
Ketika tangan tak mampu lagi menggenggam
Ketika mata tak mampu lagi menatap
Ketika raga tak mampu lagi bersua
lantas hati bertanya
bagaimana caranya aku menyalurkan rindu ini?
Ingat!
Kamu masih mempunyai do'a
langitkan namanya, maka itulah sebaik-baik perantara rindumu
👽👽👽
Aku berjalan pelan menyusuri jalan setapak yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Aku bisa saja menyuruh bapak ojek menurunkan aku di depan rumah, namun rasanya aku begitu rindu jalan ini. Jalan yang dulu sering aku, ayah dan bunda lewati untuk lari pagi. Jalan yang menyimpan kenangan bagaimana seorang ayah mengajari anaknya bersepeda sampai bisa.
Aku tersenyum getir. Kenapa ada bawang di depan mataku ketika aku mulai mengingat kenangan-kenangan lama itu. Kebersamaan yang terlalu singkat namun meninggalkan kesan yang begitu mendalam.
Ayah, bunda. Rara rindu.
Satu tetes air mata berhasil menerobos, mengalir menelusuri pipiku. Aku gagal, aku terlalu rapuh untuk terlihat selalu tegar.
Tiga tahun, ternyata belum bisa membuatku menjadi Rara yang taguh, menjadi kakak untuk Adam sekaligus menjadi figur ayah dan bunda untuknya.
Dulu, Adam masih terlalu kecil bahkan aku sendiri masih lima belas tahun, ketika semua bahagia itu tiba-tiba hilang. ketika Allah lebih menyayangi ayah dan bunda. Tawa yang aku rindu ketika jauh dari mereka, pelukan hangat yang selalu aku dapatkan setiap berangkat dan pulang sekolah. bahkan setelah mondokpun pelukan itu tetap aku rasakan meski tidak setiap hari.
Tapi hari itu, semua berubah. Tawa yang aku dengar, ucapan syukur yang aku dapatkan lewat telepon atas kelulusanku berubah menjadi pilu. Ketika tiba-tiba kecelakaan itu merenggut semua bahagia itu.
Adam yang masih di dalam kandungan harus di keluarkan dengan paksa demi keselamatannya. Ya, aku bahagia karena adikku bisa di selamatkan namun duka lebih terasa pada hari itu karena ke dua orang tuaku tak bisa diselamatkan.
Aku mengedipkan mata beberapa kali, menghalau air bening itu keluar.
Aku berusaha terlihat seceria mungkin karena sebentar lagi aku akan bertemu dengan nenek dan Adam. Tentu, karena selama ini yang mereka lihat bukan Rara yang cengeng bukan Rara yang lemah.
"Assalamu'alaikum, Nek!" Aku membuka pintu yang memang tidak di kunci.
"Kok sepi? pada kemana?" Aku berjalan ke arah kamar, menaruh ransel yang hanya berisikan satu setel gamis dan buku ceritaku tentunya.
"Nenek, Adam!!" Aku mencium wangi masakan, segera ku langkahkan kaki menuju dapur. Aku melihat nenek lagi sibuk menggoreng entah apa mungkin. Dan Adam, anak umur tiga tahun itu dengan cekatan sedang memotong wortel di dekat nenek, tentunya di bantu dengan kursi untuk mampu menjangkau meja dapur itu.
Dulu, ketika aku seumuran Adam. Mana pernah ke dapur apa lagi motong wortel sehebat itu. Tapi Adam, semenjak dia lahir bahkan di umurnya yang sudah tiga tahun ini, dia banyak belajar dan berusaha tidak merepotkan aku dan nenek.
Adam memang pandai, dan seharusnya dia sudah pandai bicara juga, tapi aku tidak pernah mendengar dia mengeluarkan satu katapun.
"Ra, kamu pulang?" Suara nenek menyadarkanku. Aku melihat Adam berhenti memotong wortel, beranjak turun dari kursi lalu menghampiriku.
