
Maya POV 🌙
Kinan bekerja di kelab malam itu. Dia masuk malam. Kebetulan aku mengajak Pak Also untuk mengantar aku ke kelab itu. Aku pergi ke kelab itu bersama Pak Aldi.
Aku dan Pak Doni masuk ke kelab itu dengan santai. Perasaan aku tidak enak awalnya tapi aku terima. Teman Pak Aldi datang menemui dia. Kami berdiri saling berhadapan.
Pak Aldi bicara soal kerjaan di kantor. Pak Yanto, temannya itu berpikir kalau aku istri keduanya Pak Aldi. Aku senyum sendiri. Pak Doni bilang jujur ke Pak Yanto.
Pak Doni bilang kalau aku karyawannya di kantor. Minuman datang dari pelayan, tak salah lagi, pelayan itu adalah Kinan. Kinan memberikan minuman itu ke kami bertiga.
Kinan langsung pergi setelah mengantarkan minuman. Aku permisi ke Pak Doni dan Pak Yanto. Aku mengejar Kinan dari belakang.
"Kinan! Tunggu!"
Kinan berbalik arah melihat aku. "Aku lagi kerja gak bisa di ganggu!" Kinan berbalik melihat aku lalu balik kerja. Aku tidak bisa pergi tanpa melihat Kinan terlebih dulu. Kinan adalah harapan aku selain Aldi. Kalau Pak Doni aku cuma manfaatin dia saja meski aku di tanggung hidup oleh dia.
Kesal sekali harus bareng Pak Doni. Aku harus bersama dua orang tua yang tidak aku sukai. Aku balik ke Pak Doni dan ikut menemani Pak Yanto sebentar, Pak Yanto si pemilik kelab.
Selesai acara aku langsung pulang bersama Pak Doni dan kembali masuk kamar. Aku tidak melihat Aldi di rumah itu.
Malam masih terasa olehku. Kinan paling masih kerja, ucapku dalam hati. Aku masih kepikiran sama anak itu. Untunglah Kinan masih bisa kerja.
Aku melihat Aldi masuk, dia masuk rumah dan balik ke kamar. Musik itu kembali terdengar olehku. Aldi keluar dan menyapa aku.
"Maaf tadi aku keluar saat kamu pergi sama Ayah. Kalau boleh tau pergi ke mana..?"
"Aku pergi ke kelab. Maaf aku tidak kasih tau kamu. Kamu tidak tanya sama Ayahmu?"
"Tidak, aku kan baru datang." kata Aldi padaku. Aku menghembuskan napas lesu. "Aldi bisakah kamu duduk sebentar di sini..?"
"Maaf, aku harus pergi ke kamar. Kamu bukan muhrim. Oh iya, nanti kalau kamu sudah bisa bekerja dan punya uang, kamu bisa tinggalkan rumah ini. Bisa kan...?"
"Kamu tidak suka kamu tinggal di sini..?"
"Suka, tapi aku tidak mau kamu lama-lama di sini. Bosan liatnya." katanya kepadaku. Aku tau aku adalah orang yang tidak tau malu suka tinggal di rumah orang. Tapi meski begitu Pak Doni masih mengijinkan aku tinggal di sini.
Meski Aldi tidak suka aku ada di sini aku masih harus tetap bertahan karena Pak Doni mengijinkan aku untuk tinggal di sini.
Aku lalu membuka menyapu di rumah itu pura-pura rajin. Aku lihat Aldi pergi mandi, tapi aku telah ke dia. Pak Doni lalu mendatangi aku dan bilang ke aku kalau aku boleh masuk ke kantor besok.
Akhirnya aku boleh kerja. Meski sedikit berat hati tapi aku masih merasa senang karena aku masih bisa hidup di sini. Yang pasti, aku masih bingung apa tetap di sini atau pindah ke tempat lain.
Aku akan bilang ke Pak Doni kalau Aldi tidak suka aku ada di rumah ini. Aku lalu tidur di dalam kamar aku. Aku ingin menghilang dulu.
Pagi menjelang. Aku solat subuh dan segera masak di dapur. Aldi datang padaku. "Kamu tidak perlu masak sekarang, biar aku saja yang masak."
"Aku tau kamu tidak suka padaku tapi aku mohon biarkan aku masak."
