Pesantren Berdarah

Pesantren Berdarah
Pemakaman


__ADS_3

Setitik Rindu


Namun Mampu Menggetarkan Qalbu


👽👽👽


Prang!!


Mataku yang mulai tertutup kembali terbuka mendengar kaca lemari di kamarku tiba-tiba pecah.


Aku memegang tengkukku. Merinding. Itulah yang aku rasakan sekarang, ketika tiba-tiba udara di dalam kamarku berubah dingin.


"Ada apa?!" Aku menoleh ke arah Ilham yang berlari panik ke dalam kamar. Aku yang masih syok, hanya menatapnya bingung. Aku juga nggak tau apa yang sebenarnya terjadi.


Deru napas Ilham terdengar jelas, dia segera menarikku keluar dari kamar, menutup pintu itu lalu menguncinya.


Aku yang masih bingung dengan apa yang terjadi hanya diam, dengan pikiran yang masih berkecamuk.


"Apa yang kamu rasakan tadi? Apa ada wangi melati itu lagi?" Aku menggeleng. Ilham segera mengajakku duduk di atas sofa. Sekarang kami memang sudah berada di ruang tamu.


"Aku baik-baik saja Ham, tadi aku cuma terkejut...sebenarnya apa hubungan wangi melati itu dengan kejadian ini?"


Prang!!


Prang!!


Aku bergidik, ngeri. Mendengar suara dari dalam kamarku yang terkunci.


"Ada apa Ra, Ham?" Aku dan Ilham menoleh, mendapati Nenek yang terbangun dengan Adam di gendongannya. Aku menatap Ilham semakin bingung, apa yang mesti aku katakan.


"Nek, Ilham minta tolong bawa Adam ke kamar"


"Haaaaa!!!"  Aku mendengar teriakan kesakitan dari dalam kamarku.


"Gawat!" Ilham segera berlari ke arah pintu kamarku yang mulai di amuk dari dalam , dia menahannya agar jangan sampai terbuka.


Nenek tidak menggubris perkataan Ilham tadi, beliau masih saja berdiri di tempatnya semula, dengan Adam yang ternyata terbangun dan terlihat ketakutan.


Berpikir Ra! Jangan diam saja!


Aku berlari mendekati Ilham, membantunya menjaga pintu kamar itu supaya tidak terbuka.


"Kenapa kamu kesini?! Cepat pergi! Ajak Nenek sama Adam sembunyi!" Aku menggeleng keras. Bagaimana bisa aku meninggalkan Ilham sendiri, jika nanti terjadi hal yang tidak diinginkan bagaimana? Apa dia sudah gila.


"Masih bisa ngatain aku gila, Ra?!" Aku menggeram kesal. Bisa-bisanya dalam situasi kayak gini dia masih bisa baca pikiran aku. Tahan Ra, jangan sampai kamu emosi terus banting dia disini. Bisa-bisa tuh makhluk halus bisa nerobos masuk.


"Kok berhenti?" Aku dan Ilham saling menatap heran. Pintu yang dari tadi seperti di tarik paksa dari dalam tiba-tiba berhenti. Tak ada suara.


"Dia sudah pergi" Aku menoleh ke arah Nenek. pergi? Darimana Nenek tahu?


Ilham membuka pintu kamarku.


"Astaga!" Aku terpekik, membelalakkan mata melihat kamarku yang sudah seperti kapal pecah.


Pecahan kaca ada dimana-mana, lemari, ranjang, meja rias, semua sudah berpindah dari tempatnya semula.


Aku melihat Ilham segera berlari ke arah jendela.


"Pantas" Gumamnya kesal.

__ADS_1


"Kenapa?" Aku berjalan menghampirinya. Memastikan apa yang membuatnya geram


"Tadi sore kamu lupa tutup jendela?!" Ilham menatapku tajam.


"Mana aku tau Bambang!" Aku memang nggak tau kalau jendela kamarku terbuka, aku hanya masuk menaruh tas lepas itu keluar menemui nenek dan kembali masuk saat ambil mukenah dan tadi, ketika hendak tidur.


"Siapa Bambang? Kenapa kamu suka sekali nyebut nama dia?!" Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.  Diam Ra, percuma ngejelasin sama human yang tidak tau tren modern.


"Selalu saja diam kalau aku tanya. kemarin Malik sekarang Bambang, terus siapa lagi?!" Ilham menutup jendela itu dengan cukup kuat membuat aku sedikit terkejut.


Aku menatap dia heran, Dasar manusia aneh. Apa hubungannya coba, kenapa dia harus marah-marah nggak jelas cuma gara-gara hal sepele seperti ini.


Ilham terlihat menarik napasnya, memejamkan mata beberapa detik.


"Kita punya waktu tinggal 1 jam untuk tidur, kalau memang mau melek sampai pagi. Silahkan!."  Ilham berjalan keluar meninggalkan aku sendiri.


