Pesantren Berdarah

Pesantren Berdarah
Sebuah Peringatan


__ADS_3

...Terkadang Kita nggak tahu...


...Mana kawan dan mana lawan...


...Jadi...


...Percaya sekedarnya saja...


...dan curiga sewajarnya saja...


...πŸ‘½πŸ‘½πŸ‘½...


"Akhirnya, kamu pulang juga, Ra" Suara Fitri menyambutku ketika aku baru memasuki kamar.


"Apa kata Ustadzah? Di suruh putus? Kok kamu nggak sedih, Ra?" Nisa menghujaniku dengan banyak pertanyaan.


"Kamu pacaran sama siapa, Ra?Β  Kok bisa kita nggak tau? Udah berapa lama?" Dela bertanya dingin. Aku yakin Della tidak suka saat dia tahu aku pacaran. Gimana tidak, karena selama ini aku yang mengompori mereka untuk tidak pacaran. Tapi kenyataannya aku memang tidak pacaran, tiba-tiba terbersit niat jahilku pada mereka.


"Huuwwaaaaa!!" Aku menubruk tubuh Nisa, pura-pura nangis dengan air mata beneran. Aku yang sudah tahu, Nisa orangnya cepat kebawa perasaan, tentunya langsung panik melihat aku menangis histeris.


"Kamu di suruh putus ya?" Aku mengangguk.


"Terus kenapa nangis? Masih untung di suruh putus aja, nggak di keluarin"


"Hhuuwwwaaa!!!" Aku semakin membesarkan volume tangisku, mendengar sindiran Della.


"Del, jangan gitu. Rara lagi sedih loh" Iqlima mencoba mengingatkan Della.


"Sedih ya, Ra?"


Aku mengangguk


"Nggak mau putus?"


Aku mengangguk lagi


"Tapi ini demi kebaikan Kamu, Ra!" Della mulai geram.


"Hhuwwaaa!!" Lagi-lagi aku mengencangkan suara tangisku.


"Siapa sih, santriwan itu!?" Akhirnya Fitri geregetan sendiri.


"Nggak Tau!!! Huwwaa!!"


"Lah?! Gimana ceritanya kamu pacaran tapi nggak tau sama siapa?"


"Itu yang buat aku sedih, Huwwaa!! Pacar aja nggak punya tapi sudah di suruh putus, kan kasihan aku"


Bugh!


Bugh!


Serentak mereka berempat melemparku dengan bantal. Aku tertawa puas bisa mengerjai mereka, melihat tampang mereka tadi membuat perutku geli dan tidak bisa menahan tawa lebih lama lagi.


"Kok nyesel ya!"


"Tidur, Tidur!!" Della mengomando mereka.


"Yah, kok pada ngambek? Aku kan cuma bercanda"Β  Mereka tidak menggubris. Apakah mereka marah beneran?


"Del, Fit, Ca, Ma! Aku bercanda, maaf" Rengekku sembari menarik selimut mereka.


"Ra, mending tidur. Ini udah tengah malam"


Aku berhenti menarik selimut mereka. Niatku cuma iseng, kenapa malah jadi seperti ini.


Dengan perasaan yang masih di landaΒ  rasa bersalah, aku bangkit untuk melepas mukenah dan mengganti gamisku dengan baju tidur.


"Maaf" Lirih ku sekali lagi, sebelum aku benar-benar tertidur.

__ADS_1


πŸ‘½πŸ‘½πŸ‘½


Aku mencoba mengembalikan kesadaranku dari lelapnya tidur, samar-samar gendang telingaku menangkap suara yang mampu menyadarkanku dari mimpi indah.


"Ra,Bangun"


Samar-samar aku melihat ke empat temanku sudah duduk mengelilingiku.


"Iya, udah jam empat ya?" Tanyaku dengan suara masih serak, maklum tenggorokannku belum tersiram air dari tadi malam. Tumben mereka bangun lebih dulu dari pada aku.


Tak ada sahutan dari mereka, aku kembali mengucek mataku agar pengelihatanku semakin jelas. Ini nih, kalau punya gangguan di mata, apa-apa harus ada kaca mata.


"Barokallah fi umrik!"


"Selamat Ulang tahun, Ra!!"


"Saengil chuka hamnida!"


"HBD, Rabbania Zaikalina! Yang imutnya ngalahin marmut, yang cerewetnya ngalahin mak-mak arisan, yang...."


