Pertaruhan Cinta

Pertaruhan Cinta
Chapter 14 : Dari Aldi untuk Maya


__ADS_3

Aldi POV


Kisah ini berawal saat aku mengenal Maya. Ya, perempuan setan itu tinggal di rumah dengan seenaknya. Aku kesal sangat kesal. Tapi aku tutupi kekesalan itu dengan cinta. Dengan kasih sayang yang tidak berlebihan.


Tidak ada rasa sayang untuk Maya karena aku tidak terlalu suka sama dia. Aku suka sama Berta. Tapi Berta telah meninggal.


Perlu kamu tau, aku adalah laki-laki gay yang siapa pun tidak akan tau siapa aku. Aku menganggap diri aku sebagai pelampiasan seorang laki-laki.


Tapi itu tidak terlalu banyak. Aku akan bercerita nanti tentang masa laluku di kampus saat aku masih kuliah di Jakarta.


Untuk sementara waktu aku akan bahas soal Maya. Maya menurut aku adalah wanita yang cantik tapi tidak terlalu menarik. Maya seperti pembantu rumah saja di rumahku.


Doa terlalu jujur menurut aku. Sedikit pun dia tidak pernah mau menggangu aku. Maya rajin sekali solat. Makanya aku penasaran ke dia kenapa dia begitu taat menjalankan perintah agama.


Sebelumnya Ayah pernah bilang padaku kalau Maya di tuduh bersalah oleh Polisi. Polisi telah menuduh Maya bersalah atas kecelakaan yang terjadi bersama Berta. Yang buat Berta tewas.


Aku tidak menyangka kalau Berta akan tewas di tengah jalan.


Flashback.


Awalnya aku melihat Berta datang ke rumahku bersama satu orang perempuan yang aku tidak tau siapa. Berta datang ke rumah aku dengan langkah cepat.


Di dalam kamar aku masih melihat video kesukaan aku. Video bugil para perempuan dan laki-laki yang bermain di atas tempat tidur.


Aku masih menikmati itu dan bunyi bel itu berbunyi yang berasal dari depan pintu kamarku.


Aku lalu berdiri dan melangkah pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan muka aku dan untuk menghilangkan nafsuku yang masih tersisa. Nafsuku tiba-tiba saja datang saat aku ada di dalam kamar dengan video itu.


Suara bel itu berbunyi beberapa kali. Aku kesal sekali di buatnya. Apalagi karyawan kantorku yang kadang mengganggu tidur lelap ku di dalam kamar.


Aku tidak mengenakan baju waktu itu dan segera membuka pintu. Aku lihat perempuan berhijab datang mengusik ketenangan aku.


"Ada apa..?" ucapku ke perempuan itu dan itu adalah Berta. Aku kenal dia saat tadi Ayah memanggil aku ke kantor untuk menemani aku menyelesaikan persoalan keuangan.


Tapi maaf, aku tidak terlalu suka karena sulit sekali untuk aku bisa memecahkan masalah itu. Berta hanya bisa menemani aku. Perempuan itu juga kebingungan untuk menyelesaikan tugas matematika di kantor.


Katanya biar Ayahku saja yang urus. Tapi tidak aku masukkan ke dalam pikiran aku. Karena aku tau aku bisa menyelesaikannya. Berta menurut aku adalah gadis pemalas di kantor. Dia cuma bisa bicara dan ramai saja.


Dasar perempuan! Bisanya cuma bicara tidak pernah berbuat sesuatu yang lebih untuk seorang laki-laki. Paling tidak urusan kantor.


Tapi kedatangan Berta cukup membuat aku terhibur.


"Maaf Mas Aldi. Aku di suruh Pak Doni untuk mengambil Laptop milik Mas Aldi. Katanya penting."


Dasar perempuan. Bisanya nurut saya sama Ayah. Sudah punya laptop baru masih saja ingin laptopku.


"Tidak bisa! Laptop itu milikku.  Aku tidak mungkin mau memberikan laptop itu padamu!"


"Aku di suruh oleh Pak Doni, katanya penting!"


"Maaf tidak bisa!"


Aku lalu menutup pintu itu tapi Berta malah membukanya. "Apa apaan kamu! Pergi! Apa yang ingin kamu lakukan di sini!"


