Pesantren Berdarah

Pesantren Berdarah
Teror


__ADS_3

...Kenyataan memang terkadang tak seindah hayalan...


...Tapi kenapa aku harus mengetahui kenyataan yang sepahit ini?...


...👽👽👽...


Aku tak henti-hentinya mengoceh sekeluarnya aku dari kamar Ustadzah, Ilham sungguh menyebalkan. Nggak bertemu langsung maupun via telpon dia tetap saja menyebalkan.


Bisa-bisanya dia buat pipiku memerah seperti ini. Dan dengan seenak jidatnya mematikan sambungan telpon sebelum aku selesai mengomelinya. Awas saja kalau nanti bertemu.


Langkah kakiku terhenti ketika melihat Dela dan Iqlima sedang berbincang-bincang dengan seseorang. Mereka berdua tersenyum lalu Dela lebih dahulu menyalimi orang tersebut. Tapi itu siapa? Masalahnya dia seorang laki-laki. Setau aku Dela tidak pernah di jenguk oleh ayahnya begitupun dengan Iqlima.


Ayah Dela tidak tinggal di daerah ini dengan keluarga barunya. Dan Iqlima sendiri, seperti yang pernah dia bilang, ayahnya lumpuh akibat kecelakaan. Dan tentu saja ayah dari kedua temanku itu tidak pernah aku lihat.


"Lihat apa, Ra?" Entah kapan Iqlima dan Dela berada di depanku. Tanpa menunggu jawabanku Dela langsung pergi tanpa sedikitpun melihat apa lagi berbasa basi denganku. Mukanya yang tanpa ekspresi membuatku menelan sedikit rasa kecewa.


Sedih, tentunya. Namun di sini aku tidak merasa bersalah, yang seharusnya marah itu sebenarnya aku bukan? Tapi kenapa ini malah sebaliknya.


"Itu tadi, siapa Ma?" Iqlima terlihat sedikit gelagapan, kemudian sesekali melihat ke arah Dela yang sekarang sudah hampir sampai di depan kamar.


"Oh, itu tadi Ayah Dela"


Ayah Dela? Tapi kenapa dia tidak memanggil kami semua? Biasanya siapapun yang datang menjenguk dia pasti akan membawa kami bertemu, meski hanya sekedar untuk mengenalkan kami.


Tentu ini membuat aku bingung? Yang datang adalah ayahnya, tapi dia hanya mengajak Iqlima, sedangkan kemarin-marin ketika sepupunya, Ibu, Nenek  atau bahkan teman rumahnya yang datang dia langsung mengajak kami untuk kenalan atau berbasa basi. Tak peduli kami sedang ada dimana, lagi mengerjakan apa. Yang penting kami harus ikut. Terasa aneh bukan?


"Kenapa nggak ajak aku sama Fitri dan Ica? Biasanya seperti itu" Aku menatap Iqlima menyelidik.  Dari gerak-gerik matanya, Iqlima terlihat sedang menyusun alibi. Aku yakin ada yang berusaha dia sembunyiin dari aku. Sesekali matanya menatap ke arah Dela yang ternyata masih berdiri di depan pintu menatap datar ke arah kami.


Apa Iqlima takut? Wajahnya begitu terlihat tegang.


"Ma, Kenapa?"


"Itu, tadi karena Fitri dan Ica belum balik. Sedangkan kamu sendiri masih nerima telpon" Cukup masuk akal, tapi sayang, Iqlima tidak bisa menutupi rasa gugupnya. Dan aku tahu dia memang tidak pandai untuk berbohong.


"Aku duluan ya" Iqlima segera pergi dari hadapanku.


Tanpa sengaja mataku melihat seseorang tersenyum seolah mencemooh ku. Hanya sebentar, tidak sampai beberapa detik karena orang itu langsung pergi.


Tunggu, wajahnya terasa tidak asing. Namun dimana aku pernah melihatnya? 


"Orang yang ada di dalam video ini, telah bersekutu dengan Makhluk ini. Aku tidak bisa melihatnya, Ra. Yang aku tau, makhluk ini mengeluarkan wangi melati"


Mataku membulat sempurna, aku ingat sekarang. Orang yang tadi, yang sempat tersenyum ke arah ku adalah orang yang sama dengan yang ada di Cctv itu.


