
Luna POV 🌙
Aku masih takut untuk masuk ke kamar Ayahku Firman. Aku mengintip dari balik kamar rumahnya.
Aku lihat Ayah Firman sudah tidur sehabis solat Isyak. Aku tidak berani mengganggu ayahku saat tidur.
Aku belajar dengan buku - buku yang ada di rak buku di lemari aku. Ada juga yang di ruang tengah. Tapi tidak banyak. Aku tidak suka koleksi buku. Aku lebih suka menabung di bank.
Uang tabungan aku sudah lima juta lebih. Ayahku bilang, itu buat kuliah aku nanti. Aku setuju saja buat menambah ilmu dan derajat yang tinggi.
pukul sembilan malam aku masih belum tidur. Aku masih berpikir Kinan yang tidak aku temui.
Aku tertidur di kamar tak berapa lama. Aku tidak pernah tau aku mimpi apa. Aku bangun pagi saat adzan solat subuh. Aku solat subuh. Ayahku sudah solat dari tadi.
Ayahku kadang solat tahajjud, solat tengah malam. Aku tidak biasa solat tahajjud. Hanya Ayah yang bisa. Sifat pemalas aku sangat aku tekuni.
Ibuku dulu pernah bilang, andai aku ada di pesantren mungkin aku tidak akan seperti ini. Kadang aku tertawa sendiri mungkin ini sudah bawaan dari lahir.
Aku lupa kalau aku punya niat mau daftar sekolah sekarang. Tepatnya hari Selasa setelah menunggu Ayah semalaman.
Ayah rupanya telah siap-siap untuk pergi ke kantor Aliyas pagi-pagi. Aku langsung ke Ayah dan bilang.
"Ayah, bisakah Ayah mendaftarkan aku sekolah sekarang?" .
"Tidak bisa, aku mau minta ijin nanti ke Pak Doni untuk libur besok. Kamu tenang dulu. Besok kita pasti daftar di sekolah baru di kota."
Aku diam dan menerima tanpa berkata apa pun. "Ayah sudah mau berangkat kerja..?"
"Iya, kamu jaga rumah baik-baik.,," aku diam tidak menjawab. Hanya mengiyakan di hati saja. Aku sedikit kecewa karena harus menunggu besok.
Tiba-tiba aku mendengar pintu di ketok dari luar. Aku menyangka itu adalah Kinan. Ternyata benar dugaan aku. Kinan datang padaku dan tersenyum.
"Main Yuk!" Kinan mengajak aku bermain.
"Ke mana?" tanyaku balik.
"Ke Sungai.." ucapnya senang.
"Sungai..?" aku balik tanya ke Kinan.
"Baiklah, tapi.." aku jadi ragu. Apa ayahku akan mengijinkan aku untuk pergi ke sungai? Aku takut untuk ijin ke ayahku.
Aki cari akal. Aku akan ijin ke ayah dengan alasan bermain bersama Kinan. Kinan masih menunggu aku di depan rumah, di depan pintu utama.
"Sebentar ya!" aku ijin ke Kinan untuk masuk dulu ke dalam kamar Ayahku.
Aku lalu melihat Ayah tidak ada di kamar. Ayah aku cari ke belakang, dia ada di dapur sambil memasak air panas. Aku tau kalau Ayah mau buat kopi.
"Ayah, boleh kah aku ijin bermain bersama Kinan..?"
"Mau ke mana kamu? Ayah tidak Ijin kan kamu. Kamu tidak boleh nakal. Kamu harus tetap di rumah!"
"Tolonglah Ayah! Sekali.. saja. Kinan hanya kali ini mengajak aku bermain. Tolonglah Ayah... kasihan Kinan!"
Kau memohon ke ayahku. Ayah lalu mengijinkan aku.
"Baiklah kamu boleh bermain sama Kinan tapi tidak boleh lama. Ayah kasih waktu kamu setengah jam, sebelum Ayah berangkat ke kantor."
Jam dinding menunjukkan pukul 06.30. Setengah jam lagi Ayah akan berangkat ke kantor.
"Baiklah Ayah, aku pergi dulu!" aku langsung terburu-buru keluar dengan melewati kamar mandi yang setengah licin. Kaki aku yang kena basahan air tadi jadi licin untuk melangkah di lantai rumahku.
Aku terpeleset dan jatuh. "Aw....!" aku berteriak dan jatuh di dasar lantai. Kinan melihat aku terjatuh, dia malah tertawa. Kaki aku keseleo tapi aku berusaha untuk bangun.
