
Luna POV 🌙
Hari ini aku mendaftar ke sekolah bareng Ayah Firman. Ayah yang masih muda dan tampan. Aku sempat suka sama dia. Maaf, kalau aku kurang sopan.
Di kantor sekolah.
Aku menghadap satu orang guru di kantor. Ayah bilang kalau aku anak pindahan dari Surabaya yang sebelumnya sempat seolah di Madrasah Aliyah Negeri Surabaya.
Guru laki-laki itu memberikan aku formulir. Dia menyuruh aku untuk mengisi formulir itu. "Silahkan di isi dengan lengkap."
Aku mengisi formulir itu di bantu Ayah. Selesai mengisi formulir, Guru itu mengecek Formulir yang selesai aku tulis. Selesai di cek, Ayah pamit ke Guru itu. Aku sempat lihat nama dadanya tertera di situ : Efendi,S.Pd.
Selesai pamit ke Pak Efendi, aku dan Ayah keluar dari teras kantor sekolah itu. Ayah lalu membawa aku ke pasar untuk beli seragam.
Aku di belikan seragam abu-abu satu setel. Setelah itu aku balik ke rumah bersama Ayah. Di rumah, aku jarang melihat Kinan lagi.
Aku duduk di ruang tamu sendiri, Ayah masih di dalam kamar. Ayah lupa untuk belikan aku buku kosong. Buku buat mata pelajaran aku nanti.
Aku pergi menemui Ayah di kamar, dia sedang tidur. Aku kesal dan pergi keluar. Aku masih menunggu Ayah bangun untuk bisa minta uang ke dia untuk beli buku.
Siang hari, aku melihat Ayah solat duhur. Aku masih malas untuk solat. Selesai solat, aku bilang ke Ayah untuk membelikan aku buku tulis. Ayah memutuskan untuk membelikannya nanti di toko dekat rumah.
Aku setuju. Antara senang dan tidak senang, aku masih berpikir bagaimana besok aku akan masuk sekolah dan mulai hidup aku yang baru di situ..?
Saat sore aku aku tidak melihat Ayah di rumah. Mungkin dia keluar sambil beli buku buat aku. Aku tidak melihat sepeda motor Ayah di depan rumah lagi. Biasanya Ayah memarkir sepeda motornya di teras rumah depan.
Aku rindu rumah di Surabaya. Dulu aku sempat menolak untuk ikut Ayah ke Jakarta. Aku lebih betah tinggal di Surabaya. Di sini aku tidak punya teman bermain.
Aku perhatikan Kinan sudah jarang ada di depan rumahnya lagi seperti kemarin. Atau mengajak aku main ke sungai seperti kemarin. Nanti aku akan minta ijin ke Ayah untuk pergi ke sungai. Semoga Ayah mengijinkan.
Ayah datang dan memberikan aku satu pak buku tulis. Aku senang sekali mendapat buku itu. Aku bilang terima kasih ke Ayah.
Ayah pergi ke dapur untuk makan. Di rumah, Ayah yang masak nasi dan ikannya. Aku tinggal menunggu makanan di meja. Ayah sudah terbiasa sejak Ayah cerai sama Ibu.
Hubungan aku sama Ibu sudah lama putus. Aku dengar kabar kalau Ibu sudah menikah. Tapi aku tidak menyuruh Ayah menikah lagi. Ayah sudah cukup bahagia dengan hidup bersama aku di rumah Kontrakan ini.
Tiba-tiba aku dapat chat dari Kinan. Chat itu datang sekitar pukul sembilan malam, saat aku duduk sendiri di kamar. Persiapan untuk tidur.
Chat :
Kinan
Luna? Kamu belum tidur?
^^^Luna^^^
^^^Iya, kenapa? ^^^
Kinan
Aku mau bilang
^^^Luna ^^^
^^^Bilang apa? ^^^
Kinan
Kamu mau kenal sama Mbak Maya?
^^^Luna^^^
^^^Maya siapa? ^^^
Kinan
Maya pemilik rumah kontrakan itu?
^^^Luna^^^
^^^Pemilik rumah kontrakan yang mana? ^^^
Kinan
Rumah kamu.
^^^Luna^^^
^^^Rumah ini, kenapa? Penting untuk di ketahui? ^^^
Kinan
Penting nggak penting.
^^^Luna^^^
^^^Ya udah, kamu telepon aku aja.^^^
Kinan
Gimana ya?
Kinan lalu menutup chat itu dan menggantinya dengan menelepon aku.
