Pertaruhan Cinta

Pertaruhan Cinta
Chapter 16 : Berteriak minta tolong


__ADS_3

Maya POV 🌙


Aku berteriak minta tolong saat api berkobar. Tak ada siapa pun yang dapat menolong aku. Ledakan itu terjadi begitu saja hingga buat aku terlempar jauh dan jatuh ke lantai.


Gas itu meledak.


"Tolong.. Aldi..!" aku berteriak tapi Aldi tak segera datang. Aku lalu berlari untuk mengambil air di kamar mandi. Aku takut sekali melihat nyala Api yang terus membesar.


Aku menyiram api itu dengan air yang aku ambil dengan memakai bak. Api itu terus saja menyala. Aku lalu pergi ke kamar Aldi sebelum api itu bertambah besar.


Aku lihat Aldi masih tertidur di dalam kamarnya. "Aldi bangun..! Dapur kebakaran!"


Aldi nyenyak sekali tidurnya. Aldi pasti pura-pura tidur dan tidak percaya padaku karena ulahku tadi.


Kau langsung lari dan Api itu bertambah besar. Aku lalu berteriak, "ALDI..! KEBAKARAN..!!"


Aldi membantu aku memadamkan nyala api itu hingga semua dinding dapur jadi hitam pekat. Aku tidak bisa di maafkan.


Aku lalu pergi ke kamar dan rebahan. Tembok itu harus di cat lagi dan barang - barang itu seperti kompor yang gosong harus segera di pindah ke gudang. Aku melakukannya sendiri tanpa bantuan Aldi.


Setelah beres semua, aku lalu duduk di kursi dapur. Aku berpikir kenapa Aldi tidak pernah respek ke aku saat aku sepi begini. Aku butuh seseorang untuk menenangkan aku yang sedang sedih.


Waktu berjalan begitu saja. Polisi datang untuk memberikan aku absen untuk di isi. Dua polisi itu melihat dapur dan menelepon temannya. Semoga saja tidak ada masalah. Polisi itu lalu memberikan pita kuning sebagai tanda di larang lewat.


Aku sedikit bercerita dan mengobrol dengan Pak Slamet. Setelah itu dua polisi itu pulang.


Aldi lalu aku lihat membawa air dan mengepel lantai. Aldi suka bekerja seperti aku. Apakah ini suatu pertanda?


Selesai perkara, aku duduk di dekat jendela sambil mengingat Kinan. Aku ingin tau kabar dia. Aku lalu menelepon Kinan untuk datang ke rumah aku.


Maya : Halo Kinan.


Kinan : Maya.


Maya : Kamu di mana?


Kinan : Aku di rumah.


Maya : Bisa kamu ke sini? Aku butuh teman.


Kinan : Ada Aldi.


Maya : Aldi sedang tidur.


Kinan : Oke.


Klik. Ponsel di tutup.


Sukur Kinan mau datang ke rumah. Aku akan mengajak dia ke dapur. Kinan pasti kaget. Aku melihat pintu pagar depan yang besar, Kinan belum datang. Pintu pagar itu masih sepi.


Aku lalu melangkah ke luar lewat jalan belakang. Aku melihat motor Aldi terparkir di garasi. Aku melangkah ke luar ke halaman depan. Aku melihat Kinan datang.


Aku langsung berlari ke arah Kinan.


"Kinan, masuklah kamu aku ijinkan masuk sekarang!" aku membuka pintu pagar tapi Kinan menolak tawaran aku. Dia minta aku bicara di depan pagar saja.


"Kita bicara di sini saja, lebih enak." lanjut Kinan sambil duduk di bawah. Aku lalu menemani dia duduk.


"Ada apa Maya, kamu rindu padaku?"


"Iya, aku rindu. Lama kita tidak jumpa. Pak Bento apa kabar?"


"Baik. Dia sehat. Apa ada pekerjaan buat aku?"


"Maaf, aku lupa. Aku lupa membicarakannya ke Pak Doni. Aku janji, nanti aku akan bicara ke Pak Doni.


Aku lalu meminta Kinan untuk mengajak aku keluar. Aku yang akan belikan dia bensin. Aku ingin melanggar aturan polisi dulu yang buat aku ingin keluar saja.


