Pertaruhan Cinta

Pertaruhan Cinta
Chapter 22


__ADS_3

...Setelah mengenal kamu dan tau akan siapa kamu tidak semuanya, aku jadi tau siapa aku dan bagaimana perasaan aku ke kamu, yang tidak sengaja aku temui di tengah jalan kehidupan aku. ...


...@Luna. ...


...***...


Cerita sebelumnya adalah aku yang sedang berada di perpustakaan bersama Nara teman aku. Tiba-tiba laki-laki itu datang menemui aku.


"Permisi..!" dia bilang permisi ke aku.


"Iya, ada apa?" aku kaget bukan main. Kok bisa ya dia datang ke aku sambil bilang permisi.


"Luna, kamu apaan sih!" Nara merasa tidak enak melihat aku yang melotot melihat cowok yang ada di depan aku.


"Iya, ada apa?"


"Boleh pinjam kursinya?" dia lanjut bicara padaku sambil menunjuk satu kursi yang ada di belakang aku. Kursi duduk buat baca buku.


"Boleh, silahkan." kataku menyahut.


"Kamu apaan sih, sok baik sama cowok yang baru kenal. Jaim kenapa dulu jangan jual murah." Nara menasehati aku. Aku tidak tau kenapa.


"Kamu itu kenapa, aku bersikap biasa saja kok sama dia. Dia kan teman kenalan aku. bentar ya!" aku langsung meninggalkan Nara yang sedang berdiri di sebelah aku. Aku pergi mendekati cowok yang tadi yang belum aku kenal namanya.


"Permisi..!"


"Iya..?" laki-laki itu melihat aku dan langsung saja menghadap aku untuk lanjut bicara.


"Kamu cowok yang aku temui di kantin itu, kan?"


"Iya, kenapa? Ada yang bisa saya bantu?"


"Iya ada,"


Tiba-tiba saja Nara datang padaku. "Luna kamu ngapain..?"


"Kamu pergi dulu sana! Ngapain dekat-dekat aku!" kesal sekali sama Nara yang suka gangguin aku sama cowok itu.


"Boleh aku tau nama kamu?" aku balik nanya ke orang itu dengan perasaan yang cukup gugup.


"boleh, nama aku Yasa." dia mengulurkan tangannya padaku. Aku menangkap tangan itu dan berkenalan dengan dia.


"Luna Alya," ucapku dengan jelas. "Ya udah, kalau begitu kamu boleh duduk lagi dan baca buku kamu lagi."


"Sebentar, apakah tidak kita lanjutkan saja perkenalan ini dengan minum kopi sambil santai..?"


"Benarkah, itu tidak mungkin, mungkin lain kali saja. Soalnya kita kan ada di perpus, jadi tidak mungkin kita buat jadwal baru untuk ketemu di kafe. Mungkin lain kali aja."


"Boleh, tapi aku tidak janji."


"Oke." Aku meninggalkan laki-laki itu sambil mencari buku-buku yang ada di dalam perpustakaan. Aku lalu bawa buku itu dan pinjam.


Aku keluar dengan mengajak Nara keluar. "Kenapa keluar secepat itu, kenapa Alya, kamu kesal ya?"


"Tidak, tidak ada yang kesal. Aku biasa aja. Cuma mood aku tidak enak." aku menjawab dengan sedikit kesal pada diriku.


"Eh, di rumah ada kerjaan loh!"


"Apa?"


"Buat kue."


"Maksud?"


"Kakak aku menikah?"


"Beneran, asik..!! Menikah Ama siapa? Aku boleh bantu gak?"


"Boleh, kamu boleh nginep di rumah aku, sumpah!"


"Asik...! aku nanti mau bawa tas dan baju buat nginep di rumah kamu. Rumah kamu pasti rame iya kan?"


"Iya!"


Akhirnya aku dan Nara masuk ke kelas seperti biasa dan ada laporan kalau hari itu rapat. Aku melihat Yasa keluar dari kelas. Aku lalu ijin bentar ke Nara, aku suruh dia tunggu aku bentar di depan sekolah.


"Nara, aku ijin ke Yasa dulu ya?"


"Ngapain?"


"Ada deh." kataku sambil pergi dari Nara. Aku berjalan mendekat ke arah Yasa.


"Yasa, permisi. Aku datang untuk kamu."


"Ada apa? Ada yang perlu kita bicarakan atau ada yang penting?"


"Aku cuma ingin mengobrol sebentar bareng kamu dan aku minta tanda tangan kamu sekarang. Boleh kan,di sini?" aku mengarahkan buku aku ke Yasa, buku novel yang aku pinjam tadi di perpustakaan.


