Pesantren Berdarah

Pesantren Berdarah
Curiga


__ADS_3

...Sejatinya bahagia itu sederhana...


...Tak perlu barang mewah ataupun harta berlimpah...


...Cukup dengan Bersyukur, maka hati akan tahu rasanya Bahagia...


...👽👽👽...


Aku bergegas kembali ke ruang keluarga. Syukur, mereka masih asyik dengan kotak menyala itu, maksudku TV.


Aku melirik ke arah Iqlima yang tengah fokus memperhatikan foto dengan bingkai besar di sebelahnya.


"Ra, sini deh" Aku bangkit, berjalan mendekati Iqlima.


"Ada apa Ma?"


"Ini kamu, kan?" Aku mengangguk. Aku baru menyadari, kapan foto ini terpajang di ruang keluarga? Seingat aku foto ini ada di kamar tamu.


"Ini siapa?" Iqlima menunjuk ke arah remaja laki-laki yang sedang memangku aku di foto itu.


"Oh Ini.  Ini namanya Kak Wahyu. Dan ini kedua orang tuanya"


"Keluarga?" Aku mengangkat bahu, bingung.


"Aku kurang tahu, yang aku tau mereka sering datang ke rumah. Makanya aku bisa akrab sama anaknya"


"Anaknya ganteng, mirip Ilham. Atau jangan-jangan mereka berkeluarga, sepupu mungkin atau apa. Nama Ilham, kan, ada Wahyu nya juga."


"Nggak mungkin, Ma." Aku malahan tidak tahu nama lengkap Ilham siapa.


"Di dunia ini, nggak ada yang nggak mungkin, Ra. Semua bisa aja terjadi. Apa kamu lupa, Tuan Crab aja anaknya Paus"


"Itu, kan, cuma buatan manusia. cuma imajinasi mereka" Elakku


"Manusia aja bisa buat yang kayak gitu, apalagi yang nyiptain manusia"


Aku diam, kembali memperhatikan dengan teliti foto itu.  Iqlima benar, Kak Wahyu mirip dengan Ilham, atau jangan-jangan Ilham adalah Kak Wahyu. Tapi mana mungkin, Kak wahyu tiga tahun jauh lebih tua dari pada aku. Sedangkan Ilham sendiri, dia aja baru kelas tiga SMA, sama kayak aku.


Hari dimana kita menikah, hari itu juga aku harus berangkat ke mesir untuk melanjutkan kuliahku.


Tunggu dulu, kenapa kata-kata Ilham tadi malam, tiba-tiba terngiang di kepalaku? Kuliah? Aku nggak mungkin salah dengar. Ilham kuliah ke Mesir? Tapi dia,kan, masih SMA. Kenapa tadi malam aku nggak sadar ya?


"Kamu kenapa, Ra?"


"Ah! E... nggak kenapa-napa kok" Iqlima percaya begitu saja. Aku kembali menatap foto itu, kali saja memang bukan Ilham. Tapi semakin lama, foto Kak Wahyu semakin mirip dengan Ilham.


Aku harus menanyakan ini nanti setelah teman-temanku pergi, mungkin saja apa yang dikatakan Iqlima benar, jika ternyata mereka keluarga.


"Ra, adek kamu, kenapa gantengnya kelewatan sih? Masih kecil aja wujudnya udah kayak gitu, gimana besarnya. Kalau aku jadi adek ipar kamu, mau ya?" Nisa mulai ngelantur. Adam terus saja berjalan menghampiriku, dan tidak menghiraukan apa yang Nisa katakan. Anak kecil mana paham.


"Tapi tau? Adek kamu itu kayak lihat benua antartika. dinginnya minta diampun" Fitri menimpali.


"Ada apa, Dam?" Adam menggeleng, lalu tersenyum manis ke arahku.


"Naga bonar makin bar-bar!! Demi apa ! Tadi kamu senyum Dam?" Ke empat temanku sekarang malah fokus menatap Adam, kayaknya TV itu bakal tersaingi sama adek cerdasku ini.


"Ya Allah! Kagak pernah aku lihat Adam senyum, tumben, sumpah! tapi Sekalinya senyum, pabrik gula langsung gulung tikar" Fitri mulai lagi.


"Apa hubungannya senyum Adam sama pabrik gula? Nggak jelas banget Fit" Nisa bertanya polos.

__ADS_1


"Gini nih, kalau otak pintar dipakai pas sekolah aja" Dela yang memang suka sekali menghujat, mulutnya langsung gatel untuk menghujat Nisa.


"Maksud Fitri tuh, senyum Adam terlalu manis, Ca" Jelas Iqlima


"Fitri tadi ngomongnya pakai majas ya? Majas apaan? baru dengar?"


"Shodakallahul'adzim!" Aku terkekeh geli melihat Nisa yang semakin kebingungan. Kalau di dekat mereka aku kayak nonton "stand up comedy"


"Majas itu apa, kak?" Adam mendongak,menunggu jawaban dariku.


"Adam? Kamu bisa bicara? " Ke empat temanku semakin mengangak. Adam mengangguk.


"Suaranya merdu lagi, Hati akak meleleh dek, dengarnya"


"Kalian berdua ini,makanya kalau omblo itu jangan kelamaan. Efeknya kayak gini, kan!"


"Syirik mulu, Del. Kayak nggak MBLO aja kamu!"


"Majas itu maksudnya perumpamaan Dam, contohnya...."


"Elah, Ra! Adam mana paham kamu jelasin yang beginian" Fitri memotong ucapanku. Adam kembali menampakkan ekspresi dinginnya. Netra hitamnya, menampakkan kesenduan.


"Bial Adam cali sendili" Adam bangkit dari pangkuanku. Kaki kecilnya segera berjalan meninggalkan kami.


