Pesantren Berdarah

Pesantren Berdarah
Kue Ulang Tahun


__ADS_3

...Aku hanya bisa tersenyum malu...


...Ketika kita bertemu...


...Dan engkau melihatku bersemu...


...Wajar, karena kamu membuat duniaku terasa baru...


👽👽👽


Aku berjalan pelan menuju dapur melewati ruang tengah. Sekarang jam sudah melewati angka dua belas malam, setelah perdebatan yang cukup panjang dengan Ilham tadi dan diakhiri gara-gara vas bunga yang tiba-tiba terlempar dan hampir mengenai kepalaku. Dia menyuruhku untuk tidur, sebenarnya masih banyak pertanyaan yang bersarang di kepalaku, namun aku tidak mau hal-hal aneh kembali terjadi.


Tapi ada yang aneh, selama di rumah aku tidak pernah melihat makhluk-makhluk tak kasat mata itu, bahkan sekedar suaranya saja tidak ada. Apakah aku sudah normal kembali?


Bayangkan saja bagaimana terguncangnya jiwaku atas ke abnormalanku yang tiba-tiba itu. Untung masih waras sampai sekarang. Namun gantinya jalan cerita hidupku yang aku rasa kurang waras.


"Mau kemana? Bukannya aku suruh kamu tidur?" Seketika aku menghentikan langkah, ternyata human satu ini belum tidur. Apa yang ia kerjakan di ruang tamu sendiri udah lampu dimatiin, gelap-gelapan. Astaghfirullah otakku.


"Jangan mikir yang nggak-nggak, kamu mau kemana?" Aku melongo tak percaya. Ini untuk yang keberapa kalinya aku rasa dia bisa baca fikiranku. Manusia aneh.


"Mau ke dapur, " Jawabku jujur, kayaknya percuma bohong sama dia.


"Ngapain?"


"Menurutmu? Orang ke dapur ngapain? Kepo aja kayak monyetnya dora!"  Sabar Rara, harus sabar. Lagian ni hati bawaannya kenapa pengen judes mulu ama dia.


Ilham bangkit, dengan cahaya yang remang-remang aku masih bisa melihat dia berjalan mendekatiku. Refleks aku mundur mengikuti gerak langkahnya.


"Eh! Mau ngapain?! Maju selangkah lagi aku jadiin kamu perkedel!" Ilham berhenti melangkah hanya berjarak beberapa meter dari aku.


"Udah malam, lebih baik kamu tidur. Besok kita harus bangun pagi. Aku tau dari kemarin kamu kurang tidur"


"Kamu aja yang tidur sana! Lagian ngapain masih melek sampai jam segini?" Ilham menatapku menyelidik. Aku tak mau kalah, ku tatap dia dengan tajam, lebih tepatnya melotot.


Setelah sekian detik tatap-tatapan nggak jelas, Ilham akhirnya menunduk, menghembuskan napasnya kasar.


"Nurut apa susahnya sih?" Sedetik kemudian Ilham menyambar tubuhku, membopongnya kembali ke dalam kamar. Tentu saja hal yang dilakukannya ini membuatku terkejut.


"Hei!! Turunin! Ck... Berani-beraninya kau... Ilham!!" Aku menggebuk punggungnya keras.


"Ilham!!...." Dengan satu tangannya yang tersisa, Ilham membungkam mulutku. Membuat suaraku tenggelam di dalam tangannya.


"Dasar cerewet, Diam. Kalau tidak nenek sama Adam akan bangun. " Dia memperingati.


Peduli apa aku. Justru itu yang aku mau, biar nenek melihat kelakuan cucu dadakannya yang seperti ini.


Kurang asem, kelebihan micin. Berani-beraninya dia memperlakukanku seperti ini. Aku terus saja meronta di gendongannya.


"Dasar mesum! Berani-beraninya kamu nyentuh aku! Mau aku cincang..."