"Itu kan buku milik perpus, tidak boleh di tulis atau di Corat coret."


"Ya tuhan, bentar, aku ambil buku tulis dulu." kataku ke Yasa. Aku malu sama Yasa. Bodohnya aku. Aku ambil buku tulis dan sok penting Saja. Kapan-kapan aku punya niat untuk beli buku novel baru dengan tanda tangan Yasa yang asli.


"Luna, ayo!" Nara mengajak aku untuk pulang lebih dulu. "Bentar, masih mau nulis!" kataku ke Nara. Teman aku itu seakan gelisah melihat aku yang sedang menunggu tanda tangan seorang Yasa Arifin. Yasa dengan pelan mengambil pulpen tanpa rasa bersalah sedikit pun atau rasa keburu di hati. Aku sedikit gelisah karena Nara ingin aku cepat balik bareng dia.


Nara tidak aku lihat batang hidungnya lagi. Biasanya dia sudah di jemput sama Kakaknya dan sekarang aku dan Nara janji pulang bareng Kakaknya itu bonceng dua, tiga sama kakaknya.


"Luna, ayo! Kak Septa sudah datang!" katanya padaku. Aku dengan cepat mengambil buku itu saat Yasa sedang menulis tanda tangan.


"Udah ya, makasih!" tanpa di sengaja tutup pulpen milik Yasa itu jatuh ke tanah, tanpa ba-bi-bu aku langsung pergi tanpa mengambil tutup pulpen itu. Yasa mengambilnya dengan muka sedikit kecewa.


sambil jalan aku hilang ke dia, "Maafkan aku Yasa, aku keburu soalnya. Jadi maaf, aku gak bisa bantu kamu untuk ambil pulpen itu." kataku ke Yasa dalam hati. Aku langsung mencari Nara yang sudah menghilang. Ke mana perginya itu anak. Aku mencari dia keliling jalan tidak ada, lalu datang suara.

__ADS_1


"Luna, ayo!" itu suara Nara, dia menunggu aku di depan orang jualan es cendol bareng Kakaknya Septa. aku malu sekali kenapa aku tidak bawa kendaraan seperti Nara. Aku berlari menuju Nara untuk naik ke motor milik kakaknya Septa.


"Maaf, lama. Ini kesalahan aku. Maafkan aku telah buat kamu kecewa dah menunggu!" kataku ke Nara yang di lihat oleh Septa.


"Ya udah, yuk!" Nara mengajak aku naik ke motor yang sudah Septa setir. Dia duduk di kursi depan aku dan Nara naik ke kursi belakang. Nara paket memberikan helmnya buat aku yang langsung aku pakai. Dia duduk di tengah-tengah aku dan Septa.


"Sudah?" Septa tanya apakah sudah siap.


"Sudah kak!" kataku bersuara nyaring . Septa langsung membawa aku dan Nara ke jalan menuju pulang. Tak ada maksud lain dari kami selain pertemanan dan ke rasa akrab.


akhirnya Nara sampai di rumahnya lebih dulu. Aku turun, tapi Yasa tidak membolehkan.


"Kamu ngapain turun?"


"Kan udah sampai?"


"Katanya mau ambil tas dulu sama baju? Itu kak Septa sudah siap buat mengantar kamu ke rumah kamu. Jangan lupa nanti ongkos ojeknya! hihi." Nara berkata begitu padaku setengah bercanda.


"Udah cepetan gpl!" katanya padaku. aku menjawab dengan nada, "Siap!" sambil hormat ke Nara. Dia langsung masuk dan meninggalkan aku dan Septa.


"Permisi Kak Septa!" kataku.


"Iya, silahkan naik, aku tidak bisa lama-lama soalnya ada acara!" katanya padaku. Aku langsung naik dan siap-siap untuk pergi ke rumah. Aku naik motor bareng Kak Septa.


Di atas motor aku sambil tanya - tanya ke dia kenapa ceritanya Kak Septa bisa menikah secepat itu?


"Ceritanya rahasia," ucapnya simpel.


"Maaf Kak Septa, masak Kakak tidak mau cerita ke aku? Aku pengen tau Kak, bagaimana ceritanya?"


"Kamu tanya saja ke Nara." jawabnya.


"Baik." jawabku. Aku tidak tau kenapa kalimat itu langsung ada di benak aku. Aku diam saja sambil melihat jalanan yang aku lewati bareng Kak Septa. Dia lalu tanya ke aku.


"Kamu udah punya pacar?"


"belum kak, kenapa?"