"Aku bisa masak sendiri." kata Aldi padaku.
"Kalau kamu yang masak, apakah aku di larang makan?"
"Tentu saja, ini kan bukan rumah kamu. Mending kamu pulang ke kampung halaman kamu. Balik ke sana tinggal bersama orang tua kamu!"
"Iya, aku tau. Tapi Pak Doni masih mau aku tinggal di sini. Tapi, mungkin nanti aku akan pergi dari sini kalau sudah punya uang untuk tinggal di kost."
"Bagus. Aku bisa lebih leluasa nantinya."
"Ada lagi?"
"Maafkan aku Maya."
Aku melihat Aldi sengit. Aku tau dialah yang pertama kali tidak suka padaku. Dia alasan pertama aku untuk pindah ke kosan nanti. Pak Doni hanyalah penyelamat buat aku bukan musuh seperti Aldi.
Bodohnya aku harus tinggal serumah dengan dia. Aku lalu pergi ke kamar dan ingin cepat pergi dari rumah itu. Aku ingin segera pergi dari rumah ini, aku tidak ingin melihat Aldi di rumah ini.
Tapi harusnya aku yang pergi. Aku sudah tahan lagi. Aku lalu mengadu ke Pak Doni masalah Aldi yang tidak suka padaku. Pak Aldi bilang jangan turuti Aldi dulu, Aldi memang begitu katanya. Tapi dalam hatiku Aldi tetaplah Aldi, dia akan selalu membantu aku selama aku masih di rumah ini.
Pak Doni lalu membelikan aku pakaian baru untuk di pakai nanti saat aku bekerja di kantor Aliyas. Aku taruh pakaian seragam itu di atas tempat tidur aku sebagai pengingat.
Besok aku harus sudah siap bekerja lagi seperti dulu. Aku ingin ke makam Berta tapi tidak bisa. Aku tidak punya kendaraan ke sana. Aku diam di rumah itu. Seseorang mengetuk pintu dari luar. Aku tunggu sampai Aldi datang membuka pintu tapi Aldi tidak keluar juga.
Aku terpaksa membuka pintu dan tamu itu adalah Ibu Sulastri. "Di mana Aldi..?"
"Dia masih tidur Bu di kamarnya."
"Bilang ke dia ada Ibu Sulastri."
"Baik. Ibu tidak mau masuk dulu..?"
"Tidak perlu, aku tunggu di luar saja." ucapnya padaku. Aku tau kalau Ibu Sulastri tidak enak sama Pak Doni. Setelah balik ke dalam rumah Pak Doni bertanya padaku.
"Ada siapa..?" aku terperangah sesaat. Aku takut Pak Doni marah sama Ibu Sulastri.
"Ada Ibu Sulastri Pak." jawabku bodoh.
"Suruh dia masuk."
__ADS_1
"Ibu sulastri tidak mau masuk Pak, tadi aku sudah menyuruh dia masuk. Bilang ke dia aku yang suruh masuk." Pak Doni memaksa. Aku terpaksa menemui Ibu Sulastri lagi di depan.
"Mana Aldi..?"
"Maaf Bu, Pak Doni menyuruh Ibu masuk. Dia memaksa Ibu untuk masuk."
"Maaf, bilang ke Doni aku tidak bisa masuk. Aku tidak bisa lama di sini. Aldi sudah bangun!"
Aku langsung lari ke dalam dan mengetok pintu kamar Aldi. Tapi Aldi sepertinya tidak mau bangun. Aku balik ke Ibu Sulastri tapi Ibu sudah tidak ada di depan.
Aku jadi bingung. Ibu Sulastri perlu apa sebenarnya sama Aldi. Aku melihat mobil sedan hitam pergi keluar. Pak Doni datang lagi.
"Ibu sulastri masih ada di luar?"
"Dia sudah pergi Pak." Pak Doni langsung pergi setelah aku jawab. Aku lalu duduk di rumah tengah sambil berdiam diri.
Aku menunggu Aldi bangun tapi bagaimana kalau Aldi masih tidak memaafkan aku?
Aku lalu balik ke kamar dan bermain hp. Aku mendengar suara ponsel berbunyi, itu telepon dari Kinan. Aku angkat telepon itu dengan perasaan senang.
