
...Pernah membayangkan orang yang kamu percaya ternyata adalah orang yang paling membencimu?...
...Untuk aku sendiri, sedikitpun tak pernah terbayangkan....
...~Rabbania Zaikalina~...
...👽👽👽...
"BERANINYA KAMU MEMBUNUH AYAHKU!!!"
"Ra! Jangan dekati dia! Dia yang kita kira sahabat, tapi lebih jahat dari pda iblis!"
Tanganku masih membeku memegang pundak Iqlima. Niat ingin menolong tertahan oleh dua ucapan dari orang yang berbeda.
Ayah? Jadi laki-laki itu bukan Ayahnya Dela seperti apa yang aku pikirkan?
Belum cukupkah kejutan yang akan diberikan padaku malam ini?
Aku belum sepenuhnya tersadar dari rasa terkejut yang aku alami ketika tangan Iqlima mengunci kedua tanganku.
"Ma..."
"Apa! Jangan harap kali ini aku lepasin kamu dengan mudah! Aku rasa, selama ini aku terlalu berbaik hati!"
"Iqlima..!"
"Diam, Ham!!"
"Ja-jadi... yang selama ini..." Aku kehabisan kata-kata untuk membahasakan apa yang telah terjadi.
"Iya, Ra! Bukan aku pelakunya.Tapi Iqlima!" Entah sejak kapan Dela berada di depan gerbang pemakaman bersama Ustadz Alawi dan juga Ustadzah Salma, jangan lupakan Himmi.
"Aku selama ini menyuruh kamu menjauhi Ilham, karena aku nggak mau Iqlima semakin hilang kewarasannya dan semakin menyelakai kamu."
"DIAM!!"
Aku memejamkan mata erat, menetralisirkan emosi yang sebentar lagi ingin meluap. Jadi selama ini aku sudah salah paham kepada Dela? Ternyata dia selama ini ingin melindungiku dari Iqlima. Berarti foto itu? Terus bagaimana bisa Dela bisa melakukan hal-hal yang membuatku celaka seperti tadi.
"Ke-kenapa kamu lakuin ini, Ma?" Aku masih bisa tahan, dan mungkin memang aku tak akan bisa marah. Hanya saja aku hanya kecewa mengetahui fakta ini melebihi rasa kecewaku ketika aku menganggap Dela di balik semua ini.
Aku masi tak percaya, bagaimana bisa? Seorang Iqlima tega ngelakuin hal ini sama aku. Dia... Dia selama ini orang yang begitu paling baik, orang yang selalu ada ketika aku punya masalah dan hanya dia yang aku percaya, saking percayanya aku bahkan sempat menceritakan kecurigaan aku sama Dela.
Dan sekarang, fakta apa yang aku temukan? Orang yang selama ini aku cari, orang yang selama ini bermain-main dengan nyawaku adalah orang yang paling dekat denganku. Iqlima. Kenapa aku tidak sadar selama ini? Kenapa aku malah mencurigai orang yang bahkan ingin menolongku?
"Apa salah aku sam..."
__ADS_1
"Salah kamu?! Kamu mau tahu,apa salah kamu! Salah kamu, karena kamu telah merebut semua yang aku inginkan!!"
Aku menggeleng, Berada di situasi seperti ini dengan tangan yang di cengkram erat oleh Iqlima membuat aku tidak bisa menatap matanya.
Aku ingin bersikap biasa untuk menanggapi kemarahan Iqlima. Tadi rasanya hatiku terlalu sakit, kenapa harus Iqlima?
"A-aku minta maaf, Ma. Aku benar-benar nggak tau, apa yang telah aku rebut dari kamu. Se-selama ini kita baik-baik saja. Dan bahkan kamu selalu ada dan dengan sabar memberikan aku nasehat. Terus..."
"Stop!"
Aku merapatkan kedua bibir, mendengar teriakan Iqlima yang begitu menyakitkan telinga. Mataku rasanya memanas, bukan ini akhir yang aku inginkan.