Aku tidak bisa tinggal diam, orang itu telah membuat aku dan Ilham kehilangan orang tua.

__ADS_1


Dengan cepat aku berlari menaiki tangga, berusaha mengejar, Semoga dia belum jauh. Aku terus saja berusaha memfokuskan pandangan, jangan sampai aku lengah, dia harus bertanggung jawab dengan apa yang telah dia perbuat.


Aku berhenti di antara ujung lorong dan gerbang biru dengan napas yang memburu. Untung keadaan asrama kalau hari senin jam segini sepi, jadi pengamanan masih longgar. Tapi sekarang, Aku harus mencarinya kemana? berbelok ke lorong? atau lurus melewati gerbang biru.


Aku ingat, setiap kendaraan yang terparkir berada di sekitar majelis. Itu tandanya kemungkinan besar dia berjalan melewati lorong. Aku segera berbelok, berlari menyusuri lorong.


Langkah kakiku terhenti di tengah lorong, ketika tanpa sadar aku menyadari kalau baju yang di pakai orang yang aku cari ini sama persis dengan baju orang yang berbicara dengan Dela dan Iqlima tadi.


Jadi selama ini? Ayah Dela adalah orang yang telah membuat aku kehilangan Ayah dan Bunda. dan bodohnya aku baru tau sekarang.


Tanpa sadar air mataku sudah menetes, mengetahui fakta ini, membuat hatiku ngilu.


Apa Dela juga memiliki andil dari semua yang aku alami beberapa minggu ini? Wanita dalam sumur itu, kemudian aku yang tiba-tiba bisa melihat makhluk-makhluk tak kasat mata itu. Apa dia yang membuat ini semua?


Tapi dengan alasan apa dia melakukan ini? Apa karena Ilham? Setahu aku, aku belum mengenal Ilham ketika aku terjatuh ke dalam sumur.


"Akhh!!" Belum selesai otakku mencerna semua keganjilan ini. Tiba-tiba leherku terasa di cekik.


Tidak, ini bukan hanya perasaanku saja. Namun memang ada sebuah tangan yang kini dengan tanpa ampun mencekik leherku keras.


Aku berusaha membuka mata, dan lagi-lagi mataku membulat sempurna ketika melihat orang yang aku cari  tadi tengah berdiri tepat di depanku.


Aku terus saja meronta, mencoba melepaskan tangannya dari leherku. Sementara dia hanya tersenyum seolah mengejekku.


"Le...pas!" Dadaku sudah terasa sesak, dia terlalu keras mencekikku sampai tubuhku hampir tidak tersentuh tanah.


BUGH


Tubuhku terpental menabrak tembok.


"Uhuk..."


"Ra, kamu kenapa?!" Aku melihat Fitri dan Nisa berlari ke arahku. Mereka sepertinya baru kembali dari menghantar orang tuanya ke tempat parkir.


Aku berusaha bangkit dengan menahan sakit yang sungguh terasa meremukkan tulangku. Belum lagi rasa sesak akibat cekikan tadi masih membuatku susah untuk bernapas.


Entahlah apa yang terjadi pada diriku, jika aku tidak memiliki pertahanan tubuh yang cukup kuat.


Aku bahkan lupa beberapa kali dalam bulan ini leherku di cekik dan tubuhku membentur keras seperti ini.   Sepertinya aku cocok untuk masuk ke pangkalan militer indonesia, andai tinggi tubuhku tidak sependek ini.


"Kamu jalan nggak pakai mata kaki ya? makanya jatuh kayak gini?" Nisa memukul mata kakiku yang tertutup kaos kaki.


"Lagian mata kakinya ditutupi kayak gini" Fitri menambahkan. Aku berusaha tersenyum diantara rasa sakitku.


Sepertinya mereka memang tidak melihat apa yang baru saja aku alami. dilihat dari mereka yang masih bisa bercanda seperti ini. Syukurlah.

