Pesantren Berdarah

Pesantren Berdarah
Kembali Melihat Mereka


__ADS_3

...Percayalah...


...Berpura-pura selalu baik-baik saja itu melelahkan...


...👽👽👽...


"Kakak harus tanggung jawab!"


Belum sempat rasa kagetku hilang akibat melihat bentuk wajahnya, perkataan anak kecil di depanku ini semakin membuatku tersentak.


Tanggung jawab apa yang dia maksud? Memangnya aku pernah ngapain dia?


"Tanggung jawab bagaimana maksudnya dek? Kakak kan cewek. Jadi gimana bisa mau apa-apain kamu!" Jawabku spontan. Astaga, pikiranku sudah nyeleneh.


Anak kecil itu bangkit, berdiri di depanku. Bukan, dia bukan berdiri. Tapi lebih tepatnya melayang.


Aastaga! Kenapa aku lemot sekali untuk menyadari, kalau dia bukan manusia. Pantas saja dari tadi perasaanku nggak enak.


Aku melangkah mundur, ketika dia mulai terbang pelan menghampiriku. Suara tangisnya masih dia keluarkan, sontak mengundang rasa penasaran makhluk lain dan ikut mengepungku.


Kenapa aku kembali bisa melihat mereka? Seingatku selama seminggu ini hidupku rasanya kembali begitu tentram tanpa harus berurusan sama mereka.


Tak terasa aku sudah kembali berada di majelis. Aku menatap sekeliling, akibat lampu kelas yang memang sudah di matikan, dan lampu di majelis ini hanya di hidupkan bagian pojiknya saja. Tempat ini terlihat remang-remang.


Namun aku masih bisa melihat dengan jelas bahwa sekarang bukan anak kecil itu lagi yang menghampiriku.


"Aku sebenarnya salah apa sih?! Heran deh! Kalian belum pernah lihat perempuan manis, imut, cantik, kayak aku di dunia kalian?!"


Astaghfirullah, pertanyaan macam apa yang aku lontarkan.


"Kakak sudah menabrak aku di lorong, sampai seperti ini!" Jawab anak kecil itu dingin.


"Gimana aku mau nabrak! Bawa motor kesini aja aku nggak bisa!"


Rara, kamu harus ingat, yang sedang kamu lawa bicara itu bukan manusia, jadi bisa nggak jawabnya yang masuk akal sedikit.


Aku menggaruk kepalaku prustasi, mau bagaimana memang bawaan kayak gini.


Bau-bau aneh mulai menusuk indra penciumanku. Baiklah, mungkin kali ini aku harus serius. Nampakknya makhluk-makhluk ini kurang bersahabat denganku.

__ADS_1


"Kalian jangan main kroyokan dong! Nggak adil!" Percuma aku ngomong, mereka seolah tidak mendengar.


BUGH!


"Astaghfirullah! Ssst" Ringisku kesakitan, ketika bokongku berhasil mendarat dengan keras menimpa lantai majelis.


Mereka mulai nakal, entah dari mana tangan itu datang yang langsung menarik kakiku, hingga aku kehilangan keseimbangan.


Bohong kalau aku mengatakan tidak takut, melihat anak kecil yang tadi aja perasaanku sudah tidak karuan, apa lagi sekarang. Di depan mataku, di sekelilingku, mereka mulai menampakkan wujud asli mereka. bahkan sekarang mereka seolah mengurungku.


Aku sempat berpikir, apa aku lagi bermimpi? Tapi sepertinya tidak.


Aku harus bagaimana? Mau teriak percuma, selain nggak ada orang suaraku sungguh tidak enak didengar, biarpun oleh aku sendiri.


Aku tertegun, bau menyengat dan tidak mengenakkan itu samar-samar menghilang, begitupun dengan makhluk yang mulanya hampir membuat lingkaran di dekatku.


Tapi sungguh aku tidak suka ini, karena bau-bau yang mereka keluarkan digantikan ole wangi melati yang semakin terasa dekat.


Lebih baik berhadapan sama mereka dari pada makhluk yang satu ini.


Mereka pergi, termasuk anak kecil yang menangis tadi. Membuat keadaan begitu sepi dan mencekam.


"Hihihi!!" Aku mengedarkan pandangan ke segala arah, mencari dimana keberadaan makhluk yang kini aku sudah tau bentuk dan wujudnya.


Apa Tuannya ingin melihat aku mati perlahan karena ketakutan? Sepertinya dia salah besar.


Aku sudah mulai muak dengan permainan ini.


"KELUAR KAMU!! APA SEBENARNYA YANG KAMU MAU DARI AKU?! BELUM PUAS TUANMU MEMBUAT AYAH DAN BUNDAKU MENINGGAL AH!! SEKARANG APA LAGI!!"


