Pesantren Berdarah

Pesantren Berdarah
Menjemput Fakta


__ADS_3

"Himmi!"


Aku segera menariknya turun, ketika tubuhnya mulai merangkak menaiki dinding pembatas. Himmi menatapku tajam, kemudian mengayunkan tangannya membuat tubuhku terhempas jatuh.


"Ustadzah..." Ucapku sembari meringis pelan.


"I-iya, Ra?" Ustadzah Salma yang masih terlihat syok sembari berjalan pelan menghampiriku.


"Ada koyo nggak?"


"Ah?"


"Koyo, Ustadzah."


"Buat apa, Ra?"  Ustadzah Salma semakin terlihat bingung.


"Pinggang Rara sakit Ustadzah, Wuuuaaaaah!!!"


"Usstt kok malah nangis, Ra. Udah-udah." Ustadzah Salma coba membujukku. Aku masih guling-gulingan nggak jelas di tanah, sungguh pinggangku terasa encok.


"Ra, Himmi kemana?" Ucapan ustadzah Salma mengembalikan kesadaranku. Astaga, kenapa aku bisa lupa dengan Himmi.


Aku segera bangkit mengedarkan pandangan mencari keberadaan Himmi. Lupakan tentang sakit pinggangku dulu, yang terpenting sekarang menemukan keberadaan Himmi. Anak itu, kenapa pakai acara kesurupan segala. 


"Ra, disana." Mataku mengikuti arah yang ditunjuk Ustadzah Salma.


"Astaga, anak itu, Bener-bener nyusahin."  Aku bergumam sembari menatap ke arah Himmi, dia sekarang sudah berada di atas pemakaman, berdiri tegap sembari memandang ke arahku dan Ustadzah Salma.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Ustadzah lebih baik kembali ke asrama, biar Himmi, Rara yang urus."


Pletak!


"Astaghfirullah, Ustadzah. Kenapa Rara malah di jitak?"


"Kalau ngomong, sukanya nggak mikir dulu." Ustadzah Salma menatapku sebal. Tempat salahku dimana?


"Biar Ustadzah telpon yang lain dulu."


"Jangan!!" Sepontan aku berteriak sembari memegangi tangan Ustadzah Salma. Semakin banyak orang yang tahu maka akan semakin bahaya.


"Kenapa, Ra? Kita tidak mungkin pergi ke makam berdua, ini sudah larut malam!" Suara Ustadzah Salma tegas.


"Tapi..."


Aku terdiam, tidak mungkin aku menjelaskan semuanya pada Ustadzah. Sungguh ini terlalu rumit. Aku mendongak lagi, memandang ke arah Himmi yang semakin berada di tepi dinding.


"Datang, atau anak ini akan mati!"


Suara itu. Aku memejamkan mata erat, menahan gemuruh yang hampir menyesakkan dada. Aku nggak bisa biarin ini, jika ingin bermain-main dengan ku, maka cukup aku saja, jangan ikut sertakan orang lain seperti ini.


Aku harus bergegas pergi, sebelum kejadian ini memakan korban lagi. Cukup cuma satu, jangan ada lagi. Jika memang harus ada, biarkan aku saja, karena kenyataannya yang mereka incar adalah aku.


Aku segera berlari menuju gerbang biru, selagi Ustadzah Salma lengah.


"Rara!! Ya Allah, anak ini!! Berhenti!!"

__ADS_1


Maaf, kan, Rara, Ustadzah. Aku semakin mempercepat langkah, namun ternyata Ustadzah Salma malah ikut berlari mengejarku.


Aku harus apa untuk menghentikannya? Jangan sampai Ustadzah Salma juga ikut ke pemakaman bisa-bisa makin banyak nyawa yang akan terancam.


Ayo, Ra berpikir cepat!


Aku berhenti sejenak, membuat Ustadzah Salma juga ikut berhenti beberapa meter dari tempatku. Selagi beliau menyetok oksigen ke dalam paru-paru, aku berusaha berpikir bagaimana menghentikan Ustadzah Salma untuk mengikutiku.


