
Maya POV 🌙
Aku tidak mengerti kenapa perasaan Aldi ke aku berubah. Aku tidak mau jadi akal - akal - an Aldi. Aku tau kalau itu nafsu sesaat.
Aku lalu ada kabar baik, aku terima chat dari Pak Slamet kalau aku sudah bisa keluar dan bebas dari hukuman. Awalnya aku tidak percaya.
Aku lalu telepon Pak Slamet.
Maya
Pak, apa benar kabar itu Pak?
Slamet
Iya, benar. Kamu sudah bebas sekarang. Hukuman kamu di kurangi sebulan. Itu keputusan yang akurat. Selamat ya!
Maya
Makasih Pak! Aku senang sekali.
Aku senang bukan main, aku langsung sujud sukur dan bahagia. Aku seperti terbebas dari hukuman berat yang mendera aku. Aku akan beri tau Aldi kabar ini.
Seperti biasa aku mendengar suara musik di kamar Aldi. Aku lalu mengetok pintu kamar Aldi. Dia membuka pintu kamar.
"Iya, ada apa? Kebakaran lagi?"
"Tidak Aldi. Aku dapat kabar baik dari Pak Slamet. Coba lihat ini."
Aku kasih liat Aldi chat dari Pak Slamet. Aldi tersenyum. "Selamat ya!" Aldi balik ke kamarnya dan kembali menutup pintunya. Aku terdiam dan masih merasa sedih.
Hanya itu yang aku dapat dari Aldi. Tidak ada komentar lagi dari dia. Aldi orangnya cuek memang kalau di depan aku. Biar itu jadi catatan buat aku.
Aku memutuskan untuk keluar sebentar. Tapi aku kesulitan untuk pinjam motor ke Aldi. Dia memberikan kontak motonya. Aku pergi tanpa isi bensin karena tidak pegang uang.
Besok aku akan bekerja lagi di kantor Aliyas dan akan tasyakuran kecil-kecilan. Aku akan mengaji sebentar di makam Berta dan kasih tau dia kabar gembira ini.
Jari menjelang sore, aku sampai di makam Berta. Aku duduk sambil baca surat alfatihah untuk Berta. Aku lalu pergi setelah bercakap-cakap dengan Berta di makam. Sebenarnya aku ingin tasyakuran atas bebasnya hukuman aku ini tapi aku tidak punya uang.
Aku buatkan saja tidak usah pakai tasyakuran. Aku balik ke rumah Aldi dengan perasan tidak enak. Karena niat aku sebelumnya adalah tinggal di kost atau kontrakan.
Aldi menyapa aku saat aku datang.
"Maya, sudah pulang?"
"Iya."
"Pergi ke mana saja? Cepat banget."
"Aku cuma pergi ke makam Berta saja. Habis dari sana aku langsung pulang."
"Kamu tidak mau makan..?"
"Aku belum masak nasi. Aku takut kompornya terbakar lagi."
"Namanya juga kompor, ya pasti terbakar lah."
"Bukan begitu."
"Sudah, aku mengerti kok." Aldi pergi setelah berkata seperti itu di depan aku. Aku ingin berteriak tapi tidak bisa. Aku masih bersyukur atas apa yang aku dapat, semua ini berkat pak Slamet dan semua orang yang ada di rumah ini.
Aku akan menunggu Pak Doni yang masih belum pulang dari luar kota. Sekarang aku sudah berani untuk menyetel televisi. Aku melihat Aldi keluar dari arah kamarnya.
"Maya, siapa yang menyuruh kamu nonton televisi..?"
"Tidak ada." aku langsung mematikan televisi itu karena takut ke Aldi.
"Kok di matikan? Nyalakan saja! Aku suka kok." Aldi lalu menyalakan televisi itu lagi sambil meninggalkan aku ke dalam kamarnya. Aldi lalu menyetel musik dari arah kamarnya.
Aku lalu mengintip Aldi dari celah pintu kamarnya. Dia menelepon seseorang yang tidak aku tau. Perasaan aku sedikit tidak enak.
Aku mendapat telepon dari Kinan. Aku belum kasih tau kabar ke dia kalau aku sudah bebas.
Kinan
Maya, kamu sudah bebas ya?
^^^Maya^^^
^^^Tau dari mana?^^^
Kinan
Tadi aku melihat kamu baik motor di kota. Kebetulan aku keluar tadi.
