
Setelah memasuki wilayah ibu kota, terlihat bangunan-bangunan yang sangat besar yang berjejer di sepanjang jalan yang mereka lewati. Keadaan saat itu sangat ramai sekali sehingga kereta kuda pun sulit untuk bergerak.
“Setelah masuk lebih dalam lagi di sana nanti kalian akan mencari penginapannya, maaf saya tidak bisa sekalian mengantar kalian sampai ke penginapan. Ada barang yang harus saya ambil” Ucap pak Ringo.
“Tidak apa-apa pak... Kami juga berterima kasih karena telah repot-repot mengantarkan kami ke ibu kota ini” Ucap Ride.
Perlahan kereta kuda pun maju dan jalanan sudah mulai lancar, di ujung jalan tepatnya di pertigaan jalan Sam dan Ride pun turun, lalu mereka melanjutkan dengan mencari penginapan terdekat.
“Ayo Sam... Di sini ramai sekali jadi berhati-hatilah” Ucap Ride sambil melihat-lihat bangunan di sekitarnya dan mulai berjalan.
“Iya... Tenang saja, jadi kita akan mencari ke arah mana dulu?” Tanya Sam.
“Mungkin ke arah sana” Ucap Ride sambil menunjuk ke arah jalan yang ada papan nama jalan yang tertulis 'Jalan Wood'.
“Baiklah, ayo kita ke sana” Jawab Sam.
Mereka pun menelusuri jalan tersebut, melihat-lihat sekitar. Namun sampai diujung jalan pun mereka masih belum bisa menemukan penginapan, yang ada hanya toko-toko peralatan rumah dan juga restoran serta cafe, lalu sisanya hanya rumah warga saja.
“Sial! Kita sudah lama jalan kaki namun masih belum menemukan penginapan? Yang benar saja...” Keluhan Sam dengan muka masamnya.
“Maaf pak... Apa ada penginapan terdekat di sekitar sini?” Tanya Ride ke salah satu warga di sana.
“Oh penginapan ya? Terus saja lurus saat ada Toko Mebel Funny itu belok kiri masuk gang kecil di sana ada penginapan” Jelas orang tersebut.
“Baik kalau begitu” Ucap Ride.
Kemudian mereka melanjutkan kembali perjalanan. Setelah itu mereka menemukan penginapan yang telah ditunjukkan oleh salah satu warga di sana. Sebuah penginapan yang terletak di jalan sempit tapi terlihat mencolok karena ada papan nama besar di bangunannya. Papan nama itu bertuliskan Penginapan Wolfer.
__ADS_1
Kemudian mereka memasuki penginapan tersebut lalu terlihat meja resepsionis disebelah kiri tempat pintu masuk dan juga banyak meja-meja makan berbentuk melingkar dengan masing-masing tiga kursi di setiap mejanya, dengan diterangi cahaya lentera. Tepat diujung sebelah kiri ada tangga.
Di meja resepsionis terdapat seorang wanita berusia sekitar dua puluh lima tahunan menyambut mereka. Kemudian mereka menghampiri wanita tersebut.
“Kami memesan satu kamar untuk dua orang” Ucap Ride.
“Baik, Satu kamar dengan dua ranjang. Silahkan tanda tangan di sini” Kemudian wanita tersebut menyodorkan kertas dan pulpen untuk ditandatangani.
Ride lalu menandatangani kertas tersebut, mereka menginap hanya satu malam saja karena setelah mereka diterima sebagai Kesatria mereka akan ditempatkan di asrama masing-masing. Mereka kemudian menyelesaikan pembayarannya lalu menerima kunci kamarnya dengan nomor kamar '5’.
“Selamat beristirahat” Ucap wanita tersebut sambil tersenyum.
Setelah itu mereka bergegas untuk mencari nomor kamar tersebut. Setelah sampai mereka kemudian membuka pintu tersebut dan langsung saja Sam melompat ke arah kasur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah berjalan.
“Ah nikmatnya! Kasir yang sangat empuk ini membuat semua ototku rileks” Ucap Sam yang terbaring di atas kasur tersebut.
“Kalau begitu aku langsung mandi dulu Sam” Ucap Ride kemudian membawa handuk serta perlengkapan mandinya langsung pergi ke kamar mandinya yang ada disebelah kiri kasur kedua.
