Pesantren Berdarah

Pesantren Berdarah
Dendam


__ADS_3

...Iri akan mendatangkan dendam...


...Dan dendam...


...Akan menutup hati seseorang untuk melihat mana yang baik dan mana yang buruk...


...👽👽👽...


"Aku mau nanya soal.... Akhh!!!" Ucapanku terpotong dengan suara pekikkanku yang menahan sakit.


Ilham menoleh, kemudian segera menghampiriku.


"Aakkhhh!!!" Rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba aku rasakan, seolah ada sesuatu yang menusuk perutku.


"Ra! Kamu kenapa?"


"Sa...kiiit" Lirihku. Kedua tanganku masih setia memegangi perutku yang semakin sakit. Bukan hanya tusukan yang aku rasakan, tapi seolah perutku di pelintir dengan keras.


Badanku roboh, kedua kakiku rasanya tak mampu lagi untuk menopang.


"Allah...ssss..."Ringisku.


Ilham mencoba untuk tenang, meski aku tahu dari raut wajahnya dia begitu panik.


"Aku bopong kamu ke kamar ya?" Aku menggeleng pelan, hanya untuk menggerakkan kepalaku saja rasanya aku tak sanggup.


Ilham bangkit mengambilkanku air minum.


"Minum dulu" Dengan susah payah, aku mengangkat wajahku.


Glek


Satu teguk


Glek


Dua teguk


Aku tertegun, ketika hendak meneguk yang ke tiga kalinya. Tiba-tiba rasa sakit di perutku hilang.


"Kenapa?" Ilham semakin terlihat panik melihatku mematung.


"Ada yang aneh" Gumamku, sembari meraba-raba perutku yang sakit tadi.


"Apa yang kamu rasain?" Aku hanya menatap Ilham bingung.


"Tadi... perutku rasanya kayak... ditusuk-tusuk gitu. Tapi sekarang, sakitnya tiba-tiba hilang" Sekarang gantian Ilham yang melongo mendengar penuturanku.


"Udah?"


"Ah?!" Ilham bingung lagi.


"Udah, melongonya? tuh mulut mangap terus!" Ilham langsung menutup rapat kedua bibirnya.


"Udah ah! pusing!" Aku pergi meninggalkan Ilham yang lagi-lagi tertegun.


👽👽👽


"Hotspot dong!" Aku menghempaskan tubuhku di sofa yang tidak terlalu jauh dari Ilham.


"Kamu puny Hp?" Aku menatap Ilham jengah, kenapa dia begitu terkejut aku punya Handpone. Lagian ini sudah zama modern, anak kecil aja sekarang mainannya Handpone, masa aku yang sudah segede ini nggak punya.


"Punya, lah! Kasih Hotspotan dong!" Rengekku. Ilham berdiri menghampiriku, kemudian duduk di sofa yang sama denganku.


"Eh..eh!! Mau ngapain deket-deket?!" Ilham menyentil keningku.

__ADS_1


"Tadi katanya mau Hotspotan! Gimana sih!" Aku nyengir, menggeser tubuhku agar tidak terlalu dekat dengan Ilham.


Setelah jaringan internet lancar sempurna di Handpone ku. Aku langsung mengklik akun Instagram, kebetulan tadi aku sempat melihat Ilham sedang membuka aplikasi ini, akan aku cari tau segera siapa sebenarnya dia.


Aku mengetik nama Ilham, sederet akun muncul dengan nama itu. Dengan terpaksa aku buka satu persatu melihat foto mereka.


"Ck, mana sih!" aku bergumam tanpa sadar. Setelah hampir lima menit tak ada satupun akun yang menampakkan foto human di sampingku ini.


Aku mendengus kesal, masalahnya layar di ponselku menampakkan tulisan yang bertuliskan loading sembari mutar-mutar tak tentu kapan selesainya. Aku mendongak.


"Loh! Mau kemana? Jangan jauh-jauh Ham!" Rengekku dan tanpa sadar menarik ujung baju kokonya.


"Iya...iya, yang udah mulai rindu. Nggak bisa ditinggal bentar" Goda Ilham, membuat aku memutar bola mata jengah.


"HOTSPOTNYA MATI!!" Teriakku di depan telinga Ilham. Ilham dengan cepat menutup telinganya. Tapi terlambat, suaraku sudah lebih dahulu menari di gendang telinganya.


