Pesantren Berdarah

Pesantren Berdarah
Akhir


__ADS_3

Terkadang manusia hanya melihat sisi buruk yang pernah dilakukan oleh seseorang, tanpa mereka menggali terlebih dahulu latar belakang dari apa yang orang tersebut lakukan.


Bukankah Allah sang pencipta makhluk maha pengampun? Lantas kenapa kita yang menjadi ciptaannya enggan untuk membuka sedikit ruang untuk mereka yang berkata 'Maaf'.


Memang kata maaf tak akan bisa mengembalikan cerita yang pernah terjadi. Kata maaf tak akan mengembalikan luka yang sudah terlanjur digoreskan dalam hati.


Namun kata maaf adalah bukti bahwa seseorang ingin memperbaiki cerita itu, kata maaf tak akan mengembalikan tapi mampu merubah luka itu menjadi sebuah pembelajaran.


Kita seharusnya berterima kasih kepada mereka yang sengaja maupun tanpa sengaja menggoreskan luka itu, karena berkat dia, tanpa disadari hati  kita menjadi lebih kuat dan lebih siap ketika luka lain datang menghampiri.


Meski kenyataannya cerita kita dengan dia tak akan sama lagi seperti dulu.


Aku membuka pelan pintu ruang rawat inap di depanku. Perlahan sosok Iqlima yang terbaring dengan mata menerawang kosong terlihat.


Dela mendorong kursi rodaku pelan. Iqlima masih belum menyadari kedatangkan kami, sampai tanganku menyentuh lembut tangannya.


Dia terlihat kaget, namun dengan cepat mengembalikan raut wajah datarnya. 


"Mau apa kesini?!" Iqlima menatap kami sinis.


"Kamu tuh, Ya!!" Aku menarik ujung jilbab Fitri pelan. Menatap dia dengan penuh permohonan. Fitri menurut, dia tidak melanjutkan kata-katanya lagi.


"Kamu pasti belum makan, kan? Kami bawain makanan. Aku suapin..."


"Nggak perlu! Mau apa kalian ke sini?! Aku nggak butuh dikasihanin! Pergi!!"


"Ma, bukan begitu."


"Sudahlah! Lebih baik kalian pergi, sebelum aku menyakiti kalian lagi." Tatapan itu, terlihat begitu penuh luka.


"Aku minta maaf, Ma." Lirihku, sembari menatapnya lekat.


"Rara, Kok, malah kamu yang minta maaf? Yang salah di sini dia,bukan kamu!" Nisa terlihat tidak terima.


"Makan ya, aku tahu kamu belum makan dari tadi." Aku mulai membuka rantang yang dari tadi aku taruh di atas pangkuanku, mencoba menyodorkan satu sendok nasi dan lauk ke arah Iqlima.

__ADS_1


"Aku bilang, pergi!!"


Ting!!


Iqlima menepis keras tanganku, menimbulkan suara dentingan sendok yang berbentur dengan lantai terdengar nyaring.


Sakit? Tentu saja. Yang sakit bukan tanganku tapi perasaanku. Entah, sebesar apa kesalahan yang aku lakukan terhadap Iqlima, sampai dia seperti ini dalam membenciku.


"Aku heran! Sebenarnya yang jadi korban di sini siapa, sih? Kamu yang melukai, tapi seolah kamu yang paling tersakiti! Sadar nggak, Ma? Sikap kamu yang seperti ini sudah membuat Rara sakit. Bahkan bukan Rara aja, tapi kami! Seharusnya kamu yang minta maaf, bukan Rara! Aku kecewa sama kamu, Ma!" Dela yang dari tadi diam, tiba-tiba berbicara.


Iqlima semakin menatapku tajam, dan kini tangannya menarik keras pergelangan tanganku.


"Puas! Puas kamu sekarang, ah?! Mau cari simpati di depan mereka? Terus! Terus saja, Ra. Buat aku makin di benci sama teman-teman aku sendiri!"


Aku menarik tanganku paksa, Mataku benar-benar sudah memanas.


"Ternyata aku salah, aku kira setelah semua kejadian ini kamu akan sadar. Apapun alasan kamu, apa yang kamu lakukan sama aku itu salah, Ma. Tapi aku tidak peduli itu, mungkin di sini aku yang egois, karena menginginkan semua kembali seperti dulu, seperti waktu dimana semua ini belum terjadi. Kita bisa Ketawa bareng, belajar bareng, bahkan sedih juga bareng. Ta-tapi sekarang, aku sadar. Kita memang tidak bisa seperti dulu."