"Mau ke mana Maya, kamu tidak boleh keluar dari rumah ini. Kamu bisa ketahuan."


"Tapi Kinan, aku jenuh di dalam terus. Aldi tidak sebaik yang aku bayangkan. Dia selalu menelantarkan aku. Bagaimana kabar rumah kontrakan..?"


"Baik, di situ ada Luna."


"Siapa Luna. Pacar kamu?"


"Bukan, dia teman aku. Dia anak Pak Firman. Kamu pasti kenal."


"Tidak, aku tidak kenal Pak Firman. Dia karyawan baru. Luna cantik?"


"Cantik. Tapi, tidak bisa di jangkau. Luna suka menolak ajakan aku. Luna jadi temanku saja. Kalau kamu?"


"Aku..," aku masih berpikir apa yang harus aku katakan ke Kinan. "Aku sulit mengatakannya. Nanti saja." lanjut aku.


"Siang ini aku mau ke rumah teman aku."


"Siapa?"


"Rey. Aku kenal dia di kelab."

__ADS_1


"di kelab..?"


"Iya, semalam dia mengontak aku untuk datang ke rumahnya. Katanya penting."


"Oh."


"Kalau begitu kamu boleh pergi."


Kinan lalu pergi meninggalkan aku pagi itu. Aku balik ke rumah besar dan tidak jadi jalan keluar bareng Kinan.


Aku bosan di rumah. Aku lalu menyetel musik sebentar. Sambil sesekali aku melihat film di Chanel YouTube. Kadang aku live.


Tak lama Aldi keluar, dia pamit padaku katanya mau beli nasi bungkus di luar. Aku pesan satu ke Aldi. sepuluh menit Aldi datang dan memberikan bungkusan nasi itu padaku.


"Ini nasinya. Aku akan beli kompor gas lagi nanti kalau Ayah sudah datang."


"Iya, maafkan aku."


"Maaf, maaf terus. Tangan kamu itu tidak bagus! Bikin apes saja di rumah ini. Kamu lupa, kalau kamu habis bunuh Berta..?"


"Aldi, apa yang kamu bilang? Itu asli kecelakaan. Aku tidak bunuh Berta teman aku! Kamu penyebab semua itu bersama Pak Doni! Kalau Pak Doni tidak menyuruh Berta menemui kamu, kecelakaan itu tidak akan terjadi!"


Aku jelaskan semua ke Aldi. Sudah lama aku mau nikah ini semua. Termasuk nasib aku saat ini. Jadi tahanan rumah.


"Kecewa aku sama kamu!"


"Silahkan! Kamu juga bukan laki-laki baik seperti yang aku bayangkan! Kamu sombong Aldi!" aku melempar nasi itu ke lantai. Aldi menampar aku.


Aku lari ke kamar dan menangis. Baru kali ini Aldi berani menampar aku. Aku sudah memaafkannya. Perut aku masih lapar, aku menyesal telah buang nasi bungkus itu.


Aku lalu bawa tidur saja karena aku tidak bisa masak di dapur lagi. Kompir gas nya sudah rusak. Waktu Dzuhur lewat, aku bangun dari tidur aku. Aku merasa malu telah lama tinggal di rumah besar itu.


Sudah berjalan kurang lebih dua bulan aku di situ. Sebulan lagi aku akan bekerja di kantor, dan bebas dari tanggung jawab polisi. Aku akan pindah ke kontrakan. Aku akan ijin ke Pak Rudi dan ingin meminjam uang ke dia dulu. Nanti aku bayar setelah dapat gaji dari kantor.


Aku siap-siap untuk solat dzuhur. Aku lihat kamar mandi tengah tertutup rapat. Aku tidak akan menebak kalau itu Aldi. Tidak biasanya. Aku coba tunggu sampai pintu itu terbuka.


Aldi keluar dari kamar itu dan lewat di depan aku begitu saja. Aku terus saja masuk ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Aku solat dzuhur dengan khusyuk.


Saat aku turun, Aldi datang padaku dan minta maaf. "Minta maaf untuk apa? Kan aku yang salah?"


