Pesona Kiana Andini

Pesona Kiana Andini
Episode.21


__ADS_3

Hari pernikahan Kiana dan Alan tinggal menunggu beberapa jam lagi. Baik Kiana atau pun Alan sama-sama tak bisa tidur karena terus mengingat hari esok. Dimana ke duanya di satukan dalam ikatan pernikahan.


"Kenapa rasanya rindu sekali, dua hari ini tidak bertemu dengan Kiana," gumam Alan sambil mengguling-gulingkan badannya di atas kasur. Baru dua hari tak bertemu rasanya seperti setahun.


"Aku tidak bisa terus seperti ini. Sekarang juga aku harus pergi menemui Kiana," Alan beranjak dari duduknya lalu menyambar kunci mobil miliknya yang ada di atas meja.


Bu Sintia melihat anaknya yang sedang menuruni tangga dengan berpakaian yang sudah rapi.


"Al, kamu mau kemana?" Bu Sintia bertanya kepada Alan.


"Mau keluar sebentar, Mah." Jawabnya.


"Jangan bilang kamu mau menemui Kiana," ucapnya menebak.


"Hehe mamah tahu saja. Alan ini kangen banget sama Kiana, Mah."


"Al, kalian ini belum boleh bertemu. Sabar dikit dong, besok juga kalian akan bertemu di pelaminan."


"Tapi Alan sudah tidak kuat, Mah. Rasa rindu kepada Kiana begitu besar," kata Alan.


"Tidak bisa, Al. Kamu tidak bisa pergi," Bu Sintia menahan Alan yang akan keluar rumah.


Mau tidak mau Alan menurut dengan ibunya. Dia kembali ke kamar dan beristirahat.


Sudah cukup lama Alan mencoba untuk memejamkan mata, namun entah kenapa dia sama sekali tak mengantuk. Pikirannya terus tertuju ke hari esok.


Akhirnya lama kelamaan Alan tertidur juga. Walaupun dia tertidur saat menjelang pagi.


Dua jam kemudian.


Berulang kali Bu Sintia mengetuk pintu kamar anaknya, namun tidak ada sahutan juga.


"Tumben sekali Alan jam segini belum bangun," gumam Bu Sintia lalu kembali mengetuk pintu.


Tidak biasanya Alan bangun siang seperti ini. Apalagi hari ini adalah hari yang sangat spesial. Tidak mungkin Alan melupakan hari yang sangat penting ini.


Akhirnya Bu Sintia mencari kunci duplikat kamar anaknya, di karena kan anaknya tidak juga membukakan pintu.


Cklek


Bu Sintia menggelengkan kepalanya melihat anaknya yang masih berada di bawah selimut.


"Astaga anak yang satu ini jam segini kok masih molor," Bu Sintia menggoyang-goyangkan tubuh anaknya hingga bangun.


"Emm .... " Alan mengerjapkan ke dua matanya. Dia melihat ibunya yang berdiri di samping ranjang.

__ADS_1


"Kenapa kamu bisa kesiangan? Apa kamu tidak ingat jika hari ini kamu menikah?"


Perkataan ibunya sontak membuat Alan langsung beranjak dari atas ranjang.


"Astaga aku sampai lupa, Mah. Sekarang jam berapa, Mah?"


"Jam enam pagi," jawabnya.


Dengan terburu-buru Alan pergi ke kamar mandi.


Bu Sintia membantu menyiapkan pakaian yang akan di kenakan oleh anaknya.


....


....


Alan dan ibunya sudah berada di perjalanan menuju ke hotel yang akan menjadi tempat pernikahan Alan dan Kiana.


''Mah, apa tidak sebaiknya kita jemput Kiana dulu,'' ucap Alan yang duduk di samping ibunya.


''Kia sudah ada yang jemput. Nanti kalian bertemu di hotel, Nak. Lagian kamu kok tidak sabaran banget sih.''


''Dua hari nggak ketemu membuat Alan kangen banget sama Kia, Mah.''


Cukup lama mereka berada di perjalanan. Kini mereka sampai juga di hotel yang akan menjadi tempat akad sekaligus resepsi.


Dengan tidak sabaran Alan keluar dari mobil. Dia mendahului ibunya memasuki hotel. Sesampainya di ballroom hotel, ternyata Kiana belum sampai.


Bu Sintia melihat anaknya yang sedang menatap kanan kirinya, seolah sedang mencari sesuatu.


''Al, kamu cariin apa?'' Bu Sintia menatap ke arah pandang anaknya.


