Pertaruhan Cinta

Pertaruhan Cinta
Chapter 7 : Berdiri di depan aku


__ADS_3

Maya POV 🌙


Aku masih melihat perempuan itu berdiri di depan aku sambil melihat ke arah dinding yang di situ terdapat foto dia bersama Pak Doni.


"Kenapa Ibu?"


Aku beranikan tanya ke Ibu Sulastri. Aku ingin bicara ke dia. Ibu Sulastri langsung berbalik menghadap aku.


"Oh iya, tolong buatkan aku minum dulu. Maaf, bukan maksud aku untuk jadikan kamu pembantu di sini!" kata Ibu Sulastri padaku.


Aku masih tidak tau apa yang akan terjadi nanti.


"Tidak masalah Ibu. Itu sudah kewajiban aku!" kataku menjawab.


Aku lalu meninggalkan Ibu Sulastri untuk pergi ke dapur sambil membuatkan segelas teh untuk dia. Sudah ada gula pasir dan teh Sariwangi yang ada di lemari dapur. Itu semua Aldi yang belanja. Aku tidak tau apa-apa masalah urusan dapur. Aku hanya bisa bekerja di rumah besar itu.


Itu saja. Selainnya aku tidak tau.


"Maya.. cepat aku haus..!!" teriak Ibu Sulastri dari arah ruang tamu itu!


Tuhan, aku masih belum menghangatkan air panas untuk dia. Aku lalu pergi ke arah kulkas untuk membawakan dia minuman dingin. Kau buatkan dia air jeruk manis. Tidak tau apakah itu cocok untuk perempuan sekelas Ibu Sulastri.


Aku langsung bawakan perempuan itu minum. "Ini ibu minumnya. Maaf kalau minimnya dingin."


"Tidak masalah. Kamu bagus sekali kerjanya. Meski agak sedikit lelet." kataku padaku sambil mengambil air minum dingin itu di atas meja.


Ibu Sulastri meminumnya tanpa permisi dulu.


"Ah, enak sekali minuman buatan kamu. Tapi aku sudah terbiasa buat sendiri. Tapi kalau dulu, Doni yang biasa buatkan aku minum. Dia sabar sekali orangnya.


"Tapi masalahnya sekarang, hubungan aku dengan dia tidak baik. Aku akan pergi sebentar lagi. Takutnya dia datang dan marah - marah padaku."


"Kenapa bisa begitu Ibu? Apakah hubungan Ibu dengan Pak Doni tidak harmonis..?"


"Bukan begitu Maya, aku telah menjalin hubungan dengan orang lain. Aku akan kasih tau foto laki-laki itu."


Ibu Sulastri lalu memperlihatkan layar hp nya ke aku. Di situ terdapat foto seorang laki-laki yang tampan dan berkulit putih.


"Kamu tidak perlu kenal dia dulu, nanti aku akan cerita kalau aku sudah siap. Tapi tidak di sini, aku takut sama Doni. Kalau dia marah, aku bisa di sekap dan di pukuli."


"Doni berani sekali memukuli perempuan khususnya aku. Aku sering di pukuli dulu, makanya aku pilih laki-laki itu."


"Oh. Tapi, kekayaan Ibu Sulastri bagaimana..? Bukan kah Pak Doni orang kaya yang bisa buat Ibu Sulastri bahagia..?"


Hahaha. Ibu Sulastri menertawai aku di atas kursi tamu itu. Aku tidak mengerti kenapa dia menertawai aku seperti itu.


"Kenapa Ibu tertawa seperti itu? Maaf, aku tidak mengerti Ibu. Bisa tolong Ibu jelaskan?"


Aku sedikit takut ke Ibu Sulastri, takutnya dia merasa terganggu dengan kalimat aku barusan.


"Bukan begitu Maya. Aku tau kalau Doni orang kaya. Kekayaan dia banyak sampai dia mau mengambil kamu sebagai pengganti aku di sini. Tapi aku tau kalau Doni masih sayang padaku. Takutnya Doni punya rencana lain."


"Maksud Ibu?"


"Kamu bodoh Maya! Ada Aldi di rumah ini dan kamu masih saja bersikap bodoh. Kamu itu perempuan, tolong kamu peka sedikit. Banyak perempuan bodoh seperti kamu yang suka mengincar harta orang. Maaf!"


"Maaf Ibu. Aku di sini tidak bermaksud ingin merampas harta kekayaan Pak Doni. Pak Doni lah yang meminta aku untuk tinggal di sini!"


