
Ini adalah cerita aku pada versi lain versi di mana aku harus hidup lagi setelah lama tidak ada di lapak ini. Aku adalah Maya yang sedang ada di rumah kontrakan.
Rumah yang biasanya aku tempati tapi sekarang aku tempati juga. Kesal sekali kenapa tidak ada Kinan di sini. Aku lalu mencoba untuk menghubungi Kinan. Di telepon.
Maya
Kinan halo ?
Kinan
Iya, dengan Kinan ada yang bisa saya bantu?
Maya
Kinan ini aku Maya, maaf kalau harus telepon kamu lagi. Aku ingin bilang ke kamu tentang kekesalan aku sekarang.
Kinan
Oh, ini Maya yang itu yang.. kasih duit itu ke aku? Iya kan Maya?
Maya
Iya Kinan betul. Tapi aku tidak bisa apa-apa sekarang. Di rumah lampu mati. Aku takut sekali dan sedih. Kesal sekali dengan keadaan ini.
Klik.
Telepon dari Kinan di tutup seketika. Buat aku sadar siapa aku sebenarnya.
Aku akan mencoba untuk menulis cerita singkat antara aku dan Kinan.
Cerita yang mungkin akan membaca aku ke sedikit kisah lama bersama Aldi atau Jared yang telah di perkenalkan oleh Pak Brata beberapa waktu yang lalu.
Aku pergi menemui Aldi di taman yang aku lihat dia seperti tidak suka dengan pekerjaan di kantor, mungkin karena posisi dia yang di ganti oleh Jared sekarang. Kasihan juga si Aldi. Tapi itu adalah keputusan Pak Brata tidak dapat di ganggu gugat lagi. Aku mendekati Aldi yang sedang duduk waktu itu.
Masih belum bisa bekerja dengan baik aku terpaksa kebingungan di depan Aldi. Laki-laki itu lalu pergi dari sisiku. Aku diam saja tanpa mengejar laki-laki itu. Elma datang padaku tapi tidak aku gubris. Yang lain juga tidak pernah bertanya kenapa aku seperti ini.
Semuanya seperti suka rela dan datang bekerja begitu saja tanpa tau kalau aku juga butuh uang dan butuh kerja meski sebenarnya aku sudah bisa makan, minum, tidur dengan tenang dan tiba tiba lampu menyala terang di titik 18.09.
padam yang ke dua aku balik menulis lagi sambil melanjutkan cerita sambil melangkah lagi ke depannya dan heran kenapa begitu gelap hatiku sampai sekarang.
Aku harus buat cerita yang banyak kata di sini. Tuhan, kalau ada Aldi di. sini mungkin kisah ini akan berbeda rasanya.
Aku telepon saja Aldi.
Maya
Halo Aldi kamu apa kabar?
Aldi
?
Maya
Aku kesal sekali kenapa aku harus punya cerita seperti ini? Aku sama sekali tidak suka menulis cerita lebih suka yang lain.
Aldi
__ADS_1
Kenapa Maya? Ada apa dengan kamu. Sebentar aku akan cerita tentang masalah kamu sebenarnya tapi kamu tenang di sini dulu aku mau pamit dulu sebentar.
Aku masih menunggu Aldi dan dia datang lagi setelah beberapa menit.
Aldi
Ada apa Maya? Begini Maya. Aku jiga bingung kenapa aku harus ada di sini. Ini adalah penjara bagi aku Maya, mungkin bagi kamu juga. Aku terpaksa mengikuti langkah ini karena aku juga ingin sukses seperti yang lain tapi sepertinya percuma Maya karena bahagia aku bukan di sini. Ini adalah perlombaan yang sangat menghabiskan waktu.
Kalau bisa kamu tidak perlu turuti apa kata mereka. kamu ingat, kalau rejeki itu ada yang ngatur. Aku yakin kamu tidak akan dapat rejeki dari situ, karena rejeki kamu bukan dengan menulis tapi dengan mengaji atau beragama. Catat itu.