"Ra, jangan ambil keputusan gegabah! Berhenti, dan balik ke asrama! Kalau kamu sampai melewati gerbang itu, Ustadzah nggak akan segan-segan buat hukum kamu!"


Aku tersenyum sumringah, akhirnya aku dapat ide.


"Makasih, Ustadzah! Rara akhirnya dapat ide!  Tapi sebelum nya, Rara, mau minta maaf, Soalnya Rara udah banyak bikin Ustadzah susah!" Aku kembali berlari, sebelum Ustadzah Salma menyadari gelagatku.


"Rara!"


Maaf, kan, Rara Ustadzah. Tapi ini demi kebaikan bersama. Dari ucapan Ustadzah Salma tadi, memberikanku sebuah ide, untuk mengunci gerbang biru setelah aku melewatinya. Dengan begitu Ustadzah Salma tidak akan bisa melewatinya.


"Rara!! Buka gerbangnya!" Aku menarik napas lega setelah gerbangnya berhasil aku kunci , satu masalah sudah selesai.


Ustadzah Salma terus saja menggedor, menimbulkan bunyi yang sangat meributkan. Aku segera berbalik hendak melanjutkan langkah.


"Sate Ayam!! Astaghfirullah!" Mataku membulat sempurna melihat siapa di depanku sekarang. Kenapa latahku tiba-tiba kambuh?


"Ra, kamu kenapa?" Ustadzah Salma semakin keras menggedor gerbang tersebut, ketika mendengar pekikan tak sengaja dari ku.


"Jangan pergi." Aku menelan salivaku susah payah. Apa lagi ini?


"Ra..."


"Jangan mendekat!" Aku refleks berteriak dan mundur, agar aku tidak terlalu dekat dengannya.


Aku menatapnya dengan deruan napas yang tak bisa aku kontrol. Iya aku tahu dia itu Malik, tapi bagaimana bisa dia bisa muncul di hadapanku.


"Mau apa, kamu?" Aku kini mulai berusaha menenangkan diri, takut hanya akan membuatku tidak bisa berpikir jernih.


"Jangan pergi, di sana berbahaya." Aku hanya menatapnya tak berkedip. Otakku berusaha terus meyakini hatiku bahwa Malik bukan manusia lagi.


"Aku cuma nggak mau, kamu seperti aku." Mataku berubah sendu, aku kembali mengingat bagaimana aku menemukan Malik di dalam tong air itu. Bagaimana sebenarnya dia bisa kehilangan nyawa mengenaskan sperti itu?


"Siapa sebenarnya yang melakukan itu semua sama kamu, Malik?" Aku berharap Malik memberitahuku, agar semua masalah ini memiliki sedikit jalan terangnya. Setidaknya dengan mengetahui siapa yang membunuh Malik, mungkin saja ada kaitannya dengan masalah ini.


"Dia..."


Brakk!!


Aku terperangah, mendengar suara gerbang di belakangku di dobrak. Aku berdecak sebal, jika aku masih saja di sini bisa gagal rencanaku untuk ke makam.


"Maaf, tapi ada banyak nyawa yang harus aku tolong. Mengorbankan satu nyawa demi banyak nyawa itu nggak pa-pa, kan?" Aku segera berlari meninggalkan Malik, yang terpenting sekarang adalah membawa kembali Himmi ke asrama.


"Astaga!" Mataku kembali membeliak, mendapati Malik tiba-tiba sudah berada di depanku. Membuatku refleks mengerem mendadak. Untung saja kakiku memiliki daya rem yang masih kuat. Hampir saja aku menubruk dia.


Sebentar. Mengapa aku harus berhenti, bukankah aku bisa menembus Malik?


"Aku mohon jangan pergi."


"Rara!" Aku menoleh ke belakang. Itu suara Ilham, dan benar dia tengah berlari menghampiriku. Aku melihat Ustadzah Salma dan Ustadz Alawi juga berada di belakangnya.

__ADS_1


Aku diam, berlari juga percuma. Mereka akan menemukanku dengan cepat.