"Stop Fit!!" Della membungkam mulut Fitri dengan tangannya.


"Stofit? klau nggak salah itu artinya bodoh ya?"


"Itu stupid! Icak!!" Kini Iqlima yang gemas.


"Kalian bikin suasananya jadi rusak, tau nggak!" Aku terkekeh melihat ke empat temanku yang lagi berdebat.


Beginilah, jika hidup di pondok pesantren. Selalu ada saja yang akan membuat senyum di bibir kita merekah. Sederhana namun berkesan dalam.


Bagi kami kebersamaan itu penting, karena di sini, kita keluarga, tidak pandang suku dan derajat. Jauh dari keluarga seperti ini bukan hal yang mudah untuk di jalani, jadi sebisa mungkin aku dan yang lain membangun kekeluargaan yang baik.


"Potong kuenya, Ra!" Iqlima terlihat antusias, kue yang dimaksud di sini adalah tumpukan donat harga seribuan yang mereka susun seolah kue ulang tahun, sederhana memang. Namun bukan itu yang aku dan yang lain lihat. Mengingat hari kelahiran dari masing-masing diantara kami, menandakan bahwa itu sebuah wujud kasih sayang.


"Ini buat Iqlima" Aku menyodorkan satu donat yang langsung di makan olehnya.


"Ini buat Della"


"Ini buat Fitri"


"Ye,ye aku dapat"


"Dan ini buat Ica" Donat itu memang jumlahnya lima potong, sesuai dengan jumlah kami.


"Ma, kadonya mana?" Della menyikut bahu Iqlima.


"Astaga! aku lupa,ada di dalam lemariku, Del"


"Ok! Aku aja yang ambil" Della beranjak menuju lemari Iqlima yang berada di pojok.


"Del, cepetan!"


"I-iya, iya" Dela segera berlari ke arah kami.


"Gelangnya bagus, Ra. Di kasih siapa? Kayaknya baru lihat" Pertanyaan Iqlima mengalihkan fokus semua teman-temanku.


"Oh ini, ini di kasih Il...." Aku kembali merapatkan mulutku, hampir saja keceplosan.


"Il? Il siapa?" Dela mengerenyitkan dahinya.


"Maksudku,dikasih ama Nenek, kemarin. Bagus kan?" Mereka kompak mengangguk.


Hampir aja aku keceplosan, bisa gawat urusannya nanti.


"Eh, itu buat aku?" Aku sengaja menarik perhatian mereka, semoga tidak ada yang curiga. Della yang memang dari tadi memegang kado mengangguk.


"Ini spesial dari kita"


"Udu udu, sosweetnya!" Aku memeluk mereka erat. Kasih sayang itu tak butuh dibuktikan dengan barang mewah, karena yang dilihat adalah sebesar apa ketulusannya untuk memberi, mewah atau tidaknya itu adalah hal belakang.

__ADS_1


Aku tersenyum dalam haru, meski Ayah dan Bunda tak lagi membersamai di dunia, tapi Allah datangkan mereka yang tulus memberi perhatian.


"Ra, udah peluknya!!" Rengek Dela, aku melepas pelukan ku dari mereka kemudian menatap Dela dengan penuh sorot pertanyaan.


"Kalian bau! Belum ada yang mandi, apalagi sikat gigi!"


"Ye!! Kayak kamu udah mandi aja, Del!" Seru Fitri.


"Udah mau jam empat nih! Kita mending siap-siap, Nggak maukan nanti selesai subuh di berdiriin sampai kaki kesemutan" Peringat Iqlima. Serentak aku dan yang lain menggeleng.


Untung saja masih ada Iqlima yang selalu mengingatkan kalau kami lupa seperti ini. Kalau tidak, mungkin setiap hari kami akan kena hukuman, terlebih aku.


"Kalian duluan aja" Dela melempar senyum kaku ke arah ku. Ada yang aneh, tapi tak ingin memikirkan yang tidak-tidak aku segera mengikuti yang lain, pergi ke kamar mandi.


πŸ‘½πŸ‘½πŸ‘½


Aku memilih menghabiskan waktu keluar main di bawah pohon kelengkeng yang tidak jauh dari kelasku. Walaupun pohon kelengkeng di sini lumayan banyak tapi anehnya hanya satu pohon yang sering berbuah, itupun buahnya hanya beberapa biji.


