Pesantren Berdarah

Pesantren Berdarah
Alasan


__ADS_3

...Mereka adalah salah satu alasanku untuk tersenyum...


...Bolehkah aku memanggil mereka sahabat?...


...👽👽...


"Ra, ayo!"


"Ra, Rara!"


"Rabbania Zaikalina!!"


"Astaghfirullah! Apa sih,Ham?! Kalau manggil itu biasa aja kali, nggak usah pakai jitak kepala orang, dikira panci apa!" Aku menatap Ilham sangar. Bisa nggak sih, sedetik saja dia tidak buat gara-gara dengan aku. Maunya di baikin, tapi kerjaannya malah cari masalah mulu.


"Makanya jangan ngelamun terus! nggak baik, entar kesurupan baru tau rasa. Eh tapi kamukan lebih nyeremin dari pada jin, yah batal kesurupan dong. Jinnya keburu takut" Aku mendengus kesal.


"Rasa kesalku masih tertahan di tenggorokan. Jadi tenang, kamu masih aman dari amukanku" Aku mencoba berbaik hati untuk saat ini.


"Kamu kenapa sih? males balik ke pondok, mau aku minta tolong Nenek buat izinin kamu lagi?" Aku menggeleng cepat, bukan itu yang aku pikirkan. Tapi aku harus tetap fokus untuk tidak memikirkan telpon tadi pagi, kalau Ilham tahu, dia pasti tidak akan tinggal diam.


"Telpon dari siapa?"


"Apa sih, ham?! Mentang-mentang bisa baca pikiran aku. Semua kamu kepoin. Udah ah, ayo kalau mau nganter, tapi was aja nanti kalau sampai sana kamu nampakin diri! Dan satu lagi, mending kamu udahan deh buat sok-sokan jadi santri di pondokku. Udah tua juga!" Ilham menatapku lekat, membuat retina hitamnya terlihat begitu tajam.


Aku mengalihkan pandangan, ditatap seperti itu membuat bulu kudukku berdiri. Seram ey.


Aku segera masuk ke dalam mobil. Entah ini mobil siapa yang Ilham pinjam, aku nggak mau tau. Yang terpenting aku bisa cepat balik ke pondok. Dua hari bersama Ilham dalam satu rumah membuat aku merasa 5 kali lebih tua dari dua hari sebelumnya. Efek ngegas mulu kalau bicara sama dia.


"Ngapain duduk di belakang? Emang aku sopir?"


"Nyadar!"


"Kalau nggak pindah ke depan, aku nggak akan jalan!" Ilham mengancam. Aku menatapnya jengah,  Boleh bikin orang jadi perkedel nggak? Rasanya pengenku goreng dia. Aku menarik napas beberapa kali.


Sabar Ra, sabar. Orang sabar di sayang Allah, dapat pahala, mati husnul khotimah, balasannya syurga.


Tanpa turun dari mobil, aku langsung pindah duduk ke kursi depan, melalui celah kursi itu.


"Ada fungsinya juga tuh badan kecil" Ilham memuji atau menghina sih? Setiap kata yang keluar dari mulutnya berasa kayak ada satu kilo cabe, pedes bener.


"Buruan jalan, aku udah di depan kan ni!" 


Ilham mulai memutar kemudi, menjalankan kendaraan roda empat ini dengan pelan.


👽👽👽


"Stooop!!"


Ciiit!!


Suara decitan ban mobil terdengar begitu nyaring. Tubuhku hampir saja terpental ke depan, jika saja tidak ada sabuk pengaman entah bagaimana nasib kepalaku. Aku harus berterima kasih nanti kepada sabuk pengaman, setelah keadaan sudah tidak menegangkan.


"Kamu pengen mati?! Jangan ngajak-ngajak dong!" Aku tidak menggubris, membuka suara sama saja membuka peperangan dengan Ilham.


Aku lebih baik turun, memastikan apa yang aku lihat.