Kinan
Malah, boleh kamu datang ke kelab nanti malam?
Maya
Untuk apa? Ngapain aku ke kelab? Pak Doni tidak akan mengijinkan aku keluar.
Kinan
Kamu Ijin ke dia. Nanti malam ada acara ulang tahun anak Pak Yanto. Namanya Tara. Acaranya pasti meriah, semua karyawan di suruh datang dan di suruh berpakaian rapih.
Maya
Betulkah? Tapi aku bukan undangan. Aku malu.
Kinan
Maya, aku punya dua undangan di sini. Aku mengambilnya semalam di kelab.
Maya
Kinan, undangan itu khusus karyawan, aku bukan karyawan di situ. Aku harus jadi karyawan dulu untuk bisa datang ke situ.
Kinan
Maya
Tidak apa. Aku punya acara sendiri di sini. Selamat berpesta.
Klik. Kinan langsung memutus bunyi panggilan telepon. Aku bernapas lesu. Aku mencoba untuk duduk tengah di kursi tengah.
Aku melihat Doni bangun dari tidurnya. Dia keluar dari kamarnya. Dia pakai handuk dan setengah telanjang. Aku biarkan saja dia lewat. Aku tidak bisa bilang ke dia langsung kalau Ibu Sulastri datang tadi.
Penting atau tidak, tapi menurut aku penting. Aku biarkan Aldi mandi, aku tetap duduk di kursi tengah sambil pencet hp. Aku lalu berpindah ke kamar.
Aku jadi resah karena besok aku harus bekerja. Aku lebih suka tinggal di rumah besar ini dan menghabiskan waktu di sana.
Pak Doni lalu mendatangi aku dan bilang ke aku kalau nanti malam aku di ajak ke kelab. "Ke kelab-nya Pak Yanto..?"
"Iya, kelab-nya Pak Yanto. Anaknya ulang tahun, aku di undangnya tadi di chat." jelas Pak Doni padaku. Aku merasa senang mendengarnya. Aku lalu bersyukur pada Tuhan atas nikmat ini.
Waktu Dzuhur tiba, aku harus segera solat. Aku bertemu Aldi saat aku akan mandi di kamar mandi belakang. Dia terlihat segar dengan rambut masih basah. Aldi melewati aku tanpa berkata sepatah kata.
Aku masuk kamar mandi lalu mandi dengan air di bak mandi. Aku berpikir aku akan bertemu Kinan nanti. Kinan pasti senang melihat aku datang di acara itu.
Usai mandi aku solat dzuhur seperti biasa. Usai solat aku mengetok pintu kamar Aldi.
"Siapa..?" Aldi menjawab dari balik kamarnya yang di kunci.
"Aku, Maya!"
"Ada apa? Pintu tidak di kunci, masuklah!"
Aku membuka pintu itu dan melihat Aldi dalam posisi duduk sambil pegang hp. Dia duduk di atas kasur tempat tidurnya. Aldi biasa tidur di bawah meski di samping sudah ada kasur spring bed.
"Aldi, aku cuma mau bilang kalau Ibu Sulastri tadi datang."
"Aku tau, aku melihat dia tadi dari sini."
"Kenapa kamu tidak keluar?"
"Aku malas, masih mengantuk. Aku akan temui Ibu di butiknya nanti kalau aku ada waktu."
"Iya boleh."
"Nanti ada acara ulang tahun anaknya Pak Yanto, kamu di ajak sama Ayah..?"
__ADS_1
"Iya, aku di ajak. Kamu juga..?"
"Tentu saja. Kamu saja di ajak." timpal Aldi padaku. Aku tidak berpikir memang kalau Aldi lebih berhak di ajak oleh Pak Doni ketimbang aku.
Aku jadi malu di buatnya. Aku bukanlah siapa-siapa di rumah ini. Aku hanya pelengkap. Harusnya Ibu Sulastri yang ada di sini, bukan aku.
Aku lalu masuk kamar dan tidak bisa buat kado untuk Tara anaknya Pak Yanto. Aku harus bagaimana? Aku tidak punya uang untuk Tara nanti.
Aku menunggu solat Asar. Aku melihat Pak Doni dan Aldi keluar naik mobil Avanza hitamnya. Aku tidak tau apa keperluan mereka.