^^^Maya^^^
^^^Iya, maaf. Aku baru bisa kasih tau kamu sekarang. ^^^
Kinan
Kamu selalu begitu sama aku. Tidak pernah menganggap aku ada.
^^^Maya^^^
__ADS_1
^^^Apaan sih Nan? Kamu masih ada kok di hati aku. ^^^
Kinan
Sedalam apa?
^^^Maya^^^
^^^Sedalam sumur.Wkwk. ^^^
Klik. Kinan menutup teleponnya buat aku tidak nyaman. Aku berharap Kinan masih mau menemani aku di chat itu.
Aku lupa mematikan televisi, televisi itu terus menyala lalu aku matikan. Suara musik di kamar Aldi sudah tidak terdengar lagi. Aku melihat Aldi keluar lalu melangkah mendekat padaku. Aldi datang padaku saat magrib.
Aku malah belum solat magrib. Masih siap-siap pergi ke kamar mandi.
"Maya.." Aldi datang padaku.
"Iya." jawabku.
"Aku ucapkan ke kamu selamat. Selamat kamu telah bebas dari hukuman. Aku senang mendengarnya. Semoga hal itu tidak buat kamu sombong atau berubah."
Aku menunduk saat Aldi mengatakan kalimat itu di depan aku sambil pegang dua lengan aku dengan kedua tangannya.
"Aku sudah solat sekarang. Aku akan pergi ke masjid untuk solat magrib. Kamu jaga rumah ini ya!"
"Iya."
Aldi pergi solat magrib ke Masjid jalan kaki. Tidak biasanya. Aku cepat-cepat solat magrib dan segera memasak nasi untuk Aldi buat makan malam.
Meski sedikit takut sama kompor dan gas di dapur, aku coba saja terus memasak sambil berdoa dalam hati.
Aku takut Aldi lapar. Tapi kalau malam Aldi biasanya makan di luar. Aldi datang dari masjid. Dia pergi ke kamarnya meski melihat aku duduk di kursi tengah dekat televisi.
Aldi tidak menyapa aku, dia diam saja. Aku bagai batu yang bodoh. Aku lalu mengetok pintu kamar Aldi.
"Aldi, nasi sudah masak. Kamu bisa makan di dapur kalau kamu mau." ucapku terbata.
"Aku makan nanti saja, belum lapar." balasnya padaku. Aku tersenyum. Aku lalu pergi ke kamar sambil mengaji sebentar. Lama aku tidak mengaji Al-Qur'an. Tak lama aku mendengar suara televisi menyala. Itu pasti Aldi sedang menonton televisi.
Aku melepas mukena aku dan melangkah keluar. Aku melihat seorang perempuan tengah menonton televisi di depan aku.
"Astaghfirullah..!!" aku kaget sekali. Aku roboh dan tergeletak di lantai. Setelah sadar, aku melihat Aldi duduk di sebelah aku sambil baca buku.
"Aldi. Itu kamu?"
"Maya, apa yang tadi kamu lihat? Itu adalah kekuasaan Allah! Kamu harus percaya itu!" kata laki-laki yang menyerupai Aldi itu dengan suara berat. Aku lalu berteriak kencang dengan tubuh tidak bisa di gerakkan.
Aku lalu berteriak minta tolong dan lampu kamar menyala terang. Aku melihat Aldi datang menyalakan lampu kamar.
"Barusan aku lihat laki-laki mirip kamu Al."
"Mirip aku, kamu bercanda? Mana ada? Kamu pasti berhalusinasi. Iya kan?"
"Istighfar Maya..!" lanjut Aldi.
Aldi pergi meninggalkan aku di kamar, aku langsung pindah ke kursi tengah dekat televisi. Tadi aku sempat melihat perempuan yang tidak aku kenal di sini. Tapi siapa?
Pintu kamar Aldi aku ketok. Aku mendengar Aldi sedang solat Isyak. Aku tunggu Aldi sampai selesai solat.
Aldi lalu membuka pintu kamarnya. Dia masih memakai sarung dan baju putih. "Ada apa Maya? Apa yang kamu lihat? Rumah ini memang angker belakangan ini. Kamu mengaji saja."
