Pertaruhan Cinta

Pertaruhan Cinta
Chapter 6 : Merasa Kesepian


__ADS_3

Kinan POV 🌙


Aku merasa kesepian setelah melihat Mbak Maya pergi. Aku tidak punya teman perempuan lagi selain Mbak Maya.


Aku lalu menelepon Mbak Maya dan menanyakan di mana alamat rumah Aldi anak Bos nya itu. Mbak Maya memberikan alamat itu. Aku langsung pergi menemui dia.


Mbak Maya tidak percaya kalau aku akan menemui dia waktu itu. Dia datang keluar dari rumah besar itu dan mau menemui aku siang itu dengan sinar matahari yang cukup cerah.


Aku menunggu Mbak Maya di depan pagar rumah besar itu bersama motor aku yang aku biarkan di belakang aku.


Mbak Maya turun dari tangga besar rumah itu melangkah ke arah aku


Dia memakai hijab warna merah muda dengan celana putih dan kemeja putih. Langkah Kakinya aku lihat cantik sekali. Itulah Mbak Maya dalam pandangan aku. Dia seperti peragawati saja.


Aku tersenyum melihat langkah dia yang manis di mataku.


"Kinan, aku tidak percaya kamu akan datang ke rumah ini."


"Aku tidak bisa meninggalkan Mbak. Jauh dari Mbak buat aku sakit."


"Ya sudah, kalau begitu kamu masuk Yuk!" Mbak Maya mengajak aku untuk masuk ke rumah besar itu dengan melewati pagar besi yang cukup besar.


"Apa aku boleh masuk ke rumah besar itu Mbak..?"


"Boleh. Biar aku ijin ke Aldi. Kamu tunggu di sini ya!"


Aku akhirnya menunggu di depan pintu pagar rumah besar itu. Perasaan aku jadi tidak enak. Aku seperti mimpi saja melihat Mbak Maya keluar dari rumah besar itu.


Apakah Mbak Maya akan jadi menantu di rumah itu? Itu hanya pikiran aku saja. Tak berapa lama Mbak Maya keluar.


Perempuan itu datang sambil mengajak aku masuk ke dalam. Aku ikuti langkah Maya dan masuk ke rumah itu. Maya mempersilahkan aku duduk.


"Sekarang kamu panggil aku Maya saja." kata Maya padaku.


"Baiklah."


"Biar terkesan lebih dewasa dan lebih percaya diri." katanya padaku.


Maya sekarang kelihatan lain di depan aku. Pesonanya beda dari biasanya.


"Kenapa melihat aku seperti itu,apakah aku terlihat cantik..?" kata Maya padaku sambil senyum manis sekali di depan aku.


Maya membuka toples cemilan yang ada di meja. "Kamu terlihat cantik Maya." kataku ke Maya.


"Terima Kasih. Kamu telah memuji aku. Tapi, apa iya aku terlihat cantik..?" Maya balik tanya padaku.


Aku jawab saja, "Iya, kamu terlihat cantik. Aku tidak bohong." kataku ke Maya.


"Oh Iya. Kemarin aku habis dari makam Berta bersama Aldi." jelasnya padaku.


"Iya. Tapi aku tidak kenal dia. Jadi maaf. Aku tidak bisa bicara banyak tentang dia." kataku ke Berta.


"Tidak masalah. Aku akan buatkan minum dulu, kuenya di makan dulu." katanya padaku sambil beranjak pergi dariku.


Aku melihat isi rumah itu sambil sesekali melihat foto - foto yang terpajang di rumah itu. Bagus sekali. Dan mimpiku tidak akan bisa terkabul di sini kalau aku tidak mendekat ke Maya atau pemilik rumah ini.


Maya datang membawakan minuman untuk aku.


"Ini tolong di minum, ini aku buatkan khusus buat kamu." kata Maya padaku sambil berjalan meletakkan minuman itu.


Aku melihatnya tidak nyaman karena Maya yang sekarang seperti bukan Maya yang dulu. Aku tidak bisa apa-apa. Aku hanya bisa bilang,


"Terima kasih."