“Silahkan” Ucap Sam.
Setelah mereka semua selesai mandi. Lalu Sam mengajak Ride untuk keluar mengelilingi sekitar penginapan dan juga mencari makan malam.
“Ayo Ride kita cari makan! Perutku sudah mulai berontak” Ajak Sam.
“Oke kalau begitu” Jawab Ride.
Kemudian mereka berdua meninggalkan penginapan dan segera mencari restoran terdekat. Mereka kemudian mencari makan dengan menyusuri ke dalam gang tersebut lebih jauh, gang yang hanya muat sebuah kereta kuda tersebut dilalui oleh mereka berdua.
__ADS_1
Gang yang sepi tersebut berharap mereka menemukan jalan tembus ke arah jalanan ramai, namun sayangnya mereka melihat dari kejauhan sekelompok pemuda berandal yang mabuk sedang menggoda seorang gadis remaja seumuran mereka berdua yang masih memakai seragam akademi berwarna putih dilapisi dengan jas warna hitam dan di pinggiran kerahnya bergaris putih serta rok pendek dengan warna senada.
Perempuan itu terlihat ketakutan karena dikelilingi oleh pemuda mabuk dan hanya bisa pasrah menunggu bala bantuan. Kemudian Sam dan Ride bersembunyi dibalik rumah yang ada di sekitar gang tersebut, kemudian Sam membawa sebatang kayu seukuran pedangnya yang tergeletak didepan pintu rumah orang lain.
“Sam kau tunggu aba-abaku! Aku akan melemparkan batu ke arah mereka lalu setelah itu akan kubuat mereka mengejarku lalu kau selamatkan gadis itu! Kau mengerti?” Bisikan Ride kearah Sam yang tepat di seberangnya.
“Oke! Seperti biasanya taktikmu memang bagus Ride!” Ucap Sam.
“Satu... Dua... Tiga!” Setelah hitungannya itu Ride langsung melempar beberapa batu kerikil kearah empat pemuda mabuk tersebut.
Sontak saja empat pemabuk itu menoleh langsung kearah Ride yang telah melempar batu tersebut mengenai mereka. Kemudian pemuda diujung kanan tersebut berteriak.
“Oi bocah ingusan!! Berani-beraninya kalian melempari kami batu!! Flo, Jo! Kejar bocah itu!” pemabuk tersebut menyuruh temannya mengejar Ride yang taklama setelah itu melarikan diri.
“Kejar aku kalau bisa dasar sampah!” Teriak Ride sambil melarikan diri.
“Sialan bocah! Jo ayo kita tangkap dia!” Ucap Flo salah satu pemabuk yang akan mengejar Ride.
Gadis itu pun ikut terkejut setelah melihat Ride. Namun yang mengejar Ride tersebut hanya dua orang yang berarti tidak seperti rencana mereka yang seluruh pemabuk itu mengejar Ride. Kedua pemabuk yang lainnya tetap menggoda gadis itu.
Setelah Flo dan Jo mengejar Ride telah melewati Sam. Sam pun sepertinya panik karena rencana mereka tidak berjalan sesuai rencana.
“Bagaimana ini! Mau tidak mau aku akan menghabisi orang mabuk itu! Ini seperti mengalahkan Boar yang sedang sempoyongan” Ucapnya dalam hati.
Siapa sangka pencarian makan malam ini berubah menjadi sebuah pertarungan yang merupakan pertarungan pertama mereka melawab pemabuk setelah sampai di ibu kita kerajaan Legendia. Ternyata di dalam ibu kota kerajaan pun masih banyak tindak kriminalitas di dalam gang-gang sempit yang tak terpantau oleh pasukan penjaga.
Kemarahan Sam pun meluap ketika melihat dua orang pemabuk itu malah semakin menggoda si gadis itu. Sam pun mempersiapkan serangannya yang hanya bermodalkan sebatang kayu yang akan menjadi senjatanya melawan kedua pemabuk itu.
__ADS_1
Sementara itu Ride melarikan diri jauh ke dalam gang sempit itu, berharap bisa menyerang balik kedua pemabuk yang sedang mengejarnya. Satu lawan Dua yang akan dihadapi oleh mereka.