
Kehilangan menyadarkanku
bahwa menaruh harapan kepada selain Allah
hanya akan menimbulkan kecewa dan menghancurkan hati
❤
👽👽👽
Akhirnya aku bisa tertidur meski sebentar, setelah sholat subuh mataku mulai bisa terpejam. Dari jam setengah empat tadi, aku izin untuk tidak mengikuti pengajian. Hati dan ragaku masih terlalu lelah untuk meyakinkan perasaan ini, bahwa apa yang terjadi beberapa jam lalu adalah nyata. Ditambah lagi kurang tidur, membuat keadaanku melemah.
Aku terbangun, karena mendengar suara tangis dan sedikit kegaduhan, yang aku yakini itu suara teman-temanku yang pulang mengaji. Tapi aku rasa ini masih terlalu pagi untuk mereka selesai mengaji.
Aku membuka mata, hal pertama yang aku lihat adalah Fitri, ada apa dengan dia? kenapa sepagi ini dia menangis.
"Ra, kamu bangun?" Iqlima menghampiriku, Aku menatap mereka satu per satu, ada apa dengan mereka?
"Malik...Ra, Malik meninggal" Aku kembali mematung. Aku sudah tau itu, dan aku sendiri yang tadi malam menemukan jasadnya. Tapi mendengar langsung dari orang lain ternyata seperih ini.
"Fitri nangis gara-gara itu" Iqlima menambah, menatapku dengan sendu. Aku masih membisu, ingin rasanya aku kembali menumpahkan tangisku, namun air mataku sudah mengering dari tadi malam.
Aku harus kuat, mereka tidak boleh tau kalau aku begitu terpukul. Aku memang mencintai Malik, namun mereka tidak benar-benar tau itu. Hanya Iqlima yang tau persis bagaimana perasaanku pada Malik.
"Innalillahiwainnailaihiroji'un" Gumamku lirih.
"Nggak!! Malik masih hidup! Dia belum mati!!!" Aku terperangah, mendengar Fitri tiba-tiba berteriak. Dia menatapku tajam, seolah perkataanku tadi telah menyakiti dia.
"Udah Fit, Kamu jangan kayak gini" Nisa menatap Fitri perihatin. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Fitri begitu terpukul mendengar kabar Malik.
"Enam tahun aku nyembunyiin rasa ini, meminta dia dalam diam. Memantaskan diri, berusaha jadi yang lebih baik. Tapi kenapa Allah ambil Malik? Kenapa Allah begitu tega sama aku? Bahkan Malik sendiri belum tau bagaimana perasaan aku!! kenapa!! Kenapa takdir sekejam ini!! kenapa..." Aku kembali tergugu, jadi selama ini Fitri diam-diam suka sama Malik, terus apa artinya candaan-candaan itu terlontar untuk aku. Enam tahun, itu artinya dia menyukai Malik lebih dulu dari pada aku. Bahkan Enam tahun lalu aku belum mengenal Malik. Sedangkan dia, sudah menyimpan rasa sukanya selama itu.
Kenapa aku tidak menyadari itu? Kenapa aku seolah buta sama sikap Fitri ketika berhubungan dengan Malik.
"Fit sudah... " Nisa mulai menangis, aku tau dia tidak bisa melihat orang lain menangis.
"Malik masih hidup, iyakan Ca, Del. Syal yang aku rajut buat dia sudah jadi, bentar lagi dia ulang tahun"
__ADS_1
Jadi selama ini, cuma aku yang nggak tau kalau Fitri suka sama Malik. Atau aku memang nggak peka dengan perasaan teman aku sendiri.
Sesak itu kembali datang, perih itu kembali aku rasakan. Ternyata Ada yang lebih terluka dari pada aku, ada yang lebih merasa kehilangan dari pada aku.
"Fit, Ikhlaskan. Malik tidak akan tenang kalau masih ada orang yang menangisi kepergian dia" Aku masih belum percaya, aku bisa berbicara seperti ini. Mencoba menguatkan Fitri, sementara diriku terjatuh sedalam ini.
"Ikhlaskan?! Gampang kamu bicara seperti itu Ra, karena kamu nggak tau ! gimana rasanya kehilangan orang yang kamu sayang! bahkan kamu sendiri belum sempat memilikinya"
Kamu salah Fit, kamu salah. Kamu tidak tau bagaimana rasanya menemukan Orang yang kamu sayang sudah menjadi mayat. dan itu aku alami, aku sendiri yang menemukan Malik, Melihat jasadnya yang sudah tidak terbentuk sempurna di dalam tong itu.
