Pertaruhan Cinta

Pertaruhan Cinta
Chapter 11 : Bangun dari tidurku


__ADS_3

Luna POV 🌙


Aku bangun dari tidurku dan kembali tersadar. Di dalam kamar aku merebahkan diri dengan tenang tanpa ada suara yang mengiringi. Terkecuali suara motor atau kendaraan yang melintas di jalan raya dekat rumahku.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Waktu masih terlihat pagi. Aku harus pergi mandi setelah itu aku akan beli makanan kecil di luar.


Aku rindu Ayah. Kapan Ayah akan pulang?


Aku mandi dan membersihkan badan aku. Selesai mandi aku pegang hp lagi sambil melanjutkan cerita aku. Kadang aku merasa bosan dan berpindah ke apk live. Begitu seterusnya. Kadang kalau aku merasa capai, aku tiduran di kamar sambil baca buku atau mendengarkan musik.


Sampai pada akhirnya Ayah pulang sekitar pukul dua siang. Kebetulan aku sedang duduk di kursi ruang tamu.


Ayah masuk ke dalam dan melihat aku. Dia melangkah melewati aku,  aku mencoba untuk menyapa dia sebelum dia sampai ke kamarnya.


"Sudah pulang Yah..?"


"Iya sayang." Ayah lalu berbelok ke arahku dan mencium kening aku.


"Ayah sayang sama Luna."


Aku tersenyum Ayah bilang seperti itu. Aku jadi ingat Ibu. Ibu juga sayang padaku seperti Ayah. Tapi Ayah tidak mau aku tinggal bersama Ibu, katanya Ayah kesepian kalau tidak ada aku di rumah.


Jadi Ibu mengalah. Ibu tinggal bersama keluarga Ibu di Bekasi.


Ayah sudah masuk ke kamarnya. Aku mau bilang ke Ayah nanti kalau Ayah sudah rebahan di kamar. Biarkan Ayah sendiri dulu di kamar tidurnya. Mungkin Ayah masih lelah.


Aku tidak jadi pinjam motor ayah dulu karena aku masih ingin di rumah dan mengobrol sama Ayah.


Aku berniat pergi ke kamar Ayah tapi Ayah sudah pergi duluan ke kamar mandi. Aku balik ke kursi ruang tamu untuk duduk santai sambil mengetik cerita di apk.


Entah kenapa perasaan aku jadi berubah. Aku ingin punya cowok untuk aku jadikan pacar nantinya. Tuhan, apa yang telah terjadi.


Aku lalu pergi ke kamar Ayah setelah Ayah selesai mandi. Aku lihat Ayah sedang ganti baju. Aku mengintip Ayah dari balik pintu kamar.


"Ayah." aku memanggil dia. Ayah menoleh ke arahku.


"Luna, sebentar ya, ayah mau ganti baju dulu. Kamu tunggu di luar." ucap Ayahku. Ayah tega membuat aku menunggu dia di luar.


Aku masih menepi tanpa harus melihat Ayah saat Ayah ganti baju.


Ayah lalu menyuruh aku masuk.


"Masuklah Luna, Ayah sudah selesai ganti baju." katanya.


Aku lalu masuk dengan langkah pelan sambil melihat ke sekeliling kamar Ayah. Di situ ada beberapa foto artis India seperti foto Mandiri Dixit dan Shahrukh Khan yang ayah tempel di dinding.


Ada sebagian Artis Indonesia seperti Abi Dzar Al-Ghifari dan Micel Zyudit.


Ayah cetak foto unduhan itu dari hp miliknya untuk di tempel di dinding kamarnya.


"Fotonya bagus yah. Keren! Aku suka Abi Dzar Al-Ghifari anak Om Jefri Al-buchori. Ayah kenal dia?"


"Tidak, ayah hanya kenal Abi di film saja. Kadang ayah menonton dia di you tube." jelas Ayah.


"Oh." aku menjawab.


Setelah itu aku menunggu ayah duduk di kasur seperti biasa. "Ada apa Luna? Kamu sudah makan?"


"Belum Ayah. Luna seharian tidur dan main hp. Luna makannya nanti saja sama Ayah."


"Kalau begitu Ayah ajak kamu makan ke luar saja sambil naik motor. Kamu mau kan..?"


"Iya mau Yah! Hore..!" aku berteriak nyaring sambil berlari ke luar kamar Ayah. Aku lalu balik berlari ke kamar Ayah sambil menunggu Ayah siap-siap keluar kamar.


"Yuk!" Ayah mengajak aku, aku mengikutinya dari belakang.


Ayah berjalan sambil membuka pintu depan dan mengambil motor yang di letakkan di teras depan rumah dekat pagar tembok.


