Pertaruhan Cinta

Pertaruhan Cinta
Chapter 15 : Jujur masih penasaran


__ADS_3

Aldi POV 🌙


Jujur aku masih penasaran Ama Kunti itu. Tapi aku tidak terlalu mengurus dia karena dia cuma hantu yang penasaran sama aku.


Aku sampai sekarang masih penasaran sama Rey yang tidak lama aku kenal di bar. Aku tidak banyak tanya ke Rey profil dia. Itu masalahnya.


Aku tertidur di kamar dengan tanpa pakai baju. Aku sengaja tidak pakai baju biar aura manly aku ada. Dan terasa olehku. Oh Tuhan, terima kasih telah menciptakan aku di bumi.


Aku sama sekali masih belum bisa apa-apa. Adzan subuh aku masih tertidur. Aku mengintip keluar. Tidak ada suara siapa-siapa.


Aku merasa gerah dan ingin mandi. Saat akan pergi ke kamar mandi untuk cuci muka, aku melihat kamar mandi sebelah sedang di tutup. Itu pasti Maya yang akan melaksanakan solat subuh.


Aku Cuci muka dan coba untuk ambil wudlu. Aku akan belajar solat seperti Maya. Aku baca bismillah, aku cuci muka aku sambil baca niat wudlu.


Nawaitul Wudlu'a Lirof'il hadatsil Ashghori fardol Lillahi Ta'ala.


Aku dengan tertib mencuci semua anggota wudlu. Aku keluar dalam keadaan suci tapi aku tidak mandi karena malas.


Harusnya aku mandi dulu. Aku mulai solat subuh di kamar. Setelah itu aku mencoba untuk mengaji Al-Qur'an yang aku simpan di dalam lemari aku.


Aku beragama Islam tapi tidak taat seperti yang lain. Dulu Ibu suka membangunkan aku untuk solat saat aku tertidur. Aku kangen Ibu.


Teng. Teng. Teng.


Suara jam dinding di rumah menyadarkan aku. Astaghfirullah, aku jadi tersadar. Aku akan mencari Maya di kamarnya. Tapi, setelah aku mendekat ke depan pintu kamar, kamar itu terkunci rapat.


Aku tidak dapat menemui Maya dengan leluasa. Maya bukan muhrim aku. Tapi, aku sempat berpikir, kenapa Maya tidak di suruh pulang saja ke kampung halamannya. Aku tidak mau terusik oleh perempuan itu.


Tapi, hal itu tidak bisa karena Maya masih tahan rumah. Dan Ayah yang bertanggung jawab. Besok aku akan pergi menemui Ibu. Aku akan coba untuk tinggal di butiknya ibu untuk sementara.


Pagi menjelang, aku langsung naik motor dan pergi ke daerah sekitar Bekasi tempat Ibu membuka butik.


Aku masih menunggu beberapa menit sebelum butik Ibu buka. Karena butik Ibu buka pada jam 08.00wib.


Seperti biasa ada beberapa karyawan Ibu di situ. Tapi aku tidak kenal mereka. Kurang lebih tiga karyawan di situ. Kenapa aku tau, karena dulu aku pernah ke butiknya itu sebentar.


Dulu Ibu sempat punya hutang ke Bapak. Ibu mengambil uang kantor sebanyak seratus juta tanpa sepengetahuan Ayah. Ayah menuduh aku yang mengambil uang itu. Tapi akhirnya Ibu mengaku dan minta cerai.


Ayah langsung menceraikan Ibu dan menghilangkan uang itu ke Ibu. Ibu sempat menangis karena Ayah masih perhitungan sama Ibu. Tapi itu adalah uang kantor yang tak bisa di buat Lunas.


Itu buat keuangan kantor dan uang gaji karyawan yang ada di situ. Ibu tidak boleh seenaknya atau sembarangan mengambil uang kantor. Ayah tidak mengijinkan aku untuk ikut Ibu karena aku harus selalu dan Kuliah. Sejak itulah aku pisah sama Ibu dan tinggal sama Ayah.


Saat sekolah SMA, Ibu sempat minta uang padaku. Katanya suruh minta ke Ayah, siapa tau Ayah mau ngasih. Padahal waktu itu hutang Ibu masih belum lunas ke Ayah.