"Minumlah, rumah ini besar sekali. Aku cukup senang tinggal di sini tapi aku lebih lega kalau aku tinggal di rumah kontrakan itu. Di sini aku sedikit risih."


"Aku juga. Aku sama seperti kamu. Tapi kelihatannya tidak."


"Maksud kamu?"


"Kamu tidak terlihat risih di mata aku."


"Kinan, aku hanya menutupi. Kenyataannya tidak begitu. Aku di sini bukan siapa - siapa. Hanya karyawan kantor Pak Doni. Aku tinggal di belakang, di kamar dekat gudang.


"Sekarang kamu ikut aku!" kata Maya padaku mengajak aku kebelakang.


Aku berjalan mengikuti Maya. Setelah sampai di tempat, ternyata benar. Maya tinggal di kamar kecil di belakang dekat gudang yang terdapat beberapa barang - barang yang tidak terpakai.


"Kamu betah tinggal di sini Maya..?"


"Iya, aku betah meski aku tiap hari harus bersihkan gudang ini karena aku merasa tidak nyaman."


Aku mengangguk paham. Pikirku Maya tinggal nyaman di sini tapi malah sebaliknya.


"Oke,kita balik lagi ke ruang tamu."


Maya mengajak aku untuk kembali ke ruang tamu. Aku tidak melihat laki-laki pemilik rumah ini. Aku masih mencoba mengingat - ingat nama laki-laki itu.


"Maya, laki-laki pemilik rumah ini ke mana..? Kok rumah ini sepi sekali..?" tanyaku lanjut.

__ADS_1


"Siapa, Aldi atau Pak Doni..?" tanya Maya padaku saat dia berjalan.


Maya menoleh ke belakang sambil melihat aku dan langkahnya berhenti sejenak.


"Laki-laki yang lebih tua dariku sedikit."


"Oh Aldi." kata Maya menjawab.


"Iya Aldi. Laki-laki yang ada di rumah sakit waktu itu yang rambutnya agak sedikit panjang, agak gondrong." ucapku ke Maya.


"Iya itu Aldi anak Pak Doni. Kamu bisa paham sekarang. Mereka sedang bekerja di kantor.


"Jadi kamu yang jaga rumah ini?"


"Iya. Aku masih bekerja hari Senin nanti." kata Maya padaku.


"Pak Doni tidak mengijinkan aku selama dua bulan ke depan. Itu karena aku masih harus mengisi absen dari kantor polisi."


"Kenapa bisa begitu Maya?"


"Itu karena kasus yang kemarin yang masih belum selesai lebih tepatnya. Aku heran juga. Padahal uangnya sudah di bayar tapi status aku masih jadi tahanan di sini.


"Awalnya Pak Doni bilang aku bisa bebas tetapi Pak Polisi itu datang lagi. Katanya status aku masih sama yaitu Tahanan Rumah. Aku harus menjalani hukuman itu selama dua bulan lamanya.


"Aku tidak bisa berbuat apa - apa. Dan Tidak bisa bekerja karena polisi tidak mengijinkan aku untuk keluar rumah." kata Maya padaku.


Aku coba untuk mengerti dan memahami apa yang Maya katakan barusan. Oh Tuhan, kenapa Maya bisa bernasib sial seperti itu?


Aku lalu meminum teh yang ada di meja.


"Maya, aku harus pulang. Sudah siang. Aku takut Bapak ku marah nanti."


"Iya. Lain kali mampir lagi ke sini."


"Mungkin saja tapi aku tidak janji."


"Tolonglah Kinan, aku kesepian di sini."


"Baiklah akan aku usahakan." kataku ke Maya.


Aku pamit ke Maya dan pergi keluar dari rumah besar itu. Jujur meski rumah itu besar tapi buat aku sama saja.


Aku yang awalnya punya niat untuk minta kerjaan ke Maya jadi urung. Mungkin setelah Maya bisa kerja lagi aku bisa minta kerjaan itu.


Sekarang Maya masih jadi tahanan rumahan. Aku tidak bisa apa-apa. Sumpah. Aku seperti ingin menangis saja saat turun dari tangga rumah itu. Tak ada orang yang mau bantu aku cari kerjaan.