"Yah ngambek tuh orang?" Ada yang bisa jelasin ke aku, kenapa Ilham tiba-tiba kayak anak kecil seperti itu.


Aku ikut keluar dari kamarku yang sekarang sudah terlihat bukan seperti kamar lagi. Aku banyak melihat bekas cakaran di tembok, dan daun pintu. Aku kembali menutup pintu itu sebelum berlari ke kamar Nenek. Bagaimanapun aku butuh tidur walapun cuma sedikit, karena memang dari kemarin aku kurang tidur gara-gara hal-hal aneh ini.


👽👽👽


Sesuai rencana, paginya aku, nenek, Adam dan juga Ilham sudah bersiap-siap untuk pergi ziarah ke makam ayah dan bunda. Meskipun mataku kayak di lem, tapi ku paksakan. Aku tidak ingin membuat Adam kecewa, ini kali pertamanya dia pergi.


Ilham berjalan duluan dengan Adam di gendongannya. Anak kecil itu ternyata mendengar kejadian semalam, dan membuatnya takut sampai sekarang. Aku sendiri berjalan di belakang sembari menggandeng Nenek.


Aku menatap punggung Ilham sebal, entah kenapa dari subuh tadi dia terus saja mendiamiku.


Aku juga heran sama diriku sendiri kenapa tiba-tiba cerewet sama dia. sudahlah pusing kepala Barbie.


Pemakaman yang akan kami datangi memang tidak terlalu jauh dari rumah, jadi tidak butuh waktu lama untuk sampai kesana.


Aku tertegun di depan pintu pemakaman, menelan salivaku dengan susah payah. Bagaimana tidak, hal aneh itu kembali terjadi. penampakan yang mengerikan kembali aku lihat dan kini sangat jelas berkeliaran di depan mataku.


Aku tidak boleh kontak mata sama mereka, mereka nggak boleh tau kalau aku bisa melihat mereka.


"Kamu harus bersikap biasa saja" Aku menoleh ke arah Ilham yang kini sudah berada di samping aku. Aku mengangguk


"Aku memang tidak bisa melihat mereka, tapi aku tau kalau mereka tidak sedikit disini" Ilham benar, hampir seluruh area pemakaman ini dipenuhi oleh makhluk-makhluk abstrak yang bermacam-macam model dan bentuk.


Aku berjalan pelan, sesekali menghindar dari mereka yang memang berada di depanku.


Kendalikan rasa takut mu


Entah kenapa aku mengingat kalimat itu, aku mencoba serileks mungkin


jangan takut


jangan takut


Batinku terus saja berbisik. Dan berhasil, perlahan-lahan mereka lenyap dari pandanganku.


"Assalamu'alaikum Ya ahlal kubur. " Kami tak lupa mengucap salam sebelum memasuki area pemakaman.


"Kak, Ayah dan Bunda di sini?" Adam menatapku dan Ilham bergantian, menanti jawaban dari pertanyaan yang dia lontarkan tadi.


"Iya sayang, Ayah dan Bunda di sini. " Dengan pelan Ilham menurunkan Adam dari gendongannya. Adam berjongkok menatap gundukan tanah yang kini sudah dipenuhi oleh rumput liar.


"Kita bersihin dulu ya. " Nenek mengusap lembut kepala Adam. Kami mulai membersihkan rerumputan yang tumbuh di atas makam ayah dan bunda, tak lupa juga dengan makam Om Adit dan tante Syifa. Bagi aku mereka berdua sudah seperti orang tuaku juga. Apa kabar dengan kak Wahyu, anak mereka. Setelah masuk pesantren aku nggak pernah bertemu lagi dengan dia, padahal dulu dia sering beliin aku permen sama jajan. Sudahlah, dimanapun dia semoga tetap sehat dan baik-baik saja.

__ADS_1


"Nek, apa kalau ke syulga, halus di kubul kayak Ayah sama Bunda dulu?"


"Iya sayang" Hanya itu yang mampu nenek ucapkan, setelahnya beliau langsung menoleh, tidak membiarkan Adam melihat air matanya.


"Kalau Adam bicala, apa Ayah sama Bunda dengel?"


"Adam..." Ilham mengusap lembut pucuk kepala Adam, memberikan senyum terbaiknya.


"Adam mau bicara apapun, Ayah dan Bunda akan dengar. Adam mau coba?" Adam mengangguk. Dia berjongkok di tengah-tengah makam ayah dan bunda, memeluk erat batu nisan bunda.


"Assalamu'alaikum Bunda... Ini Adam" Ucapnya lirih. Aku hanya mampu memperhatikan Adam tidak sanggup untuk ikut berjongkok di dekatnya.