''Ini loh Alan lagi cari Kia, kok belum kelihatan sih,'' ucap Alan tanpa mengalihkan arah pandangnya.


''Mungkin mereka masih di perjalanan, Al. Apa Kia sudah menghubungimu?''


''Belum, Mah. Tadi Alan kirim pesan juga ceklis.''


''Coba kamu telepon deh,'' ujarnya memberikan saran.


Alan mengambil ponsel dari saku celananya lalu menghubungi nomor Kiana. Namun ternyata nomornya tidak aktif. Alan merasa heran, tidak biasanya Kiana seperti ini. Biasanya dalam keadaan apa pun Kiana selalu mengaktifkan ponselnya.


''Nomornya tidak aktif, Mah. Kok aku jadi khawatir ya sama dia,'' perasaan cemas kini Alan rasakan.


Di sela-sela obrolan mereka, terlihat Pak penghulu yang baru datang dan menghampiri mereka. Bu Sintia menyambut kedatangan penghulu itu dan mengarahkannya untuk duduk terlebih dahulu sambil menikmati hidangan.

__ADS_1


Bu Sintia mengajak Alan untuk pergi ke kamar hotel yang nantinya akan menjadi kamar pengantin Alan dan Kiana. Siapa tahu Kiana sudah sampai dan berada disana.


Sesampainya di kamar hotel, ternyata Kiana tidak ada. Itu berarti Kiana belum sampai.


''Mah, bagaimana nih? Kiana belum datang juga?''


''Coba deh mamah hubungi sopirnya dulu,'' Bu Sintia mengambil ponselnya dari dalam tas lalu mulai menghubungi sopir yang tadi di suruh untuk menjemput Kiana. Ternyata nomornya sedang tidak aktif. Sekarang Bu Sintia yakin jika di luar sana terjadi sesuatu dengan Kiana dan sopirnya. Karena tidak mungkin di saat ada acara penting seperti ini mereka mematikan ponselnya.


''Bagaimana, Mah?'' Alan menatap ibunya yang sedang memegang ponsel.


''Nomornya tidak aktif juga,'' jawabnya.


Alan semakin cemas, dia takut jika terjadi sesuatu dengan pujaan hatinya.


''Alan harus pergi, Mah. Alan khawatir sama Kia,'' Alan bergegas pergi keluar dari kamar itu meninggalkan ibunya.


''Al, jangan gegabah!'' Bu Sintia mengejar kemana anaknya pergi.


Langkah Bu Sintia kurang cepat di karena kan pakaian yang di kenakan membuatnya tak bisa melangkah cepat. Sehingga kini Alan berhasil lolos dari kejarannya.


Bu Sintia melihat mobil Alan yang baru keluar dari parkiran mobil.


''Astaga anak itu susah di bilangin,'' gumam Bu Sintia sambil menatap mobil anaknya yang semakin menjauh.


Bu Sintia kembali ke ballroom hotel tempat acara. Sesampainya disana, Bu Sintia melihat tamu yang sudah semakin banyak yang datang.


''Maaf, Bu. Apa acaranya sudah bisa di mulai?'' tanya Pak penghulu yang kini menghampirinya.


''Maaf, Pak. Anak saya baru saja pergi untuk menjemput calon istrinya. Karena sampai saat ini tidak ada kabar dari calon istrinya atau pun sopir yang menjemputnya,'' ucap Bu Sintia dengan sedikit lesu.


''Biaklah, saya kasih waktu tiga puluh menit untuk menunggu. Karena nanti masih ada beberapa tempat yang harus saya datangi.''


''Baik, Pak. Sebelumnya saya minta maaf.''


''Tidak apa-apa, Bu.''


Setelah selesai berbicara dengan Pak penghulu, kini Bu Sintia mencoba menghubungi nomor Alan. Alan mengatakan jika saat ini sedang berada di perjalanan menuju ke kontrakan Kiana.


Tring


Alan mendapat pesan dari nomor asing. Ada sebuah video juga yang di kirim nomor itu. Ke dua mata Allan terbelalak saat melihat Kiana di ikat dengan tali dan mulutnya di sumpal pakai kain


''Sial, siapa yang berani menculik calon istriku?'' dengan geram Alan memukul setir kemudinya.


Alan tak terima di hari pernikahannya, seseorang mencoba mengusiknya dengan menculik calon istrinya. Alan mencoba menghubungi Dito dan meminta bantuannya untuk membantu mencari Kiana. Dia juga langsung melacak keberadaan nomor yang tadi mengirimkan video penculikan itu.

__ADS_1


__ADS_2