"Aku mau cerita ke kamu kalau aku tadi sempat melihat perempuan duduk di kursi ruangan ini. Aku tidak bohong Aldi."
"Iya aku percaya. Aku juga pernah mendengar mesin air di kamar mandi menyala tapi tak ada orang."
"Tapi siapa yang melakukannya?"
Aldi melangkah ke kursi lalu duduk menghadap aku. "Bisa jadi Berta atau mahluk lain penunggu rumah ini. Oh Iya, bentar lagi Ayah datang. Kamu siapkan air teh buat dia."
"Aku takut Al."
"Biar aku temenin."
Aku jalan bareng Aldi ke dapur yang masih gelap. Aldi menyalakan saklar lampu. Dapur terlihat terang.
Aku melangkah sambil menyalakan kompor. Akun mengambil air dan memasaknya di panci. Setelah masak aku menuangkannya ke gelas besar yang sudah terisi gula pasir dan teh celup. Pak Doni siap untuk meminumnya.
Tiba-tiba saja aku mendengar suara dari luar. Seperti pecahan kaca. Aku dan Also cepat-cepat pergi keluar melihat apa yang terjadi. Aku dan Aldi terdiam setelah melihat kaca jendela depan pecah. Aldi melihat keluar tapi tak ada siapa pun di situ.
"Maya, aku harus melapor polisi. Situasi tidak aman di sini." Aldi segera pergi ke kamarnya dan mengambil ponselnya. Aku masih menutup pintu depan dan lari ke ruang tengah.
Aku pergi ke dapur dan mengambil teh yang sudah aku buat tadi. Aku melihat ada bayangan berkelebat dari arah dapur. Bayangan hitam.
Aku cepat-cepat pergi ke ruang tengah sambil membawa teh panas. Aku tidak mendengar suara Aldi lagi di kamarnya. Aku memanggil Aldi tapi tak ada yang jawab.
Aku di bekap dari belakang dan tidak bisa napas. Aku sesak napas. Aku mendengar Aldi memanggil namaku.
"Maya, kamu masih sadar?"
Cetar! Gelas teh itu pecah seketika. Aku langsung menjatuhkan gelas itu saat aku lihat Aldi berdiri di depan aku. "Maya, apa yang kamu lakukan, gelasnya pecah, nanti Ayah marah." Aldi mengambil pecahan gelas itu. Perasaan aku tidak nyaman aku langsung pergi ke arah kamar.
Aku duduk sendiri sambil berpikir. Aku melihat kelebat Aldi dari balik pintu kamarku. Aku ingat mahluk itu pernah duduk di atas kasur ini. Aku segera keluar dan mendengar suara aneh dari arah kamar Aldi.
__ADS_1
"Maya!" suara Aldi membuat aku kaget. Dia memanggil aku dari belakang.
Aku berbalik ke arah Aldi. Aku masih tertegun dan tidak terkontrol.
"Maya, ada apa, tolong cerita. Aku ambilkan kamu minum dulu."
Aku menunggu Aldi mengambilkan air minum untuk aku. Aku mencoba untuk melangkah duduk. Also datang bawa minum. Air itu jadi warna merah seperti darah.
Aku langsung membuang gelas itu ke bawah. Gela situ pecah bersama air yang tumpah. "Maya, kamu kenapa?"
Aldi mencoba untuk buat aku sadar tapi aku masih suka berhalusinasi. Aldi lalu mengantar aku ke kamarnya dan bawa aku untuk istirahat. Aldi menyalakan lampu kamar dan meninggalkan aku di situ.
Seketika aku tersadar.
"Aldi, jangan pergi. Temani aku di sini."
Ali balik duduk di kasur tempat tidur aku sambil bernapas. Matanya melihat ke arah dinding kamarku.
"Maya, aku mau bilang. Kesehatan tubuh kamu sekarang agak terganggu. Aku akan bawa kamu ke dokter. Kamu periksa besok."
"Iya, aku akan periksa besok. Kamu temani aku ke dokter."
"Tentu." - "Maya, aku ijin dulu ke kamar. Kamu di sini dulu. Kalau ada apa-apa panggil aku!"
"Iya." ucapku lemah.
Aku masih rebahan di atas kasur, aku tidak melihat siapa-siapa lagi mungkin mahluk itu sudah pergi dan bosan untuk mengganggu aku. Aku bernapas lesu sambil melihat ke arah dinding kamarku.