Suaraku menggema, memenuhi majelis. Aku mengepalkan tanganku erat, cukup sudah kesabaranku meladeni permainan ini.


Sakit ini sudah cukup membuat batinku tersiksa. Aku meneteskan air mata, bukan karena aku rapuh, tapi karena aku tak tau lagi bagaimana mengekspresikan rasa sakit ini.


"KENAPA TUANMU TIDAK MEMBIARKANKU HIDUP DENGAN TENANG!! JIKA MEMANG AKU DAN KELUARGAKU PUNYA SALAH! katakan...jangan seperti ini...Hiks" Suaraku mulai melemah, Sungguh aku nggak mau menangis seperti ini, ini sama saja mengakui kalau aku kalah dari dia.


Tapi mau bagaimana lagi, Rasa lelah ini membuatku ingin menyerah untuk selalu terlihat baik-baik saja.


"Rara? Sedang apa kamu di sini?!" Aku menoleh ke arah lorong, samar-samar aku melihat Ustadz Alawi yang berdiri bersama satu orang santriwan. Aku segera menghapus air mataku.

__ADS_1


Wangi melati itu masih ada, tapi kenapa aku nggak bisa lihat dimana keberadaan makhluk itu.


Tenagaku rasanya sudah terkuras habis oleh rasa takut dan lelahku.


"Ra, kamu nggak pa-pa?" Aku mengenali suara ini. Aku segera menoleh, dan benar saja suara itu memang suara Ilham. Jadi santriwan yang tadi bersama Ustadz Alawi itu Ilham.


"Ham...Kasih tau aku.. apa sebenarnya salah keluarga aku? Kenapa mereka begitu kejam?"


"Dia masih di sini, Ham" Suara Ustadz Alawi membuat Ilham mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"Ra, sebaiknya kita pergi dari sini ya. Sekarang bukan waktu yang tepat buat meratapi nasib" Aku menggeleng cepat, biarkan saja aku disini. Aku ingin menyelesaikan semuanya malam ini.


"Aku sudah tau siapa di balik semua ini!" Aku menatap tajam ke arah Ilham. Ilham sedikit menegang melihat tatapan ku yang di rasanya sedikit berbeda.


"Ra, kendalikan diri kamu. Jangan sampai mereka bisa masuk ke tubuh kamu" Ustadz Alawi memperingatiku.


Apa aku sudah kalah dengan rasa lelah ini? Tidak, tidak akan semudah itu.


Aku merasa ada sesuatu yang mencoba masuk ke dalam tubuhku, aku harus tetap sadar aku harus bisa melawannya. Namun percuma, tubuhku rasanya ingin melayang.


"Ustadz lebih baik kita cepat pergi dari sini, terlalu berbahaya" Ilham membantuku untuk berdiri, aku masih bisa merasaknnya.


"Maaf, Biar saya aja Ustadz" Ilham mencoba menahan pergerakan Ustadz Alawi yang hendak membantuku juga.


"Maaf, Ustadz hampir lupa. Kalau Rara istri kamu" Jadi Ustadz Alawi sudah tau, apa Ilham yang menceritakan ini semua sama beliau.


Kesadaranku mulai terasa hilang. tidak! aku tidak akan biarkan mereka  bisa merasuki tubuhku.


Aku terus saja beristighfar dalam hati. Dan perlahan-lahan aku bisa mengendalikan diri lagi.


"Ham, lepas. Aku bisa sendiri" Aku berusaha melepas diri dari Ilham, meskipun aku tau aku sudah menjadi istrinya. Namun bagiku tetap saja, keadaan seperti ini masih sangat canggung ku rasakan terlebih lagi ada Ustadz Alawi di sini.


Ilham menurut, dia melepas rangkulannya di pundakku. Aku berjalan di antara Ilham dan Ustadz Alawi.


"Syukur tadi Ustadzah Salma menelpon ke saya, kalau tidak. Saya nggak tau apa yang akan terjadi sama Rara" Ilham mengangguk mengiyakan. Aku hendak mensejajarkan langkah dengan mereka namun tiba-tiba tubuhku ditarik keras ke belakang.


"Ra, gimana keadaanmu sekarang?" Ilham terus saja berjalan dengan Ustadz Alawi. Sementara mulutku entah dibungkam dengan apa.


"Ra?" Langkah kaki Ilham terhenti, dia menoleh ke samping namun tidak mendapatiku di sampingnya.

__ADS_1


"Mmmmm!!!!!" Aku mencoba bersuara, menarik perhatian Ilham agar melihat ke atas. Dan benar Ilham mendongak.


"Rara!"


__ADS_2