Telp.
Kinan
Halo Maya?
^^^Luna^^^
^^^Iya Kinan..! Halo! ^^^
Kinan
Kok telat?
^^^Luna ^^^
^^^Telat apanya? ^^^
Kinan
Halo!
^^^Luna^^^
^^^Halo juga.^^^
Kinan
Udah Ah, males.
^^^Luna^^^
^^^Males apa? ^^^
__ADS_1
Kinan
Skip
^^^Luna^^^
^^^Oke! Katanya mau cerita? ^^^
Kinan
Iya, aku akan kasih tau kamu Maya.
^^^Luna^^^
^^^Pemilik rumah kontrakan ini? ^^^
Kinan
Iya.
^^^Luna^^^
^^^Pemilik rumah kontrakan ini kan Ayah? ^^^
Kinan
Bukan, maksud aku pemilik rumah sebelumnya!
^^^Luna^^^
^^^Oh. Terus? ^^^
Kinan
Aku kenal dia saat dia turun dari mobil.
^^^Luna ^^^
^^^Mobil siapa? ^^^
Kinan
Mobil putih, aku tidak tau mobil siapa. Warna mobilnya putih.
^^^Luna^^^
^^^Lalu? ^^^
Kinan
Aku minta Maya untuk bantu aku.
^^^Luna^^^
^^^Bantu apa? ^^^
Kinan
Bantu mengangkut kardus.
^^^Luna^^^
^^^Terus? ^^^
Kinan
Udah, abis itu aku minta uang ke Maya.
^^^Luna^^^
Kinan
Iya. Aku waktu itu butuh beli bensin.
^^^Luna^^^
^^^Kenapa tidak minta ke orang tua kamu? ^^^
Kinan
Bapak tidak suka aku keluar. Untuk ada Maya.
Luna
Syukurlah. Maya orangnya baik.
^^^Kinan ^^^
^^^Iya baik, baik sekali. Aku suka di beri dia uang. Sekarang Maya tinggal di rumah besar, rumah Pak Doni. ^^^
Luna
Siapa Pak Doni?
^^^Kinan ^^^
^^^Pak Doni itu,,,^^^
Klik.
Telepon tiba-tiba di tutup. Kinan tidak melanjutkan percakapan nya lagi dengan aku. Aku bernapas lesu.
Ingatan aku kembali ke sekolah. Aku harus menyiapkan pelajaran besok. Tapi aku belum dapat jadwal pelajaran.
Aku lalu pergi tidur dengan menutup diri dengan selimut. Aku tidur dengan lelap.
Aku bangun pagi solat subuh dan tidak pake sarapan dulu. Ayah memberi aku uang sepuluh ribu rupiah untuk yang jajan aku. Sedikit sekali rasanya.
Ayah mengantar aku ke sekolah pupuk enam pagi. Aku sekolah di MAN 1 di kota. Aku turun dari sepeda, salaman ke Ayah dan melangkah pergi ke sekolah.
Aku langkahkan kakiku ke sekolah sambil membawa tas berisi buku tulis yang masih baru. Aku tidak tau mau masuk ke mana. Aku bingung, aku lalu mencari kantor tempat guru pada ngumpul.
Aku baca satu persatu ruangan yang ada. Setelah terbaca ruang kantor itu, aku masuk dan permisi.
"Permisi..!" ucapku ke salah seorang Guru yang ada di situ. Guru itu pakai kopiah hitam, baju merah garis-garis kuning dan celana hitam.
"Wa'alaikum salam." ucapnya padaku. Aku jadi malu.
"Silahkan masuk Adik."
"Terima kasih." Aku berjalan mendekat ke Guru itu. "Maaf, aku aku tanya Pak. Kelas 2 MA di mana ya?"
"Kelas 2 MA..? Sebentar ya!" Bapak itu berjalan pelan menuju salah seorang Guru yang duduk di depan Komputer.
Dia bicara sebentar dan berjalan menghampiri aku. "Kelasnya ada di tengah, kamu coba lihat nama kelasnya di setiap ruangan."
"Baik Pak." jawabku.
__ADS_1
Aku permisi dan pergi mencari kelas 2. Aku melihat Guru perempuan sedang duduk di kursi Guru. Aku permisi dan masuk ke kelas itu.
"Permisi,"
"Iya, siapa..?"
"Maaf Bu, aku anak baru di sini. Apa betul ini kelas 2 MA..?"
"Iya, betul sekali. Kamu siapa?"