Ayah menurunkan sepeda motornya ke arah bawah dan dia sudah siap duduk di atas sepeda motor bututnya.


"Luna, ayo buruan naik!"


Ayah menoleh ke arahku dan saat dia mengajak aku naik untuk duduk di atas motornya. Aku langsung melangkahkan kakiku untuk naik ke atas motor Ayah.


Motor Beat putih milik kantor. Ayah di beri pinjaman motor Beat itu selama bekerja di kantor Aliyas.


Aku dan Ayah akhirnya berkelana dengan naik motor Beat kecil imut itu. Aku melihat jalan raya yang memanjang dengan beberapa pengendara yang lewat begitu saja. Aku merasa senang dan seakan ingin peluk Ayah.


"Ayah, kita mau ke mana..?"


"Kita cari makan di alun-alun kota." jawab ayah padaku.


Ayah lalu berhenti di pinggiran alun-alun kota yang banyak sekali gerobak penjual. Ada yang jualan bakso, es degan, gado-gado dan mie ayam. Ada juga sate ayam dan nasi goreng.


Ada pelbagai macam makanan dan masakan yang ada di situ kalau kamu ingin membeli atau mencobanya.


Aku dan Ayah makan gado-gado di situ berdua. Ayah pesan es teh juga. Selesai makan, Ayah dan aku balik ke rumah.


Saat balik, aku melihat Kinan menjerit dan berlari melewati aku. Dia berlari ke arah jalan raya. Kinan lari dari kejaran Ayahnya.


Ayah Kinan terus mengejar Kinan dengan alat pukul nya yang terbuat dari kayu sampai ke jalan raya. Kasihan sekali Kinan. Semoga Ayah Kinan tidak jadi memukul Kinan.


Aku tidak mau Kinan terluka atau cidera.


"Yuk masuk!" Ayah mengajak aku masuk. Aku pun ikut masuk ke dalam rumah dan berhenti di ruang tamu. Aku pergi ke arah jendela sambil menunggu Kinan datang.


Ayah masih meletakkan sepeda motor Beatnya di teras depan.


"Luna, apa yang kamu lihat?"


"Aku sedang menunggu Kinan balik Yah! Aku mau tau keadaan Kinan!" jawabku ke Ayah.


Sedikit banyak aku tau kalau Kinan suka di marahi oleh Ayahnya, Bento. Entah apa yang telah di perbuat oleh Kinan sampai Pak Bento marah ke dia.


Setelah lama aku melihat Pak Bento balik sendiri tanpa Kinan. Aku melihat Kinan lari ke arah rumahku.

__ADS_1


Kinan permisi mengetik rumahku dari luar.


"Luna.. tolong buka pintunya!"


Kinan memanggil aku untuk membuka pintu rumahku. Aku segera pergi ke luar untuk membuka pintu ke arah Kinan.


"Ada apa Kinan? Kamu habis di pukuli oleh Ayahmu?"


"Iya, boleh aku masuk sebentar?"


"Iya silahkan."


Akhirnya Kinan berhasil masuk ke dalam rumahku. Sekarang Kinan adalah teman aku yang dalam keadaan takut. Aku sih merasa biasa saja karena Pak Bento bukanlah Ayahku.


Andai saja Ayah marah padaku, mungkin aku juga akan bernasib sama seperti Kinan. Tapi sepanjang hidupku, Ayah tidak pernah marah padaku kecuali kalau aku bolos sekolah seperti dulu saat aku masih sekolah di Sekolah Negeri Taruna di Tangerang. 


Aku lalu fokus ke Kinan. Melihat dia yang ketakutan dan duduk di bawah sendiri, aku jadi kasihan melihat dia.


"Kinan, kamu tenang di sini. Aku akan menjaga kamu." ucapku ke Kinan.


Kinan diam saja dia masih ketakutan.


Tak lama Kinan minta air minum, aku ambilkan Kinan air minum. Kinan minum air di depan ku, aku melihatnya sendiri.


Kinan lalu memberikan gelasnya ke arahku.


"Kinan kamu haus ya?"


Aku tanya ke Kinan, tapi Kinan diam saja.


"Ayah ingin memukul aku tadi."


"Iya aku tau. Sakit ya?"


"Iya sakit. Ayah biasa memukul aku seperti itu. Aku di buatnya takut. Ayah galak sekali ke aku."


Kinan bicara terbata - bata. Kinan masih merasa takut.


"Kinan, kamu tidak usah takut, di sini ada aku!" aku bicara cukup kencang sampai ayahku dengar.


"Luna, kamu bicara sama siapa..?"


