Pesantren Berdarah

Pesantren Berdarah
Benci?


__ADS_3

...Sakit yang paling menusuk itu...


...Ketika orang yang kita anggap dekat...


...menikam secara perlahan dari belakang...


...👽👽👽...


"Ayo cepat, Ra!" Terdengar suara Iqlima memanggilku kembali dari luar.


"Iya, iya!" Aku kembali sibuk mengobrak- abrik buku di dalam lemariku, tapi buku yang aku cari tidak kunjung menampakkan diri. Kenapa setiap benda kalau lagi dibutuhin dan dicari pasti akan hilang dan susah banget nemunya, padahal kalau nggak dicari malah menampakkan diri dengan suka rela. Ada yang bisa memecahkan pertanyaanku ini?


"Ra!" Kali ini suara Fitri menggema kayak ditaruhin toa masjid.


"Kamu cari apa sih? lama bener! Tinggal 10 menit Abah mulai. Nanti kalau kita telat bakal kena hukum!" Fitri memandangku sambil menunjukkan ekspresi geramnya. Dia masuk ke dalam kamar kembali, karena menurutnya mungkin aku terlalu lama.


"Alhamdulillah, ketemu!" Seruku sembari berjalan menghampiri Fitri.


"Allahumma! Aku juga hampir lupa!" Fitri bergegas menuju lemarinya, mengambil buku yang memang seharusnya kami bawa.


"Tepat waktupun nggak ada gunanya, kalau nggak bawa ini" Aku mengangguk membenarkan. 


Jam menunjukkan pukul 11 kurang 8 menit, masih ada waktu delapan menit untuk sampai ke majelis. Dan beruntungnya kami, karena punya kantin sebagai jalan pintas untuk ke sana. Majelis berada di tengah-tengah sekolah santriwati, sehingga aktivitas sekolah maupun diniah di kerjakan di satu tempat.


Seperti hari ini, hari senin memang waktu pengajian umum dari Abah untuk semua santri dan juga masyarakat yang datang ke pesantren.


Dan bagi santri, hari senin menjadi hari terpendek untuk sekolah, karena memang sebelum jam 11 acara belajar mengajar sudah dibubarkan.


Dan disinilah aku sekarang, duduk di antara ratusan bahkan ribuan orang yang datang untuk mendengar dan menyimak pengajian dari Abah.


Aku melirik ke sana kemari, satupun dari teman-temanku tak ada yang kelihatan batang hidungnya, padahal tadi kami ke sini barengan. Tapi gara-gara banyak orang akhirnya jadi terpisah seperti ini.


Hal yang lebih membuatku menarik napas prustasi, di tempatku duduk sekarang, satupun dari manusia yang hidup di sini nggak ada yang aku kenal.


Setelah sekian lama akhirnya aku bisa menyungging seuntai senyum, aku melihat Himmi duduk bersender di tiang majelis, bersama beberapa santriwati juga di dekatnya.


Dari pada duduk sendiri disini, dan akan membuatku tertidur nanti ketika Abah lagi menjelaskan, gara-gara nggak ada teman yang aku usilin, lebih baik aku ke sana.

__ADS_1


Sebentar lagi pengajian akan dimulai, aku harus bergegas. Dengan pelan tapi pasti aku berjalan pelan melewati tempat yang memang tidak ada orang yang duduk di sana.


Aku menunduk malu, karena aku seorang diri berjalan sedikit membungkuk melewati kerumunan banyak orang, memang sih, tidak ada yang memperhatikan. Tapi mungkin karena fitrah perempuan itu pemalu, ya jadi malu gini.


"Ngapain kamu ke sini?" Himmi memandangku heran, ketika aku menggelar sajadahku menjadi alas di dekatnya,


"Udah sehat sekarang? Songongnya balik. "


Himmi memutar bola matanya jengah.


"Jangan cari gara-gara deh, Ra. Aku trauma berurusan sama kamu. " Dan sekarang, aku yang menatapnya bingung. Apa maksudnya?


"Maksud, kamu?" Himmi diam, seolah tidak mendengarku. Apa ada yang dia sembunyiin dari aku?


"Kamu kayaknya tuh, benci banget sama aku"


"Aku bukan benci, tapi emang nggak mau ganggu kamu lagi"


"Yah, nggak seru dong! Padahal aku kangen adu mulut sama kamu. "


Himmi menggeleng sambil menatapku tidak percaya. Mungkin di pikirannya, seharusnya aku senang, karena sekarang aku bisa hidup damai, tentram dan sentausa di pesantren ini.


"Kamu sehat, kan Him?"