"Ada siapa di sini?" Ilham mengedarkan pandangannya ke segala arah. Aku mengerjapkan mata, masih tak percaya. Dia tau kalau aku memang tidak sendiri.


Aku menoleh ke belakang, mendapati Malik masih berdiri di sana. Namun tak berapa lama setelah itu dia menghilang dengan senyum manis yang sebelumnya pernah aku dambakan. Astaghfirullah sadar, Ra. Kamu sudah bersuami.


"Rara, jawab!" Suara Ilham sedikit membentak, aku tahu dia sekarang tengah khawatir, tapi bukankah dia bisa baca pikiran aku? Kemana keahlian tak masuk akalnya itu.


"Kebetulan, ikut aku!" Bukannya menjawab, aku malah menarik tangan Ilham dan menyeretnya berlari mengikutiku.


Aku yakin, sekarang Ustadzah Salma tengah terbelalak kaget. Maaf, ya Ustadzah. Terlalu banyak rahasia yang belum Ustadzah tahu dan mungkin tak perlu tahu.


"Eh! Mereka?..."


"Lebih baik, kita ikuti mereka." Sepertinya tak ada pilihan lain untuk Ustadzah Salma.


"Sepertinya, anda tahu sesuatu, Ustadz." Ustadz Alawi hanya bergumam tak jelas, untuk menjawab kecurigaan dari Ustadzah Salma.


Akhirnya sampai juga di depan pintu gerbang, aku jadi ingat ketika bertemu dengan Ilham di sini.


"Tunggu!" Ilham menarik tanganku, membuat langkahku harus terhenti.


"Apa lagi? Sepertinya kamu sudah tahu, apa alasanku ke sini." Aku berdecak kesal, kenapa orang-orang sangat suka menghalangi langkahku.


"Kenapa nggak lewat pintu gerbang, yang ada di asrama putri?"


"Kau tahu sendiri, aku nggak punya kuncinya!"


"Tapi Ustadzah Salma punya!" Aku menepuk jidatku, bisa-bisanya aku nggak kepikiran ke sana.


"Ya udah, ayo balik!" Tanganku hendak menarik tangan Ilham lagi.


"Ngapain?" Aku memutar bola mata jengah, ayolah, Ham, apakah kamu sengaja mengulur waktu, agar aku tidak naik ke atas makam.


Jelaslah kita balik mau lewat gerbang   yang di sana.


"Aku tidak mengulur waktu, untuk apa sekarang lewat sana, kalau gerbang yang lain sudah di depan mata."


Ku pejamkan mata erat, kenapa aku bisa nggak mikir seperti itu. Bikin malu saja.


Ustadz Alawi dan Ustadzah Salma hanya memandang kami bingung. Mungkin dalam pikiran mereka terlintas 'Apakah hal seperti ini perlu di debatkan?' Sudahlah.


"Lebih baik, sekarang kita cari Himmi. Jangan sampai dia kenapa-napa." Kami akhirnya berjalan melewati pintu gerbang menuju makam.


Hening, hanya lampu dari handpone Ustadzah Salma yang menjadi penerang jalan kami. Sesekali Ustadzah Salma menggenggam erat pergelangan tanganku, mengisyaratkan kalau beliau merasa sedikit takut.


Berada di pekuburan tengah malam begini, siapa yang tidak takut. Apalagi untuk orang yang pertama kali. Hanya suara hewan malam yang menjadi pengisi di antara langkah yang kami buat.


Aku yakin Himmi masih baik-baik saja. Karena memang tujuan utama mereka adalah aku, bukan Himmi.


Tepat di pembelokan, tiba-tiba langkahku terhenti. Aku mengusap-usap tengkukku yang terasa menaikkan bulu-bulu halusnya.


Sepertinya ada yang mengintai. Aku segera mendongak dan benar, Tubuh Himmi entah kapan sudah melayang kini menghantam tubuhku.


"Rara!"


"Hahahahaha!!"

__ADS_1


 


__ADS_2