Aku tidak dapat menolong Ibu. Aku hanya bisa pasrah dan diam. Aku pun tersadar dan melihat sekitar. Aku melihat air mancur yang jernih di tengah jalan. Namanya bundaran Glazer.


Aku lalu menyetir sepeda motor aku untuk pergi ke butik ibu. Aku permisi masuk dan Ibu tidak ada di situ.


"Eh, Dek Aldi yang datang. Mari masuk..!"


Itu adalah suara Juleha. Karyawan Ibu yang mirip perempuan. Juleha terlihat lucu di depan aku. Aku suka sekali sama Juleha yang buat aku tersenyum atau tertawa di buatnya.


Bang Jul atau Juleha langsung menarik tangan aku untuk duduk di sofa dekat jendela. Aku ikut duduk bareng Bang Jul.


"Ada apa Aldi, kamu cari Ibumu..?"


"Iya, Ibu mana..?"


"Ibu Sulastri biasanya datang nanti pukul sepuluhan gitu. Kamu mau tunggu dia, atau biar aku telepon dia sekarang..?"


"Jangan! Biar aku tunggu saja di sini, sampai Ibu datang." jawabku ke Bang Jul.


Bang Jul lalu ijin bentar ke aku. Aku masih duduk di sofa dengan bersedih hati. Entahlah, perasaan ini tidak dapat aku tutupi karena nasib Ibu tidak seperti Ayahku yang punya kantor megah di kota.


Aku melihat mobil sedan hitam datang, aku tetap menunggu di sofa. Itu Ibu. Ibu turun dari mobil dan bawa tas, tas bagus, pakai kacamata lagi. Aku jadi malu.


Aku ingin sembunyi, tapi sembunyi di mana?


"Tuh! Ibu kamu datang!" kata Bang Jul ke aku. Bang Jul lalu menyambut kedatangan Ibu.


"Assalamu'alaikum Ibu.." Bang Jul menyapa Ibu dengan salam. Aku bersembunyi di balik pintu.


"Ada Dek Aldi di dalam. Kejutan." lanjut Bang Jul.


"Apa, Aldi? Ngapain anak itu ke mari? Mau minta uang dia!?"


Hati aku tersentak dan merasa jengkel sekali ke Ibu. Bisa-bisanya dia bilang begitu ke aku? Padahal aku ini anaknya. Anak semata wayangnya.


"Ke mana Aldi sekarang..?"

__ADS_1


"Aldi..! Kamu ke mana sayang..!?" Bang Jul memanggil aku yang sedang bersembunyi. Aku mulai menundukkan muka aku dan langsung menghadap Ibu.


Aku duduk bersimpuh di bawah telapak Kaki Ibu dan minta maaf. "Maafkan aku Ibu, aku minta maaf. Aku telah sama Ibu. Maafkan aku Ibu!"


"Bangunlah! Ibu cuma emosi. Kamu tetap anak Ibu. Tapi rasa kesal ke Ayahmu masih tetap sampai sekarang. Ibu tidak dapat memaafkan Ayahmu. Ibu masih marah ke dia."


"Iya Ibu. Aku mencoba untuk paham." ucapku ke Ibu sambil menunduk kan muka.


"Juleha, kamu ambilkan minum Aldi."


"Baik Bu." jawab Bang Jul.


"Kamu dudu dulu, bentar lagi Yoga datang. Kau takut dia cari masalah setelah kamu datang."


"Mas Yoga tidak suka aku di sini?"


"Kamu tenang saja, dia tidak akan masuk. Biasanya dia menunggu di luar."


Ibu mengecek layar ponselnya. Aku penasaran ingin bertemu Mas Yoga. Umur Ibu sama Mas Yoga selisih 10th. Ibu sekarang umur 40th, mas Yoga 30th.


"Ibu, kedatangan aku ke sini karena aku kangen saja sama ibu." jelas ku ke Ibu sambil terus duduk di atas sofa.


"Aku sibuk Al, kamu tau kan kerjaan Ibu di sini? Ibu harus kirim pesanan ke pelanggan - pelanggan Ibu dengan mode pakaian mereka. Kamu tidak akan mengerti." Ibu sedikit kesal mengucapkannya di depan aku.


"Ada salam dari Bapakmu?"


"Tidak ada Ibu. Bapak masih sama suka bekerja di kantor." lanjut ku.


