Pesantren Berdarah

Pesantren Berdarah
Terungkap


__ADS_3

Dia yang telah mnyuruhku membunuh orang tua kamu!"


Lagi-lagi tubuhku mematung mendengar ucapan dari laki-laki itu. Aku menatap Ilham meminta kejelasan.


Itu semua tidak benar, kan? Laki-laki itu hanya mengandai-andai, iya, kan? Aku berharap Ilham menatapku dan memintaku untuk tetap percaya sama dia. Tapi yang aku dapatkan bukan itu, Ilham menunduk, punggungnya terlihat bergetar.


"Ham, a-apa itu benar?" Dia tak menggubris. Laki-laki itu kini dengan santai berjalan mendekati Ilham, mendekat dan berjongkok memegang pundaknya.


"Jadi, biarkan sekarang aku melanjutkan tugasku. Ini hukuman untukmu yang telah menyia-nyiakan anakku! Lihat dan saksikan kematian perempuan yang kamu jaga selama ini." Suara laki-laki itu terdengar lirih, namun telingaku seakan jelas menangkap setiap kata yang dia ucapkan.


Jika memang benar Ilham di balik kematian orang tuaku, tapi aku yakin apa yang aku alami sekarang bukan karena dia. Sudah jelas, bukan? Selama ini dia benar-benar menjagaku. Dan omongan laki-laki itu tadi membuat aku semakin yakin bahwa Ilham bukan dalang dari semua ini. Terus siapa? Dela? Hanya Dela yang ada di opsi kedua ku sekarang.


Laki-laki itu bangkit, Ilham masih saja menunduk. Entah apa yang dia pikirkan. Ingin sekali rasanya aku meminjam kemampuannya sebentar hanya untuk mengetahui apa yang sekarang dia pikirkan.


"Ada kata-kata terakhir yang perlu kamu sampaikan? Hem?" Aku mengalihkan pandanganku ke arah laki-laki itu, kini dia telah berdiri membelakangi Ilham dan beralih menatapku.


Aku ingin bangkit tapi rasanya tubuhku terlalu sakit. Laki-laki itu berjalan perlahan membuat aku semakin bingung harus berbuat apa.


Jangan takut, Ra. Jangan takut. Jika memang ini akhir dari semuanya, kamu harus menerimanya dengan Ikhlas.


Jika memang malam ini aku mati, itu berarti jatahku di dunia ini hanya sampai di sini.


"NGGAK AKAN AKU BIARKAN ITU TERJADI!" Pandanganku beralih ke arah Ilham yang kini bangkit, Kilau pisau yang diterpa cahaya lampu sekilas aku lihat di tangannya. Dan benar, sebelum laki-laki itu menyadarinya Ilham telah menancapkannya terlebih dahulu tepat mengenai dadanya.


Aku tertegun, ini adalah pertama kali aku melihat kejadian mengerikan seperti ini. Dan itu dilakukan oleh Ilham.


"Ka-kamu!" Laki-laki itu mengerang kesakitan. Darah mulai bercucuran membasahi pakaiannya, namun ada yang aneh darah yang keluar tidak seperti darah yang kebanyakan orang punya. Warnanya sedikit hitam dan baunya sangat pekat.


Tubuh laki-laki itu mulai melemas, tapi tiba-tiba tubuhnya melayang dan menyeruakkan wangi melati yang begitu pekat.


Entah bagaimana, tubuhnya tiba-tiba berubah, aku seakan melihat wanita di dalam sumur itu berada di dalam tubuhnya.


Kini dia melayang, tubuh kekarnya seolah tergantikan dengan tubuh wanita itu.


"Sepertinya yang harus aku musnahkan terlebih dahulu adalah kamu!"


Aku harus menganggap laki-laki itu sebagai apa sekarang. Suaranya masih sama namun wujudnya berubah drastis dari bentuk aslinya.


Dia melayang menghampiri Ilham.


"Kamu pikir, akan mudah untuk mengalahkan aku?" Ilham mundur perlahan mengarah ke arahku.


Dia melirikku, memainkan bola matanya seolah memberiku aba-aba. Tapi apa yang dia maksud? Aku sama sekali tidak paham.


Aku bangkit, Entah kenapa aku merasa energiku kembali pulih. Luka-luka yang tadi bertebaran di tubuhku seakan hilang.


Aku mengamati tubuhku, mengamatinya dengan tatapan tak percaya. Lagi-lagi ini terjadi. Dulu luka di sikuku tiba-tiba hilang dan sekarang, bukan hanya di siku tapi di semua tubuhku.


Aku menampar pipiku keras.


"Ssst!"


Kok, sakit? Berarti ini beneran? Bukan mimpi atau imajinasi aku saja. Ya ampun, kenapa bisa seperti ini. Apa aku masuk ke dimensi lain? Atau Bagaimana? Aku masih belum percaya ini semua.

__ADS_1


"Rara! Astaga! Kenapa kamu malah mikirin hal yang unpaedah!" Aku menoleh, Ilham sekarang sudah berada tepat di sampingku.


Aku tidak menggubris, aku masih dalam mode marah padanya. Setidakknya jika dia memang yang menyuruh laki-laki itu membunuh orang tuaku, kenapa tidak dia jelaskan apa alasannya.


"Ok, aku salah! Tapi tolong sekarang jangan pikirin hal itu. Ini kesempatan terakhir kita untuk membebaskan makhluk itu."


Aku lupa kalau Ilham bisa membaca pikiran aku. Tunggu, apa maksudnya tadi? Membebaskan Makhluk itu? Makhluk apa yang dia maksud?


"Ra, menunduk!" Ilham dengan sigap menarik tubuhku agar ikut menunduk.


BRAK!


