
...Sejauh ini aku masih belum percaya...
...Orang-orang yang paling istimewa...
...ternyata memberikan banyak durja...
...~Rabbania Zaikalina~...
...👽👽👽...
"Rara!" Ilham dan Ustadz Alawi panik melihat tubuhku yang kini menempel di tiang Majelis.
Aku meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkraman gaib yang aku rasakan.
"Akhhh!!" Aku memejamkan mata erat, menahan sakit yang ku rasakan di bagian lengan kananku. Rasanya seperti sayatan pisau tajam.
"Ra!" Ilham semakin terlihat panik, ketika melihat darah segar menetes dari balik lengan bajuku.
Ternyata sayatan itu memang benar ada, Aku melihat sebuah pisau tertancap di tiang yang berada tepat di belakangku.
"Permainan baru di mulai!"
"Dela?" Aku melihat Dela kini tengah berdiri di ujung lorong, dengan seringai yang terbentuk dari bibirnya.
"Dela, Jadi?" Ustadz Alawi menatap ke arah Dela, memastikan apa yang akan dia ucapkan memang benar.
Hanya seringai menakutkan yang tercetak dari wajah itu. Dela kembali menatapku, dan kini satu tangannya di ayunkan ke arahku.
Set!
Mataku membulat sempurna, melihat pisau melayang dan menancap hanya beberapa senti dari wajahku.
"Wow! padahal tinggal sedikit lagi. " Gumamnya. Aku menatap Dela tak percaya, sekarang dia dengan terang-terangan ingin membunuhku.
"Dela!" Ilham mengepalkan tangannya. Dia hendak menghampiri Dela, namun tubuhku tiba-tiba melayang turun.
Bugh!!
Sepertinya setelah ini aku butuh tukang urut, tulang-tulangku rasanya sudah pada bergeser.
Ilham dan Ustadz Alawi berlari ke arahku.
"Kamu nggak pa-pa?" Aku menatap Ilham jengkel, bisa-bisanya dia bertanya aku nggak apa-apa. Sudah tahu jatuh kayak gini.
"Masih nanya lagi?!" Ustadz Alawi mengulum bibirnya, berusaha tidak tertawa.
"Ssst" Aku memegang lengan kananku yang masih mengeluarkan darah, untung saja jilbab yang aku pakai berwarna gelap dan mampu menutupi sobekan bajuku.
__ADS_1
"Dela, Ham. kejar dia!"
Ilham menoleh ke belakang, melihat Dela yang mulai berjalan menjauh.
"Tapi, Kamu..."
"Jangan peduliin aku dulu! Aku bisa atasi ini sendiri" Ilham terlihat tidak terima dengan apa yang aku ucapkan.
"Sebaikknya kita kejar Dela" Ustadz Alawi memberi saran. Ilham menatapku seolah meminta kepastian. Aku mengangguk mengiyakan, karena memang firasatku sudah tidak enak. Semoga tidak terjadi apa-apa sama Dela.
Ilham dan Ustadz Alawi segera pergi sebelum mereka benar-benar kehilangan jejak Dela.
Aku kembali meringis, menahan sakit yang sekujur tubuhku rasakan, terlebih lagi di lengan kananku. Suasana kembali sepi, hanya suara jangkrik dan katak yang bersahutan.
Apakah benar yang tadi itu Dela? Matanya terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Baiklah, aku harus berhenti sejenak memikirkan seseorang, yang terpenting sekarang aku harus mencari akal bagaimana caranya agar darah di lenganku berhenti keluar.
"Itu Rara, Ustadzah!" Aku mendongak mendengar ada suara yang tidak asing lagi. Terlihat Ustadzah Salma dan Himmi berlari menghampiriku.
Namun aku harus tetap waspada, mungkin saja itu bukan mereka. Mataku kadang tidak bisa membedakan mana yang benar-benar manusia dan bukan, terlebih lagi sekarang sudah larut malam.
"Eh Bontet! Kenapa sukanya bikin orang cemas sih!?" Aku menarik napas lega, ternyata ini memang benar mereka. Tidak akan ada makhluk ghaib yang bisa mengalahi mulut asam Himmi.
"Allahuuuu!!! Malah senyum. Ustadzah, izin nonjok orang boleh nggak?" Berhubung aku lagi baik hati, anggap saja permintaan Himmi tadi sebagai sebuah tanda dari kegemesan.
"Kamu bikin Ustadzah cemas Ra. " Ustadzah Salma menatapku penuh khawatir.
Plak!
"Sssstt!" Aku meringis menahan sakit, bisa-bisanya Himmi mengeplak lengan kananku yang masih mengeluarkan darah. Apa nggak bisa sekali saja anak yang satu ini nggak ngajak gelud. Sepertinya hidupnya tidak akan tenang kalau sehari tidak baku hantam sama aku.
"Baru aku pukul kayak gitu udah kesakitan, Kayak bukan...." Himmi tertegun melihat telapak tangannya yang kini berlumuran darah.
