Pesantren Berdarah

Pesantren Berdarah
Tamu Tak di Undang


__ADS_3

...Tidak penting bagaimana Allah mempertemukan dua manusia...


...secara baik ataupun buruk...


...Satu hal yang aku tahu, jika memang orang itu telah ditakdirkan untuk bersama...


...Sebenci apapun, Allah akan datangkan Cinta...


...Dan akan sebaliknya...


...Jika mereka tidak ditakdirkan bersama...


...Secinta apapun, Allah akan membuat jalan untuk mereka berpisah...


...👽👽👽...


"Alhamdulillah." Setelah puluhan menit berlalu, aku dan Ilham akhirnya bisa mengembalikan keutuhan kamarku, meski sedikit berdebat tentang dimana letak barang-barang itu ditaruh.


Aku menyalakan AC untuk mengusir rasa gerah akibat terlalu banyak bergerak. Seketika rasa sejuk mulai menerpa tubuhku.


Fokusku teralih ketika melihat Ilham senyum-senyum sendiri di depan meja belajarku. Dia terlihat membolak-balik sesuatu seperti_ album foto.


"Astaga!" pekikku, kemudian berlari segera menyambar album foto itu. Jangan sampai Ilham melihat semua foto-foto di dalam album ini. Kalau sampai terjadi mau ditaruh dimana ini muka. Ini kan Album foto pribadi aku, jadi semua yang jelek-jelek, yang gila-gila ada di foto ini. Sampai foto yang tidak memakai jilbabpun ada.


"Aku sudah lihat. " Perkataan Ilham mejawab semua ketakutanku.


"Iiiih!!! nyebelin!! dasar human julid! main buka-buka barang pribadi orang!.... Sini!!.. mau kemana ah!!" Aku bergerak cepat mengikuti langkah Ilham yang menghindar.


"Hahaha.. Aduh!! Sangar banget jadi istri, kalau ama suami harus kalem." 


"Istri?! Mau tau kalau perempuan sudah jadi istri ah?!" Aku langsung menarik telinga Ilham dengan keras.


"Ya..ya.. Ampun! Jangan KDRT gini, Ra! Aduh! Susah nyari Suami kayak aku!" Aku menarik tanganku sebal. Bibirku rasanya memanjang lima senti gara-gara cemberut.


"Kenapa aku dapat Suami, gini amat. Ya Allah," Aduku pasrah.


"Jadi, sekarang...." Ilham menatapku dengan kedua alisnya yang bergerak-gerak naik turun nggak jelas.


"Apaan?!"


"Udah percaya kalau aku suami kamu?" Senyum Ilham yang terlihat mengintimidasiku membuat pipiku tiba-tiba memanas. Tapi aku segera mencoba mengendalikan diri.


"Iih... PD sekali anda!" Jawabku terdengar mengejek.


Ilham malah tersenyum lalu mengusap pucuk kepalaku lembut.


"kalau kayak gini terus, jadi makin sayang, deh. " Perkataan Ilham langsung membuatku spechless. Dasar wanita, digombalin dikit sudah merona kayak gini.


"Nggak pa-pa, kan, suami. " Lagi-lagi Ilham membaca pikiranku. Demi menutup kegugupanku, aku kembali mengambil ancang-ancang ingin menghadiahinya pukulan. Namun tanpa aku duga, Ilham menarikku ke dalam pelukkannya. Kembali mengusap pucuk kepalaku dengan lembut.


"Sayang, Jadi Istri yang penurut, ya."


DEG


Siapapun, tolong. Aku membeku. Ternyata gini rasanya dipeluk lawan jenis. Aku harus apa sekarang? Tubuhku rasanya tiba-tiba kaku, tak sanggup hanya untuk sekedar bergerak. Jantung, mohon bersabar, Ini ujian bagi kamu.


Ilham terkekeh. Aku yakin, sekarang dia lagi menertawai aku.


"Ck.. Nyebelin banget sih!" Aku segera menarik tubuhku dari pelukannya, setelah aku kembali menguasai diri.


