
Sudah berusaha mengikhlaskan
namun takdir kembali mempermainkan
memang benar
dunia adalah panggung sandiwara
👽👽👽
"Ilhaaaam!!!" Teriakku geram. Masih pagi buta seperti ini, tapi dia sudah membuat pita suaraku harus bekerja ekstra. Entahlah, meski sekarang aku tau Ilham adalah Kak Wahyu. Tapi mulutku tetap saja memanggilnya dengan nama Ilham.
Soalnya sudah nyaman dengan panggilan itu. wkwkw
"Ilhaaaa--!!"
"Apa sih, Ra?" Ilham segera menghentikan acara teriakku yang mungkin sebentar lagi akan merusak gendang telinganya. Untung dia cepat menampakkan diri, kalau tidak mungkin satu komplek akan terbangun dengan suaraku, walapun jarak rumah tetangga cukup jauh.
Aku menatapnya kesal, Kenyataannya jam memang masih menunjukkan pukul 4 pagi, 4 pagi pemirsah, dan aku teriak nggak jelas di jam ini. Kenapa Ilham hobi sekali membuatku seperti tarzan kesasar.
"Sikat gigiku mana?! Odol! Sabun! Handuk! Sisir! Ck, perlengkapan mandiku mana Ham?!" Teriakku prustasi, semua yang menyangkut alat-alat mandi tiba-tiba hilang dari tempatnya. Siapa lagi yang akan mengambilnya kalau bukan dia. Bukan soudzon ya, aku hanya menerka.
"Ra, ada apa teriak-teriak?" Nenek menghampiri masih dengan balutan mukenah.
"Ilham nek, dia nyembunyiin perlengkapan mandi Rara!" Tuduhku.
"Bener Ham?" Ilham menggeleng polos membuatku semakin geram.
"Ra, nggak baik menuduh orang tanpa bukti. Bisa berujung fitnah"
"Ngaku nggak?! Kalau nggak aku seruduk lagi!" Aku tidak menghiraukan ucapan Nenek, rasa kesalku sudah sampai ujung tenggorokan.
"Aku nggak ngambil atau nyembunyiin, Ra. Perlengkapan mandinya masih aman tuh di sana" Ilham menunjuk ke arah ruang tamu.
"Awas aja, kalau ada yang hilang!" Ancamku kemudian berjalan menuju ruang tamu, Aktivitas mandiku harus tertunda gara-gara manusia menyebalkan ini.
"Mana Ham?!" Teriakku dari dalam kamar tamu, Masalahnya benda yang aku cari nggak ketemu.
"Di dalam kamar mandi!" Ilham mengeraskan suaranya.
Kamar Mandi?
Kok aku merasa ada yang tidak beres? Aku bergegas membuka pintu kamar mandi dan mendapatkan semua perabotan mandiku ada di sana.
"Ilhaaaaaaaam!!!" Sungguh aku geram dengan human satu ini, aku segera berlari keluar, menenteng semua barang-barang ku yang ada di sana. Tentu mereka dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Ra, lebih baik kamu tahajjud, minta sama Allah biar suara kamu volumenya taruh di tingkat medium saja. supaya nggak sakit nih telinga" Ilham menatapku jengkel.
"Kamu apain semua barang-barang aku ini di kamar mandi?!"
__ADS_1
"Ya pakai mandilah! Ra kenapa kamu jadi susah mikir sih di rumah?"
"Apa!?" Ilham kembali menutup kupingnya.
"Bener-bener kamu, ya!" Aku segera menghampirinya, dia memang harus di beri sedikit pelajaran.
"Nek, tolong selamatkan nyawa Ilham" Ilham segera bersembunyi di belakang Nenek, membuat ku susah untuk memukulnya.
"Pakai sembunyi! Sini tanggung jawab!"
"Emang aku sudah ngapain kamu?" Kepala Ilham menyembul sembari menampakkan wajah polosnya.
Aku memejamkan mata menetralisir darah yang akan segera naik ke ubun-ubun, aku lupa sedang berbicara dengan manusia yang otaknya geser 90 derajat.
Nenek malah tertawa melihat tingkah aku dan Ilham. Apa ada yang lucu?
"Ih kalian lucu" Aku melongo menatap Nenek, begitupun dengan Ilham.
"Nenek jadi keingat waktu muda dulu, kakek kamu juga ngegemesin kayak Ilham. Sering goda Nenek kayak gini"
Ngegemesin? Nggak salah? Kayaknya aku harus beli kacamata baru untuk Nenek. Manusia model Ilham dibilang ngegemesin. Muka jahannam gitu.
"Kakek kamu dulu..."
"Yah, bakalan panjang pemirsah" potongku sebelum Nenek memulai acara nostalgianya. Aku bahkan sudah hapal alur dari cerita yang akan Nenek sampaikan sekarang. Saking keseringan cerita itu di jadiin dongen penghantar tidurku dulu waktu kecil bahkan sampai sekarang. Dan aku yakin Adam pun menerima nasib yang sama denganku.
"Rara mau mandi dulu Nek, nanti keburu subuh" Ucapku segera kemudian berlalu.
