jangan begitu, tidak baik menolak kebaikan seseorang. Kamu makan dulu kuenya itu. Makan bareng AA, Nara juga." jelas Kak Ayu padaku.


"Kak Ayu juga makan kue ini bukan..?" tanyaku ke akal Ayu.


"Iya, aku ikut makan. Kuenya enak loh. Tapi tidak seenak yang di toko-toko roti pada umumnya. Kakak buat roti itu untuk tahu cara buatnya saja. Untuk bahan-bahannya biasa saja, tidak terlalu enak."

__ADS_1


"Maksudnya..?"


"Maksud Kakak, bahan-bahannya itu tidak terlalu aneh dan mahal. Seperti Susu kental manis, tepung tapioka. Kan kalau ingin yang enak harus beli yang mahal." kata Kak Ayu padaku.


"Oh begitu Kak."


"Iya. Makanya, kalau kamu pengen buat roti nanti, kamu pilih bahan-bahan yang paling bagus dan mahal kalau ingin rotinya itu enak. Tapi kalau duitnya sedikit pilih seadanya saja. Jangan terlalu memaksa, entar duit kamu tidak cukup untuk buat kue itu." jelas Kak Ayu lanjut. Aku akui Kak Ayu memang pintar.


"Bagaimana, sudah paham..?" Mas Septa lanjut tanya padaku. Aneh, kenapa harus Mas Septa yang tanya.


"Iya Mas." jawabku sambil melihat ke arah kotak roti. Aku buka kotak roti itu yang berwarna ungu kehitaman.


"Kenapa Kakak pilih Warna Ungu dan hitam..?" tanyaku lanjut ke Kak Ayu.


"Suka saja. Di resep warnanya begitu. Nanti Kakak akan coba untuk buat warna yang lain. Kalau kamu punya ide kasih tau Kakak, ya! Siapa tau cocok."


"Iya Kak Ayu."


"Mana rotinya Mas?" Kak Ayu tanya ke Mas Septa.


"Kamu ingin makan roti juga?" tanya Mas Septa balik.


"Iya, pengen." Kak Ayu minta roti buatannya itu. Mas Septa mengambil roti itu di dalam kotak.


"Mau aku suapi..?"


"Tidak usah, aku makan sendiri saja." jawab Kak Ayu datar. "Ayo di makan rotinya. Kalau tidak enak, bilang ke Kakak."


Aku ambil kue roti itu dan aku makan. Enak rasanya tapi rasa susunya kurang. Aku suka roti yang campuran susunya banyak.


"Bagaimana, rotinya enak..?"


"Enak Kak." aku jawab jujur meski aku ingin roti yang lebih enak dari itu. Nara ikut memakan roti itu.


"AA, yuk antar aku pulang sekarang. Acara mengobrol dengan Luna kayaknya sudah cukup."


"Iya, bentar aku ambil helm dulu." kata Mas Septa sambil beranjak bangun dari tempat duduknya. Aku menunggu Kak Ayu pulang.


"Terima kasih kuenya Kak Ayu."


"Iya sama-sama." jawab Kak Ayu padaku, setelah itu dia berdiri dan memanggil nama Mas Septa sambil pergi beranjak dari tempat duduknya.


"AA..!?" kata Kak Ayu memanggil nama Mas Septa. Aku berbalik badan ke arah Nara.


"Nara, kita masih mau di sini?"


"Kita ke kamar aja yuk!" Nara mengajak aku ke kamarnya. Seketika aku merasa kalau aku akan kehilangan wajah Mas Septa dan Kak Ayu.


"Ayuk!" aku mengikuti ajakan Nara untuk pergi ke kamar sambil nyantai. Aku pergi meninggalkan ruangan itu tanpa ijin dulu ke Kak Ayu.


"Nara..!" aku dengar suara Kak Ayu memanggil Nara. Temanku itu keluar dari dalam kamar menghampiri Kak Ayu. Aku masih duduk sendiri di dalam kamar.


