
...Hanya sebuah kalimat sederhana...
...Tak ada gombalan...
...Tak ada rayuan...
...Namun kau tahu, kalimat itu mampu membuatku tahu...
...kalau kamu memang benar menyayangiku...
...👽👽👽...
Waktu pengajian sudah selesai lima menit yang lalu, dan seharusnya aku sudah berada di dalam kamar asrama, namun tidak untuk malam ini. Nyatanya sampai detik ini, kami masih duduk beralaskan sajadah yang tadi di pakai untuk sholat.
Entah kenapa Para Asatidz menyuruh kami diam di tempat semula. Nisa terlihat gelisah, begitupun yang lain. Kenapa jadi pada aneh semua, kayak orang mau di sidang aja. Atau jangan-jangan emang bener mau di sidang.
Aku menyikut lengan Nisa.
"Apa?" Lirihnya, sembari menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang melihat kami mengobrol. Karena bagaimanapun peraturan tetap peraturan, dilarang keras membuka suara ketika berkumpul seperti ini.
"Ini sebenarnya ada apa?" Aku bertanya tak kalah lirih.
"Katanya sih Ustadzah nemuin surat cinta"
"Berarti, bakal ada sidang dong?"
"Mungkin"
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh"
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh" Terdengar jawaban serentak dari seluruh Santriwati yang ada di majelis sekarang.
Aku dan Nisa segera mengubah posisi duduk sebelum ketahuan ngobrol sama Ustadzah.
Hening, setelah jawaban salam itu. Tak ada satu abjad-pun yang terdengar. Seakan deru napas dari semua santriwati takut untuk bersuara.
Sungguh keadaan seperti ini yang paling aku tidak suka. Mencekam dan tentu mendebarkan.
Aku melihat Ustdazah Salma yang ada didepan, mengedarkan pandang, entah siapa yang beliau cari.
"Saya tidak ingin berbasa-basi" Suara tegas yang jarang sekali Ustadzah Salma tampakkan dihadapan kami, kecuali ketika beliau sedang marah atau kecewa.
"Kalian semua pasti sudah tau, larangan-larangan yang ada di pesantren ini." Lagi-lagi hening,
Aku mulai merasa gelisah, Ustadzah Salma bahkan untuk pertama kali berbicara tanpa ekspresi seperti ini.
Santriwati yang duduk di bagian saf terdepan menoleh ke arah lorong, jalan yang menghubungkan majelis dengan asrama kami. Membuatku penasaran dan ikut menoleh.
Terlihat beberapa Ustadzah membawa kotak dengan nama ruangan masing-masing.
Astaga, jadi dari tadi Ustadzah Salma menunggu ini. Aku tahu apa yang ada di dalam kotak itu, itu bukti bahwa ada santriwati yang memang melanggar peraturan. Ternyata sebagian Ustadzah tadi pergi menggeledah kamar kami.
Terlihat beberapa santriwati gelisah, melihat kotak yang ada di tangan para ustadzah. Aku yakin benda kesayangan mereka ada di sana.
Dari benda-benda dalam kotak itu aku tahu, sekarang akan ada sidang untuk santriwati yang diam-diam pacaran.
"Silahkan maju ke depan bagi santriwati yang memang berpacaran dengan santriwan" Semua saling melirik. Aku diam, karena memang aku nggak punya pacar. Boro-boro punya pacar, gebetan aja nggak ada. Tapi aku malah bersyukur, karena ketika begini aku nggak perlu takut.
"Jika tidak ada yang mau ngaku, terpaksa saya dan Ustadzah lainnya akan membakar semua barang-barang ini, dan tentunya hukuman yang akan kalian dapatkan jauh lebih berat. Kami hanya ingin tau, seberapa jujur kalian!" Bisik-bisikan mulai terdengar.
Dan akhirnya, satu persatu santriwati berdiri. Pilihan yang tepat, batinku. Tidak banyak, hanya sekitar belasan orang. Namun tahun ini merupakan rekor tertinggi bagi santriwati yang ketahuan pacaran, biasanya di bawah sepuluh orang.
"Tidak ada lagi?" Ustadzah Salma kembali mengangkat suara. Namun yang menjawab malah deru angin, Hening.
"Terima kasih, bagi yang sudah jujur. Namun saya sangat menyayangkan anak asuh saya tidak ikut jujur!"
Anak asuh?
Aku mengangkat kepala, melihat ke arah Ustadzah Salma yang kini tengah menatap ke barisan tengah, Dimana kami berlima ada di barisan itu.