"Tadi aku kasar padamu. Aku tidak akan menyakiti kamu lagi. Aku janji." ucapnya padaku.


"Santai saja, aku sudah memaafkan kamu." jawabku ke Aldi. Aldi pergi ke kamarnya. Aku bersyukur dalam hati.


Tak berapa lama Aldi datang beli kompor baru dan tabung gas. Tapi temboknya masih hitam. Aldi langsung beli cat dan menyuruh tukang cat untuk mengecat tembok itu. Sekarang dapur itu kembali seperti semula. Pak Doni juga belum datang.


"Pak Doni lama ya pulangnya? Aneh."


Aku tidak berani memasak lagi sejak kebakaran itu. Aku akan menyuruh Aldi untuk masak sendiri. Biar aku yang menemani dia memasak di dapur.


Pak Doni tidak pulang selama tiga hari, katanya dia pergi ke luar kota. Aku lebih leluasa di rumah itu.


...***...


Malam pun kian larut. Aku mengintip Aldi dari celah pintu kamarnya. Aldi tau itu aku.


"Maya itu kamu? Masuk saja tidak usah malu." aku masuk ke kamar Aldi pertama kali. Aku melihat beberapa foto artis terpajang di dinding kamarnya.


"Kamu suka koleksi foto artis luar negeri ya?"


"Iya. Aku suka tapi tidak begitu. Itu cuma buat iseng saja."


"Boleh aku duduk..?" kataku ke Aldi.


"Duduklah. Aku punya majalah kamu suka?"


"Boleh."


Aldi memberikan aku satu majalah itu lalu aku baca. Aku tidak melihat Aldi saat aku baca majalah. Aku mencium bau asap rokok. Aldi merokok sambil memandang ke arah jendela.


"Kamu tidak mau menikah..?"


"Aku belum siap. Aku masih ingin bekerja. Aku belum siap menerima orang baru di hidup aku, apalagi aku akan hidup bersama dia. Prosesnya pasti lama."


"Kenapa begitu?"


"Karena aku harus kenal dia dulu sebelum dia masuk ke dalam hidupku."


"Kalau aku..?"


"Maksud kamu?"


Aldo lalu mendekat padaku. Wajahnya hanya beberapa senti saja dari arah mukaku. Aldi lalu mendekatkan bibirnya ke arah bibirku, Aldi berhasil mencium aku.


Aku merasa salah tingkah di buatnya. Aku lalu keluar dari kamarnya. "Maya, kamu ke mana?"


"Maaf, aku harus pergi!" jawabku sambil berjalan ke kamar. Aldi berjalan dan merengkuh lenganku.


"Maya, apakah selama ini kamu tidak merasa?"

__ADS_1


"Aldi, tolong jangan goda aku lagi! Aku tidak kuat menahan imanku!" ucapku ke Aldi.


Aldi diam. Aku masuk ke kamar dan duduk sambil berpikir. Apa yang akan terjadi kalau Aldi berubah.


...***...


PAGI menjelang, Pak Doni datang pukul tujuh. Dia istirahat di kamarnya. Aku tidak berani menemui dia. Aku ingin bicara ke Pak Doni perihal Kinan yang butuh kerja.


Aku menemui Pak Doni setelah dia selesai mandi. Aku bicara di ruang tamu. Pak Doni bilang kalau dia tidak bisa menerima Kinan di kantornya karena Kinan tidak punya ijazah.


Tapi Pak Rudi bilang akan carikan kerjaan buat Kinan. Aku langsung kasih kabar ke Kinan, dia senang mendengarnya. Setelah tiga hari, Pak Doni kasih kabar kalau Kinan boleh bekerja di kelab.


Temannya ada yang punya kelab dan mau menerima Kinan. Kinan mau menerima pekerjaan itu. Dia bisa bekerja pada saat sore dan pulang subuh.


Aku masih ingat saat aku bicara ke Kinan di depan pagar depan rumah Pak Doni.


"Aku akan cari kerjaan yang layak buat kamu!"


"Maksud kamu apa!"


"Maksud aku, aku akan berusaha untuk kamu selama aku mampu. Tapi tidak jamin kamu bisa bahagia bersamaku."


