
...Bukankah mengikhlaskan adalah cara terbaik untuk meluluhkan dendam?...
...👽👽👽...
"Ayah, Bunda!"
"Sayang." Mataku berbinar bahagia. Aku segera berlari menghampiri mereka, memeluk dan mencium mereka bergantian. Akhirnya, setelah sekian tahun aku kembali melihat dan menatap wajah teduh mereka.
"Rara, kangen." Ayah dan Bunda saling menatap sejenak kemudian menatapku dengan senyum yang sudah lama aku rindukan.
Aku tak bisa lagi membendung tangis bahagia. Menatap wajah mereka setelah sekian lama, membuat rinduku semakin terasa memenuhi dada.
"Ayah sama Bunda juga kangen." Aku kembali memeluk mereka. Pelukan yang selalu membuatku merasa nyaman dan aman.
"Terima kasih ya, sayang."
"Untuk?" Aku mengerutkan dahi ketika Bunda mengucapkan kata terima kasih sembari mengelus pucuk kepalaku dengan lembut.
"Terima kasih, untuk semua yang telah kamu lakukan." Aku hanya tersenyum membalas ucapan Bunda, karena memang aku tidak mengerti.
"Kita pulang, ya?" Aku hendak menarik mereka, namun upayaku ditahan. Aku menatap mereka bingung, berusaha meminta jawaban dari tatapan mata.
"Nggak bisa sayang, Ayah sama Bunda harus pergi." Kini Ayah yang menjawab, membuat rasa bahagiaku yang tadi perlahan memudar. Aku menatap sendu ke arah mereka.
"Kenapa? Ayah sama Bunda nggak mau ketemu sama Adam dan Nenek? A-Adam sudah besar, Yah, Bun. Dia sekarang sudah mau bicara. A-atau Rara ikut kalian?"
"Kamu harus kembali, sayang. Kalau kamu ikut, siapa yang jagain Adam? Rara mau lihat Adam sendirian?" Aku menggeleng kuat. Tapi aku juga nggak mau lagi berpisah sama kedua orang tuaku.
"Rara mau kita kumpul kayak dulu, Sekarang sudah ada Adam. Pasti makin seru." Air mataku kembali menetes. Bunda mengusap pipiku dengan lembut.
"Nanti kalau sudah waktunya, kita akan kumpul lagi. Tapi sekarang, Rara harus pulang, Karena Ayah dan Bunda juga harus pergi." Mereka mencium keningku bergantian, memberikan senyum terbaiknya untukku.
Aku tak ingin perpisahan itu kembali terjadi, tapi tak ada yang bisa aku lakukan. Ayah dan Bunda benar, aku harus pulang. Kasihan Adam, kasihan Nenek dan juga....Ilham.
👽👽👽
Aku mengedipkan mata beberapa kali, Cahaya lampu di atasku membuat mataku yang baru terbuka menjadi silau.
Aku dimana? Apa aku masih bersama Ayah dan Bunda? Aku mencoba menoleh tapi tak bisa, mencoba menggerakkan tanganpun rasanya begitu sulit. Dan akhirnya yang hanya bisa aku lakukan hanyalah bisa melenguh.
Kepalaku terasa begitu berat ketika aku mencoba untuk menggerakkannya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan tubuh aku? Perasaan baru saja aku bisa berlari kesana - kemari dan akhirnya bertemu dengan Ayah dan Bunda. Tapi sekarang, hanya sekedar menggerakkan bola mataku saja rasanya begitu sakit.
Aku kembali mengerang menahan sakit, ketika aku paksakan mataku lebih terbuka lagi.
Tangan kananku terasa digenggam oleh seseorang. Tapi aku tak bisa melihat secara jelas siapa itu.
"Ra, Alhamdulillah. Akhirnya kamu sadar juga." Aku kenal suara ini, iya aku kenal sekali. Itu suara Ilham.
Sadar? Memangnya aku kenapa? Astaga, iya, Kenapa aku bisa lupa. Aku sempat jatuh dari tebing pemakaman bersama Iqlima.
Jadi, pertemuan aku tadi dengan Ayah dan Bunda, Hanya mimpi?
Aku lagi-lagi melenguh sakit. dan berarti sekarang aku masih hidup? Alhamdulillah.
"Aku panggil dokter dulu." Langkah kaki itu terdengar berlari. Seberapa lama aku terbaring di tempat ini?
Aku tak tahan lagi, kembali ku tutup rapat kedua mataku, menyelam ke dalam mimpi yang terasa jauh lebih indah dari kenyataan yang saat ini aku rasakan.