Aku pulang bersama motorku ke rumah. Di rumah Bapak masih tertidur. Aku harus apa sekarang.


Bapak tidak bisa menjaga dirinya lagi setelah dia berhenti dari mengajar di sekolah. Bapak langsung suka minum - minuman keras dan tidur tidak tepat waktu.


Bapak banyak tidur di siang hari dan suka menonton televisi sendiri.


Aku sampai di rumah dan masih teringat kenangan aku bersama Maya saat melihat ke rumah di sebelah. Itu adalah rumah kontrakan Maya sebelumnya yang sekarang sudah di tempati oleh orang lain.


Aku turun dari motor aku dan melangkah masuk ke dalam rumah.


Aku buka pintu rumah aku dan melihat Bapak sudah duduk di kursi ruang tamu.


"Dari mana saja Kinan? Bapak cari kamu tidak ada di rumah? Pergi ke mana kamu?"


Bapak bertanya padaku sengit. Aku sedikit ketakutan.


"Aku habis bertemu Maya Pak."


"Maya..?"


"Iya, Maya. Sekarang dia tinggal di rumah orang kaya. Dia tinggal di rumah Bos nya."


"Maya bilang apa ke kamu?"


"Maya bilang kalau aku harus suka main ke sana. Maya kesepian."


"Benar saja. Dari pertama Bapak sudah curiga. Maya suka ke kamu."


"Apa..?"


"Iya, Maya suka ke kamu. Bapak perhatikan kedua matanya suka melihat kamu."


"Bapak tau kamu tampan mirip ibu kamu. Tapi Bapak tidak suka karena kamu tidak suka bekerja. Sekarang kamu mau apa, mau main lagi ke kota..?"


"Tidak Pak, aku mau istirahat dulu di kamar. Aku ingin bertemu teman-teman aku."


"Baiklah." Bapak mengijinkan aku, dia mengangguk.


Aku langsung melangkah cepat masuk ke kamar aku, dan merebahkan diriku yang cukup capai. Karena rumah Pak Doni cukup jauh dari rumah aku yang kecil ini.


Aku tinggal di rumah yang cukup sederhana tapi terasa nyaman. Hanya saja wajah Maya suka sekali mengusik ingatan aku. Tuhan, apa yang sedang terjadi padaku.


Maya POV 🌙

__ADS_1


Sepulang Kinan, aku mencoba untuk menenangkan diri sambil memegang ponsel aku yang aku letakkan di atas kursi ruang tamu tadi.


Aku masih merasa kalau aku di temani oleh Kinan. Aku coba untuk menghubungi dia lewat Chat WhatsApp.


Chat Wa :


May : Kinan, kamu sudah sampai..?


Kinan : Iya aku sudah sampai di rumah. Ada apa Maya?


May : Tidak, aku cuma ingin tanya saja. Apakah kamu sudah makan?


Kinan : belum aku makan nanti. Padahal kamu ingin mengajak aku makan?


May : tidak Kinan. Kamu tau aku tidak bisa keluar rumah. Aku masih tahanan.


Kinan : Iya. Tapi tolong jangan tanya lagi. Aku tidak suka.


May : baiklah. Bye.


*


Aku menahan napas lega tapi yang pasti aku tetap merindukan anak kuda itu. Aku akan sendirian di rumah besar ini.


Aku mencoba untuk mendengarkan musik sebentar. Aldi dan Pak Doni akan pulang nanti secara berurutan. Aldi pulang pukul 02.10 Wib, Pak Doni pulang pukul 04.10 Wib.


Jam mereka tidak sama.


Selama aku tinggal di rumah besar ini, status aku di sini mirip seperti pembantu. Aldi banyak meminta aku untuk melayani dia seperti membuatkan dia minum, mengantarkan piring makanan yang ada di meja makan, mencuci baju, menyetrika baju nya dia dan menyapu lantai. Pun mengepel.


Untung aku bisa menerima, bisa menerima pekerjaan rumah itu yang tidak biasa aku lakukan sebelumnya tapi aku kerjakan itu semuanya dengan ikhlas. Aku tidak mau mengeluh dalam hidup.