"Iya nek, dari tadi malah. Tapi nenek sama Adam kelihatannya lagi serius amat"
"Nenek nggak dengar, maklum sudah tua" Aku berjongkok ketika Adam meraih tanganku untuk dia salim.
"Adeknya kak Rara, apa kabar?" Adam menatapku sekilas lalu tersenyum, aku tau itu artinya dia baik-baik saja. Aku berusaha memberikannya senyum terbaikku. Adam tiba-tiba mencium ke dua mataku bergantian. mengusapkan jempol kecilnya di kedua pipiku.
Apa aku menangis? Kenapa aku secengeng ini sekarang?
Aku segera menyeka air mata yang tadi sempat Adam lihat.
"K-kak..Lala, jangan sedih" Aku terkesima menatap Adam. Apa aku nggak salah dengar? Adam bicara?
Aku beralih menatap nenek, yang kebetulan sedang menatap kami berdua. Memastikan aku tidak sedang bermimpi. Nenek tersenyum lalu mengangguk.
"Ya Allah, Adam..." Aku memeluk Adam erat, Aku tak bisa berkata-kata lagi. Terima kasih Ya Allah. Akhirnya, setelah sekian lama, Adam mau bicara.
Aku menangis memeluknya, ku rasakan tangan mungil itu membelai pundakku.
__ADS_1
"Kak Rara, nggak sedih" Adam menatapku bingung, karena aku mengatakan tidak sedih tapi kenyataannya menangis.
"Ini namanya tangis bahagia, karena Adam sudah mau bicara" Adam lagi-lagi hanya tersenyum. Nggak apa-apa, satu kalimat tadi saja, sudah mampu membuatku bahagia. Satu kemajuan besar mendengar Adam mau bicara.
"Iya udah, mendingan kita lanjut bantu nenek masak, Adam laper kan?"Â Dia mengagguk, Aku segera berdiri dan menggandeng tangannya menghampiri nenek.
"Adam lanjut potong wortelnya ya" Dia mengangguk lalu berusaha naik ke atas kursi tanpa bantuan aku maupun nenek.
Sebagai seorang kakak, aku sangat bangga. Melihat dia yang masih begitu kecil namun sudah berusaha mandiri seperti ini.
Andai ayah dan bunda masih hidup. Aku yakin mereka akan lebih bangga dari pada aku.
"Nek, kok masaknya banyak banget? mau syukuran?" Aku baru sadar, porsi masakan nenek tidak seperti biasanya.
Aku mengambil spatula dari tangan nenek, menggantikannya menggoreng. ternyata yang dari tadi nenek goreng adalah ikan.
Ikan? Aku kan nggak suka ikan.
"Nek, kok goreng ikan? Rara kan nggak suka ikan. Gorengnya banyak lagi"
"Adam, kamu suka ikan?" Aku memang tidak terlalu tau, apa makanan yang Adam suka selain Ice cream. Adam mengangguk.
"Udah goreng aja Ra, kamu ini masih muda kok pelupa" Aku bergumam nggak jelas, apa yang aku lupain sebenarnya. Aduh nenek bikin pusing Rara saja.
Aku kembali berceloteh berusaha mengajak Adam ngobrol. Kali aja dia mau ngomong lagi, tapi sampai aku kehabisan nafas, kehabisan bahan obrolan bahkan sampai semua ikannya pada matang dan sedang nenek make up in pakai sambal, Adam tak kunjung mengeluarkan satu huruf-pun. Dia hanya sesekali tertawa.
Aku duduk di kursi dekat Adam, setelah dia selesai memotong wortel, dia sibuk sendiri dengan buku gambar dan pensil warnanya. Semua masakan sudah jadi, perabotan dapurpun sudah selesai aku cuci. Kini aku hanya memandang nenek yang sedang menata meja makan.
Tumben bener nenek masak banyak gini?
Selang beberapa menit, aku mendengar bel berbunyi.
" Ra, coba lihat. Kayaknya ada tamu"Â Aku segera bangkit, namun sebelumnya aku mencium aroma tubuhku, kali aja tamunya ganteng. Astaghfirullah, istighfar Ra.