"Itu karena kamu ceroboh! Kamu telah membunuh teman kamu sendiri! Itu kesalahan kamu sampai buat Doni kacau seperti sekarang!"


"Ibu Maaf, apakah Ibu tidak salah bicara?"


"Maya, baiknya kamu diam. Kamu tidak ada apa - apanya buat aku! Sekarang kamu duduk saja. Aku akan tanya ke kamu sedikit."


Meski kesal yang menjengkelkan, sedikit banyak aku menaruh dendam ke Ibu Sulastri atas kalimat yang baru saja dia ucapkan.


"Maaf Ibu aku berdiri saja. Ibu langsung saja tanya ke aku masalahnya. Aku juga tidak suka Ibu Sulastri ke mari. Mengganggu orang saja!"


"Hati-hati kamu bicara! Aku bisa bilang langsung ke Doni! Sikap kamu di sini buruk sekali!"


"Untung aku masih punya rasa sabar menghadapi kamu. Doni sudah bilang ke aku kalau sikap kamu memang buruk tapi dia maklumi."


Tuhan, kurang ajar memang Sulastri. Bisa-bisanya dia menjelekkan aku di depan matanya sendiri.


"Maaf, minuman kamu tidak enak. Aku tadi cuma berbohong. Kau tidak jadi tanya ke kamu. Pertanyaan nya batal. Melihat kamu saja aku langsung kesal!


"Terima kasih telah melayani aku perempuan bodoh!"


Aku mengeram marah di depan perempuan jahat itu. Sumpah! Aku akan adukan ke Pak Doni nanti kalau dia datang.


Aku masih mengintip dari arah kaca rumah dekat pintu melihat Sulastri yang sedang keluar dari halaman rumah Pak Doni dengan mobil putihnya.


Sulastri adalah bagian dari perempuan kaya yang aku tau. Dia berani mengambil keputusan untuk meninggalkan Pak Doni. Padahal aku sebaliknya. Aku masih ingin harta Pak Doni untuk aku ambil minimal sepuluh persen dari harta kekayaan nya.


Tiba-tiba aku melihat Aldi datang dengan mobil hitamnya. Mobil Ibu Sulastri sudah menghilang dari tadi.


Mobil hitam itu masuk ke dalam garasi rumah. Sebentar lagi Doni akan masuk ke rumah ini dan aku harus segera mengambil gelas sisa minum perempuan jahat itu.

__ADS_1


Sulastri.


Tapi aku bersyukur Sulastri telah melahirkan anak seperti Aldi yang tampan meski aku tidak suka rambut gondrongnya itu.


Aku melihat Aldi masuk ke dalam rumahnya lewat belakang. Dia memanggil aku.


"Maya..!!"


"Iya!"


Aku langsung berlari menghampiri dia. Setelah bertemu dia langsung memberikan jas dan baju putihnya yang langsung dia buka di depan aku.


Secara tidak langsung aku melihat tubuh Aldi yang putih dan buat aku sedikit bernafsu. Tuhan, apakah aku seberuntung ini bisa melihat tubuh Aldi yang sixpack dan menggoda di mataku?


Itu terserah penilaian anda!


Aku menelan ludah melihat tubuh Aldi yang buat aku gemas di buatnya.


"Ambil ini. Tolong kamu cuci. Jangan lupa cuci uang bersih!" ucapnya seketika.


Jujur! Aku sudah jadi pembantu di sini. Di rumah ini!


"Siapa Tuan Aldi!"


"Tuan? Aldi saja!"


"Siap Al..?"


Tapi aku merasa tidak nyaman. Nama Aldi seperti risih dan terlalu dekat. Aku tak ubahnya seperti keluarga dia tapi tidak dia anggap. Aku lebih suka panggil dia tuan muda.


"Aldi!" aku memanggil Aldi dari arah belakang. Dia menoleh ke arah aku buat aku terpana sebentar. Tuhan, semoga saja aku tidak jatuh cinta ke dia.


"Ada apa Maya? Kamu ingin melihat aku telanjang di depan kamu?"


Aku lalu menunduk di Aldi. Aku tidak berani melihat dia setengah telanjang sekarang.


"Maaf." aku meminta maaf.


"Kamu ikut aku ke kamar aku!"


"Apa?" aku menengok ke atas lalu kali menunduk karena takut.