Siapa yang Ustadzah Salma maksud? Aku dan yang lain saling pandang, tentu kami tau siapa yang Ustadzah Salma sebut anak asuh, yaitu kami.
"Siapa yang pacaran?" Lirihku. Dela mengangkat bahunya, begitupun Iqlima, Fitri dan Nisa.
"Rara! Coba jelaskan ke depan. Apa alasan kamu tidak jujur?!"
"Ah?!" Aku melongo, gimana tidak. Kenapa aku yang di suruh? Aku menatap Ustadzah tidak mengerti, sementara sudah di pastikan semua mata yang ada di majelis ini sedang menatap ke arahku.
"Ma-maaf Ustadzah, Tapi kenapa saya?"
"Masih bertanya kenapa?! Maju!" Seumur-umur tumben aku dengar Ustadzah Salma membentakku. Dari pada nanti Ustadzah lebih marah lagi, aku lebih baik maju ke depan,walau kenyataannya aku memang tidak mengerti.
Aku berdiri di belakang Ustadzah, tidak berani menatap ke depan. Aku yakin semua pasang mata lagi fokus menatapku. Aku sudah bilang, dikumpulkan seperti ini saja aku sudah tidak suka, apa lagi menjadi salah satu penyebab sidang ini terjadi.
__ADS_1
Aku mencoba menerka-nerka, apa Ustadzah dapat informasi kalau aku berpacaran? Kalau seperti itu, pacarannya dengan siapa?
"Siapa pacar kamu, Ra?!" Ustadzah Salma menatapku kecewa. Aku bingung, apa yang harus aku katakan. Aku tahu Ustadzah pasti sudah mengantongi nama seseorang, karena perempuan ketika meminta penjelasan itu sebenarnya 20% mengetes kejujuran dan 80% aslinya sudah mengetauhi.
Namun ini masalahnya lain di aku, aku memang tidak pernah pacaran.
"Rara" Panggil Ustadzah Salma tegas.
"Saya, tidak pacaran Ustadzah" Jawabku sembari menunduk. Keheningan yang terjadi membuatku semakin tidak tahu harus mengatakan apa.
"Santriwan itu sendiri yang mengatakan kalau dia pacar kamu, kamu masih tidak mau jujur?" Ustadzah Salma mulai terdengar geram.
Santriwan? Siapa? Aku merutuk dalam hati, siapa yang telah memfitnahku seperti ini, ngaku-ngaku jadi pacar lagi!
"Tapi saya benar-benar tidak tau Ustadzah, mungkin orangnya ngepans kali sama saya makanya ngaku jadi pacar saya. Padahal mah nggak pernah Ustadzah"
"Baik kalau begitu, ikut saya ke ruang sidang" Mataku membulat sempurna, ruangan itu cuma di datangi oleh santri-santri yang bermasalah berat.
Aku menunduk prustasi, tercorenglah nama baikku jika masuk ruangan itu, meskipun terkadang bicara tanpa mikir, tapi gini-gini aku termasuk santri teladan dan panutan.
"Tapi Ustadzah..."
"Mau pakai alasan apa lagi, Ra? Jujur, saya kecewa sama kamu" Kini aku menunduk dalam, mendengar Ustadzah Salma mengatakan itu membuat nyeri di dalam hati.
Aku telah membuat beliau kecewa, walaupun hal itu tidak pernah aku lakukan.
"Maaf, Ustadzah"Lirihku. Ustadzah terdengar menarik napas berat. Sungguh aku tidak bermaksud membuat beliau kecewa.
"Ustadzah Husna, saya minta tolong bimbing adik-adik ini, bagaimanapun mereka harus tetap putus" Ustadzah Husna mengangguk mengerti.
"Dan kamu, Ra. Ikut saya" Aku mengangguk pelan, kemudian mengekori Ustadzah dari belakang.
Siapapun santriwan yang berani-berani mengaku pacar aku, tunggu saja, aku tidak akan tinggal diam seperti ini.
👽👽👽
Aku sudah menunggu sekitar 30 menit di ruang sidang, tapi Ustadz Syarif belum juga kembali membawa santriwan kurang ajar itu.
Ustadzah Salma memang terlihat benar-benar kecewa kepadaku. Buktinya sekarang, beliau tidak mengajak ngobrol seperti biasanya.
Ada aja urusan yang bikin aku pusing seperti ini, masalah satu belum kelar, ini malah muncul satu masalah lagi.
"Assalamu'alaikum" Terdengar suara Ustadz Syarif dari pintu.
