Pesantren Berdarah

Pesantren Berdarah
Membingungkan


__ADS_3

...Adakalanya masalah itu memang lebih baik di pendam sendiri...


...Apalagi jika kita menceritakannya pada orang yang tidak tepat...


...Bagaimanapn percayanya kita sama orang...


...Berhati-hati itu perlu...


...karena teman yang kita percaya, juga memiliki teman yang dia percaya...


...👽👽👽...


"Allahumma! Tuh muka kenapa, ditekuk begitu?!" Himmi memiringkan badannya menghadapku. Aku hanya diam, sibuk dengan pikiran yang sekarang tengah bersarang penuh memenuhi otakku.


"Malah diam! Serius kamu tuh nggak cocok kalem kayak gini!" Aku mendengus menatap Himmi, perasaan dari tadi yang gembar-gembor menyuruh aku untuk diam siapa? bukankah dia.


Aku masih tidak berminat untuk meladeni Himmi, pikiranku masih terbayang fotoku sendiri yang tadi di jatuhin oleh Dela.


Apa ada arti dari setiap coretan itu? Atau memang itu hanya sekedar coretan iseng gara-gara dia kesal?


Tapi apa itu ada hubungannya dengan perutku yang tiba-tiba sakit tak wajar itu?


Astaghfirullah, seharusnya aku tidak so'udzon sampai sejauh itu. Aku menggeleng-gelengkan kepala, menepis kecurigaan yang tak beralasan yang mulai meracuni pikiranku.


Aku lebih baik memfokuskan diri mendengar apa yang Abah sampaikan, mungkin saja dengan begitu pikiranku lebih aman dari so'udzon pada teman sendiri.


Bukankah Allah SWT telah berfirman dalam surat yunus ayat 36, "Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja, sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. SesungguhnyabAllah mengetahui apa yang mereka kerjakan."


Bahkan masih banyak ayat dalam Al-Qur'an yang telah melarang kita untuk berburuk sangka atau so'udzon kepada orang lain.


Mungkin memang benar, aku yang terlalu berlebihan dalam mengartikan kejadian itu. Aku harus yakin, mungkin saja Dela punya alasan tersendiri untuk melarangku berhubungan dengan Ilham. Dia temanku sekaligus keluargaku, jadi tidak ada yang perlu dipikirkan lagi.


Tapi bagaimana bisa aku tidak akan menyangkut pautkan hidupku dengan Ilham, sedangkan kenyataan yang ada sekarang, dia adalah suamiku. Bahkan Adam sama Nenek begitu terlihat menyayangi dia. Dan juga selama ini yang aku lihat dia laki-laki baik, kecuali sama aku.


Aku menghembuskan napas kasar, mengingat kata 'suami' dan sikap dia yang kadang nyebelinnya sampai level 100 membuat ku kembali tak habis pikir dengan takdir yang begitu membuatku bingung.


"Rara!" Aku tersadar dari lamunanku ketika Himmi menggeplak kepalaku. Aku mendengus kesal, sembari menatapnya jengah. Selain nyebelin anak ini kurang ajar juga lama-lama, Astaghfirullah.


"Apa!" Ketusku, dan berniat kembali menyelam ke dunia lamunanku. Namun pertanyaan yang terlontar darinya membuatku langsung tersadar dan membelalakkan mata panik.


"Aku perhatiin dari tadi bengong terus! Kamu udah nyatet belum? Itu Abah sudah selesai" Pandanganku beralih ke arah buku yang kini masih tertutup didepanku. Sebelum ke kamar mandi aku sudah mencatat sebagian apa yang Abah jelaskan, itupun hanya sebagian, karena biasanya ada teman-temanku yang dengan senang hati memberiku catatan mereka untuk ku salin ke buku.


Dan sekarang, apa yang akan aku catat? Bisa-bisa nanti ketika balik ke asrama aku akan kena hukuman karena tidak ada bukti aku mengikuti pengajian. Ya, setelah pulang dari sini. Ustadzah akan masuk ke kamar kami untuk mengecek setiap catatan yang kami miliki. Jika tidak ada atau bahkan banyak yang tidak lengkap, maka siap-siap hukum akan menanti.


"Pinjam bentar!" Aku segera mengambil buku yang tengah digenggam Himmi, kurang sopan memang, karena tidak meminta izin dengan baik dan benar.


Himmi melongo sebentar namun kembali bersikap biasa.


"Untung hari ini aku baik, anggap saja itu sebagai permintaan maaf aku, yang sering ganggu kamu" Aku melirik dia sejenak, sembari alisku yang sebelah terangkat.


"Tumben baik, Neng!" Himmi memutar bola matanya jengah.