"Eh.. Cadel?" Seru Fitri lagi, membuat raut wajah Adam semakin tidak ada ekspresi.


"Kamu sih Fit. Padahal baru aja, aku lihat kutub utara mencair. Eh sekarang beku lagi" Fitri cengengesan.


"Kalian pasti nggak akan percaya, tapi kenyataannya, Adam lebih pintar dari pada kita"


"Ah! Seriusan?!" 


"Makin percaya diri akutuh, jadi adek ipar kamu, Ra. Secara aku, kan, pintar" Dela mengangkat sebelah alisnya menatap Nisa dengan jengah.


"Rara yang otaknya lebih cerdas aja, nggak pernah tuh aku dengar muji diri sendiri"


"Udah-udah, kenapa jadi perang rumah tangga gini?" Aku mencoba menengahi Dela dan Nisa yang sebentar lagi terlihat ingin baku hantam. Makin repot urusan rumah tangga, kalau sampai terjadi.


"Kayaknya kita harus segera balik deh, batas perizinan, kan, sebelum asar. " Dela, Fitri dan Nisa kompak melirik ke arah jam dinding, setelah mendengar penuturan Iqlima.


"Yah, padahal film nya belum selesai" Keluh Fitri.


"Apa boleh buat, dari pada nanti kena hukum" Dela ada benarnya juga, meskipun aku masih ingin lama-lama dengan mereka, tapi keselamatan mereka lebih penting.


"Ya udah yuk!" Fitri yang memang menguasai remot TV dari tadi, segera mematikan benda itu.


"Nenek mana Ra?"


"Tadi sih di dapur, lagi masakin kalian makanan buat di bawa"


"Uuu, Makin tayang deh ama Nenek"


"Aku ambilin tas dulu ya" Aku segera menarik tangan Iqlima yang hendak ke kamar, sontak membuat yang lain menatapku heran.


"A..aku aja yang ambilin"


"Kenapa?" Iqlima menatapku curiga. Aku nggak boleh terlihat gugup.


"Tamu adalah Raja, jadi tuan rumah harus melayani dengan baik" Semoga jawaban ku kedengaran masuk akal.

__ADS_1


Tapi aku rasa jawabanku ini semakin mengundang curiga.


"Tamu? Tumben kamu bilang kita tamu!" Sinis Dela.


"Apa, ada yang kamu sembunyiin dari kami?" Aku menggeleng cepat. Tatapan mata dari ke empat temanku seakan-akan mengintimidasi.


Aku hanya tidak ingin mereka salah paham, kalau melihat Ilham ada di kamarku. Aku tidak berniat menyembunyikan ini semua, sungguh. Namun, aku hanya menunggu waktu yang tepat, dan aku rasa sekarang bukanlah waktu yang tepat.


"Ck! Lama!" Fitri berlari menuju kamarku, disusul yang lain.


Aku mengekor dari belakang. Emang ekor bisa di depan ya?


Astaga Rara! Jangan mikirin ekor dulu, yang terpenting sekarang gimana caranya supaya Ilham tetap aman di sana.


Ham, kamu kan bisa baca fikiran aku. Aku mohon! sembunyi kemana gitu, mau di kolong tempat tidur, atau di dalam toples, dimana aja terserah!. Kalau bisa berubah bentar jadi keset juga aku ikhlas, aku ridho Ham. Yang penting mereka nggak bisa lihat kamu!


Batinku berteriak sembari mataku terpejam.


Aku terdiam di ujung pintu, melihat ke empat temanku yang tidak menemukan apa yang mereka curigakan.


"Apa pernah aku bohong sama kalian?"


"Maaf Ra, kami cuma sedikit curiga. Soalnya nggak biasanya kamu kayak gini. Aku perhatiin dari tadi, kamu kayak nggak mau kita masuk ke dalam kamar ini" Aku tersenyum setulus mungkin, mengajak mereka bicara semoga bisa megalihkan fokus mereka.


"Iya udah, kalau gitu kita balik dulu"


Aku menghelus dada lega setelah mereka keluar dari kamarku. Sebelum keluar aku segera memeriksa kamar mandi, mungkin saja Ilham masih di sana.


"Ilham kemana?" Lirihku ketika mendapatkan kamar mandi kosong.


"Aku di sini!" Aku bergegas keluar mendengar suara Ilham.


"Loh? Tadi sembunyi dimana?" Aku menatap Ilham bingung, masalahnya dia sekarang sedang duduk anteng di kasur.


"Kamu, kan, suruh aku berubah jadi keset gimana sih!" Aku menganga, namun segera mengatupkan bibir ketika kesadaranku kembali.


"Yang serius! Kamu kira kita di negeri dongeng!"


"Lah! kamu sendiri yang nyuruh!"


"Ilham!!"


"Di dalam lemari!" Jawabnya ketus.


Keningku semakin mengkerut, dalam lemari? bukannya tadi Iqlima sudah periksa lemari itu. Bibirku hendak terbuka, namun panggilan teman-temanku mengurungkan itu semua. Aku segera berlari menghampiri mereka. 


👽👽👽


Setelah kepulangan mereka, aku bergegas menuju kamar, urusanku sama Ilham belum selesai.


"Loh! Mau kemana?" Aku mendapati Ilham berjalan melewatiku.


"Masih mau ngurung aku juga di kamar?" Aku memasang tampang tak berdosa, nyengir kuda.


"Aku mau nanya soal.... Akhh!!!" Ucapanku terpotong dengan suara pekikkanku yang menahan sakit.


Ilham menoleh, kemudian segera menghampiriku.


"Aakkhhh!!!" Rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba aku rasakan, seolah ada sesuatu yang menusuk perutku.

__ADS_1


__ADS_2