
Bagai tertimpa durian jatuh, rasanya itu? Bagaimana lagi kalau bukan sakit.
Setelah Himmi jatuh menimpa tubuhku, dan tertawa nggak jelas. Dia tiba-tiba diam, memejamkan mata. Membuat aku dan yang lain khawatir.
Mungkin tidak akan ada orang yang sekuat diriku saat ini, bagaimana tidak, dari tadi tubuhku sudah di hempas ke sana kemari, dilempar, di jatuhkan, seolah manekin hidup. Tapi alangkah anehnya, tubuh ini masih sehat wal-afiat, meskipun sedikit nyeri.
"Kamu, nggak pa-pa,Ra?" Aku hanya menggeleng sembari mencoba bangkit, memposisikan kakiku sebagai tempat kepala Himmi. Semoga setelah kejadian ini, aku tidak semakin pendek. Eh! Apa hubungannya?
"Him! Bangun Woe!!" Aku menggeplak-geplak pipinya, berharap dia segera membuka mata.
"Sepertinya pingsan." Aku menatap Ilham jengkel. Tanpa di kasih tau, semua orang juga tau. Dasar, ngomong cuma buang-buang oksigen.
"Kali aja, mati, kan!" Ilham berkata lagi sembari memandangku tidak terima. Aku menghembuskan napas pelan, dia pasti lagi-lagi membaca pikiran aku.
"Apa itu?" Aku mendongak, mendengar seruan dari Ustadzah Salma.
"Ada yang lewat." Ustadz Alawi menambahkan. Aku mengangguk. Iya, karena aku melihatnya. Sekelebat bayangan hitam berjalan melewati kami tadi. Aku yakin bayangan itu menuju atas pemakaman
Hening, hanya deruan napas siaga yang aku dengar. Entah kemana suara hewan-hewan malam yang bersuara dari tadi, seolah lenyap tak membekas.
Di balik gelapnya area pemakaman yang hanya di beri pencahayaan dari handpone Ustadzah Salma, membuat suasana semakin menegangkan.
"Nggak ada yang berniat gerak gitu?" Kakiku rasanya sudah mulai keram, Himmi walaupun kurus ternyata berat juga. Padahal yang ada di kaki aku cuma kepalanya doang.
"Sepertinya, kita harus balik ke asrama." Aku menatap Ilham tidak setuju, enak saja mau balik, aku udah capek-capek nyampai sini dan sekarang memutuskan untuk balik.
"Iya, udah sana! Balik!"
"Sepertinya, kamu tidak paham apa maksud dari kata 'kita'. Aku jelasin itu artinya bukan aku saja, tapi semua yang ada di sini."
"Balik aja sendiri sono! Siapa juga yang ngajak kamu ke sini!"
"Eh! Bukannya kamu yang narik-narik tangan aku tadi."
"Idiih! Geer banget, Mas! Ngarep ya?!"
"Siapa---"
"Udah-udah, Astaghfirullah! Lama-lama pecah gendang telinga saya gara-gara dengar kalian berdua. Ribuuut mulu!" Aku dan Ilham terdiam, tapi otot mataku masih adu perang dengannya.
"Ssstt----" lenguhan lirih dari Himmi mengalihkan fokus kami.
"Akhirnya, bangun juga." Aku segera membantu Himmi berdiri, Kakiku rasanya mati rasa, akibat terlalu lama di tindih.
"Dela--- Dela mana? Tadi dia di sini." Himmi terlihat ketakutan, ku coba tenangkan Himmi dengan cara mengelus pundaknya. Namun aku sendiri sedang berusaha mengontrol emosiku, lagi-lagi Dela dalang di balik semua ini.
"Dela? Bukannya tadi--- kita kurung di dalam kamar?" Ilham mengangguk membenarkan pernyataan dari Ustadz Alawi.
__ADS_1
"Teman-teman Rara yang lain? Apakah ada di sana juga?" Ustadz Alawi terlihat berpikir, menerka dengan pasti siapa saja yang beliau lihat tadi di asrama. Sementara Ilham, Ck, Anak itu memang perusak suasana hati saja. Dia bukannya menjawab malah asyik menatap ke arah atas.
"Sepertinya, tidak ada." Ilham menatapku penuh arti. Aku paham, itu artinya mereka ada di sini juga.
Tidak bisa di biarkan, aku segera berlari menaiki tanjakan. Namun baru beberapa langkah, aku kembali berhenti.
"Hai! Buru-buru sekali."
Sekarang ada orang di depanku, meski gelap aku yakin itu Dela, sejauh ini aku tak pernah salah mengenali suara orang.
"Apa sebenarnya mau kamu, Del!"
Tib-tiba lampu yang ada di pemakaman ini menyala semua, membuat mata silau. Aku bergerak mundur ketika Dela semakin dekat berjalan ke arahku.
"Tetap di belakang aku." Tiba-tiba Ilham menarikku, membuat tubuhnya berada tepat di depanku. Aku melihat Ustadz Alawi juga segera siaga, menjaga Himmi dan Ustadzah Salma.
Sial
Aku merutuki kecerobohanku sendiri, sampai mereka yang tak ada sangkut pautnya, kini berada dalam bahaya. Aku berharap semua akan baik-baik saja. Tapi sepertinya tidak.