Itu setan Pak Gufron sudah keluar. Kamu catat itu si benak kamu. Dan tulisan ini bukan jalan yang mudah bagi kamu. Ambil jalan yang mudah, Jang yang sulit.
Santai saja Maya. Permintaan itu tidak perlu kamu turuti. Orang Jakarta sudah banyak yang antri menunggu giliran mereka. Kamu rakyat terpencil. Ingat, mimpi kamu bukan di situ itu hanya sebagian saja. Coba kamu pikir.
Ikuti saja apa yang ada semampu kami kalau banyak kamu tidak akan bisa melampaui itu semua karena tidak mudah untuk seorang penulis seperti kamu. Mereka pakai komputer bukan hp seperti itu. Ingat kapasitas kamu di sini.
Kamu jangan heran kalau di sini si ratu mengaji atau si raja mengaji, karena tidak ada wadah di sini. Kamu jangan heran kalau ada si ratu mobil atau si ratu komputer karena ada yang kasih wadah. Di sini si raja petani dan si ratu atau raja Guru yang setia pada sekolah.
Setia setiap hari atau si ratu siaran. Atau si ratu live seperti kamu. Atau lomba menulis dengan WiFi yang ada. kenapa kamu tidak suka kumpul dengan keluarga kamu?
Maya
Aku ada tugas menulis. Dan aku tidak di bayar di sini. Aku ingin santai tapi tidak bisa. Aku inginnya tulisan ini baru tapi ternyata harus di teruskan.
Aldi
Maya, kamu tidak mau menikah dengan siapa begitu Maya? Kamu masih ingin jadi patung seperti itu? Perempuan seperti kamu Maya tidak layak hidup. Mati saja. Haha.
Maya
Apaan sih kamu Aldi?
Aldi
Sekarang musibah di keuangannya kamu entah nanti musibah nya di mana. Kamu tau, kalau itu adalah karma dari mereka. Kalau kamu begitu hidupnya, kamu harus rela di hilangkan hartanya. Kalau kamu tidak rela kehilangan hartanya, kamu harus kehilangan orang yang kamu kasihi. Seperti itu. Lihat saja nanti kalau prediksi aku meleset.
Ingat, jalan kamu cuma satu. Jalam hidup kamu di situ saja. Coba kamu pergi ke rumah orang, ya mungkin kamu akan kesulitan cari makan. Ingat, ingat apa yang telah terjadi sekarang. Kamu harus menerima dan bersyukur mungkin daripada orang lain yang lebih sengsara dan lebih susah daripada kamu.
Kamu teliti beberapa orang yang ada di sekeliling kamu, mereka berpikir lain dengan kamu. Tidak mudah untuk bisa berada di jalan yang benar Maya, jalan yang enak seperti dulu.
Pakailah apa yang ada dulu, kalau memang mati lampu, kamu terima saja dulu. Karena nanti ya ada jawaban.
Maya
Makasih Aldi. Aku akan terus mengarang cerita sampai bab ke 20.
Aldi
Kalau bisa kamu cari karakter yang lain Maya, karakter yang bukan namaku. Kamu bisa berhubungan dengan Jared atau siapa saja yang kamu kenal. Atau kamu bisa menghadirkan Luna di sini.
Maya
Tidak Aldi, aku akan tetap mengundang kamu di kisah yang lain. Kisah yang tidak sama.
Aldi
Maaf Maya, aku akan pergi bekerja di tempat yang lain. Dan maaf, aku akan blokir kontak kamu sekarang.
__ADS_1
Klik.
Aldi sudah tidak ada lagi sekarang. Aku akan mengadu ke siapa kalau bukan ke Aldi. Suatu saat, karena aku kesal, aku lalu pamit minta ijin ke Ayah untuk kuliah buat sampingan dan sambil mengisi waktu dan menambah teman.