Ayah datang ke arahku, dia keluar dari arah kamar. Dia melihat aku dan Kinan sedang duduk berhadapan. Aku menoleh ke arah ayah. Melihat dia datang ke arahku.


"Luna, dia anak Pak Bento ya?"


"Iya. Ayah kenal sama Kinan?"


"Tidak. Aku tidak kenal dia. Ayah kenal sama Ayahnya Bento." jelas Ayah padaku.


"Aku jarang - jarang melihat anak ini di rumahnya." lanjut Ayah bicara.


"Aku biasa di kamar, Om." Kinan bicara ke Ayah.


Kinan berani bicara ke Ayah meski Kinan tidak kenal Ayah.


Aku tanya ke Kinan, karena aku pikir dia tidak berani untuk bicara dengan Ayah. Aku pikir Kinan masih takut untuk bicara ke orang lain.


Ayah mendekat ke arah Kinan.


"Kinan, sebenarnya apa yang terjadi padamu hingga kamu di marahi oleh Pak Bento?"


"Bukan hanya di marahi Ayah, tapi dia mau di pukuli oleh Pak Bento! Tadi aku lihat sendiri Kinan berlari di depan aku!" jelas ku ke Ayah.


Ayah diam saja.


"Kinan, coba kamu ceritakan ke Om."


Kinan diam tidak mau cerita. Kalau sudah begitu artinya Kinan tidak mau cerita.


"Biarkan Kinan diam Ayah. Kinan tidak mau cerita." ucapku lanjut.


Ayah pergi meninggalkan aku dan Kinan. Aku duduk di atas sofa, aku biarkan Kinan duduk di bawah. Tak lama Kinan minta pulang.


Aku bukakan pintu depan rumahku dan Kinan pulang sendiri. Aku sama sekali tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi. Kinan pergi begitu saja tanpa aku hiraukan dia.


"Luna?" Ayah memanggil aku.


"Kamu tidak tidur?"


"Tidak Ayah, Luna masih mau tetap di sini. Luna masih pengen main hp di sini Ayah!"


"Luna, ke sini Hp nya! Berikan sama Ayah! Kamu belajar saja!"


Ayah bersikeras menyuruh aku untuk belajar baca buku pengetahuan yang buat aku malas. Aku lebih suka buku cerita.


Aku terpaksa melepas hp itu untuk sementara waktu. Biar hp itu di pegang Ayah dulu, nanti aku bisa memintanya kembali.


Aku pergi ke dalam kamar tidur sambil mengambil buku di rak buku di rumah tamu. Aku lalu rebahan di kamar.


Tak terasa hari sudah menjelang malam. Suara adzan magrib terdengar di musolla dekat rumah.


Aku melihat Ayah siap-siap pergi ke Musolla untuk solat berjamaah.


"Ayah mau pergi ke Musolla?"


"Iya, Ayah tinggal dulu kamu sebentar." katanya padaku.


"Iya." aku menjawab.


Ayah pergi ke Musolla sendirian tanpa di temani oleh siapa pun. Aku masih menunggu Ayah untuk meminta hp aku setelah Ayah pulang dari Musolla.


Aku masih ingin solat magrib dan mengambil wudlu.


Saat akan melakukan solat magrib, aku mendengar ribut-ribut di luar. Aku mendengar teriakan suara Pak Bento. Aku juga mendengar suara Kinan berteriak.

__ADS_1


"Tidak Ayah, Kinan tidak mau solat! Kinan mau main game!"


Sayup-sayup aku dengar suara Kinan dari arah rumahnya. Aku teruskan untuk solat magrib.


Aku turun dari kamar tidur ku setelah selesai solat magrib. Aku tidak mendengar lagi suara Kinan.


Aku lalu melangkah ke arah ruang tamu untuk duduk sebentar. Aku mendengar ada suara yang menangis. Itu suara Kinan.


Aku membuka pintu rumah aku dan mencoba untuk melihat Kinan di luar.


Aku melihat Kinan meringkuk sambil menangis di luar rumahnya. Aku lalu pergi menghampiri Kinan di rumahnya.


Aku melangkahkan kaki ku ke rumah Kinan. Aku berjalan sendiri ke arah Kinan.


Suasana depan rumah Kinan gelap tanpa lampu penerangan. Pak Bento benar-benar pemalas. Paling tidak ada lampu yang terpasang di atas atap depan rumah itu.


"Kinan, kamu kenapa? Kamu menangis lagi?"


Kinan melihat aku dengan tatapan Nanar dan tidak suka.


"Untuk apa kamu ke mari!? Aku tidak memanggilmu ke mari!"


Kinan tidak suka aku datang, aku masih ingin tetap bersama Kinan.