Aku meminta maaf bukan berarti aku salah, atau mungkin aku memang salah dalam hal ini. Tapi aku benar-benar bingung apa yang telah aku rebut, sampai Iqlima bertindak seperti ini. Sampai-sampai nyawaku sebagai mainan untuknya.
"Aku sudah muak,Ra! Sudah muak bersikap baik dihadapan kamu! Kamu pikir itu tulus? ah! Tidak, Ra. Kamu salah besar! Aku nggak tau, disini aku yang terlalu pintar atau memang kamu yang sebenarnya terlalu bodoh!" Iqlima terkekeh sinis sedangkan aku, aku sendiri masih sibuk mencerna kata demi kata yang Iqlima lontarkan.
"Aku yakin, kamu bukan Iqlima. Siapa kamu? kenapa kamu masuk ke dalam tubuh sahabat aku!"
Jujur aku ragu untuk mengatakan hal itu. Karena tak ada tanda apapun kalau ada makhluk lain yang merasukinya.
"Sahabat? Hahaha! Aku tidak pernah merasa menjadi sahabat untuk orang seperti kamu! Mereka bertiga saja yang terlalu bodoh, Merelakan nyawa mereka hanya demi menolong kamu! Cih!!"
"Kamu pikir aku baik untuk apa selama ini? Aku hanya ingin mengetahui apa kelemahanmu, agar aku bisa dengan mudah untuk melenyapkan kamu dari dunia ini!"
"Aku yang belajar mati-matian tapi malah kamu yang di puji oleh semua guru, dan selalu menjadi juara di kelas! Aku yang selalu berusaha menjadi yang terbaik tapi kamu yang malah lebih di percaya oleh semua Ustadzah. Padahal kamu hanya bermodalkan sifat pencicilan kamu itu!! Apa yang dilihat dari kamu sama mereka!"
"Cukup, Ma!" Air mataku tak mampu lagi bertahan untuk tidak menerobos keluar. Perkataan Iqlima tadi sama sekali tidak menyinggung perasaanku. Aku merasa sedih, karena tidak tahu itu semua dari dulu. Aku tidak tahu kalau Iqlima begitu ingin mendapatkan itu semua.
"Kenapa kamu tidak bilang hal itu dari dulu? Kenapa aku harus tahu dengan cara seperti ini?" Iqlima kembali tertawa.
"Kasih tahu kamu? Buat apa! Ah?! Buat apa!! Supaya kamu bisa mengejek aku? Supaya kamu bisa berbangga-bangga kalau kamu lebih hebat dari aku?" Aku menggeleng kuat.
"Sejahat itu aku, dipikira kamu, Ma?"
"Oh, tentu tidak! Kamu lebih jahat dari itu! Kamu telah mengambil Malik! Dan sekarang merebut Ilham juga!"
"Demi Allah, Ma. Bukan aku yang membunuh Malik!"
"Memang bukan, karena aku yang membunuhnya! Aku tidak mau lihat kamu bahagia, karena aku tahu Malik juga punya rasa sama kamu! Hahaha Kalau aku tidak bisa memiliki Malik, tentu kamu juga tidak akan bisa memilikinya."
Aku terperangah mendengar ucapan Iqlima. Jadi, selama ini pembunuh Malik adalah sahabat aku sendiri. Hanya karena cinta, Iqlima berubah seperti ini. Atau mungkin memang beginilah sifat dia yang asli.
"Kalau kamu marah sama aku, kalau kamu ingin membunuh aku, bunuh Ma! Tapi jangan ikut sertakan orang yang tidak ada sangkut pautnya sama aku!"
"Jika saja dia tidak lihat aku mencekikmu di rumah sakit, mungkin saja dia masih hidup sampai sekarang. Ckckck, Malik yang malang."
__ADS_1
Aku benar-benar tidak mengerti kemana arah jalan pikiran Iqlima. Ya Tuhan, ternyata kematian Malik itu karena aku.
"JANGAN MENDEKAT!! SELANGKAH LAGI KAMU BERGERAK, BELING INI AKAN MENANCAP DI LEHERNYA!"