Berta dengan berani mengajak aku ke dalam kamar dan membawa aku bersandar di dinding. Berta lalu mencium aku dengan ******* bibirku. Aku melepasnya.


"Apa yang kamu lakukan!"


"Itu hadiah buat kamu. Tapi tolong berikan laptop kamu ke aku. Aku tidak Amy di marahi oleh Pak Doni. Aku tidak bohong sumpah!" kata Berta sambil ketakutan.


Aku langsung pergi mengambil laptop ku yang tergeletak di dasar kamar lantai aku dan lalu mengambilnya dan memberikannya ke Berta.


"Ini ambil dan pergilah sekarang. Kamu tidak baik ada di sini lama-lama. Aku tidak mau ayahku curiga."


Berta langsung pergi keluar dan membawa laptop itu. Aku menutup pintu rumah aku dengan baik dan kembali tiduran di kamar.


Tak berapa lama aku mendapat telepon dari Ayah kalau Berta kecelakaan. Aku langsung kaget dan tidak percaya. Hancur sudah harapan aku untuk bisa bersama Berta lagi.


Padahal aku sudah senang bisa bertemu perempuan secantik Berta. Dia berani mencium aku dan itu ciuman yang terakhir.


Aku pergi ke kantor tapi tidak menemukan Ayah di situ. Aku lalu tanya ke beberapa karyawan kantor, katanya tadi Ayah bawa mobil entah ke pergi ke mana. Setelah aku pergi menelepon Ayah, Ayah bilang kalau dia sedang di rumah sakit Umum Jakarta.


Kau langsing menuju ke situ dan langsung mencari Ayah. Aku bertemu Ayah di rumah sakit itu, bersamaan dengan itu seorang perempuan tengah di bawa ke ruang UGD. Itu adalah Berta.

__ADS_1


"Ayah, apa yang terjadi dengan perempuan itu? Itu Berta kan Yah!?" kataku sambil bersedih. Baru kali ini aku bersedih di depan Ayah.


Sebelumnya aku bersedih karena harus kehilangan Ibu yang bercerai dengan Ayah.


"Berta kecelakaan bersama Maya. Maya ada di dalam. Kamu ikut Ayah."


Aku mengikuti langkah Ayah dari belakang. Dan aku melihat Maya sedang tertidur tidak sadarkan diri.


"Ayah, kenapa ini bisa terjadi?"


"Kata polisi pengemudinya kurang fokus menyetir, tapi entahlah Ayah juga tidak mengerti."


"Tadi Berta sempat ke rumah Ayah."


"Iya, Ayah yang menyuruh mereka. Makanya Ayah di sini untuk tanggung jawab. Ayah tidak mau ada masalah dengan keduanya.


"Berta dan Maya adalah karyawan yang baik. Ayah tidak mau terjadi sesuatu pada mereka." jelas Ayah padaku.


Aku mulai bernapas, merasakan sesuatu yang buat aku sedikit kaget dan bingung. Apakah nyawa mereka berdua akan selamat.


Ayah lalu mengajak aku keluar. Maya di tinggal di kamar itu setelah dokter datang untuk memeriksanya.


"Ini sudah resiko Ayah. Ayah tidak bisa apa-apa." lanjut Ayah padaku.


Ayah lalu menyuruh aku pulang untuk jaga rumah. Aku segera pulang dan meninggalkan Ayah di rumah sakit. Aku menunggu kabar dari Ayah hingg aku tertidur.


Pagi sekitar pukul tiga, Ayah menelepon aku di ponsel. Katanya Berta tidak bisa di selamatkan. Ada benturan keras di kepalanya yang buat dia tidak bisa di selamatkan.


Aku tidak tau apa penyebabnya. Bisa saja Berta tidak memakai helm. Pagi sekitar pukul tujuh aku langsung balik ke rumah sakit dan Berta sudah di bawa oleh ambulan ke rumahnya. Aku dan Ayah siap-siap untuk pergi ke rumah duka.


Tapi sebelumnya Ayah pergi ke kamar rumah sakit untuk melihat Maya. Aku lihat perempuan itu sadar tapi masih diam tak bicara.


"Ayah, bagaimana keadaan perempuan ini?"


"Dia selamat. Tapi Ayah tidak berani bicara ke dia takut terganggu."