👽👽👽
Aku menghentikan gerakkan tanganku yang tengah sibuk memetik tangkai demi tangkai bunga yang ada di dekatku, ketika ku rasakan tepukkan halus di pundak kananku.
"Malik?" Ku tatap wajah itu sekilas, masih tak percaya. Kenapa dia ada di tempat ini bersamaku? Yang aku tahu, dari tadi hanya aku di sini.
__ADS_1
Dia hanya tersenyum menanggapi keterkejutanku.
"Ke-kenapa kamu ada di sini?"
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Kenapa kamu ada di sini? Belum waktunya kamu di sini, Ra." Aku menunduk bingung. Belum waktunya?
"Kamu sendiri, kenapa ada di sini?"
"Ini memang tempatku, dan kamu harus pergi dari sini. Pulanglah. dan satu hal yang kamu harus tahu, aku bukanlah Malik."
"Kenapa aku tidak boleh di sini? Bukankah ini tempat umum? terus, maksud kamu bukan Malik, apa? Kamu siapa? "
Hening, tak ada sahutan. Aku segera mendongak. Namun tak ada lagi sosok Malik di depanku. Dia pergi, sebelum semua pertanyaanku ia jawab.
"Ra." Aku menoleh, itu seperti suara Nenek yang memanggil namaku.
Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat Nenek sedang melambai-lambai ke arahku. Seakan memintaku untuk mendekatinya.
Dengan senyum yang tak lupa aku torehkan di wajahku. Aku berlari kecil menghampiri Nenek yang sudah menungguku di ujung sana.
"Ayo, kita balik. Sudah cukup main-mainnya di sini." Aku mengangguk patuh. Meski kenyataannya aku masih ingin berlama-lama, tempat ini begitu indah menurutku. Tapi seindah apapun tempat itu, rumah adalah tempat kembali.
Aku melangkahkan kaki dengan pelan mengikuti langkah Nenek yang berjalan sembari memelukku erat.
👽👽👽
"Ra, ayo bangun. Betah banget tidurnya."
"Aku tahu kamu hobinya tidur, tapi sekarang bangun dulu. nanti tidur lagi!"
"Hem... Padahal udah satu minggu alat-alat merepotkan itu dilepas dari tubuh Rara. Tapi, kenapa sampai sekarang Rara belum juga buka mata."
"Padahal, kemarin Ilham bilang Rara siuman."
Rangkaian percakapan itu mulai terdengar oleh gendang telingaku. Aku mengenal suara mereka. Siapa lagi kalau bukan Dela, Fitri dan Nisa.
"Kita kangen tahu, udah satu bulan nggak ada kamu sama Iqlima di kelas." Terdengar jelas nada kesedihan dari ucapan Dela.
Satu bulan? Jadi, aku sudah berada di ranjang ini sudah satu bulan. Apa kabar dengan otot pinggangku sekarang? Semoga mereka masih bisa berfungsi dengan baik ketika aku sudah bangun nanti.
"Ngapain kangen sama Iqlima? Dia yang udah bikin Rara jadi kayak gini!" Terdengar jawaban ketus dari Fitri.
"Iya, Del. Kamu aja dijadiin kambing hitam sama dia."
Aku mencoba membuka kembali kelopak mataku, dan kali ini bukan cahaya lampu yang ku tangkap melainkan cahaya matahari yang menerobos melalui celah ventilasi yang ada di sampingku.
Aku rasakan tak ada lagi selang oksigen yang membantuku untuk bernapas seperti saat pertama kali ku membuka mata.
Aku mengerjapkan mata berkali-kali, sebelum berusaha menggerakkan anggota badan yang lain.
Mataku lekat menatap tiga orang yang kini tengah sibuk berdebat. Senyum kecil terbentuk di wajahku hanya karena melihat mereka berdebat seperti ini.
"Ra, sudah sadar?" Suara Ilham membuat ketiganya diam, dan kini sama-sama menatap ke arahku.
"Kamu rusakin suasana, Ham. Padahal belum puas aku melihat mereka bertengkar." Ucapku pura-pura sebal.
"Rara!! Aaaa!" Mereka bertiga berhambur memelukku.
"Eh, Rara masih sakit!" Ilham segera menarik jilbab mereka ketika mendengarku terbatuk-batuk. Karena memang pelukan mereka sangat erat.
"Eh, maaf-maaf. Lupa, saking senangnya." Ucap Fitri menatapku lembut.