"Aku Luna Anggie. Anak pindahan dari Surabaya. Kemarin aku daftar di sini."
"Sebentar ya, kamu ikut aku ke kantor." Ibu Guru mengajak aku ke kantor. Aku mengikuti dia dari belakang. Ibu itu mencari Pak Efendi.
Bapak itu lalu keluar dari dalam ruangan. Ibu Guru itu bicara ke Pak Efendi sebentar dan berbalik ke arahku.
"Oke, sekarang kamu ikut aku ke kelas." aku mengikuti Ibu Guru itu balik ke kelas 2 MA.
Aku berjalan pelan masuk ke kelas itu. Kelas yang di dalamnya terdapat beberapa siswa yang sedang duduk dan menulis pelajaran yang tertulis di papan.
"Luna, kamu duduk di kursi belakang yang masih kosong."
Aku berjalan ke kursi kosong itu lalu duduk rapih. "Luna, maju!" perempuan itu menyuruh aku untuk maju ke depan. Aku di suruh nya memperkenalkan diri aku. Aku disuruhnya berdiri di depan teman-teman.
Aku berdiri sambil memperkenalkan diri. "Namaku Luna Anggie. Aku asal Surabaya. Aku murid pindahan MAN 1 Surabaya."
"Tepuk tangan..!" kata salah seorang siswa yang berdiri sendiri di antara siswa yang ada. Aku berusaha untuk mengenalnya tapi siswa itu langsung duduk.
"Luna, kamu boleh duduk." Ibu Guru menyuruh aku balik ke tempat duduk. Aku melirik ke arah samping kiri tempat anak yang tadi duduk. Aku perhatikan dia tengah melihat aku.
Dia tersenyum padaku, aku balik tersenyum."
Ibu Guru itu lalu menerangkan pelajaran di aku dan siswa yang lain. Aku bersyukur pada Tuhan tidak ada masalah. Aku berkenalan dengan dua anak perempuan di depan aku. Mereka bernama Wati dah Diah.
Aku mulai menulis mata pelajaran dengan cepat. Pelajaran bahasa Indonesia. Seseorang di suruh membaca pelajaran itu di depan satu persatu hingga sampai padaku.
Aku membaca tulisan di papan itu sambil berdiri. Tulisan itu seperti ini :
Sinopsis:
Sebuah upacara gandang mengubah segalanya bagi Alfa. Mahluk misterius yang di sebut si jaga Portibi tiba-tiba muncul menghantuinya. Orang-orang sakti berebut menginginkan Alfa menjadi murid mereka. Dan, yang paling mengerikan dari itu semua adalah setiap tidurnya menjadi pertaruhan nyawa. Sesuatu menunggu Alfa di alam mimpi.
Perantauan Alfa jauh membawanya hingga ke Amerika Serikat. Ia berjuang sebagai imigran gelap yang ingin mengubah nasib dan status. Pada suatu malam, kehadiran seseorang memicu Alfa untuk menghadapi ketakutan terbesarnya. Alam mimpinya ternyata menyimpan rahasia besar yang tidak pernah ia bayangkan. Di lembah Yarlung, Tibet, jawaban mulai terkuak.
***
Selesai pelajaran Ibu guru menutup pelajarannya dengan salam. Ibu Guru itu pergi meninggalkan kelas. Anak-anak pergi keluar satu persatu.
Aku berjalan di belakang dan seseorang merapat padaku. "Hei, kamu Luna Anggie..?"
"Iya. Kamu siapa..?"
"Kenalin, namaku Ali. Sekarang kita berteman." aku menjabat tangan Ali sambil berjalan. Aku berjalan pelan sejajar dengan Ali.
"Maaf sebelumnya, kenapa kamu mengikuti langkahku..?"
"Aku ingin berteman dengan kamu. Aku ingin kita berjalan bersama." kata Ali padaku. Aku dan Ali saling berpandangan. Aku lalu berpaling melihat ke depan.
"Maaf, bukan aku tidak mau berteman dengan kamu tapi aku merasa tidak enak jalan bareng laki-laki. Bukan muhrim."
"Oke, maaf. Aku akan ambil jalan lain." kata Ali lanjut padaku. Aku melihat Ali berbalik dan berjalan ke belakang. Aku berjalan ke arah koperasi. Aku coba berdiri sambil melihat makanan yang di jual.
"Hei, anak baru ya!" seorang siswa menyapa aku. Dia sedang duduk di bangku depan koperasi.
"Kamu siapa..?"