"Tanya saja. Siapa tau sudah punya pacar?"


"Terus, apa hubungannya sama Kakak, kan Kak Septa udah mau menikah sama calon istri nya Kak Septa?"


"Iseng saja, kamu kan cantik?" kata Kak Septa padaku. Aku lalu melamun andai Kak Septa turun dari sepeda motor dan bilang ke aku seperti ini.


"Luna, bolehkan aku membatalkan pernikahan ini? Aku tidak mau pernikahan ini berlangsung. Aku ingin menikah dengan kamu saja Luna? Sumpah demi aku yang masih berdiri sehat sekarang!"


Sumpah, aku ingin menangis kalau-kalau Kak Septa akan memohon padaku, dan meminta aku untuk menikah dengan dia. Tapi sebelumnya aku akan meminta alasan ke dia kenapa bisa begitu? Kenapa Kak Septa mau membatalkan pernikahannya itu hanya kerena aku?


Seketika sepeda motor itu berhenti, lamunan aku langsung bubar seketika. Kak Septa berhenti di sebuah Pertamina untuk mengisi bensin. Oh tuhan, aku langsung mencoba untuk menyadarkan diriku seketika itu juga.


"Kamu turun dulu ya!" kata Kak Septa padaku. Aku tidak bisa kasih kak Septa uang untuk beli bensin. Aku orangnya pelit uang untuk sesuatu yang buat orang lain penting tapi buat aku tidak. Oh tuhan,kenapa itu terjadi?


Setelah mengisi bensin Kak Septa mengajak aku untuk naik ke motor itu kembali dengan sedikit mengebut. "Kenapa Kak Septa mengebut seperti itu?"


"Lumayan Kakak?"


Kalau aku jelaskan di sini memang rumah aku agak terlalu jauh. Kalau aku pulang itu aku sedikit kerepotan untuk bisa mendapat tumpangan kecuali bus yang lewat. Setiap hari aku harus menunggu bus untuk bisa sampai ke sekolah dengan jarak tempuh yang cukup jauh dari rumah aku.


Kak Septa terus mengebut dan terus mengemudikan sepeda motor nya itu. Aku merangkul dan berpegangan ke pinggang Kak Septa dengan sengaja. Kak Septa diam saja. Sejak saat situ aku tau kalau Kak Septa adalah orang yang aku suka melebihi seorang Yasa.


Aku tercengang, kenapa aku begitu berharap Kak Septa mau jadi pacar aku atau kekasih aku, padahal sikap dia padaku biasa saja.


"Pegangan yang kuat!" katanya padaku.


"Iya kakak!" aku memperjelas suara ku ke Kak Yasa. Dia mengemudikan motornya sedikit lebih cepat dari biasanya.


"Kak Yasa, pelan-pelan saja!" kataku ke Kak Yasa. Kak Yasa mengurangi kecepatan laju sepeda motornya itu. Jalanan sudah masuk gang. Kak Septa belok dan langsung masuk ke gang itu. Tanpa aku tahu dari mana Kak Septa tau rumah dan alamat aku.


"Kak Septa tau dari mana alamat rumah aku?"


"Dari Nara, dia kasih tau aku tadi saat Nara masih menunggu kamu di sekolah."


"Oh. Maafkan aku Ya Kak tadi?"


"Kenapa?"


"Soalnya buat Kak Nara menunggu terlalu lama, dan sekarang malah repot-repot mengantarkan aku pulang ke rumah dan abis itu aku harus balik lagi ke rumah Nara."


"Apa, balik lagi?"


"Iya, kenapa Kak?"


Kak Septa langsung mengurangi kecepatan sepeda motornya. "Ngapain balik lagi ke rumah? Kamu mau ke rumah bertemu Nara?"


"Emang, Nara tidak cerita ke Kak Septa?"


"Tidak."


"Ya tuhan!"


"Kenapa Kak, ada yang aneh?"


"Iya, harusnya aku biarkan saja kamu diam di rumah aku tadi, tidak usah repot-repot antar kamu pulang."


"Bukan begitu Kakak, Nara minta aku untuk mengambil baju dan tas aku dulu. Karena rencananya aku mau menginap di rumah Kak Septa!"


"Masya Allah." Kak Septa berujar. Aku seperti telah merepotkan seorang Kak Septa. Aku baru tau kalau Kak Septa tidak suka perjalanan ini.


"Ya sudah, nanti kamu cepat ambil baju dan tas kamu, aku akan tunggu kamu di luar."


"Iya Kak." jawabku minder.