"Jangan ge-er!" Aku kembali nyender di sofa.


"Udah sana pergi! Aku cuma butuh ini" Aku segera mengambil Handpone yang Ilham genggam. Ilham melongo, mungkin dia tidak habis pikir dengan  jenis perempuan sepertiku. Ilham menurut, dari pada nanti dia kena teriakan cemprengku lagi.


Bodo amat, aku kembali sibuk dengan benda pipih di tanganku. Mencari Akun Ilham.


Aku berpikir sejenak, setelah sekian lama aku mencari.


"Apa, aku cari IG-nya kak Wahyu aja?" Gumamku. Kenapa tidak terpikirkan dari tadi. aku kan tau akunnya Kak Wahyu. Nggak apa-apa, kan, hanya ingin membuktikan kalau Ilham sama Kak Wahyu itu bukan keluarga apa lagi orang yang sama.


Segera aku mengetik Nama lengkap Kak Wahyu, dia memang sering bikin akun sosial medianya dengan nama lengkap.


"Disuruh nggak geer! Tapi ngepoin Instagram aku!"


"Astaghfirullah!" Hampir saja benda pipih itu jatuh dari tanganku.


Jadi?


Aku menatap Ilham tak percaya, yang ditatap malah memamerkan deretan gigi putihnya.


"Kamu?..." Kata-kataku terhenti. Aku tidak tau harus berucap apa. Jadi Ilham adalah Kak Wahyu, atau Kak Wahyu adalah Ilham.


"Kamu bikin aku makin pusing!" Omelku, sembari memijit ke dua pelipisku.


"Aku? Kenapa?" Ilham bertanya polos. dia yang sekarang tengah menyenderkan tangannya di bibir sofa, menampakkan ekspresi yang menurutku menjengkelkan.  Aku dengan cepat menarik leher baju kokonya, membuat Ilham terjatuh dengan kepala pertama kali mendarat mulus di atas sofa.


Rasakan! Siapa suruh membangunkan sisi premanku!


"Aku salah apa, Ra. Untung jatuhnya di sofa, kalau tidak...."


"Jatuh ke lantai sekalian, aku malah bersyukur!" Potongku. Ilham segera mengubah posisinya menjadi duduk di sampingku. 


Aku mendengus sebal, tapi ini harus segera di selesaikan.


"Kamu kenapa nggak ngasih tau aku, kala kamu Kak Wahyu!"


"Kamunya yang nggak nanya!"


BUGH!!


Aku melempar bantal sofa yang ada di dekatku.


"Garang banget sih, Ra"


Bodo!


Aku segera menarik napas, marahpun nggak ada gunanya saat ini. Meski aku merasa telah dibodohi dan di bohongi.


"Jadi, apa alasan kamu, pura-pura mondok di pesantrenku?" Sekarang sudah jelas, kan? Ilham Maksudku Kak Wahyu... Ah! Bodo, siapapun namanya, intinya mereka orang yang sama.

__ADS_1


"Jagain kamu"


"Yang serius, Ham!" Kataku memelas, percuma adu mulut dengan spesies human jenis Ilham.


"Aku lebih serius!" Jawabnya tegas, Ilham menatapku tidak bercanda.


"Mulanya aku tidak tau, apa alasan orang tua kita, menikahkan kita secepat ini. Tapi setelah aku kembali dari mesir, aku mulai sadar. Ada hal aneh yang telah terjadi" Aku menatap Ilham bingung.


"A...apa?"


"Dendam" Ilham terdiam sejenak, menutup matanya, kemudian menarik napasnya beberapa kali sebelum ia melanjutkan ucapannya.


"Ada yang dendam sama orang tua kita. Dan orang itu tidak akan berhenti setelah apa yang di inginkannya tercapai"


"Tercapai?" Ilham mengangguk.


"Kematian orang tua kita, dan dia sudah mendapatkannya" Aku tertegun. Jadi selama ini firasat aku benar tentang itu, tentang kematian Ayah dan Bunda yang aku rasa aneh.


"Bagaimana kamu bisa yakin?" Ilham menarik napasnya panjang. lagi-lagi memejamkan matanya beberapa detik, aku menatapnya iba. Tentu saja, aku tau apa yang dia rasakan. Dia bahkan tidak bisa menghantar Mama, Papa-nya ke peristirahatan terakhir.