Ketukan pintu dari depan menyelamatkanku dari rasa canggung yang mulai terasa. Meskipun aku mulai percaya kalau Ilham suami aku, tapi itu tidak bisa membuatku langsung nyaman berduaan dengan jarak sedekat ini.


"A...aku buka pintu dulu," Kataku gugup, sembari segera keluar dari kamar.


"Bodoh!" Lirihku memaki diri sendiri. Seharusnya tadi aku biasa saja, atau kalau bisa, aku hajar saja Ilham, karena dia sudah lancang memelukku. Tapi kenapa aku malah membeku.


Aku berusaha menghalau pikiran aneh yang mulai memusingkanku. Lupakan kejadian tadi, lebih baik fokus untuk melihat siapa orang yang datang bertamu.


KLEK


Seketika mataku terbelalak melihat ke empat temanku sudah berada di depan pintu.


"Assalamu'alaikum Ra!! Akhirnya kamu bukain pintu juga."


Aku tertegun menatap mereka satu per satu.


"Kami nggak di suruh masuk nih?" Dela menyadarkanku. Aku tersenyum kikuk lalu menggeser tubuhku sedikit, memberi mereka jalan.


"Kayaknya, kamu nggak senang lihat kita datang Ra?" Kata Iqlima menatapku tajam.


"Bu...bukan gitu, aku hanya kaget. Soalnya kalian datang nggak ngasih tahu dulu. "


"Iya juga, Maaf ya. Hehe" Fitri cengir.

__ADS_1


"Kamu... baik-baik saja kan?" Dela menatapku ragu.


"Iya, seperti yang kamu lihat. Kenapa?" Entah pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibirku.


"Nggak kenapa-napa. Eh.. Adam mana? Kami bawain hadiah buat dia." Dela mengangkat bungkusan plastik yang dari tadi dia bawa.


"Ada di kamarnya. " Aku menutup pintu terlebih dahulu sebelum mengekori mereka.


"Eh..eee.. Mending kita langsung ke kamar Adam dulu." Aku memberi usul ketika mereka hendak berjalan ke arah kamarku.


Jangan sampai mereka tau kalau Ilham ada di sini. Di dalam kamarku pula.


"Mau taruh tas dulu," Ujar Nisa. Ke empat temanku ini memang sudah biasa ke sini. Dan seperti yang di lihat, rumahku menjadi rumah mereka juga. Aku senang, tentu saja. Tapi untuk kedatangan mereka hari ini, sejujurnya tidak aku harapkan.


"Sini biar aku yang taruhin. Adam sudah nungguin kalian di kamarnya. " Mendengar hal itu, sontak mereka antusias. Untung mereka tidak curiga, mana mungkin Adam menunggu mereka, sedangkan kedatangan mereka ke sini saja Adam tidak tahu.


"Ya sudah, taruhin ya." Nisa, Dela dan Fitri langsung memberikan tas mereka padaku.


"Aku bantuin ya?" Iqlima mengambil tas Dela dari tanganku.


"Eh.. Nggak usah. Mending kamu juga susul mereka. Adam kan paling lengketnya sama kamu." Iqlima terlihat berpikir sejenak. Namun segera mengangguk.


Aku menarik napas lega setelah kepergian mereka. Tapi sekarang aku harus bagimana?


"Bagaimana apanya?"  Aku hampir terpekik kaget, gara-gara Ilham tiba-tiba sudah berada di belakangku. Tanpa pikir panjang, aku langsung menarik Ilham kembali ke dalam kamar.


"Kenapa kamu keluar?!" Ilham menatapku bingung.


"Kenapa? Astaga! Jadi kamu mau ngurung kita berdua di sini? Kamu masih sekolah Ra, ingat itu." Aku melongo, Andai aku punya kemampuan kayak dia, yang bisa tau isi pikiran orang.


"Apa sih! Gaje!" Aku mendengus sebal, setelah otakku ngeloading kemana arah pembicaraan Ilham.


"Teman-temanku datang, Masa iya, mereka lihat kamu di sini. Bisa berpikir yang nggak-nggak mereka nanti"


"Terus?" Sumpah, gereget aku sama ni anak.


