Pesantren Berdarah

Pesantren Berdarah
Hadiah


__ADS_3

Selamat ulang tahun, kesayangannya Ilham❤


Bibirku tanpa sadar membentuk lengkungan tipis, setelah membaca tulisan di kertas merah berbentuk hati tersebut.


Bagaimana bisa Ilham tahu? Aku sendiri bahkan lupa hari ini ulang tahunku. Aku kembali menelusuri isi kota kecil itu.


Sebuah gelang berwarna perak dan bros berwarna senada dengan gelang tersebut.


Cantik


Pujiku dalam hati, aku segera memakai gelang itu dan terlihat pas di pergelangan tanganku.


Aku tersadar, ternyata masih ada satu  lembar kertas lagi di dalam, aku segera mengambilnya membaca setiap deretan kalimat yang Ilham ukir di sana.


Gimana rasanya masuk ruang sidang?


Apa aku sudah berhasil bikin kamu takut?


Ciee... Istriku cemberut. Hehehe


Aku mengulum senyum, apa sih? Ilham nggak jelas gini.


Maaf, tidak mengindahkan permintaanmu


Dengan aku di sini, setidaknya aku tau. Bahwa kamu sedang baik-baik saja.


Aku tidak bisa memaafkan diriku, jika terjadi apa-apa denganmu.


Ra...


Aku boleh minta satu hal nggak?


Aku mohon, apapun yang terjadi nanti,


Kamu harus tetap ingat, kalau aku benar-benar sayang sama kamu.


Jika nanti aku buat kamu kecewa, tolong... jangan pergi, jangan menghindar.


Di saat itu, aku benar-benar butuh kamu.


Aku menautkan kedua alisku. Mau ketemu, mau lewat surat, Ilham tetap saja Ilham. Selalu bikin ribet.


Aku segera membuang kotak itu di tempat sampah, aku tidak ingin gara-gara kotak kecil itu, aku kembali bermasalah. Aku menggenggam bros dan surat yang Ilham tulis, kemudian menyembunyikannya di balik mukenah.

__ADS_1


Tanganku mematung menggenggam ganggang pintu, ketika ekor mataku menangkap seseorang tengah berdiri tidak jauh dariku.


Jangan nengok, anggap tidak ada yang kamu lihat Ra.


Batinku berusaha mengingatkan, aku cuma tinggal putar ganggang pintu ini kemudian masuk, maka apa yang aku lihat tadi akan hilang.


Tapi dasar raga, selalu saja tidak searah dengan jiwa.  Aku memutar badan 90 derajat, melihat ke tempat aku melihat orang itu.


Kemana perginya? Aku yakin tadi di sana ada orang. Aku benci dengan sifatku yang mudah sekali penasaran, itu membuatku tidak mudah melupakan apa yang aku lihat dan dengar, sebelum semuanya jelas.


Tidak, aku harus menahan diri. Aku tidak mau gegabah dalam mengambil langkah. Dan memang seharusnya aku harus menghindar dengan semua yang berkaitan dengan makhluk-makhluk tak kasat mata ini.


Tapi apa benar? yang tadi ekor mataku tangkap adalah makhluk luar manusia? Bisa saja yang tadi itu santriwati, tapi tidak mungkin ini sudah lewat tengah malam.


Suara percikan air terdengar dari kamar mandi yang tidak jauh dari kamarku. tak lama  terdengar suara orang bersenandung dan sesekali di selingi oleh tawa dan itu semakin membuatku penasaran.


Apa memang ada santriwati yang bangun jam segini untuk ke kamar mandi? Tidak menutup kemungkinan, karena memang aku sendiri sering bangun tengah malam meskipun itu hanya sekedar menemani teman-temanku ke kamar mandi.


Aku mencoba mengingat, kapan terakhir kali aku bisa melihat makhluk-makhluk itu, dan itu di pemakaman.