Dela tersenyum miring menatap tajam ke arah Ilham.
"Minggir, jangan coba-coba kamu halangi aku." Suara Dela tiba-tiba berubah dari biasanya. Terdengar dingin dan mencekam.
Mata itu, ada yang aneh. Dela perlahan semakin mendekat namun ada yang aneh dari matanya, kenapa tiba-tiba mata Dela berubah-ubah. Aku memukul kepalaku beberapa kali, Ayolah, jangan berimajinasi yang aneh-aneh saat suasana lagi seperti ini.
Aku mendorong tubuh Ilham ke samping, membuat Dela dengan leluasa melihatku.
"Aku bilang tetap---"
"Sst!! Diam! Aku mohon kali ini jangan ajak aku adu argumen." Ilham diam. Aku kembali menatap Dela lekat, aku fokuskan pandanganku ke arah matanya, meski sesekali aku melirik ke arah pisau yang sekarang dia pegang.
"Del, aku tau. Ini sepenuhnya bukan kamu. Dela yang aku kenal tidak seperti ini. Kamu orang baik, kamu adalah orang yang paling sayang sama aku."
Bagus, tubuh Dela bereaksi seperti apa yang aku pikirkan. Dia akhirnya berhenti melangkah, namun hanya sebentar.
"Del--"
"Diam!!" Tubuhku menegang sempurna, ketika pisau yang ada di tangan Dela tadi sekarang berjarak hanya beberapa senti dari leherku.
"Dela!!"
"Diam di sana! Atau, pisau ini perlahan akan mengikis lehernya!" Ilham tak ada pilihan, dengan geram dia menuruti apa yang Dela ucapkan. Aku mendengar suara isakan dari Himmi dan Ustadzah Salma.
Aku berusaha bersikap tenang, meski kenyataannya napasku sudah memburu tegang. Salah langkah sedikit saja pisau itu akan menggores kulit leherku. Meskipun memakai hijab, aku yakin pisau itu akan tembus.
"Takut ya? Hahaha." Aku berusaha menelan salivaku, menatap Dela sebiasa mungkin.
__ADS_1
"Aku sudah peringatkan beberapa kali, Jauhi Ilham. Tapi sepertinya kamu memilih mati dari pada mendengarkan aku." Kini Dela tersenyum miring ke arahku.
"Aku tidak pernah punya urusan sama kamu!" Ilham menjawab lantang.
"Diam!" Tatapan Dela beralih menatap Ilham.
Kesempatan, dengan gerakan cepat, aku tangkis pisau yang dari tadi berjarak beberapa senti dari leherku. Dela terlihat terkejut, dia segera menarik tangannya, membuat pisau itu menggores telapak tangan kiriku.
Semua nampak terkejut, melihat kecerobohanku yang mengambil resiko terlalu besar.
Dela nampak geram, dia segera mengambil pisau yang tadi sempat jatuh, lalu kembali mengarahkannya ke arahku.
Dengan masih menahan perih, aku mengikuti gerakan tangan Dela, dan berhasil menangkap pergelangan tangannya dengan tangan kananku.
"Huh, hampir saja." Aku bergumam lega, karena pisau itu tidak jadi menancap di perutku.
Mata Dela mendelik hebat, menyisakkan bola mata putihnya. Aku segera melepas pergelangan tangannya, membuatnya segera mundur beberapa langkah dariku.
Apa yang terjadi?
Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat, pergelangan tangan Dela yang tadi aku pegang tiba- tiba terkelupas, menyisakan bekas seperti luka bakar.
"Aaaakkhh!!" Pekikan Dela semakin keras, tubuhnya mengejang. Aku hendak membantu, namun di cegah oleh Ilham. Tak lama kemudian dia terkapar di tanah dengan tubuh lemasnya.
Aku menatap telapak tangan kananku, Aku jadi teringat dengan kejadian di laboratorium dulu, ketika Himmi tiba-tiba mencekikku. Tangannya juga terkelupas seperti yang terjadi sama Dela sekarang.
"Ada yang keluar." Bisikku kepada Ilham, aku melihat sekelebat bayangan hitam keluar dari tubuh Dela.
"To-tolong, a-ku, Ra." lirih Dela, sebelum akhirnya dia pingsan.
"Sayang sekali, padahal tadi hampir saja." Kami serentak mendongak, mataku membuka sempurna ketika melihat laki-laki yang kemarin aku kejar.
"Hai, Ilham. Kita ketemu lagi ternyata." Tatapanku beralih ke arah Ilham, aku mendengar giginya
bergeletuk hebat, mengisyaratkan bahwa dia benar-benar sedang menahan emosi.
"Aku sudah nggak ada urusan sama sekali dengan mu!" Laki-laki itu tertawa, tawa yang sungguh mencekam.
"Tapi tidak dengan dia!" laki-laki itu menunjukku dengan tangan kirinya.
"Aku bingung, kamu sendiri yang menyuruhku menghabisinya. Tapi kenapa sekarang, kamu malah ingin melindunginya?"
Aku membeku mendengar ucapan laki-laki itu. Menghabisku?
Ilham menatapku, sembari menggelengkan kepala. Memintaku untuk tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki tersebut.
"Jadi, biarkan aku melakukan tugasku sampai selesai."
__ADS_1