"Nggak apa-apa. Ilhamnya aja yang terlalu berlebihan." Ilham terlihat tidak terima dengan perkataanku. Namun sepertinya dia tak ingin mengganggu acara temu kangen antara kami, terbukti dari dia yang memilih duduk di sofa sembari menonton TV.
__ADS_1
"Tega, kamu ya udah bikin kami panik!"
"Aduh!" Nisa menarik pipiku gemas.
"Eh, sakit. Ya?" Aku menggeleng pelan sembari tersenyum. Tentu saja tidak, dia hanya menariknya pelan.
"Nikah sama Ilham juga nggak ngasih tahu! Uh!" Fitri mengerucutkan bibirnya.
"Aku aja nggak tau kalau udah nikah!" Jawabku ketus.
"Ah!" Mereka bertiga kompak menatapku tidak percaya.
"Kok, Bisa?" Lagi-lagi kompak.
"Noh, tanya aja ndiri."
Aku tertawa dalam hati melihat ketiga orang di sisiku kini beralih menatap Ilham, biar saja Ilham yang meladeni kecerewetan mereka. Aku? Tinggal menonton pertunjukkan yang akan sebentar lagi mereka buat.
"Ssst...Ssst!!"
"Apa?" Ilham menatap mereka bingung, tentu saja Ilham bingung dari tadi dia hanya fokus menatap layar persegi di depannya.
"Bener nggak dengar atau pura-pura nggak dengar?"
"Ada apa ini ribut-ribut?"
"Nenek?" Walaupun terdengar lirih, namun mampu mengalih fokus Nenek dari Ke empat orang itu.
"Alhamdulillah, cucu Nenek." Nenek segera menghampiriku, mencium keningku dengan lembut. Aku pejamkan mata meresapi kecupan lembut itu.
"Rara, baik, kok, Nek. Udah jangan sedih kayak gitu." Nenek hanya menganggukkan kepala.
"Ya udah, Rara harus makan, ya. Ham, kalian juga harus makan. Nenek udah bawain kalian makanan." Dela segera membantu aku untuk bersandar.
Aneh, aku rasanya baik-baik saja. Tidak seperti orang yang telah terjatuh dari tebing yang tinggi.
Ngomong-ngomong soal tebing, bukankah aku jatuh bersama Iqlima? Terus keadaan Iqlima seperti apa sekarang?
"Del, Iqlima apa kabar? Dia baik, kan?"
"Ra, kenapa masih peduliin Dia? Dia hampir saja buat kamu mati!"
"Dia udah siuman, kan? Sekarang siapa yang jagain dia? Kalian udah jenguk?" Aku terus saja bertanya, tidak peduli dengan Fitri yang menatap tidak suka.
"Apa peduli kita, Ra?" Kini Nisa yang menjawab. "Mau dia sakit, kek, mati lebih syukur lagi!"
"Kok gitu, sih? Bagaimanapun Iqlima tetap teman kita, sahabat kita, keluarga kita. Jangan hanya karena satu kesalahan seribu kebaikannya kita lupain." Fitri dan Nisa diam begitupun yang lain.
Aku tidak habis pikir, apa yang merasuki kepala mereka sampai bisa berpikir seperti itu.
"Seburuk apapun dia, dia masih teman kita, dan akan tetap menjadi teman. Dari sikap dia yang terlihat buruk di mata kita sekarang, setidaknya itu memberi kita sebuah pelajaran. Supaya kita tidak melakukan hal seperti itu."
Suasana masih tetap hening. Mungkin mereka sedang mencerna apa yang aku katakan.
"Kalian sendiri tahu, Iqlima sudah tidak punya ibu. Dan Ayah dia? Kalian tahu sendiri apa yang terjadi sama beliau."
Aku merasakan bola mataku memanas. Mengingat Iqlima kini bernasip hampir sama denganku.
"Ka-kalau bukan kita yang temani dia? Terus siapa? Di saat seperti ini, Dia butuh kita!"
Nenek mengusap kepalaku pelan.
"Iqlima ada di ruang sebelah, Ra. Dia sudah siuman." Kini Ilham yang menjawab.
__ADS_1
Entah ucapanku mungkin melukai tiga orang di dekatku ini sekarang. Tapi aku hanya ingin mereka sadar, Ini sepenuhnya bukan salah Iqlima.
"Selesai makan kita ke sana, ya." Suaraku kembali melembut, di susul anggukan patuh dari mereka.