Aku memandang gelang perak yang kini melingkar cantik di pergelangan tanganku. Mungil, tapi aku suka.


Aku yakin, takdir ini tidak ada yang kebetulan. Semua pasti sudah di atur, termasuk pertemuanku dengan Ilham. Meski awalnya aku sulit mengerti namun lambat laun aku bisa memahami.


Mungkin memang benar, aku harus mulai menerima keberadaan Ilham. Terkadang takdir mempertemukan kita dengan orang yang salah terlebih dahulu sebelum akhirnya datang orang yang memang benar-benar menjadi pelengkap untuk jiwa.


Jadi? Apakah selama ini aku salah telah melangitkan nama Malik? menyebut namanya di setiap akhir sujudku?


Entahlah, intinya Allah punya rencana tersendiri untuk hal ini. dan manusia hanya bisa menerka namun itu belum tetu benar adanya.


"Gelang yang bagus" Aku tersentak kaget mendengar ada suara di sampingku sekarang.


"Dela? Da-dari kapan kamu di situ?"


"Semenjak aku lihat kamu senyum-senyum sendiri, kayak orang gila" Aku tersenyum kikuk. jadi, Dela dari tadi memperhatikanku?


"Itu gelang, dari Ilham kan?" Aku tergugu, kenapa Dela bisa tau?


"I-ini..."


"Udah, Ra. Kamu pakai alasan apapun aku bakalan tetap yakin itu gelang dari Ilham" Aku diam, bibirku mendadak kelu. Aku menatap Dela yang kini sedang menatap kosong ke depan. Namun tiba-tibah beralih menatapku tajam.


"Ra, Jauhi Ilham ya. Aku mohon!" Bibirku menganga seketika. Permintaan Dela benar-benar di luar dugaanku. Aku hendak bicara, namun Dela kembali membuka suara.


"Kalau tidak, aku nggak yakin. Kamu akan baik-baik saja" Dela menatapku tajam, kemudian pergi meninggalkan rasa bingung di pikiranku.


Apa Dela, punya rasa sama Ilham? Apa dia cemburu? Kenapa semua ini semakin rumit untuk aku mengerti.


Aku beranjak dari tempat dudukku, namun tiba-tiba perutku kembali sakit.


"Ssst.."Desisku tertahan. Rasa sakit yang kemarin aku rasakan di rumah, sekarang kembali. Aku memegang perutku erat, perutku rasanya seperti di tusuk kemudian dipelintir dengan keras.


"Ra! Kamu kenapa?" Aku mencoba membuka mata, tapi rasanya perutku terlalu sakit, hingga mataku saja tak sanggup terbuka. Namun dari suaranya aku tau siapa sekarang yang tengah membantu memegangku.


"Him...Bantu aku ke kelas" kataku susah payah. Hanya bicara beberapa kata saja, tenagaku rasanya habis terkuras. Himmi tidak menjawab, tapi dari gerakannya dia mulai memapahku pelan menaiki tangga menuju kelas.


Ini masih jam keluar main, dan aku yakin kelas masih sepi.


"Apanya yang sakit?" Aku memejamkan mataku erat, rasanya air mataku ingin menerobos keluar. Tidak, aku tidak boleh lemah, aku tidak boleh nangis.


"Sa...kit...Him..." Himmi terlihat bingung, aku sendiri tidak tau apa yang harus aku lakukan.


"Him.. Bo-leh minta... air putih?" Kataku terbata-bata.


"Tunggu bentar, aku beliin ke kantin" Aku mengangguk, masih dengan tanganku yang mencengkram perutku keras. Rasa panas mulai menjalar ke seluruh tubuhku. Rasanya sungguh panas.


Namun selang beberapa detik, tiba-tiba rasa panas itu hilang, begitupun dengan rasa sakit di perutku.


"Aneh" Aku kembali meraba-raba perutku, tidak sakit sama sekali. Sebenarnya ada apa? Ini sudah yang kedua kalinya aku alami. Apa aku ada penyakit? Tapi tidak mungkin seperti ini jika ada.


"Loh, Ra?" Himmi melongo memandangku yang sedang tertegun.

__ADS_1


"Kamu, bohong ya?"


"Tidak, Him! Ini... ck! Susah jelasinnya sama kamu" Kataku akhirnya prustasi. Aku jadi kelihatan lagi mengerjai Himmi. Tapi kenyataannya,Β  memang seperti ini.


__ADS_2