"Wa'alaikumussalam" Aku menoleh sejenak, mataku membulat sempurna ketika melihat santriwan yang sekarang tengah bersama Ustadz Syarif.
Ilham
"Duduk, Ham" Ilham tersenyum ke arah Ustadzah Salma sebelum dia duduk di seberang meja yang aku tempati.
Aku menahan geram, dia masih bisa tersenyum? padahal masuk ruangan ini saja aku nggak yakin keluarnya bisa selamat.
Andai tidak ada para Ustadz dan Ustadzah di sini, aku benar-benar sudah menyeruduk perutnya. Lagian kenapa dia masih ada di sini? bukannya tadi siang aku sudah minta dia untuk tidak di sini lagi.
Dasar manusia keras kepala, sekarang kenapa coba dia ngaku jadi pacar aku, pengen lihat aku di keluarin dari pondok?
"Ilham, benar Rara pacar kamu?" Ustadzah Salma langsung ke point inti.
"Nggak..."
"Iya, Ustadzah. Rara memang pacar saya" Tanganku mengepal sempurna, mau manusia ini apa sebenarnya?
"Bohong Us...."
"Diam Ra! Saya tidak tanya kamu!" Aku menunduk mendengar nada tinggi Ustadzah Salma.
"Tapi, bukan Rara yang ini Ustadz, Ustadzah. Rara pacar saya ada di rumah, mana mugkin saya mau sama dia" Mulutku menganga sempurna, sudah bikin aku dalam masalah dan sekarang dengan terang-terangnya merendahkan aku.
Ya Allah, kenapa aku harus bertemu manusia jenis ini?
"Siapa juga yang mau sama kamu!" Tegasku setelah kesadaranku kembali sempurna. Berhadapan dengan Ilham memang membuat aku setengah gila.
"Terus kenapa kamu tulis nama Rara, ketika saya menyuruh jujur" Ustadz Syarif menatap Ilham lekat.
"Maaf Ustadz, Ustadz cuma menyuruh kami buat jujur punya pacar atau nggak, dan kalau punya namanya siapa. Ustdaz tidak memberi tahu bahwa pacar yang di maksud ternyata dari santriwati" Kini Ustadz Syarif dan Ustadzah Salma yang terlihat bingung.
Ilham menatapku sejenak, senyum mengejek terukir di bibirnya buatku.
Sial, ternyata dia mengerjai aku.
"Tapi, kalian saling kenal?" Ustadzah Salma masih terlihat curiga.
"Tidak"
__ADS_1
"Iya"
Aku lagi-lagi menahan geram, Ilham memang benar-benar menguji kesabaranku.
"Mana yang benar?!" Tegas Ustadz Syarif. Massalahnya aku menjawab 'tidak',dan Ilham menjawab 'iya'
"Saya kenal namanya Ustadz, orangnya tidak"
"Saya nggak kenal ustadz, cuma pernah denger nama doang" Balasku.
"Beberapa hari yang lalu, saya pernah bertemu sama kalian berdua di gerbang, kalian ngapain?"
Ya ampun, Ustadz Syarif masih ingat lagi.
" Cuma membantu dia bawa paket Ustadz, di suruh guru" Aku mengangguk membenarkan, memang apa yang di jelasin Ilham benar. Dia kemarin cuma membantu, tidak ada lebih selain bikin naik tensi.
"Terus foto ini?" Ustadzah Salma menyodorkan Handpone-nya, memperlihatkan foto kami tadi siang di depan mobil. dengan Ilham yang menjulurkan lidahnya terlihat mengejekku dan aku yang sedang berdiri di depan mobil dengan wajah kesal.
Astaga, kenapa paparazi ada dimana-mana. Aku diam, apa yang harus aku katakan? Karena nyatanya aku dan Ilham memang satu mobil tadi, satu rumah lagi.
"Grab yang saya tumpangi itu hampir menabrak dia, gara-gara dia jalannya nggak pakai mata. Bukannya minta maaf dia malah marah-marah" Niat sekali Ilham membuat aku kesal, tapi mau menyanggah berarti aku harus siap membuat alibi baru, dan untuk saat ini otakku benar-benar tidak bisa di ajak kompromi.
"Benar itu, Ra?" Aku terpaksa mengangguk.
"Iya, Ustadzah. Karena terburu-buru saya tidak lihat ada mobil lewat"
"Baiklah, mungkin kami salah paham dengan kalian" Ucapan Ustadzah Salma membuat hatiku lega.