"Iya, Ra. Sehat walafiat. Udah ya, jangan ajak aku bicara lagi. Nanti aku nggak tahan buat hujat kamu." Aku merapatkan bibirku menahan tawa yang hampir saja meledak. Aku kira Himmi benaran udah nggak mau baku hantam sama aku, taunya cuma nahan diri doang.


Aku harus menahan diri untuk bersuara lagi, karena Abah sudah duduk di atas mimbar dan memulai pengajian.


Satu jam sudah berlalu, dan sekarang aku sedang duduk gelisah menahan kantung kemih yang rasanya ingin meledak karena kepenuhan.


"Him, temenin ke kamar mandi ayo" Bisikku sembari bergerak-gerak gelisah. Himmi menatapku jengah, namun dia masih mau menanggapi ucapanku.


"Kamu tau sendiri, Ra. Dapat izin kalau Abah sudah mulai Ta'lim Seperti ini. Susahnya tuh kayak minta kamu diam, nggak akan bisa" Dasar Himmi, masih aja nyindir.


"Kalau aku dapat izin, kamu mau nemenin?"


"Ok!" Aku mengedarkan pandangan dengan gelisah. Berada di posisi seperti ini tidak mengenakkan sama sekali.

__ADS_1


"Itu ada Ustadzah Husna, ayo ke sana" Aku menarik Himmi, sebelum dia mengeluarkan kalimat penolakan.


Setelah memberi alasan yang memang benar aku alami, akhirnya aku mendapatkan izin untuk ke kamar mandi Asrama. Di tempat ini memang ada kamar mandinya, tapi kami tidak mungkin masuk ke sana, karena kalau hari senin, kamar mandi tersebut berubah menjadi kamar mandi umum.


Percuma aku menarik Himmi tadi, kalau pada akhirnya cuma aku yang di kasih pergi. Dari pada menahan lebih lama lagi, dan itu bisa menimbulkan penyakit, dengan terpaksa aku berjalan sendiri menuju asrama.


Dan akhirnya, aku bisa bernapas lega setelah aku keluar dari kamar mandi. Kakiku berhenti melangkah ketika dari kejauhan aku melihat pintu  kamar asramku terbuka. Seingatku, aku  yang paling akhir keluar tadi, pintu kamar itu udah aku kunci.


Apa ada maling? Atau ada seseorang yang masuk? Aku berbalik arah, kini berjalan menuju kamar asramaku. Sepi memang, dan ini salah satu alasan kenapa kami tidak diperbolehkan kembali ke asrama ketika masih pengajian, takut menjadi fitnah ketika ada barang-barang santri yang hilang.


Aku berjalan pelan, mengintip dari celah pintu. Aku berpikir sejenak, bagaimana kalau aku masuk nanti dan ternyata nggak ada orang? Atau jangan-jangan maling, perampok, begal. Apa kabar dengan nyawaku? Hari senin memang rame, dan bagi orang luar bebas untuk masuk ke dalam pesantren.


Aku menelan salivaku susah payah, ketika mendengar suara gaduh dari dalam. Sekali lagi rasa penasaranku mengalahkan rasa takutku.


Aku berjalan pelan, masuk ke dalam. Tapi bagaimana kalau yang di dalam ini bukan manusia?


Aku harus ingat, kalau aku pernah melihat hal-hal yang lebih menyeramkan. Aku bulatkan tekad untuk menyodorkan kepala menengok ke dalam.


"Dela?"


Bugh!


Aku meringis menahan sakit, ketika melihat Dela tak sengaja kejedot pintu lemarinya. Aku melihat sebuah lembar foto terjatuh dari tangannya.


Aku bergerak maju dan segera mengambil foto itu.


"Del... a...apa maksudnya ini?" Aku menatap Dela tak percaya, dia segera merampas foto di tanganku, lalu menatapku tajam.


"Ini akibatnya, karena kamu tidak ngelakuin apa yang aku minta!" Aku menggeleng pelan, sungguh aku masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat.


"Ta...tapi, Kenapa?" Aku tidak boleh emosi, Dela adalah temanku dan juga keluarga bagiku.


"Jangan dekat-dekat sama Ilham, Ra! Apa susahnya kamu nurut!" Dela pergi setelah kembali membentakku.


Aku memejamkan mata erat, mengontrol pikiranku agar apa yang aku lihat tadi seolah hanya foto biasa.


Tapi percuma, semakin aku berusaha lupa, semakin aku berusaha tidak percaya, hati kecilku semakin membantah.

__ADS_1


Itu fotoku, foto yang dulu aku kasih untuk mereka, Teman-temanku. Ketika kami saling bertukar foto. Tapi kenapa ada coretan? kenapa namaku di tulis pakai tinta merah di depan mukaku di foto itu? Dan kenapa ada tulis-tulisan yang tidak aku mengerti maksudnya?


__ADS_2