Mataku mengarah ke arah dinding, di mana di situ terletak Foto Nara dan Mas Septa. Hatiku kembali hidup setelah melihat foto laki-laki itu. Kamu tau bagaimana perasaan aku pada Mas Septa. Perasaan itu masih ada dan tidak hilang, sulit untuk bisa hilang.


Aku lihat Mas Septa mengemudikan sepeda motornya di luar bersama Kak Ayu yang sedang siap-siap untuk naik ke atas motor. Keduanya berlalu begitu saja dari halaman rumah Ibu Reni. Di luar terlihat beberapa orang masih berjalan menyiapkan kursi-kursi yang masih berserakan.


Nara datang padaku, aku masih asik melihat pemandangan di depan kaca kamar Nara. "Luna, kamu sedang apa..?"


"Aku sedang melihat ke luar."


"Di luar ada apa?" Nara pergi ke arah kaca jendela kamar untuk mengetahui apa yang terjadi.


"Kak Ayu sudah pergi, kita bisa bebas sekarang ngapain aja."


"Emang Kak Ayu polisi?"


"Luna, kamu tidak tau kalau aku tidak enak sama Kak Ayu. Aku masih canggung di depan dia."


"Ya Tuhan! Kak Ayu baik kok."


"Iya sih kelihatannya. Tapi entah nanti kalau sudah jadi istri Kak Septa. Aku takut aku kena marah sama dia. Baru saja dia bilang ke aku, suruh jaga Kak Septa. Katanya takut dia selingkuh! Hahaha.." Nara tertawa sendiri di depan aku.


Mungkin Nara pikir kalau kalimat itu adalah semacam candaan bagi dia, tapi buat aku, itu adalah hal yang ada kaitannya dengan aku yang masih suka pada Mas Septa.


"Luna, kamu kenapa, ngelamun ya?" Nara menyadarkan aku.


"Tidak, aku hanya berpikir saja. Tidak ada apa-apa."


"Bagus. Sekarang aku mau makan kue buatan Kak Ayu. Nanti aku akan bilang ke dia kalau kuenya tidak enak. Biar saja, biar aku yang kasih pelajaran ke dia!"


"Kenapa begitu?"


"Kesal sih! Aku selalu di perintah kalau pas ada di rumah ini. Ingin sekali aku cakar mukanya!" lanjut Nara padaku.


Aku sempat tertawa geli mendengar Omelan Nara barusan. Kenapa tidak, aku juga sempat kesal kenapa Mas Septa harus pilih Kak Ayu sebagai calon istrinya. Kenapa bukan aku saja? Mungkin aku tidak pantas untuk laki-laki setampan Mas Septa.


"Luna, kamu tidak mau makan kue rotinya?" Nara lanjut bertanya padaku sambil makan roti buatan Kak Ayu. Roti ungu.


"Iya, mau. Rotinya lumayan enak. Aku suka roti buatan Kak Ayu."


"Apaan sih!" Nara mengelak. Dia tidak suka aku memuji nama Kak Ayu. Malam itu berlalu begitu saja. Aku tidak tau apa yang di lakukan oleh Kak Ayu dan Mas Septa di jalan. Yang jelas mereka merasakan kebersamaan yang tidak mungkin aku bisa rasakan.


Kak Ayu adalah perempuan terbaik untuk Kak Septa. Besok dia akan jadi wanita tercantik yang akan aku lihat bersama Mas Septa. Semoga aku bisa kuat melihat mereka. Aku akan mengingat nama Yasa di dalam hidup aku, selama aku merasakan sakit ketika mengingat Mas Septa.


...✉️ ...


...Sakit itu akan aku rasa selama aku memelihara rasa itu. Tapi kenapa rasa itu jatuhnya ke satu orang yang akan mematahkan hati orang lain? ...


...*** ...

__ADS_1


🥵🤬


__ADS_2