"Ra, i...ini...?" Tangan Himmi bergetar, ia segera menarik jilbabku ke atas, memperlihatkan lengan kananku yang sobek.
"Astaghfirullah! Apa yang terjadi sebenarnya, Ra?!" Ustadzah Salma segera memeriksa luka yang ada di lenganku.
"Sekarang aku baru paham, kenapa Ustadz Alawi menyuruh kami bawa Kotak P3K" Lirih Himmi menatapku datar.
Ustadz Alawi, jadi ini karena beliau. Sekarang aku harus jawab apa? berterus terang atau kembali mencari alibi.
"Biar Himmi aja Ustadzah yang obatin. " Ustadzah Salma mengangguk, Himmi segera membersihkan darah yang masih terus saja mengalir. Sesekali dia ikut meringis melihatku menahan sakit, ketika kapas yang ada di tangannya menyentuh lukaku.
"Kalau sakit, eksperesiin aja! nggak usah sok kuat!" Aku menatapnya jengkel.
"Aku masih dalam mode off ya, jadi kamu aman!" Peringatku, Himmi tidak menggubris, walapun menyebalkan tapi aku tahu dia khawatir dengan keadaanku sekarang.
"Kalian ini, bisa akur sehari saja? Ustadzah perhatiin kalau ketemu pengen berantem mulu. "
__ADS_1
"Gimana ceritanya sampai kayak gini? Aku tahu kamu orangnya ceroboh. Tapi apakah harus seceroboh ini?"
"Ustadzah, kayaknya Rara butuh tissue" Ustadzah Salma menyodorkan selembar tissue.
"Kamu mendingan diam, dari pada bicara unfaedah kayak gini!" Aku memasukkan selembar tissue tadi ke dalam mulut Himmi.
"Uhuk..."
Himmi segera menyemburkan tissue itu keluar. Ok, kayaknya akan terjadi baku hantam antara kami.
"Udah-udah! Ustadzah makin pusing lihat kalian. Lebih baik sekarang kita kembali ke asrama. Ingat Ra, kamu masih hutang penjelasan sama Ustadzah!" Kami berdua diam, jika saja Ustadzah Salma nggak ada mungkin saja ilmu karate yang aku pelajari selama ini akan berfungsi.
Aku berusaha bangkit, di dalam hati aku sedikit mengapresiasi tubuhku sendiri. Sudah beberapa kali terjatuh tapi alhamdulillah masih bisa di fungsikan, meskipun sedikit nyeri.
"Berhubung aku anak baik, sini aku bantu. " Himmi memapahku berjalan.
"Ssst... niat nolongin nggak sih?"
"Eh, maaf" Aku tahu Himmi lupa, kalau lengan kananku terluka, dia segera mengubah posisi agar tangannya tidak mengenai luka itu.
Kami berjalan pelan sambil mendengarkan Ustadzah Salma bercerita, tapi pikiranku berkelana memikirkan Dela. Dimana anak itu sekarang? Apakah Ilham dan Ustadz Alawi sudah menemukannya.
"Ee... Ustadzah, Dela dan yang lain udah tidur kah?" Aku berusaha menyamarkan pertanyaan, supaya Ustadzah Salma tidak salah paham.
"Sepertinya, Ra. Tadi Ustadzah ke kamar kalian, tapi nggak ada yang bukain pintu. Makanya Ustadzah ajak Himmi buat cari kamu, kebetulan tadi dia lewat mau ke kamar mandi."
Apa ada yang terjadi sama mereka? Aku tahu mereka tipe orang yang cepat bangun dari tidur kalau mendengar sesuatu.
"Kamu kenapa, Ra? Kok berhenti?"
Wangi melati itu lagi, aku segera mengedarkan pandangan mencari keberadaan makhluk itu. Aku harus segera membawa Ustadzah Salma dan Himmi kembali ke asrama sebelum dia menampakkan diri. Mereka tidak boleh di sini, ini berbahaya.
"Wangi ini...?" Himmi mulai mengendus-endus.
"Him, aku minta jangan kosongin pikiran kamu. Him! Kamu dengar aku!!"
"Ada apa Ra?" Ustadzah Salma terlihat bingung. Aku mulai panik, melihat Himmi yang menatapku kosong.
Sial, Makhluk ini benar-benar menyebalkan. Seringai menakutkan mulai Himmi tampakkan.
"Him! Kamu dengar aku?!"
"Iya, tentu saja." Himmi tersenyum datar. Aku memegang pergelangan tangannya, berjaga-jaga jika dia hendak melakukan sesuatu. Ustadzah Salma yang mulai paham ikut melakukan apa yang aku lakukan.
"Sadar, Him! Astaga anak ini!! Aku tabok baru tahu rasa kamu!" Aku kehabisan akal, gimana caranya menyadarkan anak ini. Makhluk sialan, bisa-bisanya dia kembali meminjam tubuh Himmi.
Wangi melati itu semakin jelas menembus indra penciumanku.
__ADS_1
"Himmi!!" Mataku membulat sempurna, menyaksikan apa yang akan Himmi lakukan.