__ADS_1


"Padahal kamu bis pinjam baju dan kaos aku di rumah." lanjut Kak Septa padaku. Aku menghembuskan napas sambil meminta maaf ke Kak Septa.


"Ya udah, maafkan aku Ya Kak!" sahutku. Setelah sampai di rumah aku langsung turun dan menyuruh Kak Septa untuk mampir atau masuk ke rumah.


"Tidak perlu, aku tunggu kamu di sini saja!" katanya padaku.


"Baik Kak." kataku ke Kak septa. Dia menunggu aku di luar rumah di depan pagar rumah di depan halaman rumah aku yang asri. Aku berjalan menuju rumah aku yang langsung di sapa oleh ibu.


"Sudah pulang sayang?" aku langsung sungkeman ke dia sepulang sekolah. Aku langsung jawab, "Iya buk. Bu, aku minta ijin nginep di rumah Nara."


"Ngapain kamu nginep di situ, bukannya kamu harus di rumah. Nanti kan malam Jumat, kamu harus ke makam Papa kamu, iya kan?"


"Bukan begitu Ibu. Di rumah Nara ada acara pernikahan Kak Septa dengan calon istrinya. Aku janji menginap di rumah Nara dua hari sampai acaranya itu selesai."


"Ya tuhan, dua hari sayang? Kok bisa sampai dua hari. Malu loh nginep di rumah orang cuma cari makan!"


"Tidak Ibu, Luna di rumah Nara sambil bantu-bantu kok buat kue."


"Apaan sih kamu, ngaco! Di mana-mana anak seumuran kamu itu bisanya cuma main hp. Paling di suruh yang ringan-ringan saja." jelasnya Ibu padaku. Aku diam sambil mendengarkan.


"Ya sudah, kamu mandi dulu, setelah itu bawa baju kamu masukan ke dalam tas. Kamu solat dulu. Terus kamu bareng siapa ke rumah Nara?"


"Ibu baru tau nama teman kamu itu Nara." lanjut ibuku.


"Aku sudah di tunggu Kak Septa di luar, itu dia orangnya!" kataku ke Ibu sambil menunjuk Kak Septa yang tengah berdiri sambil menelepon seseorang. Dia sepertinya sedang sibuk, maklum itu kan acara pernikahan nya Kak Septa. Dia pasti sibuk dengan calon istrinya itu.


Meski aku sempat kecewa kenapa Kak Septa harus menikah secepat itu sama perempuan itu yang tidak aku tau dan tidak aku kenal. Aku melihat Kak Septa dari arah jendela rumah sebelum aku masuk ke dalam kamar.


"Luna, ayo cepat mandi dan siap-siap untuk solat, sebentar lagi aku harus pergi ke rumah Nara!" kata ibu aku menyuruh aku untuk siap-siap melaksanakan mandi dan ibadah solat.


"Luna tidak bisa solat atau mandi dulu Ibu. Kak Septa sedang menunggu aku di luar!" jawabku lanjut. Suara klakson sepeda motor milik Kak Septa sudah berbunyi. Itu tandanya kalau Kak Septa sudah ingin cepat-cepat pergi dari rumah aku.


Aku cepat-cepat mengambil baju sebagai ganti dan langsung aku masukkan baju-baju dan celana aku ke dalam tas hitam sekolah aku yang sebelumnya aku keluarkan dulu buku-buku pelajaran aku.


"Maaf Ibu, kak Septa sudah menunggu di luar, aku harus cepat-cepat pergi! Assalamu'alaikum." aku langsung pamit ke Ibu Rasmi, Ibu aku tanpa salaman dulu. Aku takut Kak Septa menunggu aku terlalu lama.


Aku berjalan sambil berlari menuju halaman rumah aku. "Udah Kak, Yuk!"


"Kamu udah pamit sama ibu kamu?"


"Belum."


"Pamit dulu, cium tangan dia, lebih sopan."


"Udah Kak, tanggung. Aku tadi udah pamit kok sama Ibu. Yuk Kak!" kataku ingin segera pergi. Aku tidak mau balik lagi ke rumah dengan jalan kaki dan cukup menyiksa aku.


"Ya sudah. Kalau begitu biar aku yang minta ijin dulu ke Ibu kamu." kata Kak Septa padaku. Seperti orang begi saja aku membiarkan Kak Septa masuk ke halaman rumah aku dengan tujuan untuk meminta ijin ke Ibu.


Aku biarkan saja Kak Septa berjalan ke arah halaman menemui Ibuku. Rasmi. Dia mengobrol sambil berdiri dan bersalaman sama Ibu. Ibu mengijinkan, aku senang. Dan aku pun berlari ke arah Ibu untuk ikut bersalaman sama dia seperti Kak Septa yang sopan dan tunduk sama Ibu. Ibuku Rasmi.