Aku lalu diam sambil menunggu. Tak berapa lama Maya bersuara.


"Di mana Berta..?"


Kamu bertiga lalu ijin ke dokter untuk pergi ke rumah duka yaitu rumah Berta. Kamu bertiga mengikuti acara pemakaman Berta.


Malamnya, aku sempat terusik dan di ganggu oleh suara-suara yang tidak tau asalnya dari mana.


Aku mendengar suara memanggil namaku beberapa kali. "Aldi.. Aldi...!! Suara itu berasal dari belakang rumah tepatnya di kamar mandi. Aku jadi bergidik ketakutan. Tapi aku masih penasaran seperti siapa wajah hantu itu.


Setelah di cari hantu itu tidak ada. Besoknya aku mendengar kabar kalau Polisi butuh keterangan dari Maya dan harus membawa dia ke kantor polisi.


Aku dah Ayah mengantar Maya ke kantor polisi. Setelah menulis laporan, kami mengantar Maya sampai ke rumah kontrakannya. Kami meninggalkan Maya di rumahnya sendiri.


Aku balik ke rumah bersama Ayah. Ayah masih istirahat di dalam kamar. Aku membangunkan Ayah untuk menanyakan laptop aku yang sempat di bawa Berta kemarin.


Ayah menyimpannya. Syukurlah laptop aku selamat. Aku lalu menghabiskan waktuku bersama laptop di kamar sambil nonton video porno.


Sambil sesekali aku buka Aplikasi untuk menemui temanku. Besoknya Ayah bilang padaku kalau Polisi minta tebusan pada Maya. Ayah langsung ijin ke Maya untuk menyewakan rumah itu ke Pak Firman yang tinggal di Surabaya. Biar Pak Firman yang bayar uang rumah itu dulu. Karena Pak Firman punya cukup uang untuk bayar rumah kontrakan itu sebesar 15jt setahun.


Ayah juga meminjam uang Pak Firman sebesar 50jt untuk di bayar ke polisi dan meminjam uang kantor 50jt kurangnya. Sekarang Ayah masih usaha untuk mencari pinjaman uang lagi untuk tebusan Maya.


Besar sekali memang. Makanya Maya jadi tahanan rumah selama tiga bulan lamanya. Ayah memotong gaji Maya sebesar 10jt selama tiga bulan. Ayah mencari pengganti Maya untuk bekerja di kantor.


Dia adalah Desi karyawan baru di kantor. Aku kenal sedikit perempuan itu. Dia cukup cantik tapi selalu menolak saat Ayah menyuruh Desi untuk pergi ke rumah dengan alasan apa pun.


Desi mungkin Trauma atas peristiwa kecelakaan yang di alami oleh Maya dan Berta beberapa waktu yang lalu.


Aku masih bernapas dalam diam dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ini semua nasib manusia masing-masing. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.


Apalagi aku sekarang sudah dewasa. Aku lalu iseng ingin menghabiskan waktu aku di club malam di Jakarta. Aku tidak Ijin ke Ayah dulu.


Aku masuk Club itu dengan bayar uang 15fb. Cukup murah. Aku masuk saja tanpa harus banyak acara. Aku bertemu dengan laki-laki bernama Reynaldi.


"Halo..!" laki-laki itu berkenalan dengan aku. Dia mengulurkan tangan ke arahku.


"Kenalkan, namaku Reynaldi. Kamu bisa memanggil aku Rey." laki-laki itu duduk di sebelah aku dan memesan minuman.

__ADS_1


"Fakta satu." katanya pesan minuman.


Aku diam saja tanpa bicara. Aku masih ingin melihat tingkah Rey malam itu. "Kamu tidak ingin pesan minum..?" lanjutnya padaku.


"Tidak." aku jawab. Rey diam sambil tetap duduk di meja bar. "Aku iseng saja ke sini, di rumah aku kesepian." lanjutnya padaku.


"Kamu gay..?" aku tanya langsung. Rey menjawab Iya. Itu suatu kebetulan.


Aku lalu pesan minuman satu. Aku minum bersama Rey dan bicara setengah bercanda. "Apa Role kamu? Top apa Bot..?"


"Aku Bot. Tapi aku bisa jadi top."