" Lima menit! Aku kasih waktu lima menit lagi" Aku ingin menyanggah, tapi percuma, tak ada waktu lagi. karena memang santri sudah dipersilahkan untuk kembali ke asrama. Dan tentunya para Ustadzah sudah menunggu di lorong untuk mengamankan siapa yang masih berkeliaran disini.


Untung saja, tanganku mempunyai kemampuan menulis cepat, ya walaupun hasil karyanya mirip seperti tulisan dokter. Yang hanya bisa dibaca oleh penulisnya sendiri.


Tapi, aku bersyukur. Setidaknya aku bebas dari hukuman.


"Ra, kamu duduk dimana tadi?" Iqlima yang memang sudah balik ke asrama lebih dahulu, langsung menghampiriku.

__ADS_1


"Tadi duduk bareng Himmi, kalian aku cari-cari, tapi nggak ada satupun yang kelihatan" Iqlima mengangguk paham.


"Fitri sama Nisa kemana?" Aku yang hanya menemukan Iqlima dan Dela di dalam kamar, langsung mencari keberadaan dua temanku itu.


"Masih di atas, Ibu sama bapak mereka datang ngejenguk" Kali ini aku yang manggut-manggut paham. Tatapanku beralih ke arah Dela yang masih diam, tidak bergeming sedikitpun. Dia kelihatan lagi banyak beban pikiran.Namun aku tahu bagaimana pintarnya dia menyembunyikan itu semua.


Dari sekian banyak orang yang aku kenal, hanya dia yang tidak pernah aku lihat mengeluh atau bersedih.


"Del, kamu kenapa?" Aku mencoba mencairkan suasana kembali dengannya. Aku tidak boleh terlalu memikirkan kejadian tadi.


"Nggak usah ikut campur!" Aku menatap Dela tidak percaya.


Apa yang salah dengan aku? Sampai sikapnya benar-benar berubah sekarang. Dan apa yang tadi dia bilang? Ikut campur? Padahal selama ini dia yang selalu mengingatkan kami untuk selalu terbuka kalau ada masalah, terlebih lagi jika itu menyangkut antara kami.


Iqlima mengusap bahuku, mengisyaratkan untuk sabar.


"Del, nggak boleh gitu. Dela tadi ketahuan nggak nyatet sama Ustadzah Salma. Jadinya sekarang dia dihukum untuk nulis istighfar 5000 kali."


Dela mendengus lalu keluar, aku masih menatap kepergiannya dengan hati bertanya-tanya. Ada apa dengan dia? tidak biasanya dia seperti ini. Apa ini ada sangkut pautnya dengan ultimatum yang dia berikan sama aku.


"Udah Ra, jangan dipikirin. Nanti Dela juga bakalan kembali seperti semula"


Aku menarik napas pasrah, aku tidak yakin Dela akan bersikap seperti biasa lagi sama aku. Aku baru menyadari satu hal bagaimana caranya Dela tau kalau aku ada apa-apa dengan Ilham? Apa yang lain sebenarnya juga sudah tau?


"Ma" Panggilku lirih, Iqlima tidak menjawab. Tapi matanya langsung memperhatikanku.


"Apa aku ada salah sama Dela atau sama kalian? Mungkin saja aku nggak sadar udah lakuin suatu hal yang bikin kalian nggak nyaman sama aku"  Iqlima menautkan alisnya bingung. Jika memang tidak ada masalah, kenapa sikap Dela berubah seperti ini, padahal kemarin malam semua masih baik-baik saja.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Iqlima seperti ragu bertanya. Apa aku harus cerita, tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin aku memang harus cerita sama Iqlima, karena memang cuma dia yang sering mendengar keluh kesahku, dan bahkan ngasih solusi atau hanya sekedar menenangkanku.


"Tadi... aku nemuin foto..." Aku kembali ragu, jangan sampai kalau aku cerita semua akan menjadi lebih rumit lagi.


"Aku nemu foto aku, dan foto itu sudah di coret-coret dengan kata-kata yang aneh" Iqlima nampak tertegun.


"Dan Foto itu tadinya ada di Dela" Iqlima tampak berpikir sejenak. Namun akhirnya berusaha tersenyum ke arahku.


"Ra, Husnudzon saja, mungkin itu bukan perbuatan Dela. Kita tau sendiri, Dela punya adik kayak gimana, mungkin saja itu kerjaan dia" Aku menunduk, benar juga apa yang Iqlima bilang. Seharusnya aku tidak perlu berperasangka sampai seburuk ini.


"Makasih ya" Aku memeluk Iqlima erat, tanpa dia mungkin aku hanya butiran krikil.