"Eh, Luna malah ke mari. Ke sini salaman sama Ibu. Tadi kamu lupa ya salaman?"


"Iya, hehe." aku salaman ke ibu dengan perasaan lega.


"Mari Ibu." kata Kak Septa pada Ibuku.


"Iya Nak. Hati-hati di jalan. Aku titip Luna sama kamu ya Nak!"


"Iya Ibu." kata Kak Septa.


Aku berjalan berdua bareng Kak Septa. Sambil berjalan aku berpikir apakah baiknya aku kenal Kak Septa lebih akrab atau lebih dalam lagi? Tiba-tiba suara handphone milik Kak Septa berbunyi. Sayup-sayup aku dengar suara perempuan dari arah telepon seluler nya itu.


"Ada di mana sayang?"


"Di rumah teman adik aku. Kenapa sayang?"


"Kamu cepat-cepat ke rumah aku sayang. Di rumah ada acara tasyakuran, kamu harus hadir, ya? Tidak boleh tidak mau!"


"Insya Allah, aku akan hadir sayang. Tapi kamu tunggu aku dulu setengah jam lagi. oke!"


"Oke sayang, bye." suara itu lalu hilang bersamaan dengan Kak Septa yang menutup telepon seluler nya.


"Dari siapa Kak?"


"Dari Kak Ayu, calon istri Kakak. Kenapa, penasaran ya sama dia?"


"Tidak Kak, biasa saja." Ya tuhan! Bagaimana aku mau penasaran kalau hati dan pikiran aku tertuju ke Kak Septa.


Aku tidak bisa menghilangkan pikiran aku dan hati aku yang tertuju ke Kak Septa, hanya Kak Septa saja, bukan Yasa atau yang lain. Kesan yang aku terima hari ini adalah Kak Yasa yang sangat aku sukai, sopan, ramah tamah, sabar dan baik. Aku mau jadi istri ke duanya Kak Septa kalau bisa. Tapi itu tidak mungkin, itu sangat tidak mungkin, masalahnya akan berbeda nantinya.


"Yuk Naik!" katanya padaku. Jujur, aku tidak percaya kalau ceritanya akan seperti ini. Yang pasti di malam-malam aku, aku akan selalu merindukan kak Septa yang sebentar lagi akan pergi dan menghilang dari kehidupan aku. Kak Septa adalah laki-laki kedua yang aku harapkan setelah Yasa yang aku temui di sekolah.


Bukan apa atau bagaimana, perasaan aku ke Yasa sangat jauh berbeda di banding perasaan aku ke Kak Septa. Kenapa baru kali ini Nara kasih tau aku kalau dia punya Kakak yang cakep dan keren dan sopan seperti Kak septa? Awalnya sikap aku biasa saja saat aku lihat Kak Septa pertama kali menunggu Nara di depan pintu gerbang sekolah.


Kau pikir Kak Septa adalah laki-laki yang biasa saja, tidak banyak bicara yang tidak banyak tingkah. Tapi untuk hari ini, aku pikir semuanya telah berbeda rasa, di hati ini. Rada asam, asin dan campur manis, serta perasaan sedikit sakit atau patah hati atau juga cemburu telah menyelimuti hati aku.


Aku tidak bisa jujur ke Kak Septa atas perasaan ini. Nara masih belum tau tentang hal ini. Dan aku tidak mungkin cerita ke dia kalau aku telah jatuh hati ke Kak Septa tanpa sepengetahuan dia, Nara teman aku yang punya Kakak yang aku suka dan aku cintai.


Maafkan aku Nara, Kak Septa kalau aku harus menyimpan perasaan ini pada kalian. 😔😔


Emoticon itu adalah perwakilan perasaan aku ke Kak Septa hari ini.


"Yuk!" suara Kak Septa langsung mencairkan suasana aku hari itu juga. Tanpa perasaan was-was aku langsung naik dan pegangan ke besi sepeda motor yang letaknya di pinggir. Sambil aku membayangkan bagaimana coba kalau aku jadi calon istri Kak Septa?


"Sudah?" kata Kak Septa padaku.


"Sudah Kak, siap untuk jalan!" kataku menyahut sambil membetulkan posisi duduk dan tas aku.


salam.


Sampai di sini dulu ya teman-teman ceritanya. Semoga menghibur. Jangan lupa vote atau komen. love you! 👋❤️

__ADS_1


FN.


__ADS_2