Aku akan bekerja giat walau pun tidak menghasilkan uang. Cuma bisa makan dan minum gratis di rumah itu. Rumah Pak Doni.


Kau masih duduk sambil menunggu waktu duhur. Aku berpikir apa yang akan aku lakukan tapi percuma, aku biasa baca buku kalau lagi kesepian atau baca cerita di aplikasi yang ada di ponsel aku.


Aku buat cerita sedikit tapi aku tinggalkan karena kerjaan aku banyak. Kinan sudah pergi sejak tadi dan aku butuh dia.


Aku coba untuk menelepon dia tapi hp nya tidak di angkat. Aku bernapas lesu. Aku lalu pergi ke kamar sambil rebahan.


Saat adzan terdengar di telinga dari arah yang jauh. Aku masih bergelimpangan di atas kasur tempat tidur aku. Benar lagi Aldi akan datang dan aku harus menyiapkan sarapan untuk dia.


Aku tidak mau Aldi kesal padaku karena masakan yang belum masak. Aku bangun dari pembaringan aku dan melangkah ke arah meja makan.


Kau melihat magic jar menyala, nasi sudah siap. Aku akan menyiapkan piring di meja. Dan menaruh gelas untuk minum nanti.


Aldi suka minum - minuman dingin yang ada di kulkas. Aldi juga suka nasi putih yang sedang hangat yang baru aku ambil dari penghangat nasi itu.


Setelah piring dan gelas udah siap, danyang nasi juga sudah siap. Sekarang tinggal ikannya. Aku harus menggoreng telur dan mie goreng untuk Aldi nanti.


Aku ambil telur di kulkas dan mie goreng di lemari dapur. Ada beberapa macam mie goreng di dalam lemari. Aku suka sekali. Ada mie kuah juga.


Aku juga makan bersama Aldi nanti kalau dia mau. Aku lalu beranjak pergi ke kamar mandi untuk persiapan solat.


Aku solat duhur dengan pakai mukena dan berdoa untuk kebaikan hidup aku. Dalam hati aku berkata, pria mana yang nantinya akan jadi jodoh aku dalam hidup.


Aldi kah atau Kinan?


Tapi, apakah itu mungkin untuk seorang perempuan seperti aku yang sudah cukup dewasa dan hampir berumur tiga puluh?


Pintu depan rumah di ketok. Aku merasa terusik. Aku buka mukena aku dan melangkah ke luar. Aku buka pintu rumah dan melihat siapa yang datang.


"Ibu Sulastri..?"


"Maya, apa aku tidak salah lihat?"


Ibu Sulastri adalah istri dari Pak Doni. Dia tidak tinggal di rumah besar itu. Ibu Sulastri tinggal di apartemen tidak jauh dari rumah Pak Doni.


Kabarnya Ibu Sulastri lebih suka tinggal di apartemen karena biar dekat dengan butik miliknya yang ada di kota. Kadang dia suka menetap di rumah sesekali.


Yah, begitulah. Cukup aneh memang hubungan Ibu Sulastri dan Pak Doni. Itu informasi yang aku tau.


"Mari masuk Bu!"


Aku menyuruh Ibu Sulastri masuk ke dalam rumah. Aku langsung merasa tidak nyaman.


Sebelum duduk Ibu Sulastri masih melihat - lihat isi ruangan sambil berdiri. Dia memakai setelan hitam dan tas hitam yang di letakkan nya di atas kursi duduk. Kursi yang tadi di tempati oleh aku berdua sama Kinan.


UPS! Maaf kalau aku mengingat laki-laki itu sebentar.


Kinan POV 🌙


Maya cukup mengesalkan di telepon! Ngapain juga dia SMS aku kalau cuma ingin bercakap-cakap padaku.


Tidak ada faedahnya juga.


Aku butuh uang sekarang, aku butuh kerjaan! Bukan perhatian Maya!


Bapak aku datang ke kamar aku. Katanya dia memesan kayu bakar bentar lagi datang. Bapak meminta aku untuk membantu dia.

__ADS_1


To Be Continue.


[Maaf kalau terdapat Typo.]


__ADS_2