Aku duduk di rumah tengah sambil menonton televisi. Aku cukup terhibur sampai Pak Doni datang. Aku melihat Aldi membawa sesuatu. Seperti baju baru.
Aku lalu beranikan diri mengetok pintu Aldi. "Permisi..!"
"Masuk."
"Maaf Al, ganggu. Kamu sedang apa..?"
"Oh iya, kamu bisa bantu aku buat..?" kata Aldi menggantung.
"Buat apa?" aku masih melihat hijau tua itu masih tergeletak di atas karpet dengan di tutup plastik.
"Tidak jadi. Biar aku saja."
"Ya sudah, terima kasih." aku keluar dengan perasaan kecewa. Aku berkeliling dan melihat Pak Doni sedang mengelap mobilnya.
Aku pura-pura menyapa Pak Doni.
"Pak Doni suka mengelap mobil..?"
"Bukan suka tapi kewajiban." kata Pak Doni menjawab. Aku jadi ingat kalau aku belum mencuci piring sisa Pak Doni dan Aldi makan.
Aku lalu berlari ke arah dapur, tapi piring dan gela itu sudah tidak ada lagi di bak air. Itu pasti kerjaan Aldi. Aku jadi malu. Aku sama sekali tidak manfaat di rumah Pak Doni.
Aku jadi salah tingkah. Aku lalu putuskan untuk pergi ke taman dan membuang beberapa bunga yang telah lagi dan jatuh ke tanah.
Aku melihat Aldi keluar sambil mencari angin. Aldi pakai kaos sinlet putih sambil menggerakkan tangannya.
Aldi memanggil aku. "Maya, kamu ngapain di situ..?"
"Aku mengambil bunga yang jatuh. Aku mau membersihkan taman."
"Tidak perlu. Biar aku saja." lanjutnya padaku. Aku lalu berhenti mengambil bunga-bunga itu dan melihat Aldi datang ke arahku.
Dia mengambil sapu yang bersandar di pinggir tembok lalu menyapu taman itu. "Kamu rajin sekali."
"Terima kasih." katanya.
Aku melihat Aldi menyapu taman sambil berpindah tempat duduk di atas teras rumah besar itu. Rumah milik Aldi dan Pak Doni.
"Maya, tolong kamu buang sampah ini."
"Iya."
Aku segera berjalan ke arah taman dan mengambil tempat sampah itu lalu membuangnya ke jurang. Aku melihat Aldi balik ke rumah besar itu sambil jalan kaki.
Aku bersyukur bisa bertemu laki-laki seperti Aldi. Aku curiga, kenapa Aldi tidak bersikap sentimen seperti kemarin?
...*** ...
Malam pun tiba, aku sudah bersiap untuk mandi dan persiapan solat magrib. Karena sebentar lagi aku dan keluarga Pak Doni akan berangkat ke kelab, ke acara ulang tahun Tara anak Pak Yanto.
Aku sudah siap dengan pakaian rapih. Berupa Jilbab cokelat, baju setelan warna cokelat tua.
Aku keluar dari kamar dan menunggu pemilik rumah itu di ruang tengah.
Aku melihat Aldi keluar dengan pakai kemeja putih dengan dasi kupu-kupu. Dia membawa kotak kado.
Aku tidak melihat Pak Doni keluar dari kamar. Aldi langsung mengajak aku. "Yuk!"
"Pak Doni..?"
"Ayah tidak jadi ikut, dia sudah bilang ke aku."
"Kenapa bisa..?"
"Nanti aku jelaskan di mobil." lanjut Aldi padaku.
Antara senang atau tidak senang, aku terus saja mengikuti Aldi dari belakang. Ingin aku balik ke kamar Pak Doni untuk sekedar melihat keadaannya tapi tidak bisa.
Aldi sudah bergegas jalan ke garasi mobil samping rumah. Aku dan Aldi melangkah ke pintu belakang sebelum sampai di garasi.
Aku masuk ke mobil setelah Aldi masuk duluan. Aldi sudah siap menyetir mobil. Aku dan Aldi siap berangkat ke kelab Arista milik Pak Yanto.
To Be Continue.
[Maaf kalau ada Typo.]
__ADS_1
Aku tidak me