"Cari karung terus masuk kesana!"


"Ah?! Mau ngapain"


"Biar aku gampang lempar kamu ke antartika!" Kataku sambil melotot.


"Kalau mau ke Antartika, kenapa mesti masuk karung terus di lempar? Mending naik pesawat lebih enak."  Aku rasa tanduk merah di kepalaku mulai muncul. Tanpa peduli apapun aku langsung menyeruduk perut Ilham, sampai dia terpental, jatuh ke atas kasur. Aku geram, kenapa harus kasur, kenapa nggak langsung ke lantai biar penyok tuh pantat.


"BODO AMAT! BODO AMAT!" Jawabku kesal. Ingin rasanya aku lenyapkan manusia satu ini dari hadapan aku.


"Rara taruh tas ke kamar, kayak naruh ke Makkah. Lama bener!"  Aku menegang mendengar suara yang semakin jelas ke arah kamarku.


Loading Ra,cepat!


Otakku bekerja ekstra, mencari tempat persembunyian yang aman untuk Ilham.


"Itu dia!" Aku langsung berlari menyambar tangan Ilham, menariknya ke kamar mandi.


"Eh.. Mau---"


"Diam!"Bentakku lirih. Bagai bocah, Ilham menurut.


"Aku mohon, Jangan bicara, jangan memicu perhatian, jangan keluar, sebelum aku suruh, ya. Aku mohon!" Aku menyatukan tangan di depan dada, menatapnya memelas.


"Iya, iya. Demi kamu." Jawabnya malas. Aku tersenyum berterima kasih, lalu segera keluar, namun masuk lagi ke kamar mandi.


"Apa lagi?" Bisiknya


"Pintunya kunci dari dalam" Aku segera keluar, jangan sampai mereka keburu masuk ke sini.


"Astaga!" Pekikku di depan pintu kamar mandi, melihat Fitri dan Dela sudah berada di depanku.


"Pantes! Aku kira kamu taruh tas pakai kereta api dulu Ra, keliling dunia bentar baru ke kamar!" Aku tersenyum kikuk. Semoga mereka tidak mendengar obrolanku dengan Ilham tadi.


"Kebetulan, aku udah kebelet dari tadi. Minggir Ra" Fitri menarikku.


"Eh.. E.. anu, Fit. Apa namanya, itu.. Kamar mandinya rusak." Jawabku segera.


"Rusak? Bukannya kamu habis dari dalam?" Dela menyelidik.


"Iya, Makanya aku tahu. Aku baru saja memeriksanya. " Semoga alibiku bisa mereka terima.


"Mending kamu ke kamar mandi sebelah." Fitri mengangguk, dari pada harus nahan berlama-lama mending dia menurut.


"Kok ke sini, Del?"


"Mau nyari kamu."

__ADS_1


"Aku lama ya? Hehe maaf"


"Ya udah yuk, keluar"  Aku dan Dela segera keluar dari kamar.


Alhamdulillah, selamat.


Aku menghembuskan napas lega, untung tidak ketahuan.


👽👽👽


Aku dan teman-teman sekarang tengah lesehan di ruang keluarga sambil nonton TV. Sehabis makan dan sholat tadi kami langsung berbincang-bincang di ruang keluarga. Aku duduk tak tenang. Masalahnya Ilham masih di kamar mandi, pasti belum sholat, apalagi makan. Sebenci-bencinya aku sama dia, seenggak sukanya aku lihat dia di sini. Aku nggak mau di sampai nggak sholat gara-gara aku. Apalagi sampai mati kelaparan.


Aku melirik teman-temanku yang lagi serius menonton TV, maklum gara-gara benda di depan mereka ini nggak ada di pondok, bahkan bisa di bilang, kami nggak pernah nonton TV di pondok, jadi wajar. Aku maupun mereka tak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka ini.


Kalau aku pergi sebentar, pasti mereka nggak akan ada yang sadar. Dengan langkah pelan, aku berjalan ke arah dapur, mengambil nasi dan lauk secukupnya.


"Ra, mau makan lagi?"