Aku ijin ke Abah untuk bisa berusaha untuk bisa buat aku kuliah. Abah mengijinkan dia menyewakan sebagai tanah dia untuk bisa mendaftarkan aku kuliah.
Di hari pertama aku kuliah, aku masih ingat betapa aku sedih sekali waktu itu. Aku tidak kenal masih dengan teman-teman Mahasiswa di situ. Aku masih belum bisa beradaptasi dengan mereka.
Aku lalu melihat seseorang yang cukup berkesan. Aku merapat dan mencoba untuk berkenalan. Paling tidak, aku dapat melupakan sebagian kesedihan aku di sini. Aku mencoba untuk tidak terus menerus larut dalam kesedihan seperti itu. Larut dalam kesedihan seperti itu buat aku terpuruk dan sedih sangat. Begitu dalam dan pelik hanya karena urusan uang yang telah aku terima dan aku lupakan begitu saja.
Entahlah, aku masih berusaha untuk mendinginkan keinginan aku dan berharap lain. Aku merapat ke dekat laki-laki itu yang di sebelahnya telah pamit seorang perempuan dengan kerudung merah dan kaos hitam bawahan hitam.
Tanpa malu aku mendekati laki-laki itu untuk menghilangkan rasa kesepian aku di sini. Rasa yang mungkin masih ada sampai sekarang. Rasa yang orang lain mungkin pernah merasakan sakit atau sedih karena satu alasan yang menimpa atau tidak adanya hiburan atau apa yang bisa melupakan rasa sedih itu.
Kamu tidak bisa seperti itu padaku Tuhan, kamu harus bersikap Adil padaku. Paling tidak, aku dapat rejeki yang banyak nanti atau yang berlimpah untuk bisa buat aku bahagia. Meski aku tau uang mereka tidaklah cukup untuk biaya hidup mereka.
Aku juga tidak tau apa yang akan terjadi atau apa yang akan ada di sini. Hidup orang lain adalah bahagia aku juga. Sedih memang kalau seperti itu ceritanya. Tapi kamu harus hidup tetap hidup dan harus kuat untuk bisa berusaha untuk hidup dan bernapas kalau perlu.
"Halo..!" aku sedikit ketakutan untuk mengenal seseorang yang tidak aku tau namanya itu. Laki-laki dengan wajah oriental. Rambut lurus, wajah dagu mancung ke bawah.
Ingat, aku masih sedih dan seakan masih saja berduka. Tuhan, kenapa kamu tidak bisa buat acara yang bisa melupakan aku dari kesedihan ini. Maaf kalau kamu masih belum tau apa penyebab kesedihan aku kali ini. Apa yang ada di sini adalah kelayakan aku untuk hidup. Satu persatu semoga ada yang balas nantinya kalau aku terus begini.
Sakit memang kalau di rasa tapi, aku tau Tuhan tau segalanya. Semoga ini jalan yang terbaik buat aku yang buta atau aku yang telah bersikap bodoh untuk sekali ini saja. Semoga tidak berulang. Amin.
Untuk sin ke dua aku akan ambil nanti. Karena kehadiran orang lain yang tidak aku senangi masih aku rasakan sampai sekarang. Aku harus bicara dan kasih tau apa yang harus kau lakukan atau cari cara untuk bisa menghasilkan apa yang aku inginkan. Bukan hanya di sini tapi moga di tempat lain. Semoga saja tanpa harus melewati waktu.
Pria itu menoleh ke arah aku. "Maaf, boleh kenalan..?"
"Iya. Perkenalkan nama aku Reino. Aku Mahasiswa di sini. Aku semester dua." Dia memperkenalkan dirinya padaku dengan ramah. Aku menerima perkenalan itu dengan senang hati.
"Maaf, kalau aku telah lancang dan berani berkenalan dengan anda."