"Kalau kamu masih belum bisa diam, aku nggak bakalan lepasin tangan aku di mulut kamu"  Aku seketika berhenti teriak, bukan karena ancamannya tapi berada sedekat ini sama dia, membuat jantungku seperti mau salto.


Aku segera mengangguk, supaya Ilham melepas tangannya dari mulut aku.


Aku segera bernapas lega.


"Kenapa kamu bawa aku ke kamar? Ck... sudah aku bilang, aku mau ke dapur, Ilhaaaam!"


"Makanya dari tadi aku nanya, mau ngapain? Kamu malah nyamain aku sama monyetnya dora." Aku yang masih sibuk merapikan jilbab dan gamisku sambil merutuk sebal dalam hati, tidak menghiraukan pertanyaannya.


Aku masih mode marah, aku nggak habis pikir, apa yang ada di dalam pikirannya yang tiba-tiba membopong aku ke kamar. Apa kabar Calon suamiku nanti, kalau tau calon istrinya sudah di sentuh kayak gini.


"Aku suami kamu, jadi ngapain masih mikir calon suami?! Yang pasti sudah ada di depan mata! buang pikiran unfaedah itu!" Aku menatapnya heran. Kenapa dia yang ngegas, seharusnya aku yang marah sama dia bukan malah sebaliknya.


Tapi iya juga, Ilham kan suami aku. Tidak! Aku masih belum terima pernikahan yang menurutku sepihak ini.


"Kenapa susah sekali kamu ngasih tau, cuma mau ngapain ke dapur?"


"Kalau kamu bisa baca pikiran aku kayak gini! Ngapain masih nanya?! Seharusnya kamu tau bambang!" Jawabku geram. Aku yakin dia bisa baca pikiran aku, dari beberapa kalimat yang Ilham lontarkan dari tadi, sudah mampu memberitahuku.


"Bambang?! Siapa dia?!"  Aku menatap Ilham murka, rasanya pengen aku bunuh saja spesies satu ini. Andai saja bunuh orang nggak dosa dan nggak masuh neraka. Udah aku lakuin dari beberapa menit yang lalu.

__ADS_1


"Gimana aku mau tau, apa yang mau kamu lakuin. Di pikiran kamu cuma ada niat mau ngebunuh aku. Astaghfirullah Ra! Jadi kamu mau ke dapur, mau ambil pisau buat bunuh suami kamu!?"


Aku mengerang frustrasi


Tenggelamkan saja aku ya Allah. Aku ikhlas, ridho. Dari pada harus berurusan sama human sinting di depan aku.


"Belum puas mau ngebunuh aku? pakai bilang aku sinting segala?..."


"Diam!! kalau nggak, aku benar-benar cincang kamu! Terus aku kardusin! Dipaketin ke antartika! Jadi makanan beruang kutub, mau?!" Baru kali ini aku nemu manusia yang lebih cerewet pakai banget dari pada aku.


Ilham diam. Aku menghembuskan napas kasar. Yang perempuan di sini sebenarnya siapa? Aku atau dia?


"Ya kamulah, gi..."


"Diam!" Aku memijit kepalaku kasar. Mencoba menenangkan diri. Kenapa Ilham berubah cerewet seperti ini perasaan di pondok dia begitu cool. Tapi kenapa sekarang kayak mak-mak.


"Aku mau bikin kue, Adam besok ulang tahun. " Lebih baik aku kasih tau dia, dari pada kesabaran aku hilang dan benar-benar ngarungin dia. Ilham tersenyum simpul.


"Ya udah aayo. Ilham menarik tanganku keluar dari kamar.


"Eh! Mau kemana?!" Ilham menghentikan langkahnya lalu menoleh


"Katanya mau bikin kue. "


"Tapi lepasin dulu! Bukan muhrim!"


"Mahram kali, bukan muhrim" Ilham melepas tangannya dari tanganku.