"Ilham ke kamar dulu,Nek" Nenek tertegun melihat aku dan Ilham pergi meninggalkannya. Aku yakin Ilham sudah tahu seperti apa Nenek kalau sudah mulai bercerita.
👽👽👽
"Lagi bikin ap--aduh!"Â
"Eh, maaf, maaf. Lagian doyan banget bikin orang kaget!" Ilham masih meringis, memegang kepalanya yang tadi sempat terkena tutup panci yang ada di tanganku. Rasain, siapa suruh ngagetin.
"Mau coba?" Tawarku, bagaimanapun aku merasa bersalah telah membuat kepalanya kepentok.
"Ini, apa?" Tanyanya lagi. Aku menyodorkan mangkok yang baru saja aku isi.
"Banana soup With casava with javanese sugar and with sauce co--."
"Bilang kolek, ribet amat" Aku memanyunkan bibir, karena Ilham memotong ucapanku.
"Aku susah-susah translit pakai google, kamu malah nyerocos bilang kolek"
"Lagian, dikasih yang simpel. Malah ngeribetin diri. Udah bentuknya nggak jelas gitu. Sini aku cobain!"
"Nggak jadi!" Aku segera menarik tanganku menjauhi Ilham. Jangan harap aku kasih setelah dia memupus harapan aku. Apa dia nggak tahu susahnya nranselit di google itu kayak gimana. Aku harus menunggu sampai aku berubah jadi catwomen dulu, baru bisa mengaksen kata-kata itu biar benar. Dan sekarang dia malah seperti ini, Kok ada nyeseknya ya di giniin.
__ADS_1
"Iiih! Aku nggak mau ngasih! Ilham!!" Percuma, Mangkok itu kini telah berpindah tangan. Kenapa aku nggak taruhin racun aja tadi di dalam, biar dia OTW wafat.
Biarpun masih kesal, aku tetap memperhatikan ekspresinya, semoga saja kolek buatan aku enak.
"Kenapa?" Aku melihat Ilham mengkerutkan dahinya.
"Kamu lupa taruhin gula, ya?"
"Ah? udah kok, kamu pikir warna nya kayak gitu dari apa? itu gula merah!"
"Tapi nggak manis, Ra" Aku menatap mangkok itu bingung, aku yakin aku sudah menaruh gula secukupnya.
"Sini, aku cobain" Aku tidak ingin terlalu lama penasaran. Ku masukkan satu sendok kuah kolek itu ke dalam mulutku, meresapi setiap rasa yang mulai menjalar di lidahku.
"Manis kok, mulutmu aja yang pahit!" Aku nggak habis pikir, Kolek semanis itu Ilham bilang nggak manis. Kayaknya aku harus menyuruhnya periksa lidahnya ke dokter.
"Masa?" Ilham mengambil sendok yang tadi aku pakai, kemudian menyendok kuah kolek itu lagi.
"Eh, iya. Kok jadi manis ya?" Aku tertegun melihat senyumannya. Aku buru-buru mengalihkan pandangan ke arah mangkok. Aku tahu ini cuma akal-akalan dia, mana ada rasa kolek bisa berubah-ubah.
"Udah pinter masak ternyata" Tangan Ilham yang sebelah mengelus lembut kepalaku yang tertutup jilbab sebelum dia pergi membawa mangkok berisi kolek yang aku beri tadi. Koleknya pergi, tapi senyumannya tidak.
"Ya, Allah. Kenapa deg-degan gini" Aku memegang dadaku yang bergemuruh tak karuan. Ku usap pipiku yang dari tadi terasa memanas. Kalau kayak gini terus, bisa meleleh hati adek, bang.
Dari pada mikir yang nggak jelas, lebih baik aku siap-siap, sebentar lagi aku akan kembali ke pondok. Itu sebabnya aku bikin kolek, jadi oleh-oleh buat teman-teman kamar nanti.
Aku pura-pura tidak melihat Ilham yang sedang duduk di ruang keluarga, tetap fokus Ra, jangan mikir yang macam-macam. Tahu sendiri Ilham kayak gimana, pikiran masih di alam bawah sadarpun dia tahu.
"Uh..." Aku menghembuskan napas lega, setelah berhasil masuk kamar tanpa suara ocehannya.
"Udah dong, jangan deg-degan gini" Pintaku pada diri sendiri.
"Eh, tapi kalau nggak deg-degan, mati dong?" Aku mulai pusing dengan pikiran sendiri.
Fokusku teralih oleh suara handpone yang berbunyi, tentu saja itu handponeku. Eh ralat, handpone Nenek yang aku pinjam kalau pulang ke rumah, karena memang kenyataannya aku jarang sekali memegang benda pipih itu meski libur panjang.
"Hallo, Assalamu'alaikum. Dengan siapa dan dari mana? Bisa ucapkan pasword nya pak, bu?"
Hening, Lawakan ku garing ya?
"Hallo?" Aku kembali bersuara, memastikan apakah manusia di seberang sana masih hidup.
"Hai, Ra! Apa kabar? Ini aku, Malik"
DEG!
Aku tertegun, Handpone yang dari tadi aku genggam kini sudah terjatuh.Â
Permainan apa lagi ini?
__ADS_1