"Nggak Nek, ini untuk Ilham." Jawabku lirih. Takut ada yang dengar ucapanku. Meskipun jarak dapur dengan ruang keluarga cukup jauh tapi aku harus mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi.


"Ilham? Nenek baru ingat. Dimana dia?"


"Rara kurung dia di kamar mandi"


"Astagfirullah! Kamu ini Ra! Bener-bener!"


"Sssst!! Nek. jangan keras-keras. Nanti yang lain pada dengar. Nenek mengangguk. Aku memang sudah memberi tahu Nenek kalau jangan sampai teman-temanku tau kalau aku sudah menikah, apalagi sama Ilham, yang mereka tau adalah santri baru di pondok.


" Iya udah cepetan, kasihan Ilham. "


Aku segera berlari masuk ke dalam kamar. Semoga dia tidak pingsan di kamar mandi.


"Ilham?" Aku segera mengunci pintu dari dalam, berjalan mendekati Ilham yang tengah tiduran di ranjang.


"Kenapa keluar?" Ilham bangkit, melihat aku yang menghampirinya.


"Kamu pikir, berdiam lama-lama di kamar mandi itu enak?" Aku menggaruk pipiku sembari cengir.


"Maaf. Eh udah sholat?"


"Menurutmu?" Aku baru menyadari kalau Ilham telah berganti pakaian.


"Apa aku harus nunggu mereka pulang, baru aku sholat zuhur?"


"Lapar?" Aku tidak menghiraukan intonasi Ilham dalam berucap sekarang, yang terdengar agak-- ketus.


"Apa di sini, ada yang bisa aku makan?" Lagi-lagi Ilham menjawabku dengan pertanyaan.


"Kali aja, kursi-kursi itu bisa kamu makan!"


"Astaga! Kamu nyamain aku sama rayap, Ra?!" Aku mulai kesal, seharusnya aku biarin saja dia kelaparan dan mati di sini. Kalau tau kayak gini aku nggak bakalan sekhawatir ini.


"Dan sekarang, kamu malah pengen aku mati?!" Aku memejamkan mata, menetralisir emosi yang rasanya ingin meledak.


"Mau makan nggak?! kalau nggak aku bawa balik ini ke dapur!"


"Kok kamu yang marah? seharusnya aku yang marah. kamu udah nyamain aku sama rayap, nyumpahin mati pula. Untung sayang, kalau nggak--"


"APA?!" Aku lagi-lagi melotot. Andai saja kayak cerita di novel-novel yang pernah aku baca, tokoh utamanya kalau marah ngeluarin cahaya merah di matanya atau nggak kayak kilat petir. Biar langsung ngebunuh lawan bicaranya. Tapi sayang, kenyataannya aku lagi di dunia nyata. Bukan dunia orange.


"Sini piringnya"


"Coba gini dari tadi. Apa harus adu mulut dulu biar kamu ngalah?"


"Ribut kayak gini sama aku, besok-besok bakalan kamu rindukan. Kalau aku nggak ada." Jawab Ilham sembari memakan makanan yang aku bawa.


Aku diam. Apa itu artinya, Ilham juga akan pergi. Kenapa aku jadi sedih kayak gini?


Ilham berhenti mengunyah, lalu menatapku dalam.


"Selama aku masih hidup, aku nggak bakalan ninggalin kamu."


Apa itu benar? Tanpa sadar aku menatapnya penuh harap.


"Dududu, yang takut di tinggal. Udah mulai sayang ya?"


"Mau aku seruduk lagi?!" Lagi-lagi Ilham bikin aku malu kayak gini.


"Astaghfirullah Ra, katanya nggk mau di tinggal. Tapi bawaannya mau ngebunuh aja. "


"Aku pergi dulu! Lama-lama di sini, aku bisa masuk rumah sakit jiwa, gara-gara kamu." Aku bangkit, berjalan ke arah pintu. Ilham hanya terkekeh geli melihatku, mungkin aku terlihat salah tingkah di matanya.


"Nanti kalau aku sama yang lain ke sini, masuk ke kamar mandi lagi ya" Ucapku sebelum benar-benar keluar.

__ADS_1


__ADS_2