"Alhamdulilah. Ibu juga. Kamu lihat kan butik Ibu sekarang..? Awalnya Ibu pesimis tapi setelah Ibu tekuni pekerjaan ini ternyata dapat hasil." Ibu tersenyum saat mengucapkannya.


"Syukurlah Ibu. Aku akan berdoa untuk Ibu."


"Oh Iya, Ibu kenal sama Maya bukan..? Katanya Ibu pernah ke rumah dan bertemu Maya, betul begitu Ibu..?"


Aku ingin tau jawaban Ibu karena Maya adalah orang baik yang ada di rumah selain aku dan Ayah.


"Iya, Ibu bertemu perempuan itu. Kemarin di rumah kamu. Ibu minta buatkan minuman ke dia? Ayahmu sempat cerita sedikit ke Ibu. Ibu cuma bisa menerima saja. Meski sebenarnya Ibu tidak begitu setuju.


"Bagaimana sikap dia di rumah?"


"Baik. Dia rajin bekerja meski sedikit buat aku kesal. Dia cantik ya Bu?"


"Kenapa tanya seperti itu? Semua perempuan itu cantik. Tak terkecuali dia. Tapi dia lebih tua dari kamu."


"Ya Ampun! Kirain kamu sudah tau! Selama ini kamu ngapain saja di rumah..?"


"Kau kerja di kantor. Aku pulang sore, buat aku tidak betah berlama-lama di kantor. Aku ingin pindah."


"Sudah Aldi tidak perlu. Ayahmu butuh wakil, butuh pembantu. Kamu tidak kasihan sama Ayahmu? Harusnya kamu bersyukur punya Ayah seperti Doni. Orangnya baik juga.


"Kangen Ibu ke dia? Ayahmu baik-baik saja bukan..? Ibu juga kangen sama kamu tapi Ibu tahan. Biar Ayahmu saja yang melihat pertumbuhan kamu setiap harinya.


"Ibu sudah mengikhlaskan kamu dari dulu, dari kamu masih kecil. Kamu masih ingat bukan, saat Ayah kamu bawa kamu jalan-jalan keluar. Hati Ibu Iba ke kamu, tapi Ibu biarkan.


"Ibu bawa rasa sedih itu sambil memasak di dapur. Atau kadang Ibu bawa nonton televisi sampai Ayahmu datang dan langsung masuk ke kamarnya. Sedang Ibu langsung senang melihat kamu pegang es krim.


"Kamu masih ingat itu kan Aldi..?"


"Maaf, aku sudah lupa Bu."


"Ya tidak apa-apa. Yang penting kamu sehat sekarang. Juleha lama sekali sih?"


Ibu lalu pergi ke belakang sambil melihat Bang Jul di dapur. Aku melihat satu perempuan sedang menjahit pakaian.


Juleha datang membawa air teh keluar dengan memakai nampan.


"Maaf Dik Aldi, Bang Jul masih beli gas di luar. Gasnya habis." katanya padaku.


"Maafkan Aldi bang Jul sudah merepotkan." ucapku ke Bang Jul.


Aku melihat Bang Jul meletakkan teh itu di atas meja. Aku lanjut tanya ke Bang Jul. "Ibu ke mana Bang..?"


"Dia masih ke belakang, ke suaminya. Kasihan di tinggal sendiri!"


"Kenapa tidak di suruh masuk saja!"


"Terserah orangnya. Abang tidak pernah nyuruh Pak Yoga untuk masuk ke sini. Gengsi paling orangnya. Kan ada Juleha di sini! Pasti bikin dia salting, eh gimana..?" Hehehe.


Aku tersenyum rapih di depan Bang Jul. Secara tidak sengaja hati aku telah terbelah menjadi dua. Hatiku masih terus berdoa agar Ibu dan Bapak bisa kaur lagi dan bisa bersatu lagi.

__ADS_1


Aku tidak berharap Ibu terus lanjut sama Pria itu. "Dik Yoga, kamu tidak kuliah..?" Bang Jul menyela.


"Aku sudah lulus Bang Jul."


"Kapan lulusnya..?"


"Tahun kemarin. Kenapa?"


"Tidak, cuma nanya aja."


"Emang Bang Jul pernah kuliah apa?"


"Iya, kuliah subuh.." Hahaha. Bang Jul tertawa sendiri. Aku senyum melihatnya. Aku lalu berpindah keluar dan melihat Ibu sedang bicara sama Mas Yoga di depan mobilnya itu.