Hancur? Aku lebih hancur, bahkan aku sama seperti mu, mencintai dia secara diam. Menyebut namanya di setiap sujud terakhir.
Air mataku lolos, menerobos pertahanan yang dari tadi aku buat. Maaf mata, saat ini otak dan hatiku tidak sepaham.
"Maaf Fit"
"Malik katanya di temukan di danau dekat maqam" Iqlima memberitahuku.
Danau? Bukannya di dalam tong. Aku yakin Ilham berada di balik ini semua. Tapi apa maksudnya dia melakukan ini.
"Fit, kamu tenang ya. Tadi kan, Ustadzah bilang, kalau kita di suruh pergi melayat" Fitri diam, ucapan Dela tidak bisa merubah perasaannya sekarang.
Kenapa harus sesakit ini. Aku kembali menumpahkan air mataku di luar, tanpa sepengetahuan mereka. Aku sudah berusaha tegar, aku sudah sekuat mungkin untuk mengikhlaskan. Tapi tak semudah yang aku bayangkan, rasa sakit itu masih ada bahkan semakin menganga.
Allah. Jika boleh aku bertanya.
Jika boleh aku mengeluh.
Mengapa takdir seolah mempermainkanku.
Rindu yang ku pupuk manis kini malah menjadi tangis.
Aku mengusap kasar bekas air mataku, menarik nafas pelan untuk mengembalikan kesadaranku. Aku pasti bisa, dulu ketika ayah dan bunda pergi, aku bisa bangkit dan kembali ceria bahkan di hari pemakamannya aku masih bisa tersenyum di depan adik aku Adam. Meski senyum itu sebagai penutup luka untuk adik aku yang masih belum memahami apapun.
Aku rasakan pundakku diusap pelan. Aku memejamkan mata sejenak menghapus bekas kesedihan yang mungkin masih terlihat jelas di bola mataku.
Aku menoleh, mendapati Iqlima menatapku penuh sayang. Meyakinkanku bahwa rasa sakit tidak selamanya tak berharga. Iya aku paham, mungkin saja Allah memberi rasa sakit ini dan suatu saat akan menggantikannya dengan bahagia yang luar biasa. Bukankah Allah sebaik-baik sutradara? lalu kenapa aku berputus asa seperti ini?
__ADS_1
Aku memeluk Iqlima erat, berusaha tersenyum seolah-olah aku memang baik-baik saja.
"Menangislah, aku tau kamu butuh sandaran"
Setetes air mata kembali lolos. Iqlima benar, menangis bukan berarti lemah. Tapi lewat air mata, kita mampu mengungkapkan apa yang tidak bisa di ucapkan oleh lisan dan di isyaratkan oleh mata.
Setelah beberapa lama berada di luar. Aku dan Iqlima memutuskan untuk masuk kembali. Aku sudah cukup tenang. Aku sudah mulai menguasai diriku kembali.
Fitri menatapku sejenak, dia sudah terlihat sedikit tenang. Namun tiba-tiba dia bangkit dan memelukku erat.
"Maaf Ra." Aku membalas pelukannya erat. Aku tau dia hanya terbawa perasaan tadi.
"Fit, seorangpun nggak ada yang bisa memajukan atau memundurkan kematian barang sedetikpun. meskipun kita semua, seluruh penduduk langit dan bumi bersatu untuk melakukan hal itu. Allah lebih sayang Malik. Allah ingin bertemu Malik lebih dahulu" Fitri tetap diam, masih memelukku erat.
Ini tugasku sekarang, meyakinkan dia bahwa takdir Allah adalah yang paling baik.
"Kamu sering bilang sama aku. Aku harus hati-hati dengan rindu. Rindu dan sayang yang berlebihan kepada selain Allah hanya akan mendatangkan kegelisahan yang tak pernah padam. Mana Fitri yang selalu optimis? Kita semua akan mati, hanya menunggu kapan waktu itu datang"
Fitri melepaskan pelukannya, menatapku yakin lalu perlahan mengangguk dan tersenyum.
Alhamdulillah.
Terima kasih Ya Allah
Aku memohon kepada-Mu
sirnakan rasa takut ini menjadi rasa tentram,
Dinginkan panasnya qalbu dengan salju keyakinan
Padamkan bara jiwa dengan keimanan
Allah...
Gantikanlah kepedihan ini dengan kesenangan
Jadikanlah kesedihan ini awal kebahagiaan.
__ADS_1
Dan sirnakanlah dari kami rasa sedih dan duka, serta usirlah kegundahan dari jiwa kami semua.