__ADS_1


"Eh mau kemana? Ini bentar lagi nyampe!" Ilham meneriakiku. Iya aku tahu, nggak usah ngasih tahu aku juga udah tahu. Mobil yang kami tumpangi memang sudah masuk area pesantren, tapi masih lumayan jauh dari asrama putri.


"Rara!" Ilham ikut turun, dia kelihatannya kesal denganku.


"Eh, ngapain turun?! Masuk lagi nggak?!" Aku memelototinya, kalau nanti ada yang lihat gimana? Bisa tamat riwayatku. Ilham malah menjulurkan lidahnya, meledekku. Astaga, kayak anak kecil saja.


Dari pada aku yang bingung sendiri, kalau nanti ada yang lihat lebih baik aku masuk, biarkan saja manusia gila itu di luar.


"Kenapa tiba-tiba keluar tadi?" Ingatkan aku, aku lagi dalam mode diam. Aku hanya misuh-misuh nggak jelas merespon pertanyaan Ilham.


"Rara" Panggil Ilham lembut. Aku menghembuskan napas berat. Kenapa aku jadi mudah luluh gini sama dia.


"Tadi aku lihat wanita itu lewat. " Ilham mengerutkan keningnya.


"Itu loh Ham, wanita di rekaman itu sekaligus yang pernah aku lihat di dalam sumur"


"Sumur? Kamu pernah jatuh ke dalam sumur?" Aku mengangguk hendak berkata lagi, namun aku urungkan. Menceritakan hal itu sama saja mengulang kejadian saat aku bertemu dengan Malik. Tidak, aku tidak ingin mengingatnya.


Aku lagi-lagi menghembuskan napas kasar, sekalinya bisa dekat dengan Malik, malah menerima kenyataan sepahit ini. Andai manusia boleh berandai-andai. Aku ingin semua kembali baik-baik saja. Tapi, telpon tadi pagi? Siapa yang melakukan itu?


"Ayo, jalan" Ilham tidak menolak kali ini, mobil yang kami pakai hanya tinggal berbelok ke timur untuk memasuki area asrama santriwati.


"Ma kasih" Ucapku ketika Ilham mematikan mesin mobilnya. Aku telah ampai di depan asrama, aku menguatkan diri untuk kembali beraktivitas di sini. Dua hari di rumah, aku rasakan begitu berharga setelah aku mengalami hal-hal aneh di sini. Apa lagi kalau Ilham nggak ada, mungkin aku akan semakin tenang di sana.


"Kasih tau aku, kalau terjadi apa-apa sama kamu" Peringat Ilham.


"Ngasih tau lewat mana? Mata batin?"  Ilham menyentil keningku.


"Suka banget sih, nyakitin!"


"Kamu sehat?" Aku menempelkan punggung tangan di keningnya. Nggak apa-apa dong ya, kan, sudah halal. Ilham mengangguk  bingung atas pertanyaan yang aku lontarkan.


"Aneh, biasanya malah seneng denger aku tersakiti" Sekarang dia malah menoel kepalaku cukup keras.


"Ra, boleh nanya nggak?"


"Mau nanya apa?"


"Kamu... Udah pernah pacaran nggak?" Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal, kenapa pertanyaaan seperti ini dia lontarkan.


"Gimana ya? Aku terakhir putus sama tali pusar. Itu namanya pacaran apa nggak?" Ilham menepuk keningnya sendiri. Apa kata-kataku ada yang salah? Tolong beritahu jangan kasih tempe.


"Udah turun sana!"


Apa sih? nggak jelas banget ni orang.


"Iya-iya!" Aku bergegas mengambil tas yang ku taruh di kursi belakang, membuka pintu dengan kesal. Entah apa yang membuatku kesal, akupun bingung.


"Ra!"


"Apa lagi!" Tanyaku geram, kemudian memasukkan kepalaku ke dalam mobil.


" Itu kelupaan"


"Apa?"

__ADS_1


"Banana soup with casava---"


"Kolek! Yaelah sebut itu doang lama bener!" Ilham terkekeh, sembari menyodorkan geresek ukuran sedang yang di dalamnya ada satu toples kolek buatanku tadi.