Entah dari mana Iqlima mendapatkan serpihan botol kaca yang sekarang dia genggam, mengarahkannya tanpa takut ke arah leherku. Ilham yang semula bergerak perlahan kini kembali terhenti.
Hanya untuk bernapas saja aku takut, takut karena salah gerak sedikit saja maka leherku akan tersayat.
"Iqlima, kalau kamu memang menginginkan aku, lepasin Rara." Suara Ilham terdengar begitu tenang.
"Haha lepasin Rara? Setelah apa yang aku korbankan hanya untuk melenyapkannya? Tidak segampang itu! Kemana kamu dulu, saat aku menawarkan hal itu, ah? Dan sekarang aku tidak butuh kamu!"
Jadi Ilham sudah tahu kalau Iqlima yang membuat semua masalah ini, dan dia tidak menceritakan itu semua?
"Aku mengorbankan Ayah aku demi bisa menghabisi nyawa kamu! Dan apa? Bukan kamu yang mati! Tapi Ayah aku!! Dan sekarang kamu harus menggantinya!" Lewat ekor mataku aku melihat Iqlima menangis.
"Ma, tolong lepasin Rara! Aku sudah melakukan apa yang kamu minta. Tapi kenapa sekarang kamu ingkar janji?" Aku mendengar Dela memohon, Matanya berkaca-kaca. Aku tahu dia sedang menahan tangis.
"Hahaha! Ingkar janji? Aku tidak pernah berjanji apa-apa sama kamu. Kamu saja yang terlalu bodoh untuk mengorbankan diri kamu sendiri demi dia!"
Aku paham sekarang, kenapa dari kemarin Dela bersikap jahat sama aku, itu karena Iqlima yang menyuruh. Dan mungkin saja dia membiarkan tubuhnya dikuasai makhluk itu, itu demi aku.
Sekarang, aku merasa menjadi teman yang tak tahu diri. Dela sudah mengorbankan dirinya sampai sejauh itu, dan aku malah menganggapnya sebagai dalang dari semua ini.
Iqlima menyeretku mundur, Beling di tangannya masih setia berada di dekat leherku. Aku pasrah, aku sudah menyerah untuk membuat Iqlima tersadar dari perbuatan salah yang dia lakukan.
Sekarang jika memang untuk menghentikannya dengan cara aku harus mati. Aku sudah siap, meski aku belum tahu apakah setelah aku mati aku bisa terhindar dari siksa kubur. Aku harap semoga ketika Malaikat Mungkar dan Nakir mengintrogasiku nanti, aku bisa menjawabnya dengan lancar. Baiklah, sepertinya aku mulai ngelantur.
Iqlima semakin mundur, aku tahu di belakang kami ada tebing, mungkin kesempatan untukku melarikan diri darinya. Setelah aku pikir-pikir, seandainya kami jatuh tak akan membuat kami mati, mungkin hanya akan sedikit mematahkan tulang.
Aku ngilu sendiri dengan hipotesis yang aku buat. Aku rasa itu terlalu berbahaya. Baiklah aku coba cara manual saja.
Iqlima tampak lengah, aku segera menendang kakinya agar tangannya terlepas dari tanganku.
"Sstt!"
Dan benar, apa yang aku pikirkan terjadi, Aku dan Iqlima terjatuh membuat tanganku terlepas dari cengkramannya, namun beling itu sedikit mengenai pipiku membuat kulitku sedikit teriris.
Aku tak memperdulikan rasa perih akibat beling itu. Aku segera bangkit namun Iqlima terlalu cekatan menarikku, hingga tubuhku membentur tubuhnya.
"RARA!!" Aku dengar suara teriakan banyak orang memanggilku. Ketika aku membuka mata, ternyata hipotesis yang tak aku harapkan kini benar terjadi.
Tubuhku dan Iqlima bergelinding dengan cepat menelusuri tebing yang cukup curam dan penuh dengan bebatuan.
Benturan demi benturan aku rasakan, sampai aku merasakan kepalaku terbentur keras sebelum semua terasa sunyi dan gelap.
__ADS_1