"Kinan, aku ke sini karena aku ingin tau kamu kenapa?"


"Aku tidak apa-apa!"


"Kamu menangis?"


"Aku hanya ingat Ibu! Kamu tidak perlu tau itu!" Kinan menyentak aku.


"Ingat Ibu? Kamu tidak perlu bohong Kinan! Kamu habis di pukuli sama Pak Bento bukan!?"


Kinan diam, dia lalu masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rumahnya rapat-rapat. Aku lalu memilih pergi dari rumah itu dengan perasaan kesal.


Aku kembali melangkah masuk ke teras rumah dan melangkah untuk membuka pintu. Aku membuka pintu dan menutupnya kembali.


Aku melihat Ayah sedang duduk di kursi ruang tamu. Aku langsung bilang ke Ayah.


"Ayah, aku boleh minta hp ku?"


"Nanti saja sehabis isyak. Ayah masih ingin mengaji. Kamu ke kamar dulu."


Aku melangkah ke kamar dan duduk sambil berpikir. Kenapa Ayah menahan aku untuk pegang hp. Kenapa juga Kinan harus menangis seperti itu? Padahal Kinan sudah besar dan sudah beranjak dewasa.


Aku menghembuskan napas lesu. Aku membersihkan tempat tidur aku yang terlihat kotor. Tuhan, tolong aku. Buat aku bahagia di rumah ini.


Doaku dalam hati.


Aku lalu mencari buku untuk aku baca. Aku mengambil buku cerita Bumi milik Mas Tere Liye alias mas Darwis.


Cerita di dalamnya tentang petualangan dunia paralel. Aku membacanya sebentar dan mengikuti alurnya.


Aku suka sama tiga karakter tokoh yang ada di buku novel itu. Di situ ada Raib, Seli dan Ali. Mereka adalah tiga petarung klan bulan.


Adzan isyak terdengar, aku senang karena bentar lagi Ayah akan membagikan hp padaku.


Aku melihat Ayah dari balik pintu kamarnya yang di terbuka separuh. Aku melihat Ayah solat di dalam kamar. Ayah masih terlihat tampan dengan baju Koko putih, peci hitam dan sarung Cokelat kembang - kembang.


Aku bermimpi bisa mendapat kan laki-laki seperti Ayah nantinya. Aku akan bahagia kalau punya suami seperti Ayah. Tapi rencana itu nanti kalau aku sudah dewasa dan lulus kuliah.


Besok adalah hari Selasa. Ayah akan berangkat kerja lagi seperti biasa ke kantor Aliyas.


Tapi aku akan bilang ke Ayah untuk mendaftar kan aku sekolah besok. Aku ingin cepat masuk sekolah baru. Sekolah Negeri di kota.


Aku akan tunggu Ayah selesai solat.


Setelah melihat Ayah selesai solat di kamarnya, aku memanggil Ayah.


"Ayah!"


"Iya Luna! Sebentar Ayah ambilkan Hp-nya!"


Aku menunggu Ayah mengambil Hp aku di kamarnya. Aku tidak tau Ayah menyimpan hp aku di mana.


Ayah lalu memanggil aku. "Luna kemarin, ini ambil hp nya!"


Aku langsung masuk dan mengambil hp aku yang baterainya sudah tinggal setengah. Nanti aku akan mengecas baterai hp itu biar penuh.


Dan aku harus menunggu beberapa jam sampai baterai hp itu penuh.


"Terima kasih Ayah."


Aku balik ke kamar setelah menemui Ayah di depan kamarnya. Aku berpikir kenapa Kinan tidak mau berteman dengan aku. Padahal sekarang kan musim Handphone?


Paling tidak, Kinan mau berdua dengan aku sambil main game atau apa. Itu mimpiku bersama Kinan.


Bukan malah harus melihat Kinan menangis karena habis di pukuli oleh Pak Bento yang berdandan ala bajingan itu.


Aku berdiam diri di kamar sambil membuka aplikasi. Aku lalu iseng berjalan ke arah ruang tamu dan aku melihat pintu depan terbuka.


Saat aku akan menutup pintu itu, aku melihat Ayah sendirian sambil merokok.


"Ayah, Ayah merokok?"


"Iya sayang, kenapa?"


"Tidak apa. Cuma, Luna lama tidak lihat Ayah merokok."


Ayah tersenyum padaku. Ayah lalu menghisap rokoknya dan mengepulkan asap rokoknya ke luar lewat mulutnya.


Kebanyakan laki-laki suka merokok. Kadang sampai mulutnya terlihat hitam.


To Be Continue.

__ADS_1


[Maaf kalau ada Typo.]


__ADS_2