"Aldi!" Ibu memanggil aku. Aku lalu jalan menghampiri Ibu. Setelah sampai aku langsung bersalaman sama Mas Yoga. Laki-laki itu lalu merogoh sakunya dan kasih uang ke aku.


"Ini buat kamu." katanya.


"Makasih Mas." ucapku ke Mas Yoga sambil memegang uang itu.


"Panggil Om saja."


"Iya, Om."


"Ngapain kamu ngasih uang ke Aldi. Dia punya kerjaan loh! Kasihan kamu nya!" lanjut Ibu ke Om Yoga.


"Kalau Ibu tidak suka, Om boleh ambil uang ini kembali."


"Tidak perlu! Itu uang buat kamu, buat beli bensin." katanya padaku. Ok Yoga lalu merajuk ke Ibu.


"Sudahlah Sulastri, anak kamu anak aku juga."


Aku terperangah mendengar kalimat yang keluar dari mulut Om Yoga. "Jadi, Om Yoga kasih uang ini biar aku bisa jadi anaknya Om Yoga!"


Aku langsung buang uang itu di depan Om Yoga. "Ambil ini! Aku tidak butuh uang Om Yoga! Aku masih bisa bekerja! Sampai kapan pun, aku tidak bisa jadi anak Om!" ucapku marah.


Om Yoga langsung mengambil uang itu di depan aku. Aku langsung minta maaf ke Om Yoga. "Maafkan aku Om." aku menunduk di depan Om Yoga.


"Om kecewa sama kamu. Sulastri, aku tinggal pergi dulu." Om Yoga pamit.


"Kamu mau ke mana? Maafkan kesalahan Aldi ya! Dia masih anak-anak."


"Santai saja. Aku mau beli rokok di luar."


"Ya udah, nanti balik lagi ke sini ya!"


"Iya." Bang Yoga menutup pintu mobilnya dan keluar dari halaman itu. Mataku melihat ke luar, ke arah toko.


"Masuk Al!"


"Aku permisi Bu. Maaf aku tidak bisa lama." aku pamit ke Ibu.


"Hati-hati ya! Salam ke pembantu itu!"


"Iya!"


Pembantu itu adalah istilah lain dari nama Maya. Aku pergi dengan motorku balik ke rumah. Di tengah jalan, aku melihat mobil Mas Yoga masuk ke kafe.


Sampailah aku di rumah. Aku melepas helm dan menuju ke belakang. Aku tidak melihat Maya di dalam. Aku coba panggil dia.


"Maya..!" aku memanggil Maya sambil mencari dia di dapur. Maya tidak ada di dapur. Aku lalu cari Maya di kamar mandi, dan Maya aku temukan tidak sadarkan diri.


Aku langsung membawa Maya ke kamarnya. Aku kasih dia minyak angin dan mengoleskan minyak telon di beberapa bagian tubuhnya.


"Aldi." Maya sadar.


"Iya, Maya. Kamu tadi jatuh di kamar mandi."


Hehehe. Maya tertawa di depan aku. Hehehe. Maya tertawa lagi. Maya pasti bercanda. "Kamu ngerjain aku ya!"


"Aldi.. Aldi. Polos banget kamu? Aku tidak mungkin sampai pingsan kalau cuma kerja di dapur. Hehehe." lagi - lagi Maya tertawa di depan aku tanpa tau kalau aku kesal sekali ke dia.


Pipi aku langsung memerah dan mulai marah. "Jadi kamu ngerjain aku? Dalam rangka apa?"


Hehehe. Maya tertawa lagi. "Maaf, kali ini aku salah. Aku cuma pengen ngerjain kamu saja. Soalnya kamu lama pulangnya. Tadi Pak Doni nanyain kamu ke aku. Kamu habis pergi dari mana..?"


"Aku habis ketemu sama Ibu di butik. Kamu bisa bilang ke Ayah nanti. Aku mau ke kamar dulu. Lain kali jangan begitu! Dasar!"


Hehehe. Maya tertawa lagi. Aku seperti di bego-in oleh Maya. Setelah di kamar aku senyum sendiri. Membayangkan Maha tergeletak pura-pura tidak sadar di depan aku.

__ADS_1


To be continue.


[Maaf kalau ada Typo.]


__ADS_2