Aku menghampiri Kinan dan cepat - cepat menyuruh Kinan pergi ke luar.
"Yuk!"
"Kaki kamu tidak sakit?"
"Tidak, hanya nyeri sedikit."
"Nanti biar aku cuci kaki kamu di sungai."
"Buat apa?"
"Biar sakitnya hilang." kata Kinan padaku.
Aku mengiyakan dalam hati. Berharap harapan Kinan terkabul nantinya. Tapi jujur, sakit aku tidak parah.
"Sungainya jauh Nan..?"
"Lumayan."
Aku lalu berhenti melangkah. Kinan terus berjalan di depanku.
"Kinan tunggu! Aku tidak bisa ikut kamu!"
"Kenapa?"
"Aku tidak mengijinkan aku untuk lama-lama bermain dengan kamu. Waktu aku cuma setengah jam. Aku tidak bisa ikut kamu ke sungai. Nanti Ayah bisa marah padaku!"
"Kamu tenang saja, aku bisa membelamu nanti."
"Bukan maslaah itu. Aku tidak bisa menuruti kamu. Aku tidak mau melanggar Ayahku. Aku tidak pernah melanggar perintah ayahku. Aku harus segera balik ke rumah."
Aku berbalik dan berjalan ke depan, meninggalkan Kinan dah balik ke rumah.
__ADS_1
"Luna tunggu!" Kinan mengejar aku dari belakang. Aku terus berjalan ke depan.
"Harusnya aku tidak mengajak kamu ke sungai. Maaf kan aku. Aku telah membuat kamu repot."
"Iya. Terima kasih telah mengajak aku."
"Aku tidak bisa mengantar kamu, aku harus pergi ke sungai. Aku ingin mandi. Maafkan aku."
Dengan berat hati kau berkata 'Iya' ke Kinan. Aku berjalan sendiri menuju rumah aku. Meski sedikit capai dan pegal akhirnya aku sampai juga di rumah aku.
Aku melihat Ayahku sudah menyalakan sepeda motornya. Dia sudah siap-siap untuk jalan.
"Ayah aku sudah pulang."
"Bagus, sukur lah. Ayah bisa pergi dengan tenang."
Aku tersenyum dan melangkah ke belakang. Aku pergi ke kamar mandi dengan hati-hati. Aku tidak mau jatuh untuk yang ke dua kalinya.
Aku mencuci kaki ku yang lecet sehabis terjatuh tadi. Tuhan, maaf kan aku. Aku terlalu tergesa - gesa tadi.
Aku lalu keluar dengan niat melihat Ayah. Ayah masih duduk di depan pintu sambil merokok.
"Ayah belum berangkat..?"
"Ayah masih menunggu kamu. Ayah sambil merokok sebentar."
Aku lalu bersalaman ke Ayah sebelum Ayah berangkat kerja. Aku melambaikan tangan saat Ayah berangkat keluar dari rumah.
Sekarang aku sendirian di rumah. Aku kuatir Kinan akan datang mengganggu aku.
"Tara...!!"
Kinan datang mengagetkan aku. Dia selalu membuat aku terkejut dengan kedatangan dia.
Kinan sepertinya mulai senang berteman dengan aku.
"Kinan..!?"
Aku terkaget dan memanggil nama Kinan.
"Luna!? Maafkan aku, aku tidak punya teman bermain lagi. Boleh kan aku bermain dengan kamu!"
"Tidak tau, aku masih belum ijin ke Ayahku." kataku ke Kinan.
"Ayolah, jangan buat aku kecewa!" kata Kinan padaku. Aku cuma bisa tersenyum. Tapi jujur aku takut kalau tidak ijin dulu ke ayahku.
"Kinan, kamu mending datang lagi ke sini kalau Ayahku sudah pulang. Ayah pasti tidak mengijinkan aku bermain dengan kamu.
"Kau tidak bisa bermain dengan kamu tanpa seijin Ayah." ucapku ke Kinan.
Aku tidak bisa melanggar peraturan Ayahku.
Kinan melihat aku kecewa. Dia seperti sedih sekali karena aku tolak permintaannya. Aku baru tau kalau Kinan senang sekali bermain denganku.
"Tunggu Kinan!"
Kinan terus berjalan tanpa menoleh ke arahku. Aku sekarang bersedih dan seakan ingin menangis karena Kinan tidak menoleh ke arahku.
Aku dan Kinan sama-sama kecewa.
"Kinan! Ayo masuk! Kamu belum sarapan!"