Kinan menyulut rokoknya.


"Maya, aku bisa bahagia hidup di rumah. Tanpa bantuan orang lain. Aku cuma iseng saja."


"Kinan, hanya itu yang aku bisa."


"Aku tidak mungkin menolak tawaran kamu, tapi aku ingin yang lebih baik dari itu. Bukan sekedar pekerjaan rendahan."


"Pekerjaan itu mulia sifatnya Kinan. Kamu akan tau kalau kamu sudah mengalaminya."


Kinan menyesap rokoknya dan mengepulkan nya. Aku lihat bibir Kinan merah kehitaman. Kinan adalah laki-laki lembut yang aku kenal.


Aldi POV 🌙


Mataku langsung terbuka setelah aku mendengar suara Maya yang berteriak di belakang. Aku berlari dan melihat kobaran api yang sangat besar di lemari dapur.


Aku mengambil air dan menyiramnya. Maya juga ikut mengambil air di kamar mandi. Aku menyalakan mesin kran air dan berkali-kali memadamkan nyala api itu. Setelah padam, aku berdiri di tepi dinding lalu duduk di bawah.


"Maya, apa yang terjadi? Kamu selalu saja buat ulah. Aku bisa usir kamu dari sini kalau aku mau."


Aku melihat Maya yang masih tertunduk di depan aku. "Maafkan aku Aldi. Aku tadi ingin buatkan kopi buat kamu. Tapi kompor itu tidak mau menyala dengan benar. Aku lalu mengecek gas dan memutar kran. Aku membalikkan kompor gas itu lalu menyalakannya."


"Lain kali kamu bilang aku dulu. Kalau begini apa jadinya. Ayah pasti marah nanti." Aku lalu pergi ke kamar meninggalkan Maya.


Kinan POV 🌙


Aku sedang menyetir di atas sepeda motor. Aku melewati pohon-pohon yang rindang dan berhawa sejuk. Perjalanan 34 km menuju rumah Rey.


Aku sampai di rumah Rey. Dia ada di rumahnya. Rey sudah menunggu aku di depan rumahnya.


"Kinan?"


"Iya."


"Yuk!"


Rey menyuruh aku masuk dan mengajak aku ke taman. Kinan mengecek bunga di taman itu.


"Maaf, kalau boleh tau apa maksud kamu menyuruh aku ke sini?"


"Ehm, aku ingin berkenalan itu saja."


"Maaf Rey, kalau hanya itu, mending aku pergi saja. Kamu bisa cari teman di aplikasi." ucapku sambil berjalan pergi.


"Kinan tunggu! Aku akan membayar kamu dengan pekerjaan ini." Rey menahan aku dan aku mulai tertahan.


Rey mengajak aku untuk bermain mesum di dalam kamarnya. Dia berani bayar aku lima ratus ribu untuk sekali main.


Rey membuka baunya dan mulai membuka resleting celanaku. Aku kak CD warna biru. Kinan membuka CD itu dan mulai menghisap alat vital milikku yang sudah tegang dari tadi.


Mulut Kinan mulai masuk dan mulai menjilat. Aku melihatnya melakukan itu. Kinan mulai mengocok dan aku mendesah.


Tidak terlalu panjang.


Rey mulai mencium bibir aku dan **********. Hidung dan bibirnya terasa menempel di hidungku dan bibirku. Bau napasnya terasa hangat di hidung.


Aku membuka bajuku agar Rey bisa leluasa mencium tubuhku yang terlihat kurus. Rey memasukkan mulutnya lagi ke alat vital itu. Aku merasakan nikmat dan hangat.


Rey meraba ***** dan menciumnya. Aku merebahkan Rey dalam posisi terlentang dan memasukkan ***** itu ke lobang surgawi milik Rey.


Rey menggeliat saat aku masukkan alat vital milikku. Aku memberikan pelicin dan mulai menekannya masuk ke dalam.


"Ahhhhhh...! Rey mendesah. Aku merasa hangat seketika. Permainan itu berlangsung selama satu jam. Aku mulai *******.


Ahhhhh....


To Be Continue.

__ADS_1


[Maaf kalau ada Typo.]


__ADS_2