"Aman" gumamku, merapikan jilbab sedikit kemudian segera berlari membukakan pintu. Tamu adalah raja, tentunya jangan dibiarkan menunggu terlalu lama.
"Wa'alaikumussalam, Cari sia..." Aku tertegun melihat siapa yang berdiri di depan pintu.
"Ilham? loh kok masih di luar? Ra, kenapa Ilham nggak di ajak masuk"
"Nenek kenal orang ini?" tanpa sadar aku menunjuk Ilham. Nenek menghampiri kami dengan wajah mengkerut terlihat bingung.
"Kok kamu nanyanya gitu Ra? ya jelas nenek kenal. Ilham kan, suami kamu" Mataku langsung membulat sempurna. Mulutku menganga tanpa bisa dielakkan.
Ilham memang pernah mengatakan itu, tapi aku kira dia hanya main-main. Dan sekarang nenek malah mengatakan hal yang sama. Apa memang benar? tapi bagaimana bisa.
"Yaudah masuk ayo, nenek udah masakin ikan kesukaan kamu" Ilham tersenyum ramah ke arah nenek kemudian masuk melewatiku.
"Ya Allah, siapa yang bikin skenario hidup Rara jadi begini?" Aku segera menutup pintu, berjalan mengekori nenek dan Ilham. Mereka berdua terlihat begitu akrab, nenek kayaknya bahagia sekali Ilham ada di sini.
Aku mendengus kesal, kayaknya posisi aku sebagai cucu kesayangan sebentar lagi akan tergantikan.
Ya Allah, Ilham ini sebenarnya dari planet mana? Kenapa dia bisa nyasar ke bumi.
"Kak Ilham!" Lagi-lagi aku tercengang melihat adegan Adam berlari bahagia untuk memeluk Ilham.
Adikku yang manis. di aku, Kakakmu yang cantik,manis, dan imut ini, kamu nggak pernah terlihat sebahagia itu kalau ketemu.
"Assalamu'alaikum, jagoan kakak! Gimana kabarnya?"
"Wa'alaikumussalam, Adam baik kak. Kak Ilham pergi kemana? kok nggak pamit sama Adam?" Ada apa dengan semua ini, Nenek yang begitu terlihat akrab dengan Ilham mengalahkan ke akrabannya dengan aku. Dan sekarang, Adam yang begitu cerewet bertemu dengan Ilham. Masalahnya anak ini begitu pendiam, bahkan ngomongpun baru tadi pertama kali aku dengar.
"Nek, Rara mau bicara sebentar" Aku berbisik, kemudian mengajak nenek menjauh dari Ilham dan Adam.
"Ada apa Ra? kok narik-narik nenek" Aku menarik napas beberapa kali, menenangkan diri dari keterkejutan ini.
"Nek, dia sebenarnya siapa?Kenapa dia ada Di sini?" Nenek mengerutkan keningnya yang memang sudah mulai keriput.
__ADS_1
"Dia? Ilham maksud kamu?"
"I-iya siapa lagi nek"
"Masa kamu nggak tau suami kamu sendiri" Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Nenek, suami dari mana coba? Rara kan belum nikah, masih sekolah juga"
"Kamu ini pikun atau gimana Ra? Jelas-jelas kalian udah nikah tiga tahun yang lalu"
"Ah!" Kata-kata di kamus otakku sudah habis, tidak ada yang pas untuk mendefinisikan keterkejutkanku.
"Nek, Udah azan magrib, kita sholat berjama'ah dulu. Masalah ini nanti Ilham yang jelasin ke Rara"
"Iya Ham, nenek jadi ikutan bingung" Nenekpun pergi meninggalkan aku yang masih mematung.
"Tuh mulut nggak usah mangap gitu, mau ikut sholat bareng nggak?" Refleks aku langsung menutup mulutku.
"Iya-iya! bawel! Mulut-mulut aku juga" Aku berjalan gontai menuju kamar. Kenapa aku harus dipertemukan dengan manusia seperti ini.