Suara Pak Bento menyadarkan lamunan aku. Kinan masuk ke dalam rumahnya di temani Pak Bento Bapaknya. Mungkin sekarang sikap Pak Bento sudah baikan. Dia tidak lagi marah dengan Kinan.
Aku kembali masuk ke dalam rumah sambil duduk di kursi ruang tamu dengan termangu.
Kinan POV 🌙
Aku masuk ke dalam rumah setelah meninggalkan Luna di depan. Hubungan aku dengan Luna tidak berjalan mulus.
"Kinan, kamu sedih?"
"Tidak Pak. Aku tidak sedih. Aku cuma berpikir kenapa ada perempuan seperti Luna di dunia ini? Padahal niat aku baik padanya!"
"Luna itu anak yang baik dan penakut. Dia tidak akan berani berbuat macam-macam selama ada Ayahnya Firman.
"Aku ingin kamu seperti dia. Tunduk dan patuh sama Bapak. Tidak pernah memberontak, seperti sikap kamu ke Bapak!
"Kamu harus banyak belajar ke Luna teman kamu itu!"
"Tapi Pak, aku kan laki-laki, beda sama Luna yang perempuan!"
"Laki-laki atau perempuan itu sama saja, tak ada bedanya. Kamu dengar bapak baik-baik. Mulai saat ini kamu harus benar-benar belajar di rumah. Tidak perlu keluar rumah!"
"Kalau kamu belajar dengan baik, Bapak akan menyekolahkan kamu ke sekolah Elit. Dengarkan Ayah baik-baik!"
"Kau tidak mau sekolah Ayah! Aku tidak suka sekolah! Aku suka jalan keluar dan bebas ngapain saja. Aku tidak mau hidup terkekang!"
"Sekali lagi kamu menantang Ayah, Ayah pukul kamu dengan pemukul itu!"
"Pukul saja aku Ayah! Ayah memang tidak sayang padaku! Ayah lebih suka memukul aku! Buat aku sakit!"
Aku menangis di depan Ayah. Ayah lalu mengambil pemukul kayu yang ada di pojokan itu. Aku sudah siap untuk di pukuli oleh Ayah.
Debuk! Debuk! Debuk!
Ayah memukul punggung aku berkali-kali. Aku menahan rasa sakit itu di punggung aku. Aku jadi ingat Ibu yang telah meninggal karena sakit jantung.
__ADS_1
Dulu Ibu tiba-tiba saja sakit dan di bawa ke rumah sakit. Aku tidak tau penyebabnya kenapa. Aku sangat kehilangan Ibu.
Kalau ada Ibu, dia pasti datang dan melarang Ayah untuk memukuli aku seperti itu. Sakit sekali rasanya.
Aku akan minta Luna besok untuk memijat punggung aku kalau Luna mau. Aku lalu balik ke kamar setelah Bapak puas memukuli aku.
Aku berpikir bagaimana caranya agar aku bisa keluar rumah. Aku ingin bertemu dengan Maya. Sudah lama aku tidak tau kabarnya.
Sepeda motor masih di dapur. Aku tidak punya uang untuk beli bensin. Aku harus minta uang ke Bapak tapi tidak mungkin.
Aku harus menunggu Bapak sampai Bapak tertidur lelap. Dengan begitu, aku bisa mengambil sedikit uang Bapak untuk aku belikan bensin.
Aku ingin pergi bertemu Maya. Aku masih bermain aplikasi di hp sambil menunggu Bapak tertidur.
Ada saja yang ingin aku perbuat. Kadang aku harus mengedit foto atau bermain game. Setelah lama, aku melihat Ayah di kamarnya.
Ayah tidak ada di kamar, dia mungkin sedang di belakang atau di kamar mandi. Aku lalu masuk ke kamar dia dan mencari uang di beberapa saku celana dan saku bajunya.
Aku hanya menemukan uang dua puluh ribu, selebihnya tidak ada lagi. Aku langsung pergi berjalan ke belakang dan aku bertemu dengan Ayah yang sedang duduk di bawah sepeda motorku.
"Bapak ngapain di sini?"
"Bapak tidak mau pergi ke mana-mana! Bapak ingin kamu jadi anak baik! Tidak suka keluar rumah!"
Bapak langsung menangis di depan aku. Aku jadi sedih.
"Kamu tau kan, sejak Ibumu meninggal, Bapak jadi kesepian. Bapak sudah tua Kinan. Bapak sudah tidak bisa bekerja lagi seperti dulu.