"Seperti kata kamu, biar kedengeran keren"


"Jiplak aja teroos! Udah sana pergi! Ingat, nggak usah nyamar-nyamar lagi, buat apa coba? Mau bikin semua santriwati jatuh cinta? Hahaha jangan harep, muka kayak kamu nggak bakalan laku di sini!"


"Nggak kok, kan udah ada kamu" Sekakmat. Ucapan Ilham mampu membuat bibirku bungkam. Lagi-lagi dia terkekeh, senang banget melihatku diam membisu.


"Aku pulang, Assalamu'alaikum" Aku masih mematung ketika mobil itu sudah mulai menjauh dariku.


"Wa'alaikumussalam" Ada apa dengan gumpalan darah di bawah tulang rusuk ini?


"Inget, Ra. Kamu deg-degan menandakan kamu masih hidup. pegang prinsip itu" Aku berusaha menenangkan diri dulu, memastikan tidak ada rona merah di pipiku, sebelum aku beranjak menuju kamar asrama.


Aku menatap sekitar, sepertinya mataku mulai sehat kembali, tidak ada hal-hal aneh yang aku lihat.


"Eh, Kak Rara" Aku menoleh sebelum tanganku menarik ganggang pintu kamar.


Aku berusaha mengingat-ingat, siapa nama adek santri yang menyapaku sekarang.


"Udah, balik kak?" Orang kalau mau basa-basi emang aneh ya, udah jelas dia lihat aku di sini. Aku tersenyum seramah mungkin.


"Iya dek, nih baru aja nyampe. Masuk yuk, mampir" Adek santri itu menggeleng sopan.


"Lain kali aja, kak" Aku mengangguk, lain kali mungkin aku harus berusaha menghapal nama-nama mereka. Supaya aku tidak bingung seperti ini lagi untuk kesekian kalinya.


"Kakak masuk dulu ya" Demi apa? Ini basa-basi tersopan yang pernah aku lakuin, biasanya aku bakalan ngegas kalau di tanya hal-hal yang menurutku sudah mereka tahu jawabannya.


Aku membuka pintu, melangkahkan kaki masuk ke dalam.


BUG!


"Aduuuh!!" Tiba-tiba kakiku terpeleset karena menginjak genangan air di lantai. Siapa yang iseng banget sih naruh air? Untung koleknya nggak tumpah.


"Kak, Rara! Kakak jatuh ya?" Aku meringis memegang pinggangku yang terasa nyeri, bokong yang berkenalan dengan lantai, kenapa malah pinggangku yang nyesek. Di tambah mendengar pertanyaan yang sama sekali nggak butuh jawaban, karena jawabannyapasti 'Iya'.


"Nggak, Dek. MELAYANG!"


"Astaga, Ra?! Hahaha kamu kenapa?" Aku kembali mendengus kesal, Fitri yang baru saja keluar dari kamar malah menertawai aku. Punya teman kayak gini tuh bikin perang batin.


"Haha Hoho! Ketawa teroos! Cepat bantuin aku bangun!" Fitri meraih tanganku. Aku memandang gamisku yang sekarang telah basah setengah.


"Lagian, kalau lihat air. Menghindar, jangan malah berseluncur" Fitri lagi-lagi tertawa.


"Kalau aku tau! Mana aku mau!"


"Teman-teman! Ada oleh-oleh nih!" Teriak Fitri. Semua berhamburan keluar.


"Kalau masalah makan aja, kalian nggak mau ketinggalan. Pas aku jatuh tadi? Pada kemana?"


"Kalau kita bantuin, fungsi Fitri apa, Ra? Percuma dong dia hidup tapi nggak ada manfaatnya" Nisa menimpali yang langsung di hadiahi jitakan oleh Fitri.


Aku tersenyum geli, entah bagaimana aku di sini tanpa mereka.

__ADS_1


__ADS_2