"Biasa saja. Kejadian seperti ini sudah biasa. Banyak teman-teman aku yang minta kenalan padaku seperti kamu " kata dia. Maaf aku masih belum bisa menyebutkan nama dia yang bernama Reino Prawira.
Reino Prawira.
"Ini buat kamu. Kamu bisa baca buku ini." dia memberikan aku sebuah buku novel dari dalam tas nya. Buku novel yang tidak pernah aku tau atau aku kenal. Buku novel dengan sampul warna cokelat.
"Maaf, kenapa kamu berikan buku ini padaku? Apakah kamu tidak butuh dengan buku ini atau kamu ingin membacanya? Atau membaca ulang begitu?" aku sedikit ketakutan untuk bicara di depan laki-laki tampan itu. Laki-laki tampan yang baru saja aku kenal dan baru saja aku tau bagaimana suaranya, gestur tubuhnya, senyum ramahnya, ketampanannya di depan perempuan seperti aku yang menurut aku masih bisa si bilang cantik walau aku tidak begitu cantik seperti artis yang di televisi.
"Aku pamit pergi dulu ya." Reino pergi meninggalkan aku sendirian di lantai dua tanpa ada seorang pun di situ. Meski aku bermimpi ada yang mau lewat di samping aku dengan tatapan mesra atau dengan ketampanan yang berbeda. Aku adalah perempuan penikmat ketampanan seorang laki-laki dengan status lajang, Mahasiswa atau pelajar.
Aku juga suka laki-laki muda sekelas SMA atau yang lain. Dan aku paling kesal dengan orang yang jelek dan mengaku tampan. Aku lebih suka mengingat Abi Dzar, atau Rizki Ridho. Seperti yang ada di film-film itu.
Lampu menyala di 19.17pm.
Aku harus segera solat Isyak dan segera menghadap Tuhan. Atau aku harus memilih diam dan bersikap malas. Sambil bermimpi bisa bertemu dengan Aldi di suatu saat nanti. Atau mencoba untuk membaca isi buku yang telah Reino berikan padaku. Dengan tulus ikhlas dia memberikannya padaku entah imbalan apa yang harus dia peroleh nanti dari aku. Aku juga tidak tau.
Di lingkungan aku tidak ada yang tau dan mengerti sifat aku bagaimana. Paling kesal kalau mengingat seseorang yang pura-pura baik padaku padahal sebenarnya jahat dan tidak berharap aku ada di sisinya. Perbedaan tempat dan jarak yang selalu saja tidak pernah akur.
Tuhan,maafkan lah aku. Aku harus segera bergegas dan berlari untuk bisa tiba di jalan untuk menunggu bus yang datang. Sekarang sudah larut sore, sudah pukul lima dan aku tidak ingin pergi ke masjid dulu untuk menghadap Tuhan.
Aku hanya ingin menunggu bus yang masih belum datang dan masih ingin aku tunggu. Aku mencoba berjalan dari atas lantai dua, turun ke lantai bawah dengan menuruni tangga di situ. Aku perlahan menuruni tangga dan melihat kaki aku yang melangkah dengan sepatu plastik aku yang berwarna biru.
Dua orang Mahasiswa sedang berjalan pulang dari arah depan kantor pusat. Aku tidak tau siapa mereka yang jelas mereka adalah Mahasiswa kampus Brawijaya.
Aku masih ingin memperhatikan siapa saja yang lewat di situ. Aku memperhatikan dua mahasiswa dengan jenis yang berbeda. Satu cowok dan dua cewek. Apa benar mereka adalah teman kelas atau sedang berpacaran. Anggap saja teman kelas tapi itu cuma opini aku saja. selebihnya aku tidak mengerti.
__ADS_1
Tuhan, berikanlah aku kebahagiaan lebih di sini. Berikanlah aku pekerjaan yang baik yang penuh bernah yang bisa menghasilkan uang juga. Atau aku harus mencari pekerjaan di luar dengan pergi meninggalkan keluarga aku?
SJ