"Maksud aku, kamu ikut aku ke kamar tapi kamu tunggu aku di depan kamar! Aku mau pakai baju dulu di kamar kamu tunggu di luar, mengerti!"


Aldi membentak aku. "Baiklah." aku jawab.


Sebenarnya aku ingin bilang ke dia kalau Ibu Sulastri baru saja datang. Aku ingin dia tau kalau Ibunya baru saja datang ke rumah ini.


Aku tidak tau seperti apakah hubungan Aldi sama Ibunya? Karena selama ini Ibu Aldi tidak pernah bicara soal Ibu Sulastri di depan aku. Aldi gak ubahnya hanya punya Bapak saja tidak punya Ibu.


Aku juga tidak berani tanya apa Aldi butuh sekarang ibu atau malah sebaliknya.


Aku melangkah ke kamar Aldi yang sudah menghilang dari tadi.


"Maya! Kamu ke mana?" katanya ke aku. Aldi berteriak memanggil aku. Aku langsung melangkah cepat ke arah dia.


"Siap Aldi!" aku masih menunduk di depan Aldi sambil ketakutan. Aku tidak berani mengintip Aldi lagi.


"Kamu tunggu di sini! Aku mau pakai baju aku dulu!" kata Aldi lanjut padaku.


"Iya." aku menjawab.


Aldi bukanlah orang kasar, dia hanya kesal saja padaku entah kenapa. Aku harus menunggu Aldi berganti baju.


Tuhan, tolong jangan buat aku suka ke Aldi. Kau tidak mau jadi menantu di rumah ini.


Kau berdoa dalam hati karena perasaan aku sudah tidak sama lagi ke Aldi sekarang. Sedikit banyak aku mulai suka ke laki-laki itu.


Aldi membuka pintu kamarnya yang sebelumnya sempat di tutup dengan suara kencang. Aku masih dalam posisi menunduk sambil memeluk baju dan jas Aldi yang bau parfum.


Aku suka laki-laki yang suka pakai parfum. Aku suka baunya. Baunya terasa khas di hidungku.


"Ada apa? Kenapa kamu memanggil aku tadi? Kamu ada perlu sama aku?"


"Iya. Tadi Ibu Sulastri datang."


"Untuk apa dia ke mari? Bukankah aku sudah tidak dianggapnya anak dia lagi? Kamu tidak usir dia? Beraninya dia datang ke sini? Kalau saja aku bertemu dia langsung, aku usir dia dari rumah ini!"


Aldi emosi sekali rupanya. Dia ternyata sangat membenci Ibunya. Sulastri.


"Maaf kalau aku salah. Aku hanya ingin bilang itu."


"Baguslah. Dan ini bawa juga!"


Aww..!! Aldi melemparkan celananya ke arah aku dengan ****** ********. Bau sekali!


"Baik." aku tunduk dan patuh di depan Aldi.

__ADS_1


Dalam hati aku ingin menangis saja, aku jadi ingat Kinan yang mau mendengarkan aku bicara.


Aku tidak suka Aldi bersikap seolah - olah dia raja di rumah ini. Aku tau ini rumah dia tapi dia telah tidak menghormati aku sebagai seorang perempuan yang dia anggap aku sebagai pembantu di rumahnya.


Ingin sekali aku bekerja lagi dan pindah dari rumah ini. Aldi dan Ibunya sama saja! Sama - sama kejam! Aku tidak bisa bersikap baik ke dia.


Aku pergi tanpa permisi dan langsung mencuci pakaiannya. Untung saja aku masih sabar. Aku juga tidak di beri upah sepeser pun di rumah ini. Hanya di kasih makan dan tempat tinggal yang tidak nyaman.


Aku menyalakan mesin cuci dan aku masukkan baju, jas dan celana itu ke dalam. Aldi gak ubahnya majikan saja atau suami palsu aku. Aku harus menerima ini dengan sabar.


Tuhan, kuatkan aku! Buat aku sabar menerima cobaan ini. Meski Aldi terlihat tampan di depan aku tapi melihat sikapnya yang kasar, aku jadi bad mood dan tidak suka.


Ingat, aku tidak suka sikap kasar Aldi!


Aku menunggu mesin cuci itu untuk waktu sepuluh menit. Aku tidak tau sampai kapan aku bisa sabar menghadapi Aldi.


Setelah sepuluh menit aku langsung keringkan cucian itu dan aku tinggal sebentar. Aku ingin pergi keluar melihat halaman rumah Aldi yang luas yang buat aku jadi tenang.