Luluh sudah pertahanan yang aku buat mati-matian. Kelopak mataku tak bisa lagi membendung tangisku. Biarkan saja, mungkin mereka juga perlu tahu, kalau aku tidak setegar yang mereka anggap.


Apa yang salah? Aku sudah berusaha melawan egoku untuk tidak membenci semua yang dia lakukan. Aku sudah meredam amarahku agar semua bisa kembali seperti biasa.


Tapi tetap saja, di sini Iqlima menganggap aku penyebab dari semuanya. Apa aku tidak berhak mendapatkan semua itu?


"Ra, kamu kenapa?" Ilham dengan cepat menghampiriku, ketika pintu kamar, baru ku buka.


"Kenapa bawa infusnya seperti ini? Lihat, darah kamu jadi tersedot keluar." Aku masih tak menggubris, ku biarkan Ilham mendorong kursi rodaku menuju tempat tidur.


"Tunggu di sini, aku panggil suster dulu." Aku menarik lengan baju Ilham, memintanya untuk tetap diam.


"Kamu kenapa, Hem?" Mataku menatap manik hitam yang kini sejajar denganku. Ilham kini sudah menjajarkan tubuhnya, menatap teduh sembari mengenggam lembut tanganku.


Tanpa malu, aku langsung memeluknya. Menumpahkan tangis yang tadi sempat tertahan. Saat ini aku butuh sandaran, butuh semangat.


"Apa aku salah, mencoba untuk memperbaiki semuanya?" Ilham mengusap pucuk kepalaku lembut. Mencoba menyalurkan ketenangan lewat usapannya.

__ADS_1


"Kamu nggak salah." Ilham menarik tubuhku, agar aku bisa menatap kembali matanya.


"Hanya saja, mungkin lebih baik seperti ini." Tangannya mulai mengusap lembut pipiku. Menghapus jejak air mata yang masih terus mengalir.


"Udah, jangan nangis. Jeleknya makin kelihatan." Aku mendorong pelan bahu Ilham, Lagi mode sedih begini, masih saja nyebelin. Dia terkekeh pelan, kemudian membenarkan letak hijabku yang sedikit berantakan akibat memeluknya tadi.


Iya, mungkin Ilham benar. Lebih baik seperti ini, karena Semua tak akan pernah sama. Tapi bagaimanapun cerita selanjutnya, itu memang sudah di gariskan Tuhan untuk hambanya.


"Terima kasih." Ucapku lirih.


"Untuk?"


"I-iya untuk semuanya."


Kenapa aku jadi gugup ditatap oleh Ilham seperti ini. Ilham lagi-lagi terkekeh. Kenapa Ilham terlihat begitu menggemaskan. Astaga, Rara. Sadarlah.


"Jadi? Istriku ternyata sudah mulai jatuh cinta?" Aku segera memalingkan wajahku dari hadapan Ilham. Apa hubungannya ucapan terima kasih dengan jatuh cinta?Ilham benar-benar tidak nyambung.


"Ja-jangan geer, deh! Ingat kamu masih hutang penjelasan!" Ilham kembali mengarahkan mataku untuk menatapnya.


"Setelah kamu keuar dari rumah sakit, aku akan jelaskan semua. Terima kasih, sudah mau percaya." Aku mengangguk, Ilham kini membantuku berbaring kembali ke atas tempat tidur.


Memang semua cerita tak akan berakhir bahagia, tapi di balik cerita itu banyak pelajaran yang bisa aku ambil. Dari kejadian ini, setidaknya aku tahu, siapa yang benar-benar ada dan tulus menyayangiku.


👽👽👽


Alhamdulillah 😭😭 Akhirnya setelah sekian bulan, cerita ini tamat juga.😭


Terima kasih buat teman-teman yang masih setia membaca dan mendukung sampai cerita ini berakhir.


Maaf kalau cerita ini tidak memuaskan, tapi author bahagia, benar-benar bahagia, sampai mau nangis😭😭 karena akhirnya bisa nyelesain.


Berhubung ceritanya sudah tamat, author boleh minta kesan dan kritikannya nggak? Untuk author kedepannya bagaimana? Dan khususnya untuk cerita ini🙏


Author tunggu ya di kolom komentar.

__ADS_1


Sampai bertemu dicerita author yang lainnya😍😍


__ADS_2