"Aku sudah Ikhlas, Ra. Atas apa yang menimpa orang tua kita. Tapi rasa penasaranku tidak bisa aku pendam. Semua terjawab di buku ini, dan dari rekaman cctv yang bulan lalu aku ambil.


"Cctv? Seingat aku, tidak ada cctv yang terpasang di sana. Dan polisi juga mengatakan itu, jalan itu kosong Ham. Rumahpun nggak ada di sana" Ilham mengangguk yang membuat aku semakin bingung.


"Memang di jalan itu tidak ada, tapi tidak dengan rumah kosong yang berada berada di bukit itu" Ilham segera membuka buku yang entah sejak kapan dia bawa. Dia mengambil selembar koran yang cukup usang, kemudian memberikannya kepada ku.


"Kamu lihat rumah ini?" Aku mengangguk. Ternyata Ilham menunjukkan koran tiga tahun lalu, dimana di sana memberitakan kecelakaan yang menghilangkan nyawa ke dua orang tua ku. Dan rumah yang Ilham tunjukkan berada di atas bukit yang langsung mengarah ke jalan raya. Cukup jauh namun karena letakknya yang berada di ketinggian membuat rumah itu masih terlihat.


"Aku dapat rekaman cctv-nya dari rumah ini" Aku menganga, bagaimana bisa Ilham bisa berpikir sejauh itu.


"Coba kamu lihat" Sekarang Ilham membuka handponenya, memutar sebuah video yang memang tidak terlalu jelas.


Aku menatap lekat ketika sebuah mobil berhenti secara tiba-tiba. Aku mengenal mobil itu, itu mobil orang tuaku.


"Itu siapa, Ham?" Tanyaku, yang aku tau Ayah dan Bunda hanya berdua di dalam mobil.


"Entahlah, Ra. Coba saja kamu tonton sampai selesai. Aku yakin kamu akan tau siapa dia" Aku mengangguk.


Aku melihat Ayah dan Bunda berlari menjauhi mobil. Namun tiba-tiba sekelebat bayangan putih seolah menahan mereka.


Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan, namun aku melihat orang yang ada di dekat mobil itu tertawa.


Mataku membulat sempurna ketika tiba-tiba tubuh ke dua orang tuaku melayang, seolah terangkat. Bunda terlihat memegang perutnya yang besar. Orang di samping mobil itu semakin mendekat. dan tiba-tiba mobil milik Ayahku melayang menghantam Ayah dan Bunda.


Aku menutup mulutku, yang hampir saja terpekik histeris. Namun belum sampai disitu keterkejutanku. Entah sejak kapan ada satu mobil lagi di belakang. Aku yakin orang di dalam mobil itu melihat ke anehan yang menimpa kedua orang tuaku.


"Kamu tau, siapa di dalam mobil yang satu itu?" Aku menggeleng, masih dengan tangan yang membekap mulutku.


"Di sana, Papa dan Mama" Aku menatap Ilham tak percaya, bagaimana bisa?


Mataku kembali menatap ke layar handpone milik Ilham. Orang yang tadi sempat berdiri di dekat mobil Ayahku, berjalan mendekati mobil Om Adit dan tante Syifa.


Aku menutup mata ngeri, ketika mobil itu melayang menghantam mobil Ayahku.


Pantas saja, kenapa polisi mengatakan ini kecelakaan, bahkan tanpa menyentuhpun orang itu mampu berbuat seperti ini.


Aku tak sanggup lagi membendung air mataku.


Satu tetes, berhasil jatuh dari bola mataku.


"Kamu bisa lihat dengan jelas?" Ilham mem-pause video itu.


"Ini kan?!" Aku menatap Ilham tak percaya.


"Sekarang mereka mengincar, kamu" Aku menelan salivaku susah payah. Bagaimana bisa?

__ADS_1


"Orang yang ada di dalam video ini, telah bersekutu dengan Makhluk ini. Aku tidak bisa melihatnya, Ra. Yang aku tau, makhluk ini mengeluarkan wangi melati. Dan kamu tau Artinya?" Aku mengangguk, Tapi aku masih belum percaya kalau makhluk yang selama ini di ceritakan Ayah adalah wanita dalam sumur itu.


__ADS_2