"Maya!" Aldi memanggil aku lagi.


Aku berlari cepat menghampiri dia. Aldi seperti anak kecil saja!


"Ada apa Al..?"


Sekarang aku berdiri di depan Aldi yang sedang pakai kaos putih dan celana pendek tiga perempat dengan warna cokelat. Aldi tidak mandi dulu sepulang dari kerja.


Aku tau, pasti badannya berkeringat.


"Masakan sudah siap..?"


"Sudah siap. Tadi aku sudah menyiapkannya di meja makan."


"Bagus. Aku ingin makan sekarang. Lapar." lanjut Aldi padaku.


"Baiklah, sekarang Aldi bisa langsung ke meja makan. Aku akan ambil nasi, dan lauk pauknya."


"Bagus. Itu baru perempuan cerdas!"


"Iya." aku mengiyakan saja meski aku kesal di buatnya.


Aldi langsung pergi ke arah dapur. Di situ sudah ada meja makan dan kursi di tengah ruangan.


Aku masih bingung mau ngapain. Aku langsung ambil rantang dan mengambil nasi putih di magic jar yang sedang menyala.


Aku ambil mie goreng dan aku masak.


"Cepat Maya, mana nasi sama ikannya! Aku lapar! Tadi aku cuma makan roti di kantor!" Aldi beneran memaksa aku.


"Sebentar, aku masih memasak mie buat kamu. Kamu bisa bawa ini ke meja makan!"


"Aku, kamu pikir aku pembantu di sini! Kamu yang bawa ke sini, ke meja makan!"


Tuhan, Aldi betul-betul telah menganggap aku sebagai pembantu. Aku langsung membawakan Aldi rantang makanan itu ke meja. Aku lalu melihat air yang aku hangatkan untuk aku pasang mie goreng ke dalamnya.


Air itu sudah mendidih, aku lihat Aldi kasihan sedang menunggu mie rebus dan aku belum goreng telur! Ini salahku, kenapa aku tidak langsung masak tadi? Aku tidak tau kalau aku seperti ini ceritanya.


"Kamu sabar dulu ya Al..? Aku masih mau masak kue dan goreng telur buat kamu!"


"Iya!" jawab Aldi sambil main hp di atas kursi ruang tamu itu.


Aku fokus masak mie sambil menunggu mie itu melunak. Setelah melunak, aku buang airnya dan aku tiriskan di piring bersih. Aku pasang bumbu-bumbunya dan aku aduk sampai rata. Baru setelah itu aku taruh di meja.


Aku ganti panci air itu dengan wajan bersih di atas kompor. Aku akan menggoreng telur buat Aldi.


Aku mencari minyak goreng di rak dapur. Aku tidak melihat minyak goreng di rak dapur, aku lalu mencari minyak goreng itu di dalam lemari. Ternyata ada. Sukur lah. Aku tidak mau melihat Aldi kelaparan di depan aku sekarang.


Meski aku juga ingin makan dan terasa lapar di perut, tapi aku tahan dan biar Aldi yang makan lebih dulu. Aku akan makan setelah Aldi makan.


Dengan cepat aku pasang minyak goreng itu ke wajan selama Aldi bisa diam dan main game. Aku ambil telor yang ada di meja dan langsung aku goreng.


Telur itu aku goreng sampai masak, setelah masak aku langsung taruh di meja.


"Aldi, sekarang kamu siap untuk makan! Apa perlu aku ambilkan nasinya?"


"Iya, boleh." ucapnya padaku.


Aku malah memasang nasi untuk aku taruh di piring. Aldi masih diam saja di kursi meja makan. Aku lalu ambilkan telor dan mienya dengan sendok yang sudah aku ambil sebelumnya.


"Nasinya sudah siap sama telur goreng dan mie rebus. Kamu bisa makan sekarang." aku berucap ke Aldi. Dia mendengarkan aku dan memperhatikan nasi dan mie goreng yang ada di piring.


Aldi sudah siap memakan nasi putih telor goreng dan mie rebus itu sekarang. Aku kecapaian dan ingin keluar dulu.


Aku keluar dari dapur tanpa permisi ke Aldi. Aku masih menahan napas lesu. Baru kali ini aku merasakan capai seperti ini. Dua tugas sekaligus. Mencuci baju Aldi dan memasak.


Huft!


To Be Continue.

__ADS_1


[Vote / Komen]


__ADS_2