
Dan, tiada seorang pun yang dapat mengetahui ( dengan pasti ) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati
[ QS. Luqman:34 ]
👽👽👽
Suara talqin mulai terdengar, menandakan jasad Malik sudah masuk ke dalam liang lahat.
Aku duduk termangu, menatap pilu ke arah orang tua Malik yang terlihat begitu terpukul.
Segala sesuatu sesuai dengan qada' dan qadar.
Dan kematian adalah sebaik-baik pelajaran.
Mati, Aku jadi teringat ungkapan dari Ali ibn Abi Thalib tentang kematian "Sesungguhnya kematian terus mendekati kita, dan dunia terus meninggalkan kita. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya, hari ini adalah beramal dan tidak ada hisab, dan esok adalah hisab dan tidak ada lagi amal."
Aku menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Kematian itu tidak pernah meminta izin kepada siapa saja dan tentunya tidak pernah memandang apakah orang itu tua, remaja bahkan bayi sekalipun.
Memang benar, pada nyatanya tiap-tiap orang, apapun yang dia kerjakan sedang membawa kematian, berjalan menuju kematian, dan tentunya menunggu kematian, entah kematian itu datangnya pagi atau sore. Yang seharusnya kita sebagai manusia harus tetap siap siaga dengan cara selalu memperbaharui taubat dan memperbanyak amal kebaikan.
Aku mengalihkan pandangan ketika tatapan ku tak sengaja beradu dengan Ilham. Aku masih kesal sama dia, karena menyuruhku pulang tadi malam. Tapi apa yang sebenarnya dia lakukan tadi malam?
Aku tertegun ketika tiba-tiba wangi melati itu memenuhi pemakaman. Apakah kematian Malik ada sangkut pautnya dengan makhluk itu?
Aku mencoba mengedarkan pandangan, mencoba menerka bagaimana wujud makhluk itu sebenarnya, tadi malam aku hanya sempat melihat dia sekilas dan hanya bagian belakangnya.
"Kenapa? Ada yang kamu cari?" Dela menatapku bingung karena mungkin dia melihatku seperti orang linglung.
"Kamu cium wangi melati nggak?" Aku memastikan bukan hanya aku yang mencium wangi itu.
Dela mencoba mengendus, terlihat berfikir sejenak.
"Maksud kamu ini?" Dela menyodorkan tangan kirinya ke arah hidungku. Seketika penciumanku penuh oleh wangi melati.
"Kamu toh yang pake" Aku bernafas lega ternyata wanginya bukan berasal dari makhluk itu.
"Wangi ya? Aku suka soalnya. " Aku mengangguk. Ya, memang wangi tapi wanginya mengingatkanku dengan makhluk yang almarhum ayah ceritain.
__ADS_1
"Dari kapan kamu pakai parfum itu?"Â
"Belum satu minggu Ra" Ternyata Dela sudah cukup lama memakai parfum wangi melati ini, tapi kenapa aku nggak sadar dari kemarin.
Pandanganku teralih ketika melihat satu tangan keluar dari dalam tanah dan mencoba menggapai kaki Iqlima.
Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?
Semoga tangan itu tidak melukai Iqlima.
Kini terdengar suara abah memulai ta'ziah, aku mencoba untuk fokus menyimak. Meski sesekali aku melirik ke arah Iqlima untuk memastikan apa yang tangan itu akan perbuat.
Iqlima menatapku bingung, mengisyaratkan lewat matanya seolah bertanya "kenapa?"
Aku menggeleng, mencoba tersenyum. Lalu kembali menyimak apa yang abah sampaikan, walapun kenyataannya aku tidak benar-benar mendengarkan.
Aku memejamkan mata, kembali menghembuskan nafas panjang. Berharap beban dan masalah yang aku hadapi ikut terbang bersama karbondioksida yang aku keluarkan.
Wangi melati itu kembali memenuhi indra penciumanku. Sungguh parfum yang Dela pakai membuatku sempat berfikir bahwa makhluk itu ada di pemakaman ini. Mataku masih tertutup, namun dalam gelap aku merasakan sensasi dingin menerpa wajahku, cukup menyejukkan menghilangkan sedikit rasa panas dari sinar matahari sore ini.
Setelah cukup tenang, ku buka mata perlahan. Tubuhku seketika menegang mendapati sosok wanita di dalam sumur itu tepat berada di depanku, Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Senyum yang dia tampakkan mengingatkan aku ketika pertama kali bertemu dengan dia.