"Kamu Vers. Tapi biasanya kamu jadi Top apa Bot..?"


"Aku biasa jadi Bot. Aku lebih suka di tusuk ketimbang nusuk. Kalau kamu..?"


"Aku lebih suka nusuk. Tapi aku tidak biasa nusuk. Sudah lama aku tidak nusuk orang." Rey tersenyum saat aku menjawab. Rey menenggak minumannya sekali. Aku melihat Rey minum.


"Kamu punya pacar..?"


"Tidak, aku masih belum punya pacar. Aku lebih suka jomblo."


"Jomblo itu tidak enak loh! Mending kamu punya pacar dulu. Seperti aku."


"Kamu, maaf aku tidak mau punya pacar seperti kamu. Kamu terlalu lebay dan kurang cakep."


"Sombong amat jadi orang! Awas ya kalau sampai aku di apa-apain sama kamu!" lanjut Rey padaku. Aku tidak tau apa yang akan terjadi nanti.


Aku meminum minuman aku dan berpindah ke lantai dansa. Aku mengajak Rey untuk berdansa dan dia mau.


"Mau berdansa..?"


"Boleh."


Aku dan Rey mulai berdansa di lantai dansa dengan musik disko. Aku bertanya dalam hati, kenapa aku bisa bertemu cowok semacam Rey? Apakah aku salah jalan atau gimana?


Aku terus berdansa sampai capai. Satu jam berlalu. Aku dan Rey kembali ke meja bar. Aku pesan minum lagi, Rey juga. Aku berkeringat dan berniat untuk pergi ke toilet. Rey menanyai aku sebelum aku pergi.


"Kamu mau ke mana..?"


"Ke toilet."


"Tunggu aku ikut!"


"Maaf, tidak perlu. Kamu tunggu di sini saja. Kalau kamu mau ikut, aku tidak jadi ke toilet." ucapku ke Rey.


Rey melihat aku tidak suka. Aku tau mau Rey apa. Dia mau melakukan sesuatu di toilet bersama aku.


Aku lalu pergi ke toilet sendiri sambil buang air kecil. Sayup-sayup aku dengar suara memanggil namaku.


"Aldi..Aldi..!" suara seorang perempuan mirip Berta. Aku langsung lari ketakutan dan jatuh di lantai dansa.


Di ruangan itu terasa sepi tak ada orang. Aku melihat ke sekeliling, hanya lampu dansa yang bergerak di ruangan itu. Aku tidak melihat Rey di meja Bar. Mataku berkeliling ke arah lain. Aku melihat seorang perempuan sedang berdiri dengan rambut panjang.


Perempuan itu menoleh ke arahku. Muka perempuan itu mirip Kunti. Aku langsung berteriak dan tersadar aku masih di kamar mandi. Aku langsung keluar dan balik ke lantai dansa.


Aku melihat beberapa orang berjalan keluar masuk pintu belakang. Di meja Bar tidak terlhat muka Rey lagi. Ke mana perginya anak itu. Aku lalu di kagetkan oleh tepukan tangan dari arah belakang.


"Hey!"


"Astaga..!!" Rey menepuk aku dari belakang buat aku kaget.


"Dari mana saja kamu? Aku cari di toilet tidak ada?"


"Aku habis dari toilet. Sumpah aku tidak bohong!" kataku sambil ketakutan. Wajah Rey seketika berubah jadi Kunti. Aku langsung lari ke luar menghindar dari Kunti itu.


Dasar Kunti! Berani-beraninya ganggu ketenangan aku. Aku lalu berjalan menuju ke parkiran dan mengambil motor Beat milikku. Aku pulang malam itu dengan perasaan aman.


Di jalan aku melihat Kunti itu lagi mengajak aku untuk berhenti sambil melambaikan tangan tapi aku tidak mau. Motorku sempat mati di tengah jalan, dan aku melihat Kunti itu di belakang aku dalam posisi duduk di atas motor Beat itu.


Aku langsung stater motorku yang tidak bisa menyala. Aku coba berkali-kali sampai bisa. Tapi tetap saja motor ku tak bisa jalan. Aku lalu lari sambil bawa sepeda motor ku di jalan. Lari karena takut Kunti.


To Be Continue.

__ADS_1


[Maaf kalau ada Typo.]


__ADS_2