"Eh..eh! Mau kemana kamu? Main nyelonong masuk aja! Kamar tamu ada di sono no!"
"Kenapa teriak-teriak Ra? Telinga Nenek yang udah budek sebelah aja, sampai sakit dengarnya"
"Ini ni manusia atu! main masuk kamar Rara aja!"
"Lah, kan emang itu kamar kalian berdua, semenjak Ilham pulang dari mesir dia tidurnya di situ "
"Ah!?"
"Makanya kalau nenek suruh pulang itu, ya pulang. Suami pulang dari mesir aja nggak tau"
"Ah!?"
Ilham melewati aku yang masih membentangkan tangan di ambang pintu. Ilham tidur di kamar aku? Aku masuk mengikutinya, terlalu banyak pertanyaan yang membuat kepalaku sudah seperti sarang laba-laba. Bercabang kemana-mana.
"Jelasin ini semua sama aku!" Ilham yang hendak mengambil sarung di dalam lemari mengurungkan niatnya, ia segera berbalik badan, menatapku teduh.
Tunggu-tunggu. Kapan baju-baju aku berubah jadi baju cowok. Aku berlari ke arah lemari, membuat Ilham yang berdiri tepat di depannya menggeser langkah.
"Allahuakbar!! Astaghfirullah!" Aku nggak tau sudah berapa kali hari ini nyawaku rasanya hampir melayang, gara-gara terkejut.
"Ini?.... Ck, kenapa lemariku setengah, isinya baju cowok?" Dan aku baru menyadari, dekor kamarku juga berbeda. Sedikit rapi, tapi tetap saja kamar yang termasuk privasiku di ubah seenak jidat.
"Ra, sholat dulu ya. Waktu maghrib cuma sedikit. Nanti aku jelasin" Aku diam, tidak menggubris. Tapi ku biarkan Ilham mengambil sarungnya di lemari. Setelah itu dia segera masuk ke kamar mandi.
"Astaghfirullah..." Aku berusaha menenangkan fikiranku. Rasanya aku mau gila.
Aku segera mengambil mukenah lalu pergi dari kamarku. Baru pertama kali dalam sejarah, aku yang punya kamar, tapi aku yang harus keluar.
Khusus untuk Ilham, aku tidak akan memberlakukan pepatah yang mengatakan Tamu adalah raja.
👽👽👽
Meskipun aku masih kesal dengan Ilham namun tidak bisa aku pungkiri, suara dia ketika menjadi imam sholat kami, membuatku merasa damai. Bahkan aku bisa meresapi ayat demi ayat yang dia bacakan.
"Assalamu'alaikum warrahmatullah"
Kenapa ini hati adem bener rasanya.
"Adam, mau pimpin do'a?" Suara Ilham menyadarkanku. Adam mengangguk mantap.
"Bismillahillahmanillahim... Ya Allah belilah kesehatan selalu untuk nenek, kak Lala dan kak Ilham, supaya meleka nggak ninggalin Adam kayak ayah dan bunda. Ya Allah.. Kata kak Ilham, kalau adam lindu ayah dan bunda. Adam halus beldo'a...Supaya Ayah dan bunda bahagia di sana. Kabulkan do'a Adam Ya Allah Amiin..."
Aku tertegun, bagaimanapun hebatnya Adam, dia cuma anak kecil. Yang masih sangat membutuhkan kasih sayang orang tua. Sebagai kakak, apa yang telah aku berikan? nggak ada. Bahkan aku memilih untuk jarang pulang kalau liburan. Karena berada lama-lama di rumah ini hanya akan membuka luka dan membuatku kembali terpukul. Tapi aku lupa, kalau Adam lebih terpukul dari pada aku.
"Ra..." Aku menoleh, ketika nenek mengusap bahuku.
__ADS_1
Aku segera menyeka kelopak mataku yang ternyata sudah berembun. menampakkan senyum paling bahagia kepada nenek.
Ya Allah.. maafkan Hamba. Betapa tidak bersyukurnya hamba selama ini.