"Aku Hadi. Aku sekelas dengan kamu. Kamu tidak melihat aku tadi di kelas..?"
"Aku tidak begitu memperhatikan teman-teman aku, aku fokus menulis." lanjut aku ke Hadi.
Aku membeli makanan kecil untuk aku makan tanpa melihat Hadi yang sedang duduk dan mengobrol bareng temannya. Aku pergi sambil menunduk di depan Hadi.
Aku mencari tempat yang nyaman untuk bisa aku makan sendirian. Aku melihat beberapa anak yang berjalan di depan aku. Tiba-tiba Ali datang ke arahku dan duduk tidak jauh dari aku. Dia makan cemilan di depan aku.
"Ali, kamu kenapa di sini? Kamu tidak malu berteman dengan perempuan..?"
"Tidak, aku aku tidak malu, aku malah senang berteman dengan perempuan seperti kamu."
"Kenapa? Apa karena aku terlihat cantik di depan kamu?"
"Bisa jadi, tapi bukan itu. Aku cuma ingin kenal kamu saja. Ingin tau kamu yang sebenarnya."
"Apa sebelumnya kamu tidak kenal dengan teman perempuan yang ada di sini?"
"Kenal, tapi tidak buat aku penasaran." lanjut Ali padaku.
"Itu artinya, kamu suka padaku. Betul begitu?"
"Luna, tolong jangan sombong. Aku cuma ingin berteman dengan kamu saja, tidak ada yang lain."
"Di koperasi banyak teman laki-laki. Kenapa tidak bergabung dengan mereka..?"
"Nanti kalau aku sudah ada ingin ke mereka. Aku masih ingin bersama kamu." lanjut Ali.
"Kamu aneh. Harusnya kamu berteman sama Hadi yang ada di koperasi."
"Siapa, Hadi?"
"Iya, Hadi. Kamu kenal dia kan?"
"Iya aku kenal. Dia teman sekelas kita. Tapi aku tidak suka, dia suka bergabung dengan teman-teman kelas lain."
"Aneh. Maaf aku pergi dulu."
"Mau ke mana? Bukan urusan kamu!" kataku ke Ali. Sikap aku ke Ali terkesan jutek. Aku tidak mau dekat dengan Ali saat itu. Aku akan cari teman yang sejenis, bukan dengan Ali.
Aku mencari Wati dan Diah, aku tidak melihat mereka. Aku lalu duduk di bawah dekat tanah berumput. Aku memakan cemilan yang belum selesai aku makan.
Aku ingat Ayah, Ayah tidak tau kalau anaknya sedang kesepian. Aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku selanjutnya. Bel masuk berbunyi, aku harus masuk ke kelas sebelum ada Guru yang masuk.
Saat aku masuk beberapa kawanan laki-laki bertepuk tangan sambil berkata,
"Inilah si ratu goyang...!!" katanya tidak sopan. Aku melihat mereka dan bersikap acuh di depan mereka. Salah satunya adalah Hadi. Aku baru tau kalau anak itu suka berulah.
Aku lalu berdiri di belakang. "Heh! Beraninya kalian bicara seperti itu ke aku. Kapan aku pernah bergoyang di depan kalian? Emang aku penari tik-tok apa yang vital itu?"
"Ye...tepuk tangan..!!" Hadi berulah lagi. Dia menyuruh teman-teman yang lain bertepuk tangan di depan aku, dan itu adalah penghinaan padaku.
"Heh, aku bisa melaporkan kalian ke Guru kelas nanti!"
"Dih, takut..!!" kata Hadi lagi. Kurang asem memang itu anak. Awas ya kalau sampai aku marah beneran! Aku sebenarnya suka melihat Hadi yang seperti itu. Tapi aku tidak bilang.
Ali tiba-tiba datang dan membawa buku mata pelajaran agama. Dia memberikan beberapa buku agama untuk di bagikan ke siswa-siswi yang ada di kelas.
Ali membagikannya satu persatu ke masing-masing Siswa. Aku membaca sampul depan buku itu. BUKU TAJWID. Itu buku metode baca Alquran dengan baik. Aku menunggu Ali membagikan buku itu padaku.
Setelah sampai aku bilang terima kasih ke Ali. Ali langsung pergi meninggalkan aku tanpa berucap sepatah kata. Aku jadi tidak nyaman. Ali mungkin merasa kecewa karena ulah aku tadi yang sempat menolak dia untuk menjadi temannya.
__ADS_1
To Be Continue.
[Maaf kalau ada Typo.]