"Tapi bagaimanapun, untuk kamu Ilham, pacaran itu tidak baik, lebih banyak mudaratnya daripada manfaat" Ilham mengangguk paham.
"Dan kamu Ra, jangan suka gegabah dan teledor, jaga ucapan. Kita tidak tahu bisa saja orang sakit hati mendengar kata yang kita ucap, padahal menurut kita itu hal yang biasa, tapi tidak menurut mereka" Aku mngangguk paham.
Aku melirik jam dinding yang ada di depanku, ini sudah larut malam, hampir jam dua belas malam, dan aku masih di ruang sidang ini gara-gara kesalah pahaman.
"Saya juga minta maaf" Kata Ustadz Syarif.
"Kamu boleh balik, Ham" Ucap Ustadz Syarif lagi. Ilham mengangguk lalu berdiri terlebih dahulu dari pada aku.
"Saya permisi Ustadz, Ustadzah. Assalamu'alaikum" Pamit Ilham sembari menunduk.
"Saya sama Rara juga mau balik ke asrama Ustadz" Ucap Ustadzah Salma. aku akhirnya bangkit, mengekori Ustadzah Salma dari belakang.
"Eh, tunggu Ra, ada yang kelupaan. Tunggu di sini bentar" Dari intonasi yang aku dengar, Ustadzah Salma nampakknya sudah tidak marah lagi terhadapku. Syukur deh, melihat sikap acuh beliau tadi membuat dadaku sesak, bagaimanapun beliau sudah jadi ibu buatku di sini.
Aku menunggu Ustadzah Salma di dekat pintu. mengamati suasana malam yang mulai sepi.
"Sssst!! Ssst!" Suara suitan ku dengar samar dari arah samping kanan. Aku tidak ingin menengok, itu mungkin bukan manusia.
"Ra!" Panggilan terdengar lirih, aku kenal suara itu. Itu suara manusia ternyeblin di muka bumi ini. Aku segera menoleh, dan mendapati Ilham berada di antara pepohonan masih cukup dekat dengan ruang sidang.
"Ambil ini" Dia menunjuk sebuah kotak kecil, sebelum akhirnya dia pergi.
Aku memastikan Ustadzah Salma masih sibuk di dalam, dengan gesit aku segera berlari dan menyambar kotak kecil yang tadi Ilham maksud.
"Ra"
"Eh, iya Ustadzah" Aku berlari cepat kembali ke tempat semula.
"Udah kemana?" Ustadzah Salma terlihat curiga
"Buang sampah yang tadi di sini Ustadzah. seperti kata Ustadzah, kebersihan sebagian dari iman" Ustadzah Salma mengangguk percaya. dan tiba-tiba beliau memelukku.
"Maafin saya, ya. Saya cuma terlalu sayang sama kamu, jadinya mendengar kamu bikin ulah membuat saya marah" Aku tersenyum haru, kasih sayang beliau memang begitu besar aku rasakan.
Jangan nangis, Ra!
Aku mengingatkan diri, satu lagi kelemahanku. Aku mudah sekali terbawa suasana, apa lagi suasana sedih seperti ini.
"Alhamdulillah, ternyata kamu memang tidak melanggar peraturan. Ustadzah kira kamu benar pacaran sama dia" Senyum di bibir Ustadzah Salma, membuat hatiku ngilu.
Aku memang tidak pacaran, namun statusku dengan Ilham lebih dari sekedar pacar. Dan semua itu memang nyata.
"Ayo, balik" Aku mengangguk, lalu kami segera melangkahkan kaki menuju asrama.
👽👽👽
Kini aku sudah berada di depan pintu kamar, Ustadzah Salma segera pamit setelah menghantar aku sampai sini.
Aku masih mendengar suara dari dalam, menandakan teman-temanku masih belum tidur. Aku tahu, mereka pasti menugguku pulang.
Sebelum masuk ke dalam, aku menyempatkan diri untuk membuka kotak kecil yang tadi Ilham kasih. Aku terlalu penasaran untuk menunggu sampai aku berada di dalam, dan membukanya di dalam juga tidak mungkin, karena teman-temanku masih pada bangun.
Ku lepas pita biru yang melilit kotak itu, ketika tutup kotaknya ku buka, sebuah kertas warna merah berbentuk hati menyembul keluar.
__ADS_1
Aku menyipitkan mata agar tulisan di kertas itu nampak jelas, karena memang saat ini aku tidak pakai kaca mata.
Selamat ulang tahun, kesayangannya Ilham❤