Aku membulatkan niat untuk melihat siapa di sana. Jika memang itu benar santriwati, setidaknya aku ingin mengingatkan mereka untuk tidak membuat gaduh, ataupun bersenandung seperti tadi. Karena sungguh, suara itu bisa membuat orang yang mendengarnya akan berpikir bahwa mereka bukan manusia.


"Ra?" Aku mengurungkan niat untuk kembali melangkahkan kaki, ketika gendang telingaku menangkap suara Iqlima memanggil dari depan pintu.


"Ternyata benar, ini kamu" Iqlima tersenyum lega, lalu menghampiriku.


"Aku mau ke kamar mandi" Ucap Iqlima lagi.


"Mau aku temenin?"   Iqlima menggeleng.


"Nggak perlu, Ra. Aku berani" Aku tahu Iqlima memang bukan orang yang penakut, namun dengan apa yang aku dengar tadi, membuatku tidak bisa membiarkan dia pergi sendiri.


"Aku kebetulan juga pengen ke kamar mandi" Jelasku, membuat Iqlima mengangguk.


Kami berjalan pelan, aku segera memasukkan bros dan surat tadi ke dalam saku gamisku, sebelum Iqlima melihatnya.


Aku memasang pendengaran tajam, tawa dan senandung itu masih jelas ku dengar dari dalam kamar mandi.


"Ma, apa kamu dengar sesuatu?" Aku memastikan.


"Dengar apa, Ra? Nggak ada suara apapun" Berarti benar di dalam kamar mandi itu bukan orang.


"Gemercik air" Bohongku, tidak mungkin aku mengatakan hal yang sebenarnya pada Iqlima.

__ADS_1


"Oh itu, ya denger atuh, orang kita dekat kamar mandi" Aku berusaha tersenyum menanggapi ucapan Iqlima.


Suara itu tidak lagi aku dengar, ketika aku dan Iqlima masuk. Aku jadi kepikiran makhluk apa yang tadi bersenandung sembari tertawa. Jadi makin penasaran.


"Aku tunggu di sini ya, Ma" Iqlima mengangguk.  Setelah selesai wudhu, aku berjalan ke dekat pintu, rasa penasaran ku belum terbayarkan.


Sembari menunggu, ku coba edarkan pandangan mencari keberadaan makhluk itu, aku yakin dia masih di sini.


Tokek...Tokek....


"Tau nggak, Ra?" Aku memalingkan wajah menatap Iqlima yang tengah mencuci muka.


"Mitos orang tua dulu, kalau ada bunyi tokek malam-malam, berarti ada makhluk lain yang lagi merhatiin kita"


"Masa sih?" Iqlima mengangguk.


"Katanya, kalau suaranya dekat berarti makhluk itu lumayan jauh dari kita, tapi kalau suaranya jauh, itu berarti makhluk itu ada di dekat kita"


"Dan kamu percaya?" Aku menunggu jawaban Iqlima sembari mengedakan pandangan kembali.


Aku bukannya percaya dengan mitos itu, tapi apa yang aku dengar tadi membuat hatiku sedikit tergerak mempercayai.


"Nggak, soalnya mana ada yang begituan" Aku menarik napas lega, Syukur deh, jadinya aku tenang karena Iqlima tidak takut.


Tokek...


Sayup-sayup aku kembali mendengar suara tokek itu.


"Ayo, Ra"


"Eh, Iya" Karena terlalu fokus mencari keberadaan makhluk itu, aku  sampai tidak lihat Iqlima telah berjalan mendahuluiku.


BYUURR!


Aku kembali menoleh ke arah kamar mandi  mendengar suara benda terjatuh membentur air.


Aku mematung, ketika mataku menatap sosok makhluk di depan pintu kamar mandi yang tengah tersenyum menatapku.


Jadi....


Dari tadi makhluk itu ada di belakangku.


👽👽👽

__ADS_1


__ADS_2