Puluhan batu nisan berjatuhan menghempas pohon yang ada di belakang kami.


Aku menarik napas lega, hampir saja. Jika Ilham tak menarikku, aku pastikan kepalaku sudah tidak berbentuk sempurna.


Wangi melati semakin memenuhi indra penciumanku.


"KALIAN HARUS MATI!!!"


"Ra, sekarang!"


Apa? Aku menatap tak berkedip melihat laki-laki setengah wanita sumur itu melayang menghampiri kami. Tangan dengan kuku-kuku panjang itu terjulur hendak mencekik.


"Ra, Sekarang!"


"Apa, Ilham? Sekarang apa?Aku nggak tahu apa yang kamu maksud! Kamu pikir aku bisa baca pikiran seperti kamu!" Aku geram sendiri, Bisa-bisanya dia membuatku semakin bingung dalam keadaan seperti ini.


Ilham hendak membuka suara, namun terlambat. Tangan panjang itu lebih dahulu mencekik kami berdua.


Namun aku melihat kedua tangan Ilham memegang pergelangan tangan laki-laki setengah wanita sumur itu, Tatapannya terus saja menunjuk tangannya seolah aku harus melakukan hal yang sama.


Aku jadi teringat, kejadian Himmi dan Dela. Ketika mereka kesurupan dan aku yakin yang memasuki mereka itu adalah makhluk yang ada di hadapanku sekarang. Karena aku ingat sekali dengan mata putihnya.


Pergelangan tangan mereka. ya, pergelangan tangan mereka melepuh ketika aku memegangnya. Apa itu yang dimaksud Ilham?


Aku meringis kesakitan, ketika kuku-kuku panjangnya mulai menusuk memasuki kulit leherku. Sepertinya kukunya sudah mengoyak jilbab yang aku kenakan sekarang.


Dengan Cepat aku mengikuti apa yang Ilham lakukan. Jari-jariku mulai menggenggam tangan yang kini sedang mencekik leherku.


Sejenak tak ada yang terjadi, tapi beberapa menit kemudian, setelah aku hampir kehabisan napas dan kesakitan. Makhluk di depanku mulai melonggarkan cekikannya.


"Ja-jangan di le-pas, Ra." Ilham mencoba mengingatkan aku. Tubuhku rasanya sudah tak sanggup lagi, Dadaku rasanya sesak karena oksigen tak ada yang memasuki rongga paru-paruku.


Peganganku mulai melemah, namun satu tangan Ilham segera menggenggam telapak tanganku yang menyatu.


Suara erangan keras terdengar. Itu bukan dari aku ataupun dari Ilham. Tapi dari makhluk di hadapan kami berdua.


Tubuhnya menggeliat seolah kepanasan. Dia hendak menarik tangannya dari genggaman tanganku. Namun Ilham berusaha keras agar tanganku tidak melepaskannya.


"AAKHH!!!"


Aku menutup mata rapat-rapat. Bau gosong mulai tercium. Disusul oleh bau daging panggang.

__ADS_1


Aku memberanikan diri membuka mata. Karena Cekikan itu sudah tak lagi aku rasakan.


Mataku membulat sempurna ketika melihat tubuh makhluk dihadapanku mulai mengelupas dan melepuh.


Bau gosong ditambah bau anyir, semakin pekat aku rasakan.


"LEPAS!!" Teriaknya keras, membuat telingaku rasanya berdenyut nyeri.


Sekarang aku bisa kembali menghirup oksigen dengan bebas. Karena tangan itu tak lagi mencengkram leherku.


"Ham, gimana? Aku udah nggak tahan dengan baunya."


Rasanya perutku mulai mual, ingin memuntahkan apa yang ada di dalamnya.


"Sebentar lagi, Ra." Ilham melepas genggaman tangannya dari tanganku. Namun tangan dia yang sebelah masih memegang tangan makhluk itu. Mungkin tujuannya agar tidak kabur.


"Kamu tutup mata."


"Buat?"


"Lakuin aja!" Aku menurut. Dan aku rasakan hidungku dipencet dengan keras.


Repleks aku membuka mata lagi.


"Kenapa dipencet?!"


"Biar kamu nggak mual."


"Lepas! Iya nggak mual, tapi sesak begok!"


Ilham segera menarik tangannya. Aku hampir lupa kalau nyawaku tadi hampir saja melayang karena makhluk di depanku.


Eh, tunggu. Aku melirik telapak tanganku yang kini hanya menggenggam angin. Kemana tangan itu?


Aku baru sadar, tak ada lagi suara erangan. Tak ada lagi suara teriakkan. Dan tak ada lagi bau yang menusuk hidugku.


"Ham..." Lirihku, sembari melirik ke arah sekitar.


Aku hanya melihat pakaian yang laki-laki itu kenakan tadi, kini berserakan di depanku. Kemana dia?


Mataku rasanya semakin silau ketika melihat sebuah kuburan di depanku bercahaya. Itu kuburan yang selama ini menjadi tanda tanya besar di kepalaku. Karena cuma kuburan itu yang tak memiliki batu nisan di pemakaman ini.


"Terima kasih, sudah membebaskan aku."


Kuburan itu kembali gelap. Apa suara itu datang dari sana? Rasanya tidak mungkin.


"Rara." Suara lirih itu menyadarkan aku, bahwa di sini bukan hanya aku dan Ilham tetapi juga Iqlima.


Aku melihat Iqlima kini tengah terduduk lemas di dekat pohon tempatnya terikat. Sejak kapan ikatannya lepas?


"Ma." Aku berlari menghampirinya, dia memang berada tidak terlalu jauh dari aku dan Ilham.


"Ra! Jangan men...!!"

__ADS_1


"BERANINYA KAMU MEMBUNUH AYAH AKU!!"


__ADS_2