"Harusnya kamu cari kerja sekarang! Lihat orang-orang yang di luar sana, mereka bekerja cari uang, bukan suka mencuri seperti kamu!"
Bapak menangis di depan aku. Aku tidak tega melihat dia.
"Maafkan aku Pak. Aku tidak berniat tidak menghormati Bapak atau meninggalkan Bapak. Aku hanya ingin bertemu Maya. Itu saja!"
"Lupakan Maya! Dia bukan siapa-siapa kamu! Dia bukan keluarga kita!"
"Aku tau Maya bukan keluarga aku atau pun Bapak! Tapi Maya telah berbuat baik padaku. Dia telah memberiku uang seratus ribu kemarin. Tapi Bapak, malah mengekang aku untuk dapat uang."
Aku kecewa sekali ke Bapak. Bapak sama sekali tidak pernah memberi aku yang sepeser pun kecuali dengan jalan mencuri. Bapak kikir sekali padaku.
"Bapak lebih suka kamu bekerja! Mulai besok, Bapak akan mencari pekerjaan buat kamu. Siapa tau ada orang yang mau menerima Bapak."
"Tidak perlu Ayah. Aku akan minta pekerjaan ke Maya. Dia mungkin bisa membantu aku."
"Terserah kamu saja. Bapak akan ijinkan kamu bertemu Maya. Bilang ke dia, kalau Bapak sangat berharap bantuan dia untuk bisa memberikan kamu pekerjaan."
"Iya ayah. Aku akan bilang ke Maya. Kalau perlu mengemis di depan dia. Aku akan sampaikan salam Bapak ke Maya. Doa akan aku Pak!"
Aku lalu bersalaman dan meminta maaf ke Bapak, lalu pergi membawa sepeda motor ke rumahnya.
Meski rumah Pak Doni jauh, tapi aku harus melewati jalan panjang itu untuk bisa mendapat kerja.
Aku sampai di rumah Pak Doni setelah perjalanan satu jam lebih sepuluh menit.
Aku menelepon Maya lebih dulu dan perempuan itu muncul dari arah samping, tepatnya di garasi mobil milik Pak Doni.
Aku melihat Maya berjalan ke arahku dengan nada kesal.
"Kinan, ngapain kamu ke sini? Aku tidak punya uang. Kamu baiknya pergi sekarang!"
Maya langsung mengusir aku. Sepertinya dia tidak suka aku datang ke rumah Pak Doni.
"Maya, aku hanya ingin menyampaikan salam Bapakku." aku langsung menangis setelah aku mengucapkan kalimat itu.
Aku kasihan sekali ke Bapak. Karena sampai saat ini telah melihat anaknya tidak bisa bekerja.
"Apa katanya?"
Maya mantap aku benci. Maya tidak sama seperti yang aku kenal.
"Cepat, aku tidak bisa lama. Pak Doni bisa marah meliat kamu di sini!"
"Bukan kah Pak Doni sedang bekerja?"
"Diam! Ini uang buat kamu. Aku sudah tau kamu pasti datang untuk minta uang."
Aku langsung melempar uang seratus ribu dari tangan Maya.
"Tidak Maya, aku tidak butuh uang ini. Kau butuh pekerjaan. Bapak ku ingin aku bekerja. Tolong cari kan aku pekerjaan Maya!
"Aku mohon..!"
Aku meringkuk di depan Maya sambil memohon. Siapa tau Maya mau membantu aku akhirnya.
"Kinan, kamu boleh datang lagi nanti. Aku akan telepon kamu kalau aku sudah menemukan pekerjaan buat kamu. Sekarang baiknya kamu pergi!"
Maya pergi meninggalkan aku dan membiarkan uang seratus ribu itu tetap di atas rumput di bawah pagar depan rumah Pak Doni.
Aku langsung mengambil uang itu dan langsung pergi dari rumah Pak Doni siang itu sekitar pukul sebelas siang.
Saat mengendarai sepeda motor, aku jadi memikirkan nasib aku yang masih pengangguran. Apakah jalan yang aku tempuh ini salah?
kau jadi ingat sekolah. Aku menyesal telah menolak niat Bapak dan Ibu dulu yang ingin menyekolahkan aku. Sekarang saatnya aku menyesali diriku yang tidak mampu ini.
Maafkan aku Bapak, maafkan aku Ibu. Aku masih berusaha sebisa mungkin untuk bisa dapat pekerjaan.
To Be Continue.
__ADS_1
[Maaf kalau ada Typo.]