Kenapa wangi melati itu semakin menusuk hidung?
Aku memalingkan wajahku ketika Dela memegang pundakku. Aku bernafas lega ternyata wangi melati itu dari parfum Dela bukan wanita sumur itu.
"Kamu kenapa sih Ra? Akhir-akhir ini aneh banget"
"E-emangnya aku kenapa?"
"Kalau aku tau, aku nggak nanya Ra. Gimana sih!" Aku diam, Andai kamu tau Del, apa yang aku alami akhir-akhir ini. Apa kamu akan menyebutku semakin aneh.
"Bengong lagi! Aku nggak habis fikir sama kamu. Kenapa kamu bisa pintar dalam setiap pelajaran, padahal yang aku amati kerjaan kamu cuma bengong, ngelamun, ngelawak, itu aja"
"Hoby aku is bengong, Del." Dela menggelengkan kepalanya. Mungkin dia berfikir, percuma ngomong sama aku. Aku terkekeh. Astaga! Aku hampir lupa dengan wanita itu.
"Kemana dia?" Lirihku, sembari mencari keberadaannya.
__ADS_1
"Siapa?" ternyata Dela mendengar gumamanku.
"Apa?"
"Siapa yang kemana?"
"Siapa yang kemana? maksud kamu apa Del? Aku nggak pernah ngomong apa-apa" Dela menatapku menyelidik. Aku nggak boleh gugup. Manusia yang satu ini begitu peka dengan gerak-gerik tubuh. Jadi dia bisa tau mana mana yang berbohong dan mana yang jujur.
"Kayaknya telinga kamu butuh di suntik" Aku berusaha mengalihkan fokus Dela. Dela mendengus lalu memperbiki cara duduknya tanpa menjawab perkataanku.
Maaf Del, tapi belum saatnya kamu dan yang lain tau.
👽👽👽
"Assalamu'alaikum, Ustadzah."Â Kini aku sudah berada di depan kamar Ustadzah Salma. Pulang melayat tadi, aku putuskan untuk meminta izin pulang, mumpug belum terlalu sore. Semoga saja Ustadzah Salma memberi izin.
Tidak menunggu waktu lama, pintu kamar Ustadzah Salma terbuka.
"Wa'alaikumussalam, Ya Ra. Ada apa?" Aku terdiam sejenak memikirkan alasan apa yang akan aku pakai kali ini.
"Rara... boleh izin pulang nggak Ustadzah?"
"Pulang? pulang ngapain Ra?"Â Aku terdiam, Aku benar-benar tidak menyiapkan alsan yang masuk akal. Aku hanya ingin pulang untuk menenangkan fikiran. Namu memakai alasan itu, pasti pertanyaan Ustadzah akan semakin panjang, kayak jalan tol.
"Astaga, Ustadzah baru ingat. Besok, bukannya tiga tahun wafatnya Almarhum ayah sama bunda kamu ya?" Aku tertegun mendengar ucapan Ustadzah Salma.
Astaga, bagaimana bisa aku lupa. Pantas saja dari kemarin aku merasa ada yang terlupa.
"I-iya Ustadzah" Ustadzah tersenyum lembut ke arahku sembari tangan beliau mengelus lembut pucuk kepalaku.
Mataku mulai memanas, dulu... bunda sering sekali melakukan hal itu, mengelus kepalaku dengan lembut. Tidak, aku nggak boleh cengeng. Aku harus tegar, nggak boleh nangis.
"Gi-gimana Ustadzah? Apakah Rara boleh pulang?" Ustadzah mengangguk.
"Tentu, tapi cuma dua hari ya. Nggak lebih" Aku mengangguk senang. Aku memang jarang pulang semenjak ke-dua orang tuaku pergi. Bukannya tidak rindu Nenek ataupun adik aku Adam. Tapi dengan cara seperti ini aku bisa mengurangi frekuensi rinduku sama almarhum ayah dan bunda.
"Syukron Ustadzah, kalau begitu Rara pamit dulu"
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam, Hati-hati. Jangan lupa salamin sama nenek."Â Aku melangkah pergi dari depan kamar Ustadzah Salma, namun sebelumnya tak lupa aku mencium tangan beliau.Â
Bumi, izinkan aku melepas rindu dengan ke-dua malaikatku. Ayah-Bunda.