Aldi datang dengan hp di tangan. Dia dusun di sebelah aku sambil chat.
"Aldi, kamu lagi apa?"
"Aku buka IG." jawabnya.
Aku biarkan saja Aldi menemani aku. Aku berpindah mengambil hp di atas meja kamar. Aku melihat foto Ayah di situ. Aku mendengar deru mobil dari arah samping rumah. Itu pasti Pak Doni.
"Ayah datang, kamu di sini dulu." Aldi pamit padaku. Tak lama kemudian Aldi datang bersama Pak Doni."
"Maya, kamu sehat..?"
"Pak Doni. Maafkan aku. Aku tidak seperti Maya yang dulu lagi. Ada mahluk aneh yang mengganggu aku." aku menangis di depan Pak Doni.
Laki-laki itu menoleh ke arah Aldi. "Ayah akan coba hubungi dokter, biar Maya di periksa." kata Pak Aldi sambil beranjak meninggalkan aku. Sekarang tinggal Aldi bersamaku.
Dia duduk di sebelah aku sambil diam. "Aldi, kamu bisa telepon Kinan..?"
"Bisa, mana hp kamu?"
Aku memberikan hp itu ke Aldi. Dia langsung menelepon Kinan. "Kinan bilang dia tidak bisa datang. Kamu yang sabar ya! Aku akan telepon Kinan lagi besok. Atau aku hubungi dia ke rumahnya kalau perlu."
"Boleh. Tapi kamu tidak repot?"
"Maya. Itu demi kamu. Aku tidak mau kamu sakit. Tenang saja."
Aldi cukup banyak membantu aku, Pak Dokter lalu datang bersama Pak Doni. Aku di periksa dan di beri obat. Aldo membawakan nasi untuk aku buat di makan.
Aku makan nasi dan telor goreng itu dengan lahap. Aldi melihatnya. Aku terus saja makan tanpa tau perasaan Aldi. Usai makan aku Aldi lalu memberi aku obat. Aku meminum obat itu dengan segelas air putih.
"Kamu istirahat dulu ya! Aku mau menemui Ayah dulu di depan. Aku mau bicara ke dia." Aldi pamit padaku. Aku menjawab,
"Iya."
Tak berapa lama Aldi membawakan buah apel dan meletakkannya di meja. "Kamu makan apel ini kalau kamu sudah ingin memakannya."
"Terima kasih Al."
"Iya. Ayah bilang kamu tidak perlu bekerja dulu. Tunggu sampai kamu sembuh."
"Iya."
Aldi mengambil satu buah apel lalu memakannya di depan aku. Aldi pergi meninggalkan aku.
Aku mencoba untuk memejamkan mata. Mencoba untuk menenangkan diriku. Aku melihat wajah Kinan. Mataku terbuka, aku pun tersadar.
Aku mendengar suara televisi menyala di ruang tengah. Ingatan aku langsung terganggu. Aku merasa pusing sedikit. Aku bangun dan melihat siapa yang duduk di kursi tengah.
Ternyata Aldi. Mataku mulai normal. Mahluk itu tidak menganggu aku lagi. Tapi setelah aku balik badan, aku melihat bayangan perempuan itu duduk di atas kasur tempat tidurku.
Aku berteriak sambil berlari ke arah Aldi. Aku memanggil nama Aldi dan memeluk dia. Aldi melepas pelukan aku dan bertanya.
"Maya ada apa?"
"Aku melihat mahluk itu di dalam kamar. Dia datang lagi!"
Aldi langsung pergi ke kamar aku dan menyalakan lampu kamar. Tidak ada siapa-siapa. Aldi menduga kalau aku punya indera ke enam. Aldi bilang padaku untuk berhati-hati.
"Maya, mulai saat ini kamu harus bersamaku terus. Kamu tidak bisa di tinggal sendirian. Mahluk itu akan terus meneror kamu.
"Duduk lah di sini bersamaku. Aku akan baca ayat kursi." Aldi mengambil tasbih di kamar lalu duduk sambil membaca ayat kursi.
Saat Aldi membacakan ayat kursi untukku, aku seakan ingin tertawa sendiri. Apakah mahluk itu merasuk ke tubuhku?
To Be Continue.
__ADS_1
[Maaf kalau ada Typo.]