"Ra, kata Ustadzah Salma,ada telpon buat kamu!" Suara teriakan entah dari siapa, karena aku tidak melihat dengan jelas bagaimana rupanya. Efek rabun.


"Ya, tunggu!" Teriakku, lalu segera bangkit.


"Aku ke kamar Ustdazah dulu Ma" Iqlima tersenyum lalu mengangguk.


Di tengah jalan, aku berpapasan dengan Dela. Lagi-lagi dia mengacuhkanku. Aku harus tetap berpikir positif, Dela mungkin memang lagi bad mood.


"Assalmu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam, masuk Ra!" Ustadzah Salma langsung memberikanku benda pipih yang dari tadi beliau pegang.


"Dari keluarga kamu"  Aku menatap Ustadzah bingung.


"Nenek?" Ustadzah menggeleng, yang membuatku mengerenyitkan dahi.


"Ustadzah pergi keluar sebentar ya, Ra" Aku mengangguk, lalu menempelkan benda pipih itu di telinga.


"Hal...."

__ADS_1


"Kamu kenapa?" Ilham? Aku tidak salah menandai suara orang kan? Kenapa dia bisa menelpon ke nomer Ustadzah Salma? Atau jangan-jagan aku lagi halu?  Ya ampun! Jangan sampai aku ngehaluin manusia nyebelin itu.


"Ra, kamu masih disana kan? ini aku Ilham!" Aku segera melirik ke arah pintu, memastikan Ustadzah belum kembali, bisa gawat to the wat kalau Ustadzah sampai tahu.


"Kenapa kamu nelpon ke sini? Mau cari mati lagi?!" Aku berusaha memelankan suara.


"Ngapain cari mati nelpon kamu? kalau mau cari mati tuh...."


"Lama! Ada apa!" Bisa-bisanya Ilham ngajak gelut lewat handpone.


"Aku kangen" Aku tertegun, aku yakin semburat warna merah telah menjalar memenuhi pipiku.


"Tapi boong, Hahaha. Cieee yang udah tersipu malu! Tapi nggak jadi Hahaha" Aku menahan geram. Ya Allah, bisa-bisanya ada manusia model dia terpabrik di muka bumi ini.


"Kalau nggak ada yang penting, aku matiin!" Aku benar-benar dibuat sebal olehnya.


"Ok, aku seius! Tapi jangan matiin" Aku mengurungkan niat untuk menekan layar merah di benda pipih ini.


"Apa! Cepetan! Nanti Ustadzah keburu balik"


"Ciee yang takut ketahuan!"


"Ilhaaaam!!!" Geramku. Sungguh human satu ini, kayaknya butuh di ruqiyah.


"Kamu ada masalah? Apa ada yang terjadi? Ada yang nggak beres? Aku lihat tadi di majelis kerjaan kamu cuma ngelamun" Aku diam, dari mana Ilham lihat, jadi dari tadi dia merhatiin aku. Kenapa aku nggak sadar?


Aku ingin menjawab, tapi bukankah Ilham bisa baca pikiran aku?


"Bukankah kamu bisa tau isi kepala aku!" Rutukku kesal.


"Aku nggak bisa! Kamu terlalu jauh!" Jadi dia cuma bisa tahu apa yang aku pikirin, kalau aku dekat sama dia.


Aku menimang-nimang sejenak, mungkin untuk saat ini lebih baik dia tidak tau, sebelum semuanya aku rasa jelas.


"Aku cuma lapar. Kamu tau sendiri kalau aku lapar kayak gimana" Ilham diam sejenak, sepertinya dia sedang mencerna ucapanku.


"Syukur, kalau memang kamu tidak kenapa-napa. Tapi ingat! Jangan berusaha nyembunyiin apapun dari aku!"


"Iya bawel! Udah aku matiin telponnya, nanti keburu Ustadzah balik!"


"Satu lagi!"


"Apa! Cepat!"


"Nyeritain privasi ke teman yang kita percayapun harus hati-hati. Nggak bisa sembarangan, karena teman yang kita percaya juga punya teman yang dia percaya. paham?!" Aku masih mencerna apa yang Ilham ucapkan, maksudnya apa? Ilham terdengar mendesah pasrah.


"Kamu itu pintar! Tapi lemot!"  Aku mengangkat bibirku sebelah, enak aja dia bilang aku lemot.


"Kalau cuma mau..."


"Udah ya aku tutup. Jangan kangen, biarpun aku tau kamu pasti bakalan kangen"


"Pede..."


Tut..tut..tut


"Ish!!! nyebelin banget sih jadi orang! Udah pedenya over lagi!"


Aku menatap Benda pipih itu datar, lagi-lagi aku benci dengan otakku yang mudah sekali terpikirkan dengan ucapan orang.

__ADS_1


__ADS_2