__ADS_1


"Bukannya bantuin berdiri!" Aku berusaha menunjukkan ekspresi kesal pada mereka. Mereka berdua terkekeh lalu menarik tanganku.


Aku memejamkan mata menahan rasa sakit yang luar biasa di setiap tulang-tulangku. Kayaknya aku butuh di ronsen, kali aja ada tulangku yang pindah alamat.


"Kenapa setiap kamu jatuh, selalu mengenaskan kayak gini sih?!" Fitri menepuk-nepuk bajuku yang kotor.


"Kamu ngapain di sini?" Nisa ikut membersihkan bagian belakang bajuku. Meskipun mereka terlihat sebal, tapi aku tahu mereka khawatir dengan temannya yang ceroboh ini.


"Udah, ayo pulang. Tadinya aku mau jemput kalian. Eh malah jatuh"


Lebih baik mereka tidak tau yang sebenarnya, ini terlalu berbahaya. Tapi bagaimana dengan Iqlima? Aku sudah terlanjur menceritakan kegundahanku tentang masalah foto itu ke dia. Semoga dia bisa menjaga rahasia. Dan mungkin kebenaran yang baru saja aku ketahui ini lebih baik hanya aku yang tahu.


👽👽👽


"Hiks...Hiks..."


Aku menghentikan langkah ketika mendengar suara isakan. Siapa yang nangis jam segini?


"Ra, kok berhenti? Ayo kita pulang!" Aku menoleh ke arah Iqlima yang menungguku di ujung lorong.


Kami memang baru pulang mengaji, dan jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


Sudah hampir satu minggu berlalu semenjak kejadian di lorong ini. Dan sudah satu minggu inipun Dela masih saja mendiamkanku. Padahal aku terus saja berusaha mengajaknya mengobrol. Terlebih lagi ingin memperjelas semua kenyataan yang aku dapatkan.


"Apa masih ada orang ya di majelis?" Aku menghiraukan ajakan Iqlima. Badanku kembali berbalik, menengok ke segala arah. Seingat aku, memang kelasku yang paling terakhir pulang dan memang jadwal Sekolah Diniyah selesai jam sepuluh sebenarnya.


Dan yang aku lihat memang sepi, hanya suara jangkrik yang sesekali menyahut.


Mungkin aku salah dengar. Aku membalikkan badan kembali, ingin menyusul teman- temanku yang memang sudah cukup jauh di depanku.


"Hiks...Hiks...Hiks...."


Aku mematung, menatap lurus ke arah sudut lorong didepanku. Di sana ku lihat seorang anak kecil tengah duduk menelungkupkan wajahnya di kedua lututnya, rambutnya yang panjang tergerai kedepan menutupi samping wajahnya.


Aku menelan salivaku susah payah, itu sudut tempatku terbentur senin lalu, dan anak itu duduk persis di tempatku terjatuh.  Perasaanku mulai nggak enak namun kakiku terus melangkah pelan menghampirinya.


Aku mencoba mengingat-ingat, apakah di dalam pesantren ini ada yang memiliki anak seusia dia, tapi seingatku malah yang ada cuma anak laki-laki.


Sekitar beberapa langkah lagi, aku kembali berhenti. Rasanya aku ingin putar balik untuk menghindari dia, perasaanku menyuruhku untuk menjauh.


Aku menyesali sikapku tadi yang tidak meminta Iqlima untuk menungguku, aku menyesali sikapku yang terlalu kepo dengan apa yang telingaku dengar.


Sudahlah, menyesal juga nggak ada gunanya. Sekarang aku kembali menatap ke arah anak kecil yang masih terisak.


"Dek... kenapa malam-malam di sini?" Aku masih berdiri, belum berani menyentuhnya. Lagi-lagi dia hanya menangis.

__ADS_1


Aku mengulurkan tangan berusaha mengusap pucuk kepalanya. Namun tiba-tiba dia mendongak menatapku dengan mata yang mengeluarkan darah sebelah, bukan hanya darah yang keuar namun memang bola matanya telah mengempes sebelah dan pipi sebelah kirinya yang terlihat sobek.


"Kakak harus tanggung jawab!"


__ADS_2