"Aku bisa sendiri, lebih baik kamu tidur!" Di bantu dia? Aku nggak yakin kuenya bakalan jadi, yang ada entar aku malah masuk rumah sakit gara-gara darah tinggi hadapin dia.


"Yakin bisa? Kamu kan belum pernah bikin kue"


"Wah! Ngeremehin" Sejujurnya aku juga ragu, bisa bikin kue yang enak atau tidak. Biasanya nenek yang bikinin Adam kue. Tapi males banget dibantuin sama dia.


"Udah ayo, mikirnya kelamaan" Aku pasrah, akhirnya aku menurut dan mengekori Ilham ke dapur. Hadepin orang keras kepala ditambah cerewet ternyata rasanya tidak enak. Ada pahit-pahit campur pengen bunuh gitu.


Aku mulai menyiapkan bahan-bahannya, untung saja nenek suka bikin kue, jadi untuk bahan-bahan kuenya aku tidak perlu repot-repot lagi keluar untuk beli.


"Kalau cuma mau bikin satu kue, tepung terigunya cukup 160 gram aja, nggak usah kebanyakan"


"Iya bawel!" Aku mulai menuang tepung terigu ke wadah yang sudah Ilham siapkan.


"Katanya bisa, kenapa tepungnya yang duluan kamu tuang?" Aku mendongak menatap Ilham heran.


"Kalau nggak tepung, terus apaan?" Ilham berjalan mendekatiku. Mengambil margarin kemudian memanaskannya terlebih dahulu diatas wajan.


"Terus aku harus apa?" Aku menatapnya kesal.


"Ambil wadah yang kosong itu, masukan telur, gula pasir, sama SP. Kemudian mixer sampai ngembang" Meskipun kesal sama dia, aku menurut. Dari pada berdebat nanti malah pekerjaannya nggak kelar-kelar. Sejujurnya mataku sudah ngantuk pengen berselancar di alam mimpi.


"Mixer yang bener"


"Iya-iya! ini juga mixernya sudah pakai perasaan" gerutuku. Gimana mau awet mudah kalau kayak gini. Kalau sama dia bawaannya pengen makan orang bulat-bulat. saking marah-marah melulu.


"Mixernya itu pakai tenaga bukan perasaan. " Ilham memegang ganggang mixer di atas tanganku.


Aku membeku. Bisa nggak dia tidak bikin detak jantungku berlomba seperti ini. Aku hendak menarik tanganku namun Ilham semakin mengeratkan genggamannya.


"Biarin seperti ini, biar kamu bisa tau bagaimana cara mixer adonan yang benar"


"Tapi sayang, modusnya sudah ketebak mas, lepasin!" Ilham segera melepas genggamannya.


"Iya, Sa-yang. Sudah ketebak. " Ilham mengulang ucapanku, dengan menekan kata sayang ketika dia mengulangnya.


Aku bungkam, tak berkata-kata lagi. Kenapa dia begitu hobi melihat aku speechless.


👽👽👽


Sekitar tujuh puluh menit berlalu, akhirnya kue yang kami buat jadi. Meski harus menyetok banyak kesabaran meladeni Ilham yang cerewet kayak mak-mak arisan, tapi aku puas melihat hasil kue yang kami buat.


"Alhamdulillah" Lirihku bahagia.

__ADS_1


"Makasih ya, udah bantuin" Ilham menatapku heran, masalahnya dari tadi, selama kami membuat kue. Aku tak berhenti merutukinya, sampai berniat membungkusnya pakai karduspun pernah.


"Meskipun kamu nyebelin, tapi aku harus tetap berterima kasih sama kamu, jangan geer!"


"Kita taruh kuenya di kulkas dulu. biar besok kita ambil" Aku mengangguk mengambil kue yang terlihat begitu enak lalu membawanya menuju kulkas.


"Sudah kan? Sekarang kita tidur, kamu nggak mau bikin Adam kecewa cuma gara-gara nanti telat bangun?"


"Kita?" Aku menatap Ilham horor, ucapannya terlalu ambigu di telingaku.