"A..adam minta maaf, balu bisa jenguk Bunda. Bunda di sini jangan khawatilin Adam ya. Adam nggak nakal kok sama Nenek... Kalau Bunda nggak pelcaya, Bunda bisa tanya sama Nenek langsung..."  Napas Adam mulai tersengal. Air matanya pun mulai mengalir. Adam menangis. Anak kecil itu, adik terhebatku, menangis pilu di pusaran Ayah dan Bunda.


Aku mendongak, berusaha menghalau air mata yang ingin keluar. Tapi sayang, aku gagal. Nenek langsung memelukku erat, memberikan pundaknya sebagai tempatku menangis.


"Bunda.. Bunda baik kan di syulga...Sekalang Adam udah bisa bicala...Bu..buktinya ini..."Tangan mungil itu mulai menyeka pipinya.


"Adam bahagia bisa ketemu Bunda... kata Nenek..Bunda cantik, kayak kak Lala...Tapi bunda nggak celewet kan, soalnya kak Lala celewet.. hehe" Setengah tawa bercampur tangis keluar dari bibir mungilnya.


"Bunda..Maafin Adam...Hiks..hiks... Adam masih seling nangis diam-diam...A..Adam...Adam pengen lihat Bunda...Adam lindu Bunda...Teman-teman Adam di TK, seling di antal sama Bunda meleka..." Tangisnya pecah. Dadaku sungguh sesak melihat Adam seperti ini.


"Bunda jangan sedih... Adam nggak malah kok, Adam tau Bunda sudah bahagia di syulga sama Ayah."


Kini tangan mungil itu beralih ke nisan Ayah, mengusap nisan itu pelan dengan mata sedu Adam menatap rindu. Seolah nisan itu mampu mewakilkan sosok Ayah di depannya.


"Assalamu'alaikum Ayah. Ayah, Adam sekalang sudah besal. Udah masuk sekolah. " Adam memeluk erat nisan Ayah.


"Ayah jagain Bunda ya di syulga... Adam disini bakalan jagain Nenek sama kak Lala"


Aku menghapus air mataku, mencoba menenangkan diri dari sesak yang aku rasakan.


"Ayah...Maafin...A...Adam. Adam masih seling sedih, kalau lihat teman-teman Adam di jemput sama Ayah meleka, meleka seling naik di puggung ayahnya.. Main kuda-kudaan. "


"Nek..."Panggilku lirih, aku menatap Nenek yang kini telah sembab. Aku memeluk Nenek erat, betapa tegar Adam. Dia yang masih sekecil itu mampu memeiliki pemikiran dan ketabahan hati yang luar biasa.


"Tapi...Tapi Ayah jangan hawatil. Adam kuat... kata kak Ilham, anak laki-laki halus kuat, nggak boleh nangis...makanya Adam nggak nangis..Hiks..." Dia segera menyeka air matanya. Berusaha tersenyum.


"Adam bahagia... Ayah dan Bunda juga tentu bahagia. " Tubuh mungil itu bangkit. Ilham segera mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya.


"Sekalang Adam boleh nangis nggak? Tadi nggak nangis, cuma kelilip. " Ilham mengangguk pelan.


Tumpah sudah air mata itu. Adam menangis diam dalam pelukan Ilham.  Memeluk Ilham seolah Ilham adalah sosok Ayah bagi dirinya.


Aku semakin memeluk Nenek erat, betapa bodoh dan nggak pekanya aku selama ini, seolah aku yang paling tersiksa, seakan aku yang paling sengsara di tinggal sama Ayah dan Bunda. Aku lupa, bahkan aku nggak mau tahu bahwa masih banyak orang yang merasa kehilangan, terlebih Adam. Dari semenjak dia lahir, sekedar melihat bagaimana wajah Ayah dan Bunda saja dia tidak pernah. Hanya mampu melepas rindu lewat foto-foto yang ada.


Dadaku rasanya semakin sesak, aku berjongkok di tengah, antara gundukan tanah makam Ayah dan Bunda.


"Maaf..." Bibirku kelu, hanya kata itu yang mampu aku ucapkan.


"Sekarang kita tabur bunga di makam Om Adit sama Tante Syifa yuk, " Nenek mengingati. Aku bangkit lalu berjalan beriringan dengan Nenek. Ilham terlihat menunduk sejenak, kemudian tersenyum sembari mengusap dua nisan yang ada di depan kami.


Suara gemuruh terdengar, Langit yang bahkan belum menampakkan sinar mentarinya secara sempurna berubah menjadi gelap.


"Bentar lagi turun hujan, Kita harus segera pulang" Aku dan Nenek mengangguk setuju, sebelum pulang tak lupa kami memanjatkan do'a, menghadiahkannya untuk orang-orang tersayang yang telah pergi menerima panggilan Allah terlebih dahulu.


Hujan


Semoga rintikmu

__ADS_1


Membawa pergi segala kenangan pahit yang sempat membelenggu


Menggantikannya dengan pelangi kebahagiaan yang akan menambah syukurku kepada Rabbku.


__ADS_2