"I-iya... Maksud aku.. bukan tidur sekamar"


"Makanya kalau ngomong yang jelas! Dasar ambigu!"


"Emang kamu mau? Atau jangan-jangan ngarep?"


"A-aw!!"


"Ngomng apa?! Ah!! Bener-bener ya!! Ni mulut pengen di slending!" Aku menarik telinga Ilham keras, memiliki tubuh yang lebih pendek darinya tidak membuatku terhalang untung menjahatinya.


"Aduh!! I-iya maaf-maaf..." Aku menarik kasar tanganku, memberikannya tatapan membunuh. Untung aku masih baik, masih kalem, jadi Ilham maih selamat. Kalau nggak cuma ada dua pilihan untuk dia, rumah sakit atau kubur.


Tok...tok...tok...


Aku dan Ilham sama-sama menoleh ke arah pintu. Kami saling bertanya lewat tatapan, siapa yang bertamu semalam ini, bahkan ini sudah hampir mau pagi.


"Mau kemana?" Ilham menarik ujung jilbabku, membuatku tertarik kembali tertarik ke belakang.


"Buka pintulah!" Pengennya nggak ngegas bicara sama dia, tapi kelakuannya buat mulutku nggak bisa di rem.


"Kamu ini pintar, tapi otak nggak di pakai. Mana ada orang bertamu jam segini"


"Terus?! menurut kamu itu siapa? ah!" Ilham diam, dia malah memejamkan mata nggak jelas.


Bodo amat, aku berjalan hendak membukakan pintu namun dia kembali menarik ujung jilbabku.


"Cari mati kamu Ra!" Suaranya meninggi.


"Gaje banget sih! Aku... eh! mau kemana?!" Ilham menarikku ke arah endela bukan pintu.


"Lihat!" Aku membelalakkan mata tak percaya, segera ku tutup mulutku agar tidak bersuara.


Himmi, bagaimana bisa dia ada di depan rumahku. Dan lihat apa yang dia bawa, sebuah pisau dapur.


"Itu bukan Himmi... Maksud aku, ada makhluk lain di dalam tubuhnya. Dan makhluk itu mengincar nyawa kamu" 


Sudah aku duga, tapi kenapa?


Tubuh Himmi memang sedikit melayang dan tatapannya begitu kosong menghadap pintu.


Ilham segera menarik gorden itu kembali.


"Kenapa di tutup?"


"Dia melihat kita" Aku mulai merasa sedikit takut.


"Apa mungkin, dia akan merusak pintu atau kaca jendela lalu membunuhku?" Ilham menggeleng, membuat rasa khawatirku sedikit berkurang.


"Tidak, itu tidak bisa dia lakukan di rumah ini" Aku kembali menatap ke arah pintu yang tak jauh dariku.


"Wangi melati" Lirihku, yang membuat Ilham terlihat sedikit menegang.


"Lebih baik kita jangan di sini, selama  akses masuk ke dalam rumah ini tidak di buka, dia nggak bakalan bisa melukai siapapun"


"Bagaimana dengan besok?"  


"Kamu tenang saja" Aku mengangguk, meski rasa khawatir itu masih saja aku rasakan. Aku dan Ilham kembali ke ruang tamu.


"Lebih baik kamu tidur sekarang" Aku diam sejenak, bagaimana aku bisa tidur dengan hati masih dalam keadaan khawatir seperti ini? Bagaimana jika nanti makhluk itu masuk ke dalam kamar aku, siapa yang akan menolongku?


"Masuklah, aku akan menjagamu di sini" Aku menurut, aku sengaja membiarkan pintu kamarku terbuka, memudahkanku untuk meminta tolong jika ada sesuatu yang terjadi nanti.

__ADS_1


Aku membaringkan tubuhku, mencoba untuk tertidur. Aku harus